Kades Yudha. Episode 2 : Haji Dahlan

Aang Pratama
Karya Aang Pratama Kategori Project
dipublikasikan 28 Agustus 2017
KADES YUDHA

KADES YUDHA


Setelah setahun lamanya Yudha lari dari tanggung jawabnya di Desa Ciheras. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menunaikan janjinya kepada mendiang sahabat dekatnya. Jadi seorang Kades!

Kategori Fiksi Remaja

133 Hak Cipta Terlindungi
Kades Yudha. Episode 2 : Haji Dahlan

DOEEENGGG!!!

Ya Alloh, Gusti! Ini serius mesjid?!—Yudha syok berat ketika sampai dan melihat wujud Mesjid As-Sunah.

Mesjid As-Sunah dari ciri-ciri fisiknya adalah mesjid besar milik Desa Ciheras, akan tetapi teramat sangat tak terawat. Sangking teramat sangat mesjid ini lebih cocok dibilang rumah berhantu ketimbang mesjid yang berfungsi dengan layak.

Cat-cat yang ada udah nyaris sembilan puluh persen rontok karena sudah lama dimakan lumut. Kayu kusen-kusen pintu dan jendela juga pucat dan kering karena tak pernah diplitur ulang untuk melindungi bengisnya angin laut.

Halaman mesjid juga lebih banyak rumput liarnya—bahkan mulai muncul semak-belukar di sana-sini. Persis kantor desa tempat ia magang setahun yang lalu.

Weleh weleh weleh! Sudah berapa dekade ini mesjid enggak diurus??

*****

Yudha pun masuk ke dalam mesjid yang terlihat lebih rapih—walau tak rapih-rapih amat—daripada kondisi bangunan masjid lainnya.

“Assalaamualaikuum!” Yudha menyapa seorang pria umur awal lima puluhan yang sedang menyapu dalam masjid sambil bebacaan istighfar dan geleng-geleng kepala.

Tapi doi terlihat terlalu khusyuk sama kegiatan beberes isi mesjid yang penuh bangke serangga dan debu yang bergulung-gulung macam rambut orang kribo.

“Assalaamualaikuum! Pak Haji Dahlan!!” Yudha kembali menyapa dengan nada lebih nyaring.

Akhirnya salamnya membuahkan hasil. “Oh! Waalaikumussalaam warohmatullohi wabarokatuuh.” Balas orang yang Yudha sebut Pak Haji Dahlan. Walau udah pake kacamata, Pak Haji Dahlan masih harus memincingkan kedua matanya buat bisa liat sosok Yudha dengan jelas.

“Maaf! Sareng saha?”

“Dengan Yudha, Pak—itu yang ketemu di Terminal Indihiang tadi pagi!”

Pak Haji Dahlan menerawang sejenak, mungkin karena sudah mulai udzur, memproses ingatan jadi agak lama dari biasanya. Tapi akhirnya doi ngangguk-ngangguk dan tertawa terkekeh-kekeh.

“Ooh! Ya! Ya! Ya! Ya!” jawab Pak Haji Dahlan semangat.

*****

Ini kali pertamanya, Yudha mengembara keluar kota sendirian. Tujuan pengembaraan tunggalnya adalah Desa Ciheras, tempat dimana setahun yang lalu adalah lokasi dia dan mahasiswa setingkatannya melakukan kegiatan wajib Kuliah Kerja Nyata.

Fase pertama pengembaraannya berjalan dengan mulus. Ia sampai di Terminal Indihiang, setelah lima jam perjalanan menggunakan kereta api dari Stasiun Bandung ke Stasiun Indihiang, lalu lanjut ke terminalnya menggunakan becak yang udah stand by mulai subuh.

Tinggal mencari mobil Elf dengan rute Indihiang-Ciheras. Sesuai dengan panduan perjalanan yang diberikan Pak Mathias—yang sering bolak-balik Ciheras buat penelitian lapangan maupun main ke rumah murid kesayangannya—mendiang Kang Didit.

“Halo! Bi! Sekarang aku udah sampe di Tasik!”

“Alhamdulillaah! Syukur atuh!” jawab Bi Imas. “Hati-hati di sana! Baik-baik sama warga sana! Jangan lupa jangan jajan sembarangan! Rumah sakit jauh!” wanti-wanti Bi Imas.

“Yeee! Tempatnya bukan di Tasik, Bi! Daerah Pangandaran, masih jauh!”

“Beuh, komo di Pangandaran, Den! Lebih jauh lagi dari rumah sakit!”

“Ya ya ya. Pasti pasti.” Yudha buru-buru mengiyakan, sebelum ajudan rumah tangganya yang sudah berdinas sejak ia baru lahir, makin nyerocos kemana-mana. “Ngomong-ngomong, Mamah udah pulang, Bi?”

“Baru aja sampe. Tapi sekarang langsung bobo di kamarnya.”

“Yaudah, atuh. Salam aja buat Mamah, Bi. Wassalaamualaikum.” Tutup Yudha.

Yudha melanjutkan pencariannya di tengah-tengah Terminal Indihiang yang makin dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai penjuru mata angin Jawa Barat, dari yang mau menuju kota besar sampai yang mau menuju kampung-kampung, tumplek blek.

Tiba-tiba, seseorang mencolek tangan Yudha. Seorang ibu-ibu dengan wajah memprihatinkan—pucat pasi dan kebingungan.

“Kenapa, Bu??” Yudha langsung menanggapi si ibu duluan.

“Punten, A. Saya minta tolong!..” pinta si ibu lirih.

“Minta tolong apa, Bu?”

“Saya barusan habis dicopet, A. Dompet saya yang isinya ongkos buat pulang ke kampung sama uang buat keluarga di kampung dadas. Saya enggak bisa pulang dan dari malem saya enggak makan!..” mata si ibu berkaca-kaca.

Dasar copet biadab!—Kutuk Yudha dalam hati, “Udah lapor ke polisi belum, Bu??”

“Udah, tapi katanya copetnya udah enggak bisa ditangkep.”

Yudha garuk-garuk kepala, hatinya semakin galau ketika si ibu-ibu malang makin berkaca-kaca matanya.

“Perlu berapa, Bu?”

“Semuanya sejuta, A!..”

Yudha gelagapan dengar besaran uang yang digasak si copet sialan—Waduh! Sejuta, mah, ongkos buat ke Ciheras, euy!

“Gede juga, yah!” Yudha mulai canggung, kirain uang yang hilang bisa ia talangi semuanya, kalau pun nekat nalangin, giliran dia yang nangis-nangis di terminal karena enggak ada ongkos!

“Kalo ongkos pulang ke kampung berapa, Bu?”

“Seratus ribu.”

Yudha langsung buka isi dompet dan nyerahin dua lembar uang seratus ribuan. “Ini seratus lagi buat nyari makan.”

Bukannya bilang hatur nuhun atau terima kasih, si ibu malah mengangguk dan ngeloyor pergi meninggalkan Yudha. Doi hanya garuk-garuk kepala melihat tingkah si ibu—Emak-emak yang aaneeh.. Gumamnya sambil melanjutkan perjalanan.

*****

Keunikan-keunikan hidup di terminal tak hanya si ibu-ibu yang kecopetan saja. Kini Yudha menemukan seorang pria umur awal lima puluh tahunan menawarkan sepasang sendal butut, dengan suara seperti gagak tua doi menawarkan sendalnya lima puluh ribuan.

“Marangga, Bapak-Ibu, Akang-Eceu. Lima puluh ribu saja!” panggil sang “pak haji”—karena pakaiannya memakai gamis abu-abu dan kopiah katun putih lusuh.

“Ah! Bade, Kang?” Pak Haji langsung nyodorin sepasang sendal butut ke Yudha yang menghampirinya.

Eits! Yudha langsung mundur setengah langkah ketika melihat sendal butut yang ditawarkan Pak Haji.

“Aduh! Kayaknya enggak, Pak.” Yudha coba menolak dengan sopan. Sangking sopannya, ia mencoba untuk tak terlihat mencium aroma sendal butut yang disodorin sama Pak Haji.

“Apa enggak salah lima puluh ribu, Pak?..” Yudha coba menahan wajah kecutnya.

Pak Haji terkekeh, “Dikasih aja mustahil ada yang mau. Kebetulan aja duit saya buat pulang kampung baru aja kecopetan—daripada minta-minta. Malu.”

Yudha terdiam ketika mendengar jawaban dari Pak Haji. Ditambah enggak ada guratan tersinggung sedikit pun di wajah doi—hanya senyuman ramah yang tersungging mentok dari pipi kiri ke pipi kanan yang udah ditumbuhi jenggot abu-abu panjang.

Beliau beda banget sama ibu-ibu yang barusan—Yudha pun sempat tertegun ketika melihat Pak Haji sampai merelakan kedua kakinya yang item dan pecah-pecah nyeker, supaya tidak menggadaikan dirinya buat mengemis.

“Emang mau pulang kampung kemana, Pak Haji?” Yudha penasaran.

“Ke Ciheras.”

“WAH! Kebetulan saya juga mau ke Ciheras, Pak!” Yudha girang karena dapat teman seperjalanan. “Yuk, biar saya aja yang bayar ongkos Elf-nya, ntar!”

“Waduh! Jangan, Kang!” tolak Pak Haji malu-malu.

“Udah, lah! Mumpung searah!” paksa Yudha. “Pake lagi, ya, Pak, sendalnya!”

*****

“Ternyata penipu! Emak-emak brengsek!!..” Yudha diam-diam memaki ibu-ibu yang minta tolong kepadanya, tertangkap penglihatannya sedang melancarkan operasi kedua ke seorang wanita yang sama kayak Yudha—Lugu!

“Baru pertama kali kesini, yah?..” ternyata Pak Haji mendengar makian Yudha.

“Begitulah, Pak Haji.” Yudha tersipu malu.

“Emang orang-orang macam ibu-ibu itu suka beroperasi di terminal sini dari dulu. Nggak apa-apa. Lillahi ta’ala-kan dan jadikan pelajaran berharga saja.” Pak Haji sedang sibuk menyamankan pantatnya di atas kursi deretan tengah mobil Elf Indihiang-Ciheras.

Mudah-mudahan cewek tadi adalah korban terakhir doi!—kira-kira begitulah cara Yudha meng-Lillahi Ta’ala-kan uangnya yang melayang disikat penipu.

“Ngomong-ngomong ada urusan apa ke Ciheras?”

“Mau riset lapangan buat skripsi saya, Pak Haji.”

Pak Haji menyodorkan tangan kanannya, “Dahlan!” dan menyunggingkan senyum odolnya lagi.

Yudha menjabat tangan kanannya, “Yudha!”

“Riset lapangannya berapa lama, kalo boleh tau?”

“Hmmm!.. Enam bulan, perkiraan, Pak Haji..”

“Saya baru tahu kalau bikin skripsi itu mesti terjun ke lapangan juga.”

“Bisa. Kalau dokumen-dokumen tertulisnya dirasa cukup, cukup riset di kampus. Kebetulan data yang dicari kurang—jadi mesti ke Ciheras.” Jawab Yudha panjang lebar.

“Dari mana, Kang?”

“Bandung, Pak Haji.”

“Kuliah di Universitas Karyawijaya, yah?”

“Iya, Pak. Kok tau?”

Doi hanya ketawa renyah, “Kalau perlu tempat tinggal macam kos-kosan. Ke Masjid As-Sunah aja!” Pak Haji Dahlan malah promosi penginapan.

*****

“Lho, bukannya rencananya mau tinggal di rumah sahabatnya?” tanya Haji Dahlan.

“Ternyata saya dilarang tinggal di rumahnya sama istrinya. Hehehe..” Yudha membuat muslihat.

“Aduh! Gimana, yah! Kebetulan kondisi kamar yang bisa dikosinnya belum diberesin!” Haji Dahlan pun gelagapan ketika Yudha ternyata datang dan menagih kamar kos yang dipromosikan oleh doi waktu on the way ke Ciheras.

“Saya juga enggak nyangka. Ternyata mesjid dan rumah udah lama enggak diurus. Kata tetangga sekitar udah ditinggal dua tahun yang lalu sama marbotnya. Jadi kudu beberes dulu!” Haji Dahlan kembali menyapu sisa debu yang ada di pinggiran mesjid.

Yudha hanya bisa menghela napasnya, ia pun tak tega diam nontonin Haji Dahlan yang sudah berumur kerepotan bersihin masjid terlantar sendirian.

“Sini saya bantu, Pak Haji!” ia mulai cepat-cepat gulungin celana chino-nya.

*****

“Fiuhh! Akhirnya beres juga ini mesjid!” Yudha menyeka keringat di wajahnya yang ngocor kayak mata air, lega rasanya bagian dalam mesjid sudah cukup bersih. Tapi dia tertegun ketika melihat pekarangan yang masih belum tersentuh bersih-bersih. “Seenggaknya yang dalem dulu, lah..”

“Alhamdulillaahirobbilalamiinn..” Haji Dahlan langsung menggeletakkan badannya ke tembok mesjid. Ia coba mengatur napasnya yang mendengus-dengus kayak banteng ngamuk agar kembali normal.

“Untung kamu dateng, Yud—bisa-bisa baru beres subuh, ini bagian dalem mesjid beres.” Haji Dahlan sampai terbatuk-batuk. “Sejak sampe kemari, saya der-deran bebersih mesjid, lho. Untung aja sound system mesjid enggak digondol maling sama dijadiin sarang tikus—jadi masih sempet ngumandangin adzan.”

“Kok, bisa-bisanya tempat ibadah segede ini sampe terlantar? Seumur-umur liat masjid kayak begini!” Yudha penasaran.

 

“Ceritanya panjang, besok saja. Sekarang kita istirahat dulu!” ketika Haji Dahlan setengah berdiri, ia diam seperti mikirin sesuatu. “Tapi sekamar sama saya, yah. Soalnya kamar yang satu lagi belum sempat saya beresin. Udah bersih, kok!”

Yudha mengacungkan jempolnya, “No problemo, Pak Haji!”

*****

Yudha hanya bisa tertegun ketika liat kondisi kamar tidurnya Haji Dahlan. Ternyata standart bersihnya Haji Dahlan enggak sama dengan standart bersihnya Teh Ningsih dan Bi Imas.

Kamarnya remang-remang, pencahayaan lampu juga dari bohlam yang sudah mulai sakaratul maut. Alas tidur untuk dirinya pun berupa seprai yang udah dekil dan kempes.

“Waduuuh, jangan, Paak!” Yudha salah tingkah Haji Dahlan malah gelar tikar buat alas tidurnya.

Parahnya, alas tikarnya juga udah enggak berbentuk—tinggal tiga perempatnya saja yang masih utuh, sisa sepertiganya hilang entah kemana.

“Mendingan tukeran aja!”

Haji Dahlan malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Enggak papa. Sudah biasa tidur kayak begini.” Ia ambil sarung untuk jadi selimut dan tas ransel lusuhnya jadi bantal tidur.

Atas nama solidaritas akan hidup prihatin Haji Dahlan, Yudha menyisikan bantal yang disediakannya, ikut meraih tas ranselnya, dan dijadiin bantal.

Doi hampir lupa buat mengabari orang rumah, buru-buru Yudha merogoh kantong celana untuk mengambil ponsel pintarnya.

Zonk lagi. Tidak ada sinyal sama sekali di dalam kamar Haji Dahlan.

Ya sudah, besok pagi aja, deh, ngabarinnya—Yudha mematikan ponsel pintarnya dan menaruhnya kembali ke kantong celananya.

Saatnya Yudha istirahatin tubuhnya yang seharian penuh pergi jauh dari subuh mula sampai tutup hari dengan kerja rodi bebersih bagian dalam mesjid.

*****

  • view 19