Kades Yudha. Episode 1 : Jawabannya? Tentu Tidak!

Aang Pratama
Karya Aang Pratama Kategori Project
dipublikasikan 28 Agustus 2017
KADES YUDHA

KADES YUDHA


Setelah setahun lamanya Yudha lari dari tanggung jawabnya di Desa Ciheras. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menunaikan janjinya kepada mendiang sahabat dekatnya. Jadi seorang Kades!

Kategori Fiksi Remaja

124 Hak Cipta Terlindungi
Kades Yudha. Episode 1 : Jawabannya? Tentu Tidak!

“Jadi Kades???” Lia sampai namparin pipinya sendiri.

“I-Iya, jadi Kades di Ciheras!!” Yudha coba meyakinkan.

“Aduh! Kamu, sih! Dia jadi begini!” Teh Ningsih memarahi Lia, nganggap tonjokan atlet karate adik iparnya yang membuat Yudha agak miring pikirannya.

Lia tak menyanggah kakak iparnya, hanya diam dan bersungut-sungut.

“Seriusan! Saya mau jadi Kades di sini!!” Karena pernyataan tegasnya masih kurang meyakinkan, doi bergegas mengorek-ngorek isi ranselnya—berharap kalau benda yang akan ditunjukkan bakal membuat dua orang kesayangan almarhum Kang Didit percaya.

Mereka berdua pun ikut penasaran dengan Yudha yang malah sibuk membongkar isi ranselnya, menerka-nerka apa yang ingin Yudha ambil di dalamnya.

“Ini, Teh! Ini yang membuat saya bertekad untuk jadi Kades Ciheras!” Yudha menunjukkan sebuah buku yang sudah menguning, kulit sintetis yang jadi sampulnya juga sudah mulai mengeras dan pecah-pecah.

Teh Ningsih syok ketika melihat buku tersebut. Ia tau betul buku apa yang diserahkan Yudha. Ia tak bicara, malah langsung ambil buku catatan Kang Didit—yang waktu itu diminta oleh mendiang suaminya untuk dicarikan dan diserahkan kepada Kang Didit, malam persis sebelum kecelakaan fatal itu terjadi!

“Pas perjalanan pulang. Kang Didit ngasih buku ini ke saya dan meminta saya membantu dia menyelamatkan desa ini kalau berhasil jadi Kades Ciheras. Dan kalau, pun—Duh! Saya enggak pernah kepikiran bakal terjadi!—Kalau, pun, Kang Didit benar-benar enggak bisa. Saya diminta untuk lanjutin harapannya!”

“Maaf. Saya minta waktunya sebentar.” Teh Ningsih malah beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kamarnya sambil meluk erat-erat buku kesayangan sang mendiang suami.

Sebenarnya Yudha ingin terus memburu Teh Ningsih dengan segala penjelasan. Namun mutusin buat mengiyakan dan memberi waktu kepada sang janda Kang Didit sendirian.

Kini tinggal Yudha dan Lia aja di ruang tamu, saling pandang-pandangan canggung.

*****

“Buku apa itu tadi?”

“Semacam buku diary-nya Kang Didit.”

“Nyolong darimana?!” Lia mulai ngegas.

“Whoa! Gue enggak nyolong, sori! Kang Didit sendiri yang kasih, kok.”

“Sori kalo tonjokan gue bikin lo berdelusi kayak gini.”

“Ini beneran bukan khayalan. Kakak lo yang bilang langsung sebelum kecelakaan!”

“Enggak mungkin kakak gue bisa seedan itu. Nyerahin masalah desa ini ke orang asing macam lo!”

“Lah, lo sendiri, kan, pernah bilang di depan kakak lo kalo gue kerja dengan bagus dan bikin perubahan luar biasa di desa ini selama KKN!” Yudha coba mengingatkan Lia.

*****

Ketika Yudha KKN di Kantor Desa Ciheras, doi bawa perubahan birokrasi yang cukup berarti bagi warga sekitar, khususnya soal masalah pembuatan dokumen macam KTP, Akte Lahir, dan lainnya yang udah lama keracunan pungutan liar dan kemalasan aparat desanya.

Selama sebulan, Yudha dan teman-temannya, menyelesaikan semua kepengurusan yang dahulu dibiarkan menggunung di gudang arsip, akhirnya bisa terbit dengan cepat dan bebas pungli.

Bahkan proposal pengajuan perbaikan gedung sekolah dan penambahan personel guru untuk SD Ciheras yang ternyata udah setengah tahun lamanya dibiarkan teronggok di pojok gudang arsip, akhirnya berhasil di-acc dan disetujui oleh kantor dinas pendidikan setempat.

Kalau Yudha warga sini. Sudah bisa kita calonin jadi Kades buat dua tahun depan!—Itu yang terlontar dari mulut Lia di depan Kang Didit, Teh Ningsih, dan yang lainnya setahun yang lalu.

Dan setelah tahu apa yang Yudha lakukan selama ini, menyesal setengah mati pernah berkata seperti itu!

*****

“Lain dulu lain sekarang!” Lia mendengus.

“Kata Teh Ningsih, kamu masih jadi guru bantu di SD?” Yudha coba mencari topik pembicaraan yang lain.

“Masih.” Jawab Lia sekenanya.

“Lho, bukannya seharusnya udah ada dua guru tetap?” Yudha mengerenyitkan dahinya.

“Mereka minggat. Enggak doyan sama keadaan di sini sama sudah dua bulan gaji enggak dibayar-bayar sama gerombolan tikus got.” Jawab Lia lengkap dengan alasannya.

Gerombolan tikus got—Sebutan Lia untuk gerombolan petahana Pak Kades Mukti dan kroni-kroninya. Semenjak Ciheras dipimpin oleh Kades Mukti, desa paling selatan di wilayah Kabupaten Pangandaran ini hancur karena eksploitasi tambang pasir besi.

Rakyat Desa Ciheras sebenarnya sudah jengah dengan kepemimpinan korupnya. Tapi apa daya, tak ada yang bisa menyaingi kekuatan sumber daya Kades Mukti—punya uang buat politik uang dan punya beking politik. Baru sekarang, lah, setelah muncul Kang Didit dengan Koperasi Majeng Sarerea—yang artinya maju bareng-bareng—jadi ada kekuatan alternatif.

“Assalaamualaikuum! Punteeen!” seseorang datang ke rumah, memecahkan dinginnya Lia dan Yudha yang asyik adu diem-dieman di ruang tamu.

“Waalaikumussalaam. Oh, Pak Amin!” balas Lia.

“Wah! Pak Amin! Apa kabar?!” Yudha pun ikut menyambut Pak Amin.

Pak Amin mengerutkan dahinya pas Yudha menyapanya dengan hangat. Sepertinya kejadian doi hampir membacok staff desa setahun yang lalu sudah terlupakan.

“Siapa, yah??” Pak Amin balik bertanya dengan lugunya.

Yudha langsung menekuk wajahnya, “Waduuh! Masak enggak tahu, sih?”

“Itu, lho, Kang Yudha. Yang ngebantu ngurusin akte lahir anak Bapak!” Lia membantu menyegarkan ingatan salahsatu asisten kakak iparnya.

Pak Amin langsung tersentak, “OOOOH, HE-EUH!! Nu eta!!” Akhirnya doi ingat juga, ia langsung menyambar kedua tangan Yudha. “Punten, kalo lupa lagi! Maklum udah tua.” Ujarnya terkekeh.

“Gimana anaknya, Pak? Sehat?”

“Alhamdulillaah sehat, Kang.” Ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke Lia. “Punten, Bu Ningsihnya udah siap belum? Soalnya kita mau ke dermaga.”

“Ogitu.” Lia langsung meninggalkan mereka berdua, menuju kamar Teh Ningsih.

*****

Beberapa saat kemudian Teh Ningsih sudah keluar dari kamarnya, lengkap dengan pakaian kerjanya. Dari baju kaos lengan panjang dan rok panjang sepergelangan kaki jadi kaos polo belang-belang dan celana jins biru. Tongkrongannya udah kayak koboy cewek, deh!

“Udah dibaca, kan, buku diary Kang Didit? Jadi gimana keputusannya, Teh??” Yudha main sambar saja.

Namun Teh Ningsih sudah siap dengan kondisi tersebut. “Yud. Saya atas nama keluarga almarhum Kang Didit mengucapkan terima kasih sekali dikunjungi oleh kamu. Saya apresiasi dengan niatan baik kamu untuk meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi waktu itu.”

“Lalu gimana sikap Teteh dengan keputusan saya untuk gantiin Kang Didit buat nyalonin jadi Kades tahun depan??” Yudha masih ngjar, kjawaban dari janda Kang Didit belum lengkap.

Teh Ningsih tersenyum lembut, “Terima kasih udah mau merhatiin kondisi desa kami. Biar kami sendiri saja yang mengurus. Kami enggak dibiasakan untuk menyusahkan orang, Yud.”

“Aku yakin Teteh baca isi catatan Kang Didit! Bahkan aku yakin Kang Didit selalu curhat hal-hal yang ada di dalam buku itu—juga hal-hal yang enggak ditulis! Apa Teteh mau membiarkan semua ide-ide, program-program, dan impian-impian Kang Didit untuk memajukan desa ini hilang gitu aja?!”

“Waktu itu dalam perjalanan. Kang Didit mengatakan kalau aku punya potensi jadi pemimpin setelah mendengar kerja aku waktu KKN—yang awalnya Cuma bicaraan ngelantur dia. Namun setelah dipikir-pikir sekarang-sekarang. Aku yakin bisa mengemban amanah itu!”

Teh Ningsih mulai gerah dengan kengototan Yudha, suara helaan napasnya makin terdengar jelas karena coba ngontrol emosinya. Orang yang mencelakakan suaminya kini mau menggantikan posisi suaminya untuk menjadi calon Kades.

Gendeng!

“Jadi Kades di Ciheras enggak segampang itu, Yud.”

“Gampang kalo Teteh mau dukung aku!! Masyarakat sini aja udah tau gimana aku kerja!!” Yudha masih keukeuh dengan pendiriannya.

Yudha si tukang sela mulai kena getahnya ketika tiba-tiba sebuah tamparan dari Lia mendarat keras di pipi kanannya lagi.

“Dasar gelo!! Goblok!! Lu pikir jadi Kades Cuma modal bisa ngurusin KTP, KK, sama Akte Lahir, doank?!!” damprat Lia sambil ngocok leher Yudha.

“Sudah-sudah!” Teh Ningsih coba menenangkan Lia yang makin liar. “Yud, biar Ciheras ini Cuma desa kecil, namun masalahnya sama rumitnya kayak negara ini! Apa yang kamu lihat selama ikut KKN, itu baru permukaannya saja! Tolong jangan nekat—demi kebaikan kamu, Yud!” mohonnya.

“Tapi aku udah pelajarin di buku diary Kang Didit, kok, Teh! Semuanya!”

Teh Ningsih langsung memegangi kepalanya. Lia langsung tanggap meringkus kerah kaos polo krim polos dan menyeretnya paksa keluar dari rumah.

“Mumpung masih ada Elf yang narik, lu buruan pulang ke Bandung—dan jangan balik lagi!!” bahkan Lia masih sempat menyepak pantat Yudha kayak ngusir kucing budug.

Teh Ningsih hanya bisa memandangi Yudha nyungsruk di tanah, membisu. “Maafin kami, Yud. Semoga sampai di jalan dan sukses di Bandung.” Ia pun langsung naik ke motor Pak Amin yang daritadi kebingungan dengan kekacauan yang ada barusan, untuk melaksanakan tugasnya sebagai Ketua Koperasi.

BRAK!! Pintu rumah pun dibanting, bahkan suara pintu dikunci tiga kali putaran terdengar jelas sebagai tanda kalau Yudha sudah tidak diterima lagi oleh keluarga Kang Didit.

*****

Yudha hanya bisa diam terpaku di depan halaman rumah, ditinggal sendirian. Enggak nyangka respon yang diberikan oleh keluarga mendiang Kang Didit begitu sewotnya. Segala rencananya untuk nebus kesalahannya runyam semua.

Mungkin ada benarnya kalau aku mendingan pulang ke Bandung lagi. Yudha bangkit dari jatuhnya, meraih kembali tas ranselnya dan menepuk-nepuk debu tanah yang menempel di seluruh pakaiannya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju jalan besar, menanti angkutan Elf yang akan mengantarnya ke Kota Tasikmalaya lewat.

*****

Lia yang diam membisu di meja makan, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Diam-diam, ia sangat bahagia ketika mendengar suara Yudha lagi, setelah setahun lamanya tak ada kabar semenjak kecelakaan fatal.

Akan tetapi, pengakuan mengejutkan dari Yudha yang ia curi dengar malah menghancurkan hatinya. Ia tak menyangka Yudha bisa setega itu ngorbanin kakak yang ia miliki satu-satunya hanya karena tak betah KKN di Ciheras lagi.

“Yud. Kenapa kamu tega banget ke aku?..” tanya Lia lirih.

Ketika sedang asyik menyesali perbuatan Yudha, Lia mendengar seseorang membuka pintu rumah dengan seenaknya.

“Mamih dan Papih besarin kamu jadi orang, bukan maling—mana salamnya?” tanya Lia ketus.

“Mikum.” Jawab Ditsy seenaknya.

“Salamnya yang bener!!” Lia kurang puas dengan salamnya.

“Assalamualaikum.” Ditsy langsung ngeloyor ke kamarnya, mengacuhkan sang tante yang mulai gedeg dengan kelakuannya sekarang.

“Jam segini baru pulang! Kapan belajarnya buat UN?! Mandi jangan lupa!”

“Capeeek!” Ditsy hanya meladeni tantenya dengan hanya melihatkan punggungnya saja dan jawaban sengit.

*****

Sambil jalan menyusuri jalan raya desa, Yudha memikirkan kembali masak-masak penolakan Teh Ningsih juga Lia—khususnya mengenai resiko menghadapi petahana Kades Mukti dan kroni-kroninya.

Kang Didit menjelaskan kalau sebelum jadi Kades, Haji Mukti—walau tak diketahui kapan doi pergi hajinya—dulunya adalah kepala keluarga preman kampung di Pangandaran.

Ia dan “clan”-nya kalah bersaing dengan kelompok-kelompok preman yang lebih kuat dana dan bekingnya dan akhirnya tersingkir ke pelosok. Nasibnya berubah ketika Ciheras ditemukan kandungan pasir besi berkualitas bagus, sehingga ia akhirnya menjadi penguasa Desa Ciheras—baik di atas kertas maupun di bawah tangan.

Yudha mulai ragu ketika mengingat hal tersebut. Ia mulai nuduh kenekatan dirinya sendiri ingin jadi seorang Kades hanyalah akumulasi rasa bersalahnya telah membunuh Kang Didit dan kenaifan jalan pikirannya yang jengah dengan kebobrokan birokrasi di kantor desa.

Jangan sampai bikin keluarga Kang Didit kecewa besar untuk kedua kalinya! Jangan sampai ketika kadung maksain diri buat nyalonin Kades Ciheras, akhirnya loyo ketika berhadapan dengan Kades Mukti—yang wajah dan suaranya lumayan serem! Mendingan mundur sekarang mumpung masih ada kesempatan!

Namun ia teringat satu hal lagi, yang bikin kepalanya jadi makin gatal! Tapi gue udah kadung ditugasin riset lapangan disini sama Pak Mathias! Yudha teringat kalau harus mengerahkan segala akal bulusnya untuk membuka jalan jadi seorang Kades.

Mampus, dah! Ini udah kayak film Dono! Maju kena mundur kena!—Yudha makin senewen, sangking senewennya ia menepok dahinya keras-keras. “Hadeeuhhhh!!.. Gue mesti begimana sekarang???..” erangnya panik.

Tak terasa surau-surau yang berada di sekitar Desa Ciheras mulai baca ayat-ayat suci Al-Qur’an, pertanda sebentar lagi magrib tiba—artinya juga, mobil-mobil angkutan Elf sudah pada masuk pool masing-masing, ia harus menunggu besok pagi.

Yudha harus mencari tempat untuk bermalam alternatif, karena rencana awalnya ia minta tinggal di rumah Kang Didit untuk menjalankan “misi mulia”nya—termasuk sambil melakukan riset lapangan untuk skripsinya—sudah ambyar.

Tiba-tiba, ketika mendengar suara para muadzin, salahsatu menarik perhatiannya. Bukan yang paling merdu, tapi yang paling serak dan diselingi batuk. Suara muadzin yang terdengar kepayahan itu membuatnya ia teringat kejadian waktu di terminal.

Jangan lupa mampir ke Masjid As-Sunah, yah!

Yudha langsung ngibrit mencari asal suara muadzin bersuara berat itu.

Masjid As-Sunah!

*****

  • view 19