Begundal

Begundal

Yaqut Al-amnah
Karya Yaqut Al-amnah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Maret 2018
Begundal

Malam menyelimuti pohon-pohon, menyembunyikan daun-daun yang mulai mengering digerogoti musim kemarau tak berujung. Syan duduk termenung di balik jendela kamarnya, pikirannya melayang jauh meninggalkan tempat duduknya. Syan teringat kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya hampir setahun lalu. 

Adalah Kusnadi. Seorang remaja yang dikenal sebagai begundal Kampung yang sangat suka menghajar orang—siapa pun, kapan pun dan di mana pun, selagi kesempatan menyertainya.

Satu hari ia berkelahi dengan penjual es cendol di sekitar lapangan sepak bola di sekitar rumahnya. Kusnadi enggan membayar es cendol yang telah diminumnya habis. Mang Kasmir selaku penjual es yang tak mau rugi tentu tak terima barang dagangannya dijajakan secara gratis. Perkelahian pun tak bisa dihindari. 

Mang Kasmir memukul Kusnadi. Darah  muncrat dari hidungnya. Kusnadi yang tak terima, dengan cepat membalas pukulan keras ke dada, perut dan wajah Mang Kasmir dengan membabibuta. Mang Kasmir tersungkur ke tanah hingga ia harus rela kehilangan dua giginya. 

Pada hari yang lain ia berkelahi dengan pedagang bakso, gorengan, batagor dan pedagang-pedagang lain di kampungnya. Ia juga kerap tawuran dengan siswa-siswa lain lawan sekolahnya.

Hobinya menghajar orang pun terdengar hingga ke penjuru kampung. Sejak saat itu ia dikenal sebagai seorang remaja Kampung yang ditakuti banyak orang termasuk preman-preman gadungan di kampungnya. Kusnadi pun dijuluki dengan Si Begundal.

*

Syan masih terduduk di balik jendela kacanya. Pikirannya terbang pada masa-masa awal pertemuannya dengan Si Begundal. Bagaimana pun, Kusnadi merupakan preman kampung paling cerdas yang pernah Syan temui. Kegemarannya membaca menguak sisi lainya yang tak diketahui oleh banyak orang. Ia melahap berbagai macam buku, dari sosiologi, politik, sastra hingga filsafat.

Pertemuannya dengan Syan terjadi ketika Kusnadi berniat menghajar seorang mu’azzin yang telah mengumandangkan azan dengan suara buruk dan nada yang urak-urakan. Bukan karena ia menginginkan azan yang baik, tetapi lebih karena suara sang mua’azzin membangunkan tidur siangnya.

Kusnadi berjalan dengan tergesa menuju surau tak sabar ingin memukul mulut sang mu’azzin yang telah memekikkan telinganya. 

Niat Kusnadi berubah seketika saat melihat seorang gadis tengah menjerit ketakutan diikuti seekor angsa yang berlari dibelakangnya seperti hendak menyosornya. Sontak Kusnadi lari berniat menyelamatkan gadis tersebut. Kusnadi menendang tubuh angsa tersebut hingga menghempaskannya beberapa meter. Angsa itu pun terjatuh dan mati dengan leher panjang yang menjuntai dan tubuh bersimbah darah.

Pertemuan tersebut menjadi pertemuan yang berarti bagi keduanya. Pertemuan yang kemudian berlanjut ke hari, bulan dan tahun-tahun berikutnya. 

*

Angin berhembus hebat di luar, masuk melalui fentilasi udara kamarnya. Syan tak bergeming,dinginnya menusuk pori-pori kulitnya yang telanjang . Ia masih terduduk di balik jendela kacanya. Ia mengingat masa-masa indahnya bersama Kusnadi ketika ia masih menjalin hubungan dengannya. Ketika kebahagiaan selalu meliputinya. 

 Menghabiskan waktu bersama dengan hal-hal tak biasa membuat Syan semakin tak bisa melepaskan Kusnadi pikirannya begitu saja, meskipun memang tak banyak yang bisa dibanggakan dari seorang begundal kampung itu selain pikirannya yang kekirian. 

Jika kebanyakan sepasang kekasih menghabiskan waktunya di rumah, ruang bioskop, café, gunung, pantai atau di jalanan, maka Syan dan Kusnadi banyak menghabiskan waktunya di barisan para demonstran. Bersama dengan masyarakat tertindas atau para mahasiswa bernas. 

Kusnadi tak berstatus mahasiswa. Ia putus sekolah sejak SMA. Ketika dirinya masih dicap Si Begundal. Hobinya berkelahi, tawuran dan mengganggu siswa-siswa lain setiap hari  membuat Kusnadi dikeluarkan dari sekolahnya hingga ia tak diterima di sekolah mana pun.

*

Malam semakin larut, Syan masih terduduk di balik jendela kaca. Air matanya membuncah hingga membasahi kedua pipinya. Mengenang adalah hal menyesakkan, tetapi tak cukup untuk menjadikannya membosankan. Syan melakukannya terus menerus. Lagi dan lagi.

Sudah dua hari Syan mengurung dirinya di kamar. Tanpa makan, tanpa mandi, tanpa apapun. Keluar rumah hanya akan semakin membuka luka-lukanya. Setiap jalan, perpustakaan, tempat makan, mall, bioskop, pohon-pohon, senja, hujan, bintang-bintang, lampu-lampu. Ia akan selalu menemukan kekasihnya. Kusnadi menempati setiap ruang dan waktu.  

Ingatannya tak pernah memudar, semakin hari semakin kuat. Wajahnya, senyumnya, punggungnya, desah nafasnya, detak jantungnya, hingga suhu tubuhnya yang biasa ia rasakan melalui genggaman tangannya. Dari cara berjalannya, cara bicaranya, cara membacanya hingga caranya menghisap sebatang kretek.

Bagi Syan, Kusnadi adalah kameradnya yang paling romantis. Darinya, Syan mengenal Plato, August Comte, Karl Marx hingga Tan Malaka.

Darinya,  ia belajar untuk mencintai tidak hanya dirinya sendiri, tetapi juga masyarakat yang membutuhkan perhatiannya. Darinya ia belajar untuk tidak hanya mempercayai Tuhannya, tetapi juga percaya pada dirinya sendiri. Pada pikirannya, pada suara hatinya. 

Hari mulai pagi, dan Syan masih duduk di balik jendela kacanya dengan setumpuk kenangan di kepalanya. Air matanya mulai kering ketika ia sampai pada kenangan ketika Kusnadi pergi meninggalkannya.

Hampir setahun lalu, pada tanggal dua puluh satu tepatnya. Syan mengingatnya betul. Di depan kamarnya, Kusnadi datang dengan mengetuk jendela kacanya. 

Kusnadi datang dengan membawa potongan-potongan kertas koran di tangannya.“Kita tak berhak untuk begitu bahagia, sebagaimana kita tak pantas untuk memilih menjadi baik-baik saja.”

Kusnadi enyah, seperti menguap ke udara. Meninggalkan dada yang sesak, detak jantung yang melemah dan luka yang menganga. Seperti borok yang disiram air garam, perih tak terkira. Semakin perih ketika ia harus mengenangnya terus menerus.

Dengan kepalanya, Syan mendobrak jendela kacanya. Ia pungut pecahan kaca yang cukup besar. Dengan pecahan kaca ditangannya, ia hantam kepalanya keras-keras. Dari atas, samping dan dari belakang. Darah mengalir dari kepalanya.

Syan tertawa puas. Ia akan terbebas. Kenangannya akan segera lenyap bersama tetesan-tetasan darah yang mulai membasahi tubuhnya. 

Pada sudut jendela kaca yang lain, ia menulis: “Selamat tanggal dua puluh satu. Dua puluh satu yang telah selesai dalam hitungan satu.”

  • view 89