Kades Yudha. Episode 2 : Haji Dahlan

Aang Pratama
Karya Aang Pratama Kategori Project
dipublikasikan 28 Agustus 2017
KADES YUDHA

KADES YUDHA


Setelah setahun lamanya Yudha lari dari tanggung jawabnya di Desa Ciheras. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menunaikan janjinya kepada mendiang sahabat dekatnya. Jadi seorang Kades!

Kategori Fiksi Remaja

417 Hak Cipta Terlindungi
Kades Yudha. Episode 2 : Haji Dahlan

DOEEENGGG!!!

Ketika Yudha sampai di mesjid As-Sunah, Yudha syok berat.

Ya Alloh, Gusti! Ini seriusan mesjid?!

S____t d____g d_ M_____ Jami As-Sunah, D___ Ciheras, K________ Pangandaran.

Huruf-huruf kayunya udah banyak ilang, papan namanya juga udah keliatan banget dari bahan kayunya.

Ditebak-tebak, mesjid As-Sunah dari ukuran fisiknya adalah mesjid besar milik Desa Ciheras, tapi teramat sangat tak terawat. Sangking teramat sangatnya, mesjid ini lebih cocok dibilang rumah hantu-hantu Desa Ciheras ketimbang mesjid jami!

Cat-cat yang ada udah nyaris sembilan puluh persen rontok udah lama digerogotin umur sama cuaca. Kayu kusen-kusen pintu dan jendela juga pucat dan kering, enggak pernah diplitur ulang buat nangkis korosifnya angin laut.

Halaman mesjid juga lebih banyak rumput liarnya, bahkan udah ada semak-belukar di sana-sini. Lebih parah dari kantor desa tempat doi magang setahun yang lalu!

Weleh weleh weleeh! Udah berapa dekade ini mesjid enggak diurus??

Yudha masuk mesjid kayak masuk hutan.

*****

Di dalam mesjid, kondisinya lebih mendingan dari kondisi bangunan mesjid lainnya yang lebih mengenaskan.

Ah! Itu dia orangnya! Yudha mergokin ada orang berpakaian Islami sibuk beberes bagian dalam mesjid.

"Assalaamualaikuum!" Yudha nyapa orang yang lagi sibuk nyapu dalam masjid sambil babacaan istighfar dan geleng-geleng kepala.

Kayaknya doi terlalu khusyuk sama kegiatan beberes isi mesjid yang penuh bangke serangga dan debu yang bergulung-gulung macam rambut orang kribo.

"Assalaamualaikuum! Pak Haji Dahlan!!" Yudha kembali nyapa pake nada lebih nyaring.

"Oh! Waalaikumussalaam warohmatullohi wabarokatuuh." Akhirnya orang yang Yudha sebut Pak Haji Dahlan noleh juga.

Walau udah pake kacamata, Pak Haji Dahlan mesti mincingin kedua mata buat bisa liat sosok Yudha dengan jelas.

"Punten, sareng saha?"

"Dengan Yudha, Pak. Itu, yang ketemu di Terminal Indihiang tadi pagi!"

Pak Haji Dahlan menerawang sejenak, karena udah mulai udzur, proses ulang ingatan jadi lebih lama dari biasanya. Akhirnya doi ngangguk-ngangguk dan ketawa terkekeh-kekeh.

"Ooh! Ya! Ya! Ya! Ya!" jawab Haji Dahlan semangat.

*****

Ini kali pertamanya, Yudha mengembara keluar kota sendirian. Tujuan pengembaraan tunggalnya adalah Desa Ciheras, tempat dimana setahun yang lalu adalah lokasi dia dan mahasiswa setingkatannya melakukan kegiatan wajib Kuliah Kerja Nyata.

Fase pertama pengembaraannya berjalan dengan mulus. Doi nyampe di Terminal Indihiang, setelah lima jam perjalanan naik kereta api dari Stasiun Bandung ke Stasiun Indihiang, lalu lanjut ke terminalnya pake becak yang udah stand by mulai subuh.

Tinggal cari mobil Elf dengan rute Indihiang-Ciheras, sesuai panduan perjalanan yang dikasih Pak Mathias, dosen pembimbing skripsi Yudha, yang sering bolak-balik Ciheras buat penelitian lapangan maupun sekedar main ke rumah murid kesayangannya, mendiang Kang Didit.

"Halo, Bi! Sekarang aku udah sampe di Tasik!"

"Alhamdulillaah! Syukur atuh!" jawab Bi Imas, "Hati-hati di Tasik! Baik-baik sama warga sana! Jangan lupa, jangan jajan sembarangan! Rumah sakit jauh!" wanti-wanti Bi Imas.

"Yeee! Tempatnya bukan di Tasik, Bi! Daerah Pangandaran, tapi masih jauh lagi!"

"Beuh, komo di Pangandaran, Den! Lebih jauh lagi dari rumah sakit! Kudu lebih hati-hati!"

"Ya ya ya. Pasti pasti." Yudha buru-buru mengiyakan, sebelum ajudan rumah tangganya yang udah dinas sejak doi masih orok, makin nyerocos kemana-mana.

"Ngomong-ngomong, Mamah udah pulang, Bi?"

"Baru aja sampe. Tapi sekarang langsung bobo di kamarnya."

"Ooh!.. Yaudah atuh. Wassalaamualaikum." Tutup Yudha.

Yudha lanjutin pencarian di tengah-tengah Terminal Indihiang yang makin dipenuhi orang-orang dari berbagai penjuru mata angin Jawa Barat, dari yang mau menuju kota besar sampai yang mau menuju kampung-kampung, tumplek blek.

Tiba-tiba, seseorang mencolek tangan Yudha. Seorang ibu-ibu dengan wajah memprihatinkan-pucat pasi dan kebingungan.

"Kenapa, Bu??"

"Punten, A. Saya minta tolong!.." pinta si ibu lirih.

"Minta tolong apa, Bu?"

"Saya barusan habis dicopet, A. Dompet saya, yang isinya ongkos buat pulang ke kampung sama uang buat keluarga di kampung, dadas. Saya enggak bisa pulang, dari malem saya enggak makan!.." mata si ibu berkaca-kaca.

Dasar copet biadab! Kutuk Yudha dalam hati, "Udah lapor ke polisi belum, Bu??"

"Udah, tapi katanya copetnya udah enggak bisa ditangkep."

Yudha garuk-garuk kepala, hatinya makin galau ketika si ibu-ibu malang makin berkaca-kaca matanya.

"Perlu berapa, Bu?"

"Semuanya sejuta, A!.."

Yudha gelagapan denger besaran uang yang digasak si copet sialan. Waduh! Sejuta, mah, ongkos buat ke Ciheras, euy!

"Gede juga, yah.." Yudha mulai canggung.

Kirain duit yang ilang bisa ditalangin semuanya. Kalau pun nekat nalangin, gantian Yudha yang nangis-nangis di terminal, ntar!

"Kalo ongkos pulang ke kampung berapa, Bu?"

"Seratus ribu."

Yudha langsung buka isi dompet dan nyerahin dua lembar uang seratus ribuan.

"Punten, saya cuma ngongkosin dua ratus ribu aja. Satu buat ibu pulang sama sisanya buat makan."

Bukannya bilang hatur nuhun atau terima kasih, si ibu malah manyun sama ngeloyor ninggalin Yudha! Doi garuk-garuk kepala melihat tingkah si ibu.

Emak-emak yang aneeh.. Gumamnya sambil lanjutin perjalanan.

*****

Keunikan-keunikan hidup di terminal enggak si ibu-ibu yang kecopetan doank. Kini Yudha nemu seorang pria umur pertengahan lima puluh tahunan nawarin sepasang sendal butut, dengan suara kayak gagak tua doi ngasongin sendalnya lima puluh ribuan.

"Marangga, Bapak-Ibu, Akang-Eceu. Lima puluh ribu saja!" panggil sang "Pak Haji", karena pakaiannya gamis abu-abu dan kopiah katun putih lusuh.

"Ah! Bade, Kang?" Pak Haji langsung nyodorin dagangan enggak masuk akalnya ke Yudha yang ngedeketin doi.

Eits! Yudha langsung mundur setengah langkah waktu liat sendal butut yang diasong si Pak Haji.

"Aduh! Kayaknya enggak, deh, Pak Haji!" Yudha coba nolak dengan sopan. Sangking sopannya, doi nahan napas dari semerbak aroma beracun sendal bututnya.

"Apa enggak salah lima puluh ribu, Pak?.." Yudha enggak bisa nyembunyiin muka kecutnya.

Pak Haji terkekeh, "Sebenernya, dikasih aja mustahil ada yang mau. Kebetulan aja duit saya buat pulang kampung baru aja kecopetan. Daripada minta-minta. Malu."

Jawaban santai Pak Haji bikin Yudha diem. Beliau beda banget sama ibu-ibu yang barusan.

Yudha pun sempat tertegun waktu liat Pak Haji malah ngerelain kedua kakinya yang rorombeheun menahun nyeker, daripada jual diri buat minta-minta.

"Emang mau pulang kampung kemana, Pak Haji?" Yudha penasaran.

"Ke Ciheras."

"WAH! Kebetulan saya juga mau ke Ciheras!" Yudha girang karena dapat teman seperjalanan, "Yuk, biar saya aja yang bayar ongkos Elf-nya, ntar!"

"Waduh! Jangan, Kang!" tolak Pak Haji malu-malu.

"Udah, lah! Mumpung searah!" paksa Yudha. "Pake lagi, ya, Pak, sendalnya!"

*****

"Ternyata penipu! Emak-emak brengsek!!.." Yudha diam-diam maki-maki ibu-ibu yang minta tolong kepadanya dari dalam Elf.

Doi tertangkap penglihatan Yudha, lagi melancarkan operasi kedua ke seorang wanita yang sama kayak Yudha. Lugu!

"Baru pertama kali ke sini, yah?.." ternyata Pak Haji denger makian Yudha.

"Begitulah, Pak Haji." Yudha tersipu malu.

"Emang orang-orang macam ibu-ibu itu suka beroperasi di terminal sini dari dulu. Nggak apa-apa. Lillahi ta'ala-kan dan jadikan pelajaran berharga saja." Pak Haji sibuk ngenakin posisi pantatnya di atas kursi deretan tengah mobil Elf Indihiang-Ciheras.

Mudah-mudahan cewek tadi adalah korban terakhir doi! Kira-kira begitulah cara Yudha meng-Lillahi Ta'ala-kan uangnya yang melayang disikat penipu.

"Ngomong-ngomong ada urusan apa ke Ciheras?"

"Mau riset lapangan buat skripsi saya, Pak Haji."

Pak Haji menyodorkan tangan kanannya sambil pamer senyum odolnya lagi. Muka boleh dekil, tapi giginya ternyata masih bersih terawat!

Yudha menjabat tangan kanannya, "Yudha!"

"Riset lapangannya berapa lama, kalo boleh tau?"

Yudha ngitung di awang-awang, "Enggak tentu, sih, Pak Haji. Tapi kayaknya sampe enam bulan ke depan."

"Saya baru tau kalo bikin skripsi itu mesti terjun ke lapangan juga."

"Kalo dokumen-dokumen tertulisnya dirasa cukup, cukup riset di kampus aja. Kebetulan data yang dicari kurang, jadi mesti ke Ciheras." Jawab Yudha panjang lebar.

"Dari mana, Kang?"

"Bandung, Pak Haji."

"Kuliah di Universitas Karyawijaya, yah?"

"Iya, Pak. Kok tau?"

Doi hanya ketawa renyah, "Soalnya mahasiswa sana pasti tongkrongannya keren-keren kayak kamu, Yud!"

Pak Haji Dahlan keingetan sesuatu, "Udah punya tempat buat tinggal di Ciheras?"

"Udah, Pak. Saya ada rencana mau tinggal di rumah sahabat saya, ntar."

Haji Dahlan cuma meng-oh-in jawaban doi. "Barangkali kalo perlu tempat tinggal nanti, macam kamar kontrakan, ke mesjid As-Sunah aja! Saya ada!"

*****

"Lho, bukannya rencananya mau tinggal di rumah sahabatnya?" tanya Haji Dahlan.

"Ternyata saya dilarang tinggal di rumahnya sama istrinya. Hehehe. Untung saya keingetan tawaran kamar kontrakan Pak Haji!"

Haji Dahlan gelagapan, kayak pedagang mendadak enggak bisa menuhin pesanan pelanggannya.

"Aduh! Gimana, yah!.. Kebetulan kondisi kamar yang saya tawarin waktu itu, ternyata belum siap, Yud!"

Haji Dahlan enggak ada cara lain kecuali ngaku dan jelasin keadaan yang sebenernya.

"Saya juga enggak nyangka kalo waktu saya nyampe ke sini, ternyata mesjid dan rumah saya udah dua tahun enggak ada yang ngurusin lagi! Ini aja, dari saya nyampe sampe sekarang, baru beresin isi mesjid sama benerin sound systems-nya."

Yudha langsung lemes, "Waduh. Saya mesti cari ke mana lagi buat tinggal, Pak Haji?"

Haji Dahlan berpikir keras, doi juga ngerasa berdosa udah promosi kontrakan ke Yudha, eh kontrakannya belum siap.

"Saya bisa nyiapin malam ini juga. Cuma, saya butuh waktu buat beberesnya dulu, ya."

Biar coba keliatan tetep professio nal di depan Yudha, tapi doi bisa ngeliat jelas gimana amburadulnya mimik muka Haji Dahlan. Stress dan kecapekan, abis nempuh perjalanan jauh buat pulang, mesti "babat alas". Sekarang mesti nyiapin kontrakan buat Yudha pulak!

Yudha so pasti enggak bakalan tega biarin Haji Dahlan yang udah mulai sepuh disuruh kerja sendirian.

"Kalo gitu sini saya bantu beresin tempatnya, Pak Haji!" Doi mulai cepet-cepet gulungin celana chino-nya.

*****

"Fiuhh, lumayan juga! Padahal rumah gedenya cuma segini, doank!" Yudha ampe terduduk di teras rumah Haji Dahlan.

Sebenernya kondisi tempat tinggal Haji Dahlan sama kamarnya Yudha masih belom layak huni. Tapi seenggaknya isinya udah enggak jadi sarang tikus, burung, sama laba-laba.

"Alhamdulillaahhirobbil alamiinn.." Haji Dahlan langsung geletakan ke tembok rumah. Doi coba ngatur napasnya yang dengus-dengusan kayak banteng ngamuk, agar kembali normal.

"Hampura pisan, Yud. Saya bukannya yang bersihin sama nyiapin, malah kamu yang bersihin sama nyiapin! Itu juga belum sepenuhnya beres!" Haji Dahlan sampe batuk-batuk.

"Hampura pisan, Yud. Kayaknya masih belom bisa ditempatin malem ini. Kita tidur di mesjid dulu aja, enggak papa?"

"No problemo, Pak Haji!" Jawab Yudha.

Sangking sibuknya beberes rumah pake peralatan rumah tangga sekedarnya, mereka baru ngeuh binatang-binatang malam makin aktif di sekitar mesjid. Tandanya malam udah mulai larut.

*****

Mereka pun berdua sibuk ngebongkar isi tas ransel masing-masing, nyari peralatan tidur mereka.

Untung aja gue nurut apa kata Bi Imas! Yudha langsung ngegelar sleeping bag-nya. Sekarang doi bersyukur banget bawa barang gituan, padahal waktu itu terpaksa dibawa karena paksaan Bi Imas.

Tapi waktu noleh ke tempat Haji Dahlan tidur, doi terdiam ngeliat peralatan tidur macam apa yang Pak Haji siapin.

Haji Dahlan cuma ngegelar tikar dan sarung! Tikar doi udah lusuh, bahkan bentuknya udah enggak sempurna lagi, tinggal setengahnya aja! Sarungnya punya nasib yang sama, udah bladus dan sobek kecil-kecil.

"Pak Haji enggak papa tikeran sama sarungan gitu??"

Haji Dahlan cuma ketawa renyah, "Enggak papa. Udah biasa tidur kayak gini." Doi mulai narik sarung dan mulai tidur.

Kok, bisa, yah, mesjid segede gini bisa-bisanya enggak ada yang ngurus? Padahal banyak tetangga warganya!

Tapi matanya udah terlalu berat, badannya juga udah terlalu capek. Doi mutusin buat narik resleting sleeping bag-nya.

Besok aja, ah, nanya ke Pak Hajinya!

Yudha mulai nyusul Haji Dahlan yang udah ngorok duluan.

*****

  • view 44