Kades Yudha. Episode 1 : Jawabannya? Tentu Tidak!

Aang Pratama
Karya Aang Pratama Kategori Project
dipublikasikan 28 Agustus 2017
KADES YUDHA

KADES YUDHA


Setelah setahun lamanya Yudha lari dari tanggung jawabnya di Desa Ciheras. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menunaikan janjinya kepada mendiang sahabat dekatnya. Jadi seorang Kades!

Kategori Fiksi Remaja

412 Hak Cipta Terlindungi
Kades Yudha. Episode 1 : Jawabannya? Tentu Tidak!

“Jadi Kades???” Lia ampe namparin pipinya sendiri.

“I-Iya, jadi Kades di Ciheras!!” Yudha coba yakinin doi.

“Kamu, sih! Dia jadi begini!” Teh Ningsih marahin Lia, nganggap tonjokan atlet karate adik iparnya yang bikin Yudha agak miring pikirannya.

Lia enggak nyela kakak iparnya, cuma diem dan bersungut-sungut.

“Seriusan! Sebelum truk tronton nabrak kami berdua, Kang Didit meminta saya menolong dia jadi Kades. Saya udah siap ngegantiin posisi Kang Didit nyalon jadi Kades Ciheras sekarang!”

Pernyataan tegas Yudha masih enggak meyakinkan, doi pun bergegas melaksanakan Rencana B. Doi ngorek-ngorek isi ranselnya, berharap kalo benda yang akan ditunjukkan bakal bikin dua orang kesayangan almarhum Kang Didit percaya.

Teh Ningsih juga Lia ikut makin bingung dan malah nambah penasaran dengan Yudha yang malah sibuk membongkar isi ranselnya. Ngapain dia malah ngorek-ngorek isi ranselnya?

“Ini, Teh! Ini yang membuat saya siap jadi Kades Ciheras!” Yudha nunjukin sebuah buku yang udah menguning, kulit sintetis yang jadi sampulnya juga udah mulai mengeras dan pecah-pecah dimakan waktu.

Teh Ningsih syok lihat buku tersebut. Doi tau betul buku apa yang diliatin Yudha!

“Kamu, kok, bisa punya buku suami saya??”

“Dalam perjalanan ke Bandung, persis sebelum kecelakaan, Kang Didit ngasih buku diary-nya ke saya. Saya disuruh pelajari isinya sama beliau, tapi saya nolak. Saya sangka bukunya udah dibalikin ke keluarga, tapi ternyata orang rumah sakit malah ngasih buku ini ke saya.”

“Apalagi waktu saya baca halaman paling depan buku Kang Didit. Membuat saya yakin buat pelajarin isinya dan menyiapkan diri jadi pengganti beliau nanti!” Yudha nyerahin buku peninggalan almarhum ke jandanya.

 

Teh Ningsih menerimanya, lalu doi periksa isi bukunya. Yudha dan Lia bisa lihat ekspresi Teh Ningsih memegang dan memeriksa buku itu. Kayak lihat dan nyentuh mendiang suaminya.

“Maaf. Saya minta waktunya sebentar.” Doi malah beranjak dari tempat duduknya, pergi menuju kamarnya sambil meluk erat-erat buku kesayangan sang mendiang suami.

Sebenarnya Yudha pengen terus memburu Teh Ningsih dengan segala penjelasan. Namun mutusin buat mengiyakan dan memberi waktu buat sang janda Kang Didit sendirian.

Kini tinggal Yudha dan Lia aja di ruang tamu, saling pandang-pandangan canggung.

*****

 “Enggak disangka tonjokan gue bikin elo berdelusi kayak gini.”

“Ini beneran bukan khayalan. Kakak elo yang bilang langsung sebelum kejadian.”

“Enggak mungkin kakak gue bisa seedan itu. Nyerahin masalah desa ini ke orang asing macam lo!”

“Lah, berarti kakak lo sendiri juga gila, kan, mau-maunya ngasih buku pribadi dia ke gue! Terus lo pernah bilang di depan kakak lo kalo gue kerja dengan bagus dan bikin perubahan luar biasa di desa ini selama KKN!” Yudha coba mengingatkan Lia.

*****

Sebulan Yudha dan kawan-kawan yang KKN di Kantor Desa Ciheras bawa perubahan birokrasi yang cukup berarti bagi warga sekitar, khususnya soal masalah pembuatan dokumen macam KTP, Akte Lahir, dan lainnya yang udah lama keracunan pungutan liar dan kemalasan aparat desanya.

Yudha dan teman-temannya, menyelesaikan semua proses kepengurusan yang dahulu dibiarkan menggunung di gudang arsip, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan bebas pungli.

Salahsatu yang membuat Lia berdecak kagum adalah gimana Yudha dan kawan-kawan melobi Kades Mukti buat nge-acc surat permohonan penambahan jumlah guru dan perbaikan gedung sekolah yang udah mulai lusuh kertasnya karena ditaro di bagian paling bawah tumpukan map melulu.

Kalau Yudha warga sini. Udah bisa kita calonin jadi Kades buat dua tahun depan! Itu yang terlontar dari mulut Lia di depan Kang Didit, Teh Ningsih, dan yang lainnya setahun yang lalu.

Dan setelah tahu apa yang Yudha lakukan selama ini, menyesal setengah mati pernah berkata seperti itu!

*****

“Setelah gue tau ternyata lo brengsek. Gue nyesel dan narik ucapan!” Lia mendengus.

Yudha akhirnya tutup mulut, mutusin buat ngomongin urusan perkadesan dan hal-hal diperkirakan bakal menjurus ke sana.

“Kata Teh Ningsih, SD sekarang balik lagi cuma empat orang yang ngajar, yah?” Yudha coba mencari topik pembicaraan yang lain.

“Ya.” Lia risih ama Yudha yang kayaknya coba mengambil hati.

“Lho, kok, bisa??”

“Pada minggat. Enggak doyan sama keadaan di sini, sama sudah dua bulan gaji enggak dibayar-bayar sama Desa.”

Desa adalah sebutan buat pemerintahan Kades Mukti—sang kades petahana. Rakyat Desa Ciheras sebenernya udah jengah sama kepemimpinan korupnya. Tapi apa daya, enggak ada yang bisa nyaingin kekuatan sumber daya Kades Mukti.

Uang buat main politik uang? Ready stock! Beking politik? Hampir sesepuh-sesepuh Desa Ciheras punya ikatan keluarga sama doi. Kalo mereka bersabda pilih si petahana, maka warga sekitarnya sami’na wa atho’na.

Baru sekarang-sekarang, lah, muncul Kang Didit dengan Koperasi Majeng Sarerea—yang artinya maju bareng-bareng—jadi ada kekuatan alternatif. Uang buat main politik uang? Keluarga Kang Didit termasuk juragan Desa Ciheras! Beking? Kang Didit udah dianggap ajengan! Jumlah anggota koperasi dan karyawannya juga patut diperhitungkan.

*****

Teh Ningsih udah keluar dari kamarnya, lengkap dengan pakaian kerjanya. Baju kaos polo lengan panjang plus celana denim biru agak longgar. Tongkrongannya udah kayak koboy cewek, deh!

“Jadi gimana keputusannya, Teh??” Yudha main sambar aja.

“Yud. Saya atas nama keluarga almarhum Kang Didit mengucapkan terima kasih sekali dikunjungi oleh kamu. Kami apresiasi niatan baik kamu minta maaf dan jelasin apa yang terjadi waktu itu.”

Yudha enggak sreg sama jawaban Teh Ningsih yang terlalu diplomatis.

“Lalu gimana sikap Teteh sama keputusan saya gantiin Kang Didit nyalonin jadi Kades tahun depan??” Yudha masih ngejar jawaban janda Kang Didit.

Teh Ningsih malah tersenyum lembut ke Yudha yang gelisah kayak dikejar-kejar setan.

“Terima kasih udah mau merhatiin kondisi desa kami. Biar kami sendiri saja yang mengurus. Kami enggak dibiasakan nyusahin orang, Yud.”

Yudha soak denger jawaban dari Teh Ningsih. Keluarga Kang Didit nolak ide doi buat ngeganti posisi almarhum buat pemilihan kepala desa tahun depan—tapi dengan bahasa semanis permen.

“Saya yakin Teteh baca isi bukunya! Saya yakin Teteh tau apa dan maksud tujuan buku itu ditulis sama almarhum! Apa Teteh mau membiarkan semua ide-ide, program-program, dan impian-impian Kang Didit untuk memajukan desa ini ilang gitu aja?!”

“Kejadian Kang Didit ngasih buku ini ke saya. Kejadian buku ini malah dikasih ke saya. Saya yakini adalah takdir saya buat ngeganti posisi Kang Didit buat nyelamatin desa ini!”

Teh Ningsih mulai gerah sama kengototan Yudha, shelaan napasnya makin kedengeran jelas, karena coba ngontrol emosinya.

Orang yang nyelakain suaminya kini nuntut mau menggantikan posisi suaminya jadi calon Kades.

Gendeng!

*****

“Jadi Kades di Ciheras enggak segampang itu, Yud.”

“Gampang kalo Teteh mau dukung aku!! Masyarakat sini aja udah tau gimana aku kerja!!” Yudha masih keukeuh dengan pendiriannya.

Yudha si tukang sela mulai kena getahnya ketika tiba-tiba sebuah tamparan dari Lia mendarat keras di pipi kanannya lagi.

“Dasar gelo! GOBLOK!!”

“Lu pikir jadi Kades cuma ngurusin KTP, KK, sama Akte Lahir, doank?!!” damprat Lia sambil ngocok leher Yudha.

“Sudah-sudah!” Teh Ningsih coba nenangin Lia yang makin liar.

“Yud, biar Ciheras cuma desa kecil, namun masalahnya sama rumitnya kayak negara ini! Apa yang kamu lihat selama ikut KKN, itu baru permukaannya saja! Tolong jangan nekat—demi kebaikan kamu, Yud!” mohonnya.

“Tapi aku udah pelajarin di buku diary Kang Didit, kok, Teh! Semuanya!” Yudha lagi-lagi!

“Lapangan enggak segampang teori!..” Teh Ningsih tiba-tiba megangin kepala, “Astaghfirulloh!..”

Lia langsung tanggap meringkus kerah kaos polo krim polos Yudha dan menyeret paksa  doi keluar dari rumah.

“Mumpung jam segini masih ada Elf yang narik, lu buruan pulang ke Bandung! Dan jangan balik lagi!!” bahkan Lia nyepak pantat Yudha kayak ngusir kucing budukan.

Teh Ningsih hanya bisa mandangin Yudha yang nyungsruk di tanah.

“Maafin kami, Yud. Semoga sampai di jalan dan sukses di Bandung.” itu adalah ucapan terakhir Teh Ningsih sebelum masuk ke dalam rumah.

Lia dengan wajah gado-gado marah, frustasi, kecewa, dan kesal menyusul masuk. Lalu.. BRAK!! Pintu rumah pun dibanting. Bahkan suara pintu dikunci tiga kali kedengeran jelas. Yudha udah enggak diterima lagi oleh keluarga Kang Didit.

*****

Yudha diem terpaku di depan halaman rumah, sendirian. Enggak nyangka respon yang diberikan keluarga mendiang Kang Didit begitu negatifnya. Semua rencana luhurnya—Rekonsiliasi sama keluarga, lalu konsolidasi buat persiapan pemilihan Kades, menang banyak karena di-support keluarga almarhum, jadi Kades Ciheras, terus bikin perubahan yang lebih baik dari pemerintahan sebelumnya, happy ending!—bubar jalan.

Yudha bangkit dari jatuhnya, meraih kembali tas ranselnya dan nepukin debu-debu tanah yang nempel di pakaiannya. Doi jalan menuju jalan raya desa.

*****

Lia diam membisu di meja makan, mikirin apa yang baru aja terjadi. Diam-diam, doi sangat bahagia ketika denger suara Yudha lagi, setelah setahun lamanya enggak ada kabar semenjak kecelakaan fatal.

Tapi, pengakuan mengejutkan dari Yudha yang dikuping malah ngancurin hatinya. Tak sangka Yudha bisa setega itu ngorbanin kakak yang doi miliki satu-satunya, hanya karena enggak betah KKN di Ciheras lagi.

“Yud.. Kenapa kamu tega banget ke aku?..” tanya Lia lirih.

Asyik menyesali perbuatan Yudha, Lia denger seseorang buka kunci pintu dan masuk rumah dengan seenaknya.

“Mamih dan Papih besarin kamu jadi orang, bukan maling—mana salamnya??” tanya Lia ketus.

“Mikum.” Jawab Ditsy seenaknya.

“Salamnya yang bener!!” Lia kurang puas dengan salamnya.

“Assalamualaikum.” Ditsy langsung ngeloyor ke kamarnya, mengacuhkan sang tante yang mulai gedeg dengan kelakuannya sekarang.

“Jam segini baru pulang! Kapan belajarnya buat UN?! Mandi jangan lupa!”

Enggak ada jawaban dari Ditsy, cuma munggungin Lia.

*****

Sambil jalan nyusurin jalan raya desa, Yudha mikirin kembali masak-masak penolakan Teh Ningsih juga Lia. Kali ini mikirin dengan pikiran yang lebih realistis, bukan angan-angan cerita superhero.

Biar Ciheras cuma desa kecil, namun masalahnya sama rumitnya kayak negara ini! Perkataan Teh Ningsih barusan doi coba pelajari baik-baik lagi.

Ketika Yudha coba nyamain keadaan politik Ciheras disamain sama politik negara ini, mulai ragu lah ketika mengingat hal tersebut. Ditambah keingetan cerita almarhum Kang Didit soal sang petahana dan orang-orang di sekitarnya.

Ah, jangan-jangan tekad gue selama ini emang akumulasi rasa bersalah enggak ngakuin kejadian yang sebenernya ke keluarga Kang Didit!

Jangan sampe keluarga Kang Didit kecewa besar untuk kedua kalinya!

Jangan sampe maksain diri sama keluarga dia buat nyalonin, akhirnya gue enggak bisa ngapa-ngapain! Mana tugas jadi Kades enggak sebentar kayak tugas KKN! Enam taun mesti ngibulin orang rumah!

Mending nurut aja, deh! Cabut dari sini sebelum urusan jadi panjang!

Namun Yudha keingetan satu hal lagi, yang bikin kepalanya jadi makin gatal.

Eh bentar! Tapi gue udah kadung ngibulin Pak Mathias mau riset lapangan di sini! Mampus, dah! Ini udah kayak film Dono! Maju kena mundur kena!

Yudha makin senewen, sangking senewennya doi nepok dahi keras-keras.

“Hadeeuhhhh!!.. Gue mesti begimana sekarang???” erang Yudha di tengah-tengah jalan raya desa yang makin gelap dan sepi.

Enggak kerasa langit Desa Ciheras mulai kedengeran bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Pertanda bentar lagi magrib tiba. Ayat-ayat Tuhan juga kedengeran kayak nyuruh doi cari tempat buat mikirin rencana baru.

Tapi mesti ke mana?

Pas denger suara para muadzin, salahsatu menarik perhatian Yudha. Bukan yang paling merdu, tapi yang paling serak tapi malah nyes di hati kalo didengerin baik-baik. Suara khas sang muadzin bikin keingetan kejadian tadi pagi.

Jangan lupa mampir ke Masjid As-Sunah, yah!

Enggak banyak cingcong, Yudha langsung ngibrit mencari asal suara muadzin bersuara kayak Gito Rollies itu.

Masjid As-Sunah!

*****

  • view 39