Adik kecil penjual empek2

yanti isyanti
Karya yanti isyanti Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 27 Januari 2016
Adik kecil penjual empek2

Adik Kecil Penjual Empek-empek

?

Suasana pagi yang cukup cerah, seperti biasa kalau hari libur aku sempatkan untuk membereskan pekerjaan rumah yang belum sempat dikerjakan pada hari biasa. Sedang asyik beres2, tiba2 ada suara anak kecil penjual empek-empek. ?empeeek-empeeek?, hemhh.. kebetulan nih dari tadi perut udah bernyanyi sedari tadi.

?empek-empeknya dek, kesini ya..? tidak berapa lama kemudian setelah dia melayani tetangga kontrakan sebelah dia datang ke teras kontrakanku.

?berapaan empek-empeknya?? kataku. ?lima ratus mbak? jawabnya, dan sebenarnya aku sudah tahu harganya tapi hanya ingin bertanya lagi, karena itu kali kedua aku membeli empek2 bawaannya. Jaman sekarang masih ada ya empek-empek harga 500 rupiah, Dari segi rasa memang sesuai harga, tapi lumayanlah murah meriah buat ganjal perut ketimbang harus jalan keluar untuk beli makan.

? mbak ngambil 6, jadi 3 ribu ya... tunggu sebentar?, aku mengambil uang yang kuletakkan di atas lemari baju, selembar uang 5 ribuan yang tergulung. ?ini uangnya..? ??mbak, ini ada 2 ribu lagi? ?oh... iya?. ??sekolah gak dek?? aku tanya lagi ?iya..? kata si adik, inginnya sih bertanya banyak tetaapi karena aku ?lapar aku mengurungkan niat dan nanti kalau bertemu lagi aku ingin bertanya lebih banyak lagi.

Kalau ditaksir kira-kira si adik itu masih kelas 4 SD, untuk anak seusianya dia memang luar biasa. Disaat anak-anak lain sibuk dengan mainannya si adik malah sibuk dengan dagangannya. Karena itu ada banyak yang ingin aku tanya dengan si adik, semoga ketemu lagi..

==============================================================================

Hari libur berikutnya, ?empek-empeeek..?, mendengar suara itu aku langsung keluar dan memanggilnya ?empek-empeknya deeek..? agak sedikit berteriak aku memanggil, ?sebentar ya mbak, saya ngambil cuka nya dulu..? katanya. ?abis ya cukanya?? kutanya lagi, ?tinggal sedikit mbak? jawabnya sambil memperlihatkan tempat cuka nya ?oh ya udah..?. kemudian diapun pergi untuk mengambil cuka empek2.

Tidak lama kemudian dia datang ?tinggal dua ribu mbak? kata si adik, ?oh.. iya gak apa-apa?. Kemudian aku mengambil 4 buah empek-empek yang tersisa tersebut? lalu membayarnya.Dia memang bukan adik terakhir yang aku beli sebelumnya tapi seingatku itu temannya yang ketika pertama aku beli.

?kelas berapa dek?? tanyaku ?kelas empat mbak..? , ?rumahnya dimana??..? kutanya lagi? ?deket sini mbak? jawabnya. ?hemmhh...?

?buat sendiri empek-empeknya ??? kutanya lagi, ?gak mb, ini titipan?jawabnya. ??dikasih berapa???tanyaku, ?50 buah dikasih 5 ribu mbak?, ?tadi bawa berapa??? ?bawa 60 mbak?.. ?ohh...? aq jadi speechless.. ?sampai lupa tanya namanya..

Jadi dia mendapat upah ?5 ribu rupiah saja dari hasil berjualannya itu dengan berkeliling entah sampai dimana. Mungkin sampai dagangannya habis. Subhanallah... allahuakbar..

Jika hari libur tiba mungkin anak-anak lain, sibuk dengan tontonan film kartunnya, sibuk merengek2 minta beli ini minta beli itu, sibuk ngajak jalan2, berenang atau hal-hal yang lainnya. Dan si adik ini sibuk berkeliling menjajakan dagangannya dengan upah? 5 ribu rupiah saja.

Aku teringat suatu waktu, pernah memberikan uang? 10 ribu kepada keponakanku yang juga kelas 4 SD, dia berkomentar ?yah... Cuma sepuluh ribu? dengan sedikit agak kesal aku berkata ?gak mau nih??..?? dengan pura-pura mau aku tarik kembali? dia langsung bilang ?eh.. sini ding bik(red.tante)..? dengan senyumnya yang malu-malu diraihnya uang yang aku berikan. Hufhh... Anak jaman sekarang kebanyakannya ya kayak keponakannku yang satu ini, uang sepuluh ribu sudah dinggap remeh... Adik kecil ini mengingatkan aku tentang pentingnya penanaman pemahaman tentang rasa syukur bahkan sejak dari kecil dan juga mengingatkan diriku sendiri yang juga terkadang kurang bersyukur.

Iya begitulah... untuk bisa bersyukur pun kita memang perlu belajar, bahwa ternyata ada banyak mereka-mereka yang kehidupannya tak sebaik kita..

Bk, 170214

?

?

  • view 169