Kades Yudha. Episode 3 : Mesjid Punya Cerita

Aang Pratama
Karya Aang Pratama Kategori Project
dipublikasikan 28 Agustus 2017
KADES YUDHA

KADES YUDHA


Setelah setahun lamanya Yudha lari dari tanggung jawabnya di Desa Ciheras. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menunaikan janjinya kepada mendiang sahabat dekatnya. Jadi seorang Kades!

Kategori Fiksi Remaja

612 Hak Cipta Terlindungi
Kades Yudha. Episode 3 : Mesjid Punya Cerita

Ketika Yudha buka kedua matanya, ada sosok Kang Didit duduk di sampingnya. Ternyata doi ikut juga ke Ciheras, sekalian pulang kampung.

"Gimana, Yud, perjalanan pertamanya ke Ciheras?" tanya Kang Didit yang terkenal dengan senyum lembutnya.

Yudha langsung bangun dari tidurnya, sambil tolah-toleh. Fajar udah mulai menyingsing, tapi mesjid cuma mereka berdua. Kayaknya Haji Dahlan udah bangun paling duluan.

"Seru! Nambah pengalaman sama kenalan." Jawab Yudha.

"Udah ketemu sama keluarga aku?" Kang Didit langsung to the point alesan kenapa doi muncul.

"Aku udah bicara sama Teh Ningsih juga Lia, soal kejadian yang sebenernya waktu itu, sama niatan buat gantiin Akang. Tapi mereka nolak dan malah ngusir aku. Padahal aku udah ngasih buku diary Akang, bahkan Lia nganggap aku orang gila!"

Kang Didit tertawa abis denger laporan dari Yudha.

"Jadi gimana, donk, Kang?"

"Menurut kamu jadinya gimana?"

"Yah! Malah balik nanya doi!" protes Yudha.

Doi pun diem sejenak buat mikir, "Saya minta maaf, Kang. Kayaknya saya enggak bisa. Paling sekarang tujuan aku ke sini cuma ngurusin penelitian lapangan."

"Oohh..." jawab Kang Didit enteng, "Emangnya penelitian lapangannya di mana?"

"Pak Mathias nyuruh pengumpulan data di Kantor Desa lewat magang lagi."

Kang Didit nglempar pertanyaan, "Terus, kira-kira kamu masih niat buat gantiin saya jadi Kades, gak?"

"Sebenernya, sih, mau. Soalnya aku banyak utang budi sama orang-orang sini, khususnya keluarga Kang Didit."

"Apalagi sampe bikin Akang dan keluarga terpisah selamanya. Karena ulah saya, keluarga Akang jadi kerepotan kayak sekarang. Apalagi harapan rakyat sini bisa hidup berubah lebih baik, jadi ikutan pupus juga!"

"Tapi kalo dipikir-pikir, kata mereka ada benarnya juga. Saya ini juga apa? Cuma orang asing enggak dikenal ujug-ujug nongol pengen nyelamatin desa ini kayak Superman. Kalo ternyata nantinya udah capek-capek dibantu nyalon ternyata akunya enggak amanah?"

Kang Didit enggak langsung nanggepin ucapan Yudha barusan. Doi malah kayak lagi mikirin sesuatu selama beberapa menit. Abis kelar tepekur, doi ngangguk-ngangguk kepala sama senyam-senyum sendiri.

"Kunaon, Kang??" Yudha bingung ama reaksi doi. 

"Yaudah. Saya pribadi ngucapin banyak terima kasih dan salut udah gentlemen mau ngakuin kesalahan! Jarang ada orang bersikap kesatria gitu dalam keadaan sesulit punya kamu, lho!"

"Sekarang, kamu fokus magang aja dulu. Kalo dapat tugas, ambil sama kerjain sebaik mungkin! Serap semua ilmu, pengalaman, sama silaturahmi yang bisa didapat selama magang!"

"Kalo emang entar Tuhan ngasih jalan jadi Kades—pasti nanti ke sana! Kalo pun enggak, pasti semua yang kamu dapet bakal berguna buat nantinya!"

"Oke, Bro?!" Kang Didit goyangin bahu kanan Yudha.

Yudha tersenyum dan mengangguk, "Oke, Bro!" jawabnya.

"Mantaaappp!.." Kang Didit tersenyum bangga sambil terus menggoyang-goyang bahunya.

Tapi entah kenapa, Kang Didit enggak selesai-selesai goyangin bahunya Yudha!

"Eh! Udah, donk, pegel, Kang!" protes Yudha.

Kang Didit masih doyan goyangin bahu doi, tapi ketawanya makin lama malah berubah makin serak kayak ketawanya Haji Dahlan.

*****

"Yud! Bangun, Yud! Matahari udah nongol, enggak baik tidur melulu!" panggil Haji Dahlan.

Yudha langsung bangkit dari ngoroknya sehabis hampir semenit badannya diayak-ayak Haji Dahlan.

Yudha buka resleting sleeping bag-nya, terus ngusap-ngusap wajah. "Emangnya sekarang jam berapa, Pak Haji?"

"Udah jam sembilan." Jawab Haji Dahlan. "Yuk, ke dapur. Saya udah nyiapin sarapan—tapi harap maklum, yak, alakadar!"

"Aih! Ngerepotin aja, Pak Haji!"

*****

Hari ini Haji Dahlan enggak pake baju kebesarannya—gamis putih lusuh plus sarung. Doi pake kaos polo lengan panjang hadiah lomba tujuh belas agustusan, lengkap sama bawahan celana training.

Peci katunnya pun enggak dipake, jadi keliatan dengan vulgarnya rambut putih dan pitaknya. Paling yang nyisa cuma kacamata plusnya yang lumayan tebel.

"Maaf, Yak! Sarapannya enggak kayak sarapannya orang Bandung!"

"Ah! Enggak apa-apa, Pak Haji. Udah biasa ama menu kayak gini waktu KKN." Jawab Yudha wakyu disuguhi nasi liwet lauk ikan teri asin gepeng.

Sehabis sholat subuh, Haji Dahlan bela-belain bikin sarapan nasi liwet itu pake rice cooker yang doi bawa dalam perjalanan pulang. Rice cooker adalah satu-satunya peralatan dapur Haji Dahlan yang ngikutin jaman dan masih layak pakai.

"Andai mesjid ini enggak ditinggal kayak gini, mungkin saya enggak sarapan malu juga. Hehehe."

"Wah, kebetulan! Tadi malem saya juga mau nanyain itu. Emangnya kenapa ampe bisa enggak keurus?"

Haji Dahlan pun narik napas dulu sejenak, kayaknya doi bakal mendongeng panjang buat Yudha.

"Begini ceritanya. Semenjak mesjid As-Sunah baru berdiri, saya yang jadi marbot mesjidnya. Dibantu sama almarhumah istri dan anak angkat lelaki saya, Dudung namanya. Aduuh! Kalo diinget-inget lagi, hebat sekali keluarga saya. Mau-maunya ngurusin mesjid cuma ngandelin uang sumbangan dari warga sama orang-orang yang baik budi."

"Dulu saya, pun, sempet mau nyerah marbotin ini mesjid. Tapi, almarhumah istri saya ngelarang dan nyuruh saya buat terus ngurus. Pasti ntar ada balesan yang setimpal dari semua kerja kita, apalagi ini kerja ngurus rumah Tuhan! Kata dia."

"Alhamdulillaah! Makin lama makin banyak jemaahnya, juga makin banyak juragan-juragan desa yang mau ngasih sumbangan operasional. Bahkan ada yang ngasih honor bulanan buat keluarga kami. Dudung, pun, sampe disekolahin juga!"

"Makin lama, mesjid As-Sunah yang dulunya lebih kecil dan lebih sederhana dari yang sekarang, bisa makin gede sampe wujudnya kayak sekarang. Dan waktu itu enggak ada perhatian sama sekali dari pemerintah setempat, lho!"

Suara Haji Dahlan yang menggebu-gebu karena ngobrolin gimana perjuangan doi marbotin mesjid, mulai turun dan kedengeran sendu. Doi mulai nyeritain sisi kelam si mesjid.

"Tapi, sejak istri saya meninggal, sama ketika Dudung mulai berkeluarga, hubungan saya dan anak angkat saya mulai renggang. Tapi puncak buruknya hubungan kami berdua, waktu ada program dari pemerintah provinsi." 

"Pemerintah provinisi punya program, mesjid desa dapet santunan operasional bangunan puluhan juta rupiah. Marbot mesjid , pun, dapat gaji sebesar UMR bulanan kayak karyawan kantoran. Posisi marbot mesjid As-Sunah yang dulunya  diremehin karena status cuma kerjaan sukarela, berubah bergengsi kayak pegawai negri sipil!"

"Sayangnya, program itu cuma buat menggaji satu orang marbot. Atas nama menjaga silaturahiim antar anak dan bapak, saya mutusin buat ngalah. Dudung yang diangkat jadi marbot resmi mesjid. Dia lebih butuh, karena punya keluarga yang mesti dinafkahi."

"Hubungan kami makin rusak. Anak saya berani menyalahgunakan uang operasional mesjid. Sebagai seorang bapak, saya coba negur dan ngingetin dia. Tapi Dudung dan istrinya enggak terima dan malah menuduh minta jatah uang itu."

"Dan akhirnya, hubungan kami berdua putus ketika dia ngasih pilihan ditantang ikut duel maut buat ngrebutin posisi marbot masjid atau pergi dari Ciheras? Ya udah, saya mutusin pergi, saya enggak mau hubungan berakhir pake pertumpahan darah. Naudzubillaah!..

Haji Dahlan geleng-geleng kepala sambil nunduk, enggak mau matanya yang mulai berkaca-kaca keliatan Yudha.

"Alhamdulillaah, saya diterima oleh sebuah pesantren besar di Sukabumi, sebagai guru ngaji. Lima tahun lamanya ngungsi di sana sambil berdoa, semoga Tuhan ngasih hidayah buat dia dan keluarga atas kekeliruan mereka."   

"Empat hari yang lalu. Warga sini nelpon saya buat pulang ngurusin mesjid lagi. Pikiran saya waktu itu. Alhamdulillaah! Bisa nyambung lagi tali silaturahim orang tua sama anak! Saya langsung pamit ke Pesantren, berangkat pulang dengan bawaan seadanya. Barang berharga yang saya bawa cuma rasa kangen bisa akur sama Dudung lagi."

"Dan pas nyampe mesjid kemaren. Saya kaget bukan main, mesjid As-Sunah udah kayak imah jurig. Ngobrol sama tetangga sekitar, ternyata mesjid udah dua tahun enggak diurus anak saya. Dia dipenjara karena ketahuan nilep uang bantuan pemerintah, anak istrinya minta cerai dan minggat, karena malu laki dan bapaknya jadi kriminal."

Yudha nyium ada yang aneh dari curcolan Haji Dahlan, "Terus gimana Kades Mukti? Urusan duit pemerintah gitu, kan, pasti dia tau, Pak Haji!"

"Katanya, sih, enggak bersalah." Haji Dahlan lalu nurunin suaranya, "Ada gosip kalo dia lolos karena nyogok pengadilan. Padahal dia juga suka nyunatin uang operasional mesjid."

"Dung, Dudung. Kenapa nasib ente mesti begini, sih?.." doi mulai sesenggukan.  

Yudha geleng-geleng kepalanya. Parah bener si petahana!

"Tenang aja, Pak Haji. Nanti saya bantuin, deh, bebenah mesjidnya!"

"Gimana urusan skripsi kamu, Yud? Ntar ngeganggu lagi!"

"Mulainya baru besok, Pak Haji. Santai!"

"Alhamdulillaah!.." Haji Dahlan ngelus-elus dada, lega.

"Sekarang kita bikin daftar barang yang mau dibeli buat bebersih mesjid dan rumah. Macem sapu, pel, pembersih lantai.."

"SE-SEBENTAR!" Haji Dahlan langsung ngerem  waktu denger kata beli. "Saya, enggak punya uang buat beli begituan, Yud." doi tersipu-sipu.

"No worries, Pak Haji, semuanya saya yang tanggung. Daripada bingung punya uang saku  kebanyakan mau dipake apaan."

Haji Dahlan girang denger kegiatan restorasi mesjid dananya ditanggung Yudha, walau sebentar ngerutin jidat waktu denger istilah no worries barusan.

Setelah bergalau ria, Yudha dan Haji Dahlan bersemangat lagi! 

*****

Yudha on the way naik angdes ke toko koperasi. Toko koperasi adalah toko swalayan terbesar dan terlengkap sekawasan Ciheras yang dimiliki Koperasi Majeng Sarerea. Warga Ciheras sama desa-desa sekitar yang deket—termasuk anak-anak KKN waktu itu—beli keperluan rumah tangga mereka di situ. 

Mudah-mudahan enggak ketemu Teh Ningsih! Apalagi sampai ketemu Lia! HIIIHHH!!—Yudha bergidik sendiri  bayangin sosok Lia mergokin doi masih kelayapan di Desa Ciheras. 

Bisa-bisa Yudha dibikin jadi adonan bakpau lagi!

Turun dari angdes, enggak sengaja Yudha liat sesuatu yang menarik perhatian—dan sedikit ngeganggu perasaan doi. Siang-siang bolong begini, Ditsy dengan sepedanya lagi nongkrong sama teman-teman sebayanya di sebuah gang kampung.

Itu serius Ditsy? Kok, seragam sekolahnya acakadut begitu?

Yudha diam-diam ngawasi aktivitas anak-anak SD tersebut. Enggak cuma sekedar seragam yang dipakai asal-asalan, tapi ada beberapa anak nongkrong keliatan mencurigakan.

Tiga anak keliatan anak yang gede dikarbit. Biarpun badannya masih imut-imut, tapi pakaian dan gaya kayak anak-anak kuliahan. Mereka bawa motor matic sambil bawa-bawa bungkus rokok filter. 

Mereka sibuk estafetin korek gas. Dan estafet selanjutnya adalah giliran Ditsy.

*****

"Hayu, Dit! Giliran maneh!" salahsatu teman sepermabalannya mulai kesel sama kecupuan Ditsy.

Ditsy enggak sanggup nolak desakan kawan-kawan barunya. Doi ngeluarin sebatang rokok filter dan ngambil korek gas yang disodorin, padahal terpaksa.

"Nunggu naon, sih, Dit?! Kan, udah diajarin cara nyalainnya!"

Dicky—pemimpin geng mereka, tertawa ngakak melihat tingkah si anak baru.

"ANJIIIRRR!! Enggak nyangka anak boss koperasi meuni culun kieu, goblok!" ejek Dicky. "Kamu, teh, serius mau gabung sama kita-kita enggak, sih?!"

Ditsy Cuma ngangguk, tapi ngangguk yang enggak tulus.

"Serius, enggak?!" Dicky mencium tekad Ditsy yang masih sepertiga-sepertiga.

Doi kembali nyoba ngangguk dengan serius. Tapi masih terlihat seperempat keseriusan Ditsy di mata sang boss geng.

"JAWAB, GOBLOK!!"

"I-Iya, serius!" Ditsy ketakutan. "T-Tapi! Apa boleh gabung tapi enggak pake ngudud?"

Semua teman-temannya yang ada di gang situ langsung pada ngakak dengerin pertanyaan Ditsy.

"Parah, si anjing! Emangna ini geng punya bapa sia?!" maki Dicky. Ia ngasih isyarat kepada dua anggota seniornya.

Tanpa ragu, dua anggota senior langsung turun dari motor matic masing-masing lalu meringkus Ditsy. Satu orang ngerampas rokok filter dan korek gas yang dipegang Ditsy dan nyalain rokoknya. Sedangkan satu lagi jambak rambut Ditsy dari belakang, maksa anak tunggal Kang Didit menerima hisapan pertama rokoknya.

Melihat keadaan makin runyam, Yudha bergegas menghampiri gerombolan anak nakal secepat mungkin.

Kalau enggak diselamatin, bisa gawat!

*****

  • view 47