Kades Yudha. Episode 3 : Mesjid Punya Cerita

Aang Pratama
Karya Aang Pratama Kategori Project
dipublikasikan 28 Agustus 2017
KADES YUDHA

KADES YUDHA


Setelah setahun lamanya Yudha lari dari tanggung jawabnya di Desa Ciheras. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menunaikan janjinya kepada mendiang sahabat dekatnya. Jadi seorang Kades!

Kategori Fiksi Remaja

228 Hak Cipta Terlindungi
Kades Yudha. Episode 3 : Mesjid Punya Cerita

Ketika Yudha buka kedua matanya, sosok Kang Didit duduk di sampingnya.

“Gimana, Yud?” tanya Kang Didit yang terkenal dengan senyum lembutnya.

Yudha langsung bangun dari tidurnya. Pasti Kang Didit menanyakan progres amanah yang doi titip.

“Aku udah bicara sama Teh Ningsih juga Lia. Tapi mereka nolak dan malah ngusir aku. Padahal udah dikasih tau kalo ini amanah dari Akang—tapi malah dibilang orang setres!”

Kang Didit tertawa renyah ketika mendengar laporan dari Yudha.

“Jadi gimana, donk, Kang?”

“Menurut kamu jadinya gimana?”

“Yah! Malah balik nanya doi!” protesnya. Yudha pun diam sejenak, “Paling aku ke sini cuma penelitian lapangan aja jadinya.”

“Ogituu..” seloroh Kang Didit. “Emangnya penelitian lapangannya dimana?”

“Pak Mathias nyuruh pengumpulan data di Kantor Desa—magang lagi, gituh.”

Kang Didit mengangguk-angguk paham, “Terus kira-kira kamu masih niat buat gantiin aku jadi Kades, gak?”

“Sebenernya, sih, mau. Soalnya aku banyak utang budi sama orang-orang sini—khususnya keluarga Kang Didit.” Lalu Yudha terdiam cukup lama, “Apalagi sampai bikin Akang dan keluarga terpisah selamanya. Karena ulah saya, keluarga Akang jadi kerepotan kayak sekarang—Apalagi harapan rakyat sini bisa hidup berubah lebih baik, jadi pupus juga!”

“Tapi kalo dipikir-pikir kata mereka ada benarnya juga. Saya ini juga apa. Cuma orang asing ujug-ujug nongol pengen nyelamatin desa ini kayak Superman. Kalo ternyata nantinya udah capek-capek dibantu nyalon ternyata akunya enggak amanah?”

Kang Didit memegang bahu kanan Yudha. “Yaudah. Sekarang kamu beresin urusan skripsi dulu. Magang yang bener-bener. Kalo dapat tugas yang menurut kamu baik, ambil dan kerjakan maksimal. Kalo memang jalannya emang kesana—pasti nanti kesana! Tapi kalo emang jalannya bukan kesana—pasti enggak!”

“Oke, Bro?!” canda Kang Didit.

Yudha tersenyum dan mengangguk, “Oke, Bro!” jawabnya.

“Mantaaappp.” Kang Didit tersenyum bangga sambil terus menggoyang-goyang bahunya.

Tapi entah kenapa, Kang Didit enggak selesai-selesai goyangin bahunya Yudha.

“Eh! Udah, donk, pegel, Kang!” protes Yudha.

Kang Didit masih doyan goyangin bahu doi, tapi ketawanya malah berubah makin serak kayak ketawanya Haji Dahlan.

*****

“Yud! Bangun, Yud! Matahari udah nongol enggak baik tidur melulu!” panggil Haji Dahlan.

Yudha langsung bangkit dari ngoroknya ketika hampir semenit badannya diayak-ayak sama Haji Dahlan. Akhirnya mimpinya kelar juga—Ia mengusap wajahnya supaya sadar bener. Kamar tidur Haji Dahlan jadi terlihat aslinya—warnanya abu-abu keijoan karena campur sama lumut, masih memprihatinkan tapi tidak seangker waktu malam.

Haji Dahlan pun enggak pake baju kebesarannya—gamis putih lusuh. Doi pakai kaos polo lengan panjang murahan hadiah lomba tujuh belas agustusan tahun-tahun lalu, lengkap dengan bawahan celana training. Peci katunnya pun enggak dipake, jadi terlihat dengan vulgarnya rambut putih dan pitaknya.

“Memangnya sekarang jam berapa, Pak Haji?”

“Udah jam sembilan.” Jawab Haji Dahlan. “Yuk, ke dapur. Saya udah nyiapin sarapan—tapi harap maklum, yak, alakadar!”

“Aih! Ngerepotin aja, Pak Haji!”

 *****

“Maaf, Yak! Kalo menu sarapannya enggak kayak sarapannya orang Bandung!” ujar Haji Dahlan.

“Ah! Enggak apa-apa, Pak Haji. Udah biasa ama menu kayak gini waktu KKN.” Jawab Yudha ketika ia disuguhi ikan asin kecil gepeng.

Daripada kelaparan, mendingan santap ikan asin sambil lesehan di dapur merangkap ruang makan yang Cuma bisa muat empat orang dewasa. Kelihatannya Haji Dahlan sehabis sholat subuh bela-belain bikin sarapan nasi liwet itu dengan rice cooker—satu-satunya peralatan dapur yang mengikuti jaman dan layak pakai.

“Andai mesjid ini enggak ditinggal kabur, mungkin saya enggak sarapan malu juga. Hehehe.”

“Apa itu termasuk janji Pak Haji soal cerita panjang yang mau diceritain ke saya hari ini?”

“Ya, itu!” Haji Dahlan mengamini. Ia pun menarik napas dulu sejenak, “Begini ceritanya.”

“Dulu, saya marbot mesjid ini—dibantu oleh almarhumah istri saya dan anak angkat saya—laki-laki, sejak mesjid As-Sunah berdiri sebagai mesjid desa. Akan tetapi, semenjak istri saya meninggal, hubungan saya dan anak angkat saya mulai merenggang.”

“Tapi yang paling parahnya ketika ada program dari pemerintah provinsi, mesjid desa mendapatkan santunan operasional bangunan. Marbot mesjid macam kami berdua, pun, mendapatkan gaji sebesar UMR dirapel tahunan.”

“Sayangnya, uang bantuan operasional mesjid tak sepenuhnya cair. Usut punya usut, ternyata sembilan puluh persen uang bantuan operasional mesjid dikutip Pak Kades Mukti. Saya coba tegur Pak Kades atas ketidakamanahan beliau salurkan bantuan dari pemerintah.”

“Saya malah dinego oleh beliau—Pak Haji, gimana kalau tau sama tau saja? Tiga puluh dari sembilan puluh persennya saya kasih buat Pak Haji sama anaknya! Itu saya udah bageur pisan karena liat Bapak dan anaknya ngurus mesjid dari nol!

“Sayangnya anak saya enggak tahan sama rupiah. Dia malah tega kerjasama ama Kades dan coba mengusir saya dari mesjid.” Lama-lama tatapan Haji Dahlan yang selalu ramah dan enerjik, berubah menjadi nanar dan rapuh kayak gipsum langit-langit dapur yang udah siap runtuh sekali tiup.

“Ya udah! Akhirnya saya mutusin pergi dari sini, saya enggak mau hubungan kami berakhir dengan pertumpahan darah. Alhamdulillaah, saya diterima oleh pesantren saya dulu besar di Sukabumi, sebagai guru ngaji di sana. Lima tahun lamanya ngungsi disana sambil berdoa, semoga dia dan keluarga sudah sadar dari kekeliruan mereka.”

“Empat hari yang lalu. Tetangga sini tiba-tiba nelpon saya untuk minta pulang buat ngurus mesjid. Anggapan saya waktu itu—Alhamdulillaah! Akhirnya kami bisa nyambung lagi lagi tali silaturahim antara orang tua dengan anak! Enggak banyak cingcong, saya langsung berangkat pulang setelah pamit ke orang pesantren dengan bawaan seadanya.”

“Dan pas nyampe mesjid. Saya kaget bukan main, mesjid As-Sunah udah kayak imah jurig. Setelah ngobrol sama tetangga sekitar, ternyata mesjid udah dua tahun enggak diurus sama anak angkat dan keluarganya. Ternyata dia dipenjara sepuluh tahun karena ketahuan nilep uang bantuan pemerintah, anak istrinya minta cerai dan minggat karena malu lakinya jadi kriminil.”

Haji Dahlan mulai baper, suaranya pun makin parau. “Inalillahiii!.. Dung, Dudung. Kenapa nasib ente mesti begini, sih?..” doi mulai sesenggukan.

Kades edan! Bisa-bisanya dia lolos dari kasus korupsi macam begini yang udah jalan lima tahun!—Yudha geleng-geleng kepala setelah mendengar cerita soal kenapa mesjid As-Sunah dan tempat tinggal Haji Dahlan bisa bobrok kayak gini.

“Tenang aja, Pak Haji. Nanti saya bantuin, deh, bebenah masjidnya!”

“Terus gimana urusan skripsi kamu? Ntar ngeganggu lagi!”

“Mulainya baru besok, Pak Haji. Santai!”

“Alhamdulillaah!..” Haji Dahlan mengelus-elus dadanya yang lega.

“Sekarang kita bikin daftar barang yang mau dibeli buat bebersih mesjid dan rumah—macem sapu, pel, pembersih lantai.”

“SE-SEBENTAR!” Haji Dahlan langsung ngerem ketika mendengar kata beli. “Saya, enggak punya uang beli begituan, Yud.”

No worries, Pak Haji. Semuanya saya yang tanggung—daripada bingung punya uang saku mau dipake apaan.”

“Oh begitu!” Haji Dahlan girang ketika mendengar kegiatan beberes mesjid dananya ditanggung oleh Yudha—walau sebentar mengerutkan kening ketika denger istilah no worries barusan.

Setelah sempat galau, Yudha dan Haji Dahlan kembali bersemangat lagi. Mereka serius sekali mempersiapkan perlengkapan restorasi mesjid.

*****

Sekarang Yudha dalam perjalanan naik angdes menuju toko koperasi. Toko koperasi adalah toko swalayan terbesar dan terlengkap milik Koperasi Majeng Sarerea. Warga Ciheras—termasuk anak-anak KKN waktu itu—beli keperluan rumah tangga mereka di sana. Jadi mereka tak perlu jauh-jauh ke kampung yang agak besaran untuk belanja keperluan bulanan.

Mudah-mudahan enggak ketemu Teh Ningsih! Apalagi sampai ketemu Lia! HIIIHHH!!—Yudha bergidik sendiri ketika bayangin sosok Lia memergokinya masih kelayapan di Desa Ciheras. Bisa-bisa Yudha digebuki jadi adonan bakpau lagi!

Waduh! Lupa ngabarin orang rumah!—kantong celananya yang tak sengaja ia raba langsung dikeluarin dan dinyalain sesegera mungkin. Walhasil, berbagai macam pesan pesan instan, SMS, sampai missed call bermunculan tak terbendung sehabis ponsel pintarnya dapetin sinyal selular.

Yudha pun langsung menelepon orang rumah sesegera mungkin setelah membaca pesan-pesan—dari bernada paling lembut sampai paling keras—dari Bi Imas.

“Halo, Bi!”

“Astagfirullooh, Den! Den Yudha kemana aja dari kemaren nggak dibales-bales?!” Bi Imas enggak perlu lagi membalas sapaan Yudha, doi langsung menyereweti tuan mudanya.

“Waduh! Ampun, Bi! Aku baru dapet sinyal hape soalnya.” Yudha ngeles.

“Haduuuh! Bibi udah mikirin kemana-mana waktu di-WA enggak dibales, di-SMS enggak juga, ditelpon tulalit. Jangan-jangan hapenya dicuri. Jangan-jangan dibegal di tengah jalan. Jangan-jangan diculik—“

“Buset, jauh amat pikirannya, Bi.”

“Oh, ya, Den. Barusan Ibu ngabarin kalo Ibu udah nransferin duit buat biaya tinggal di sana—dua puluh lima juta!”

Yudha gelagapan, apalagi para penumpang lain langsung nyuri pandangan ke doi ketika denger nominal fantastis tersebut—Dasar orang gunung! Enggak pake pitch control suaranya!

“Banyak amat, Bi! Kan, aku juga enggak terus-terusan di sini. Entar ada pulangnya jugak.”

“Soalnya Ibu mau pergi dines ke luar, bisi entar malah enggak nyempet sama lupa ngasih uang bulanan.”

“Halagh!” jawab Yudha—Alasan itu lagi. “Aku udah mau nyampe, nih. Ntar lanjut lagi. Dadaah, Bii!”

“Yaa! Hati-hati sama jangan males ngabarin Bibi!”

Hati kecil Yudha sebenernya udah mulai gedek, karena ia hidup punya ortu secara de jure, tapi enggak punya ortu secara de facto. Doi selalu berharap Mama-nya yang ngabarin kalo ngirim duit segitu buat uang saku di Ciheras.

Tapi obrolan seintim dari nyokapnya kayak timnas Indonesia menang sepakbola Piala Dunia.

*****

Ketika Yudha turun dari angdes, enggak sengaja ia melihat pemandangan yang menarik perhatiannya—dan sedikit ngeganggu perasaan doi. Siang-siang bolong begini, Ditsy dengan sepedanya sedang nongkrong dengan teman-teman sebayanya di sebuah gang kampung.

Itu serius Ditsy? Kok, seragam sekolahnya acakadut begitu?—Yudha diam-diam mengawasi aktivitas anak-anak SD tersebut. Enggak Cuma sekedar seragam yang dipakai asal-asalan, tapi ada beberapa anak nongkrong itu terlihat mencurigakan.

Tiga anak keliatan anak yang gede karbitan—pakaian dan gaya kayak anak-anak remaja akhir, dan mereka bawa motor matic. Mereka juga terlihat bawa-bawa bungkus rokok filter dan estafetin korek gas. Dan estafet selanjutnya adalah giliran Ditsy.

*****

“Hayu, Dit! Giliran maneh!” salahsatu teman sepermabalannya mulai kesel sama kecupuan Ditsy.

Ditsy tak sanggup menolak desakan kawan-kawan barunya. Ia pun mengeluarkan sebatang rokok filter dan mengambil korek gas yang disodorkan walau terpaksa.

“Nunggu apaan, sih, Dit?! Kan udah diajarin cara nyalainnya!”

Dicky—pemimpin geng mereka, tertawa ngakak melihat tingkah si anak baru.

“ANJIIIRRR!! Enggak nyangka anak boss koperasi meuni culun kieu, goblok!” ejek Dicky. “Kamu, teh, serius mau gabung sama kita-kita enggak, sih?!”

Ditsy Cuma ngangguk—tapi ngangguk yang enggak tulus.

“Serius, enggak?!” Dicky mencium tekad Ditsy yang masih sepertiga-sepertiga.

Doi kembali nyoba ngangguk dengan serius. Tapi masih terlihat seperempat keseriusan Ditsy di mata sang boss geng.

“JAWAB, GOBLOK!!”

“I-Iya, serius!” Ditsy ketakutan. “T-Tapi! Apa boleh gabung tapi enggak pake ngudud?”

Semua teman-temannya yang ada di gang situ langsung pada ngakak pas dengerin pertanyaan Ditsy.

“Parah, si anjing! Emangna ini geng punya bapa sia?!” maki Dicky. Ia ngasih isyarat kepada dua anggota seniornya.

Tanpa ragu, dua anggota senior langsung meringkus Ditsy. Satu orang merampas rokok filter dan korek gas yang dipegang Ditsy, dan doi menyalakan rokoknya. Sedangkan satu orang lagi menjambak rambut Ditsy dari belakang, memaksa anak tunggal Kang Didit menerima hisapan pertama rokoknya.

Melihat keadaan makin runyam, Yudha bergegas menghampiri gerombolan anak nakal secepat mungkin.

Kalau enggak diselamatin, bisa gawat!

*****

  • view 24