Episode 4. Cobaan Buat Teh Ningsih

Aang Pratama
Karya Aang Pratama Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2017
KADES YUDHA

KADES YUDHA


Setelah setahun lamanya Yudha lari dari tanggung jawabnya di Desa Ciheras. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menunaikan janjinya kepada mendiang sahabat dekatnya. Jadi seorang Kades!

Kategori Fiksi Remaja

390 Hak Cipta Terlindungi
Episode 4. Cobaan Buat Teh Ningsih

"WOI!!"

Geng mabalnya Ditsy langsung lepasin Ditsy yang nangis ketakutan pas Yudha nyamperin mereka.

"Nanaonan maraneh, teh?! Wayah gini bukannya sekolah!"

Mereka diem membisu sambil tungkul, takut orang misterius yang ujug-ujug datang merusak upacara pentasbihan anggota baru itu salahsatu dari bokap teman mereka.

Tapi beda sama Eki en dua anggota seniornya. Mereka bertiga sama-sama diam, tapi berani melongin Yudha pake tatapan enggak suka.

Yudha langsung ngerampas rokok sama korek gas yang disodorkan anggota senior, "Ditsy, nanaonan ieu, teh??"

Ditsy diam seribu bahasa, dia cuma buang muka sambil ngulum bibirnya kayak pantat ayam, empot-empotan. Yudha bikin pagar betis di antara Ditsy sama gerombolannya Eki.

"Balik sekolah! Jangan pada mabal! Pulang ke rumah!"

Eki ogah meladeni Yudha, doi malah nyuruh kedua anak buahnya untuk cabut. Teman-teman sekolah Ditsy pun ikut nyusul, ninggalin Ditsy sendirian sama Yudha.

Yudha langsung lemesin badan sama narik napas lega sehabis gerombolan anak nakal udah pergi jauh.

Edan! Padahal mereka masih pada bocah, tapi tongkrongannya udah sama seremnya kayak berandalan motor!

"Ya ampun, Ditsy! Kok, kamu sekarang kayak gini??" Yudha terpukul melihat keadaan Ditsy sekarang.

Ditsy ogah jawab, doi malah nyingkirin badan Yudha yang pasang badan lalu langsung cabut dari tempat itu sama sepedanya.

Yudha cuma bisa liat punggung Ditsy yang kabur dengan tatapan sendu. Bayangan Ditsy yang setahun lalu doi kenal ramah dan baik, jungkir balik.

Separah ini, kah, akibat yang gue lakuin??

*****

"Cuaca di laut seminggu ini lagi jelek banget, Teh. Kita ngeri kalo maksain jauh ngambil ikannya." Jawab nahkoda salahsatu dari enam kapal penangkap ikan milik Koperasi.

Teh Ningsih yang lagi inspeksi ke dermaga koperasi cuma bisa menghela napas panjang sama geleng-geleng kepala ketika denger laporan dari nahkoda.

"Itu udah prediksinya BMKG?" tanya Teh Ningsih.

"Udah, Teh."

BMKG itu kepanjangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Biasanya, sebelum melaut, nahkoda minta laporan prediksi cuaca ke pos BMKG terdekat. Dan laporan prediksi cuaca suka dikasih sepanjang seminggu.

"Tapi kalo saya kira-kira. Paling hasil tangkapan kita cuma buat nutupin uang solar aja, Teh." Ujar nahkoda. Doi paham apa yang Teh Ningsih pengen tau dari tumpukan ikan-ikan tangkapan kondisi beku yang bikin doi murung.

"Ya udah kalo gitu. Mudah-mudahan besok hasilnya udah bagus lagi."

*****

Belum selesai sakit kepalanya, datang lagi biang sakit kepala baru lagi. Laki-laki berseragam coklat PNS, tapi enggak ada bordiran lambang kabupaten—berarti doi pegawai honorer utusan dari desa. Tapi doi enggak sendiri, ada dua orang laki-laki bertongkrongan serem-serem mengapit.

"Punten, Bu. Kami dari Desa." si pegawai honorer memperkenalkan diri enggak pake lama..

"Ya, ada apa, yah, Pak?" tanya Teh Ningsih yang heran tumben-tumbenan orang Desa datang ke dermaga koperasi.

Bukannya langsung dijawab, si pegawai honorer langsung ngerogoh saku celana kirinya—segepok kertas karcis karbon warna putih sama pink.

"Punten, Bu. Waktunya narik retribusi." Jawab si pegawai honorer sambil cuek nulis karcis retribusi.

Teh Ningsih kaget bukan kepalangan waktu denger jawaban dari orang Desa. Doi coba mengatur emosinya di depan orang itu.

"Retribusi? Retribusi apa, yah?"

"Retribusi parkir kapal, Bu."

"Retribusi parkir kapal??"

"Sumuhun, Bu. Sekarang ada Perdes soal narikin retribusi kapal yang nyandar ke dermaga." Doi malah langsung nyodorin kertas karcis, "Semuanya jadi dua juta rupiah."

Bukan main keselnya Teh Ningsih. Udah dapet laporan hasil tangkapan ikan seret drastis karena cuaca jelek, sekarang pulang-pulang langsung ditodong sama uang retribusi!

"Tapi, kok, enggak ada surat pengumuman resmi dari Desa ke kantor saya??"

Si pegawai honorer gelagapan denger pertanyaan balasan Teh Ningsih. Enggak nyangka kalo janda Kang Didit tau birokrasi. Tau kalau korbannya ternyata melawan, prosedur selanjutnya pun dipake. Dua orang preman mulai maju dan berdiri mepetin Teh Ningsih.

“Ibu enggak percaya sama kami??” salahsatu preman coba ngintimidasi Teh Ningsih.

"Kalau ada peraturan retribusi baru pasti Desa ngirim surat pemberitahuan ke kantor. Enggak mungkin enggak!" biar Teh Ningsih kelihatan kalem dan keibuan, tapi berani ngegas kalo ada yang nyenggol doi.

"Tolong, ibu jadi warga desa yang baik di sini, ya!" para preman masih coba berkelit dengan ancaman lebih serius lagi, mereka ngacak pinggang sekalian pamerin tato mereka yang serem-serem.

"Saya warga desa yang baik, kok! Sekarang tunjukin surat Perdesnya. Kalo ada, saya langsung bayar! Bapak-bapak sendiri yang bukan aparat yang baik. Aturannya tiap karcis retribusi ada tulisan Peraturan Desa nomer berapa-berapanya kalo resmi. Ini, kok, aparat Desa malah main preman?"

“Emangnya saya enggak berani kasar sama perempuan?!”

Si preman mulai naik pitam, murka karena ternyata wanita yang mereka anggap lemah ternyata berani juga nantangin. Mereka pun enggak ragu buat siap-siap buat ngasih hukuman fisik buat Teh Ningsih.

Tapi mereka bertiga enggak tau, kalo para pegawai dermaga koperasi yang daritadi ngeliatin adu mulut, juga berani ngebela boss mereka. Si pegawai honorer sama dua preman mulai ketar-ketir liat banyak yang nyamperin sambil bawa-bawa aneka benda tumpul sama tajam.

Nanaonan sia, teh, wawanian dek nenggeulan awewe?!” labrak buruh angkut ikan pake bahasa sunda, sambil nodongin gancu.

Akhirnya mereka bertiga mutusin buat cabut dari dermaga, takut keadaan makin runyam. Setelah rada jauh dari tekape, para preman baru berani maki-maki dan nunjuk-nunjuki Teh Ningsih.

“Ibu enggak papa, Bu?” tanya seorang pegawai.

Teh Ningsih geleng-geleng kepala sambil senyum ke semua pegawainya yang mau ngebela doi, “Enggak apa-apa. Hatur nuhun pisan, bapak-bapak.”

Seorang pegawainya ada yang buka suara, “Kenapa, yah, orang Desa sok ngarecokan Koperasi wae, yah, Bu? Enggak capek gituh??”

Ya, semenjak ditinggal mati Kang Didit, Desa mulai berani nyenggol-nyenggol Koperasi. Disinyalir mereka berani ngeganggu rivalnya karena sekarang dipimpin sama Teh Ningsih, yang dianggap kepemimpinannya lebih lemah. Tapi doi berhasil mentahin segala akal bulus Desa.

“Enggak papa, Pak. Selama kita bener, kita ladeni aja.” jawab Teh Ningsih mantap.

Padahal diem-diem, doi juga mulai lelah dengan berbagai kelakuan usil Desa. Tapi apa boleh buat, Teh Ningsih cuma bisa berdoa, minta kekuatan lahir-bathin kepada Yang Maha Perkasa untuk ngadepin Kades Mukti sama kroni-kroninya.

Karena nasib para anggota dan karyawan Koperasi di tangannya.    

*****

Setelah dari habis dzuhur—ngaso sejenak waktu ashar—hingga jelang maghrib. Masjid As-Sunah mulai kelihatan wujudnya sebagai sebuah masjid. Yaa, kalau disebut secara saklek-nya, sekarang kategorinya masuk mesjid kurang terawat, ketimbang sarang jin.

Batu-batu kali yang dipake buat lantai halaman depan mesjid udah mulai keliatan wujud dan polanya. Jalan kecil yang ngubungin menara mesjid sama gedung mesjid utama udah enggak ketutupan semak-belukar lagi.

Tehel lantai teras mesjid sekarang juga enggak sekedar bebas dari lumut. Tapi tehel-tehel sama sela-sela nat-nya yang masih bisa diselametin udah bersih dan wangi.

"Alhamdulillahirobbilalamiinn!.. Mesjid sekarang tinggal tiga puluh persen lagi yang mesti diberesin!.." desis Haji Dahlan yang udah berani tiduran di teras mesjid.

Yudha nyender di pondasi teras mesjid sambil ngos-ngosan. "Kirain bisa beresin mesjid hari ini juga!.."

"Ya, enggak mungkin, lah. Paling butuh dua atau tiga hari lagi, baru mesjid As-Sunah bisa kayak mesjid." Jawab Pak Haji. "Tapi belum sama benerin genteng, eternit, sama gipsumnya, sih. Lebih makan waktu lagi!"

"Emangnya kenapa, Yud? Kok, kamu kayak yang kecewa pisan." Haji Dahlan nyium kemurungan Yudha.

"Ah, enggak, Pak Haji. Tadinya saya pengen kalo mesjid bisa beres hari ini juga, supaya saya besoknya bisa mulai magang di Desa."

"Ooooh!.." Haji Dahlan manggut-manggut terus ngekek ketika denger alasan Yudha murung. "Tenang aja, Yud. Kamu silahkan aja terusin tugas kamu buat magang. Saya bisa pegang sendiri sekarang."

"Wah! Saya jadi enggak enak, donk, entar!"

"Yang berat-berat udah beres, kok, hari ini. Sisanya tinggal yang hampang-hampang, tenang ajaa!"

Haji Dahlan langsung berdiri abis liat mega di langit Ciheras. "Siap-siap buat sholat magrib dulu, ntar dilanjut besok."

“Sebentar, Pak Haji!” Yudha tiba-tiba nahan Haji Dahlan. “Ngomong-ngomong.. Kenapa dari subuh sampe sekarang, saya, kok, enggak disuruh sholat?” tanya doi malu-malu.

Haji Dahlan tersenyum pas denger pertanyaan Yudha.

“Kamu muslim, Yud?”

“Iya, lah!”

“Udah akhil baligh? Sehat lahir-bathin? Laki-laki tulen, kan?”

“Iya, Pak Haji!”

“Berarti tau, kan. Laki-laku muslim, udah gede, sehat lahir-bathin harus ngapain?”

“Ya itu, Pak Haji. Sholat.” Yudha nyengir kuda.

Enggak ada jawaban apa-apa dari Haji Dahlan. Doi cuma seura-seuri sambil lanjut ke kamar mandi buat wudhu, “Ayo, cepetan berangkat wudhu. Biar bisa sholat berjamaah!”

*****

Ketika Yudha lagi asyik ngaso sendirian di depan halaman mesjid, muncul dua orang berbaju koko dan sarungan berdiri celingak-celinguk ke dalem mesjid. Dari pandangan mereka, kemungkinan besar pada keheranan sama kondisi mesjid As-Sunah.

"Ada apa, yah?" Yudha berani buat nyapa dua orang misterius itu.

"Punten. Ai ieu, teh, masjid As-Sunah, sanes?" tanya salahsatu dari mereka. Doi enggak percaya kalo mesjid yang mereka liat itu mesjid As-Sunah.

"Iya betul. Ini mesjid As-Sunah." Jawab Yudha mantap.

"Ooh! Sekarang udah ada marbotnya, yah? Akang marbot yang barunya?"

"Bukaan. Saya cuma bantu-bantu aja. Marbot masjidnya Pak Haji Dahlan."

"Wah! Syukur atuh, sekarang ada yang ngurus!" jawab mereka girang. "Punten. Boleh numpang sholat magrib di sini."

"Ya! Mangga-mangga!" Yudha menyilahkan mereka buat masuk mesjid.

Diem-diem Yudha nguping obrolan sekilas dua orang sarungan itu. Doi berdua lega dan senang, As-Sunah sekarang udah bagus lagi. Sekarang mereka enggak harus bercapek-capek ria jalan jauh-jauh ke mesjid yang lain.

Dasar, numpang ibadah doank! Giliran enggak ada yang ngurus pada kabur! Giliran udah diurus balik lagi! Sindir Yudha ke dua sarungers yang lagi sholat sunnah tahiyatul masjid.

Enggak kerasa sayup-sayup para marbot dari mesjid dan langgar lain udah mulai baca beberapa ayat suci. Tandanya bentar lagi waktunya sholat magrib bakal datang.

Ayo, cepetan berangkat wudhu. Biar bisa sholat berjamaah!

Perkataan Haji Dahlan barusan terbayang-bayang di otak Yudha. Doi bangkit dari ngasonya dan cepet-cepet ambil air wudhu.

Cobain, ah!

*****

  • view 54