Kades Yudha. Prolog.

Aang Pratama
Karya Aang Pratama Kategori Project
dipublikasikan 28 Agustus 2017
KADES YUDHA

KADES YUDHA


Setelah setahun lamanya Yudha lari dari tanggung jawabnya di Desa Ciheras. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menunaikan janjinya kepada mendiang sahabat dekatnya. Jadi seorang Kades!

Kategori Fiksi Remaja

119 Hak Cipta Terlindungi
Kades Yudha. Prolog.

Enggak kerasa udah setahun lamanya Yudha meninggalkan tempat ini. Desa Ciheras namanya. Sebuah perkampungan yang menghadap langsung Samudra Hindia yang jadi tempat doi kuliah kerja nyata.

Awal-awalnya ia memutuskan bikin Desa Ciheras hanya tempat beresin kewajibannya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Namun memutuskan kembali sehabis capek ngindarin dosa besar yang dibuat di Ciheras.

Hadapi dan selesaikan!

Hanya itulah satu-satunya cara musnahin makhluk enggak kasat mata yang terus membayang-bayangi dirinya selama setahun ini.

*****

Yudha berdiri di tengah-tengah sawah pribadi milik Kang Didit dan menarik napas dalam-dalam, menikmati campuran aroma air laut dan kuningnya padi siap panen, plus hangat alaminya angin laut. Hal yang enggakakan ia temui di Bandung yang makin padat dan panas karena buangan asap knalpot kendaraan bensin yang makin menggila.

Heeemmmm! Udah setahun enggak nikmatin udara kayak gini!

Namun ada yang berbeda dengan suasana di sawah padi pribadi seluas setengah hektare ini. Enggak ada mobil carry pick up warna hitam selalu stand by di pinggir jalan, ngawal sang empunya sawah inspeksi lapangan setiap menjelang ashar begini.

Mungkin sang pick up gantung ban karena sang boss besar sudah lama tiada.

Ketika mengingat sosok Kang Didit, rasa kangennya akan suasana Desa Ciheras berubah seratus delapan puluh derajat jadi khawatir dan gelisah—ditambah ketika kediaman beliau yang berdiri tegak di tengah-tengah sawah semakin kelihatan jelas oleh kedua mata Yudha.

Dan tiba-tiba..

*****

“Yudha??”

Ia tersenenggakketika mendengar suara seseorang yang ia kenal—benar-benar sangat ia kenal. Ia pun memalingkan pandangannya ke asal suara itu dengan susah payah, plus senyuman yang dipaksa-paksa.

“Teh Ningsih! Apa kabar?!” balasnya canggung.

Teh Ningsih, janda Kang Didit, yang memanggilnya dari kejauhan.

“Eh, ternyata betul! Ngapain papanasan di situ??” Teh Ningsih yang lembut dan ramah menyuruh Yudha datang ke rumah dengan tangan kanannya.

Yudha enggak sangka kalo bakal menemui sang janda begitu singkat. Apa boleh buat, sudah terlanjur basah. Ya sudah, berenang saja sekalian!

*****

“Tadi, teh, dikirain siapa yang melamun di tengah sawah!” sambut Teh Ningsih kepada Yudha yang sampai di rumahnya.

“Biasa, Teh. Nostalgia dulu bentar.” Yudha terkekeh. Ia memperhatikan sekeliling ruang tamu—enggakada yang berubah dari setahun yang lalu ia tinggal selama sebulan di sini selama kuliah kerja nyata.

Dari dulu, kayaknya enggak pernah berubah kalau ketemu Teh Ningsih. Tutur katanya ramah dan wajahnya meneduhkan. Benar-benar sosok ibu yang ideal. Namun ada yang berubah dari sosoknya. Ia kini kelihatan kurusan dan agak lelah.

“Gimana kabar yang lain?” Yudha menanyakan kabar adik ipar dan anak lelaki satu-satunya—Lia dan Ditsy.

“Alhamdulillaah. Baik semua!” Teh Ningsih sambil menyuguhkan segelas teh manis hangat.

“Berarti sekarang Ditsy udah kelas enam SD, yah?”

“Iya, udah kelas enam SD.”

“Jam segini, kok, belum pulang?” Biasanya, setengah empat sore sudah ada di rumah—bantu-bantu sang bunda nyiapin makan malam.

Teh Ningsih menghela napas, “Sekarang, mah, habis pulang sekolah main sama geng-nya.”

“Waduh, kayaknya Ditsy udah mulai ABG, Teh.” Yudha tertawa canggung. “Terus—sekarang Lia ada di mana? Masih jadi guru bantu di SD Ciheras?”

“Masiih! Dan sekarang makin sibuk. Soalnya sekolah tinggal empat orang yang ngajar, jadi mesti ngajar kelas siang juga.”

“Waduh, kok?!” Yudha enggakmenyangka keadaan semakin runyam di SD Ciheras.

Seingat doi SD Ciheras sudah memiliki enam orang guru, kepala sekolah juga ikut mengajar, termasuk Lia—adik perempuan semata wayang almarhum Kang Didit—sebagai sukarelawan guru bantu, dua guru tetap, sama tambahan guru baru lagi.

“Terus, gimana sama Koperasi sekarang? Sapa yang handle?”

“Sekarang Koperasi dipegang sama Teteh, semenjak Kang Didit enggak ada.”

Yudha tercekat, ia bayangin betapa repotnya Teh Ningsih jadi ketua Koperasi Majeng Sarerea—koperasi masyarakat Ciheras yang didirikan dan dikelola oleh almarhum. “Waduh! Repot, atuh, Teh?!”

“Yah, apa boleh buat, Yud. Dijalani aja.” Teh Ningsih terkekeh pilu.

Yudha geleng-geleng prihatin, ternyata ini penyebabnya kenapa Teh Ningsih kelihatan stress berat. Rasa berdosanya semakin kental ketika mengetahui kondisi keluarga Kang Didit dan Ciheras setelah setahun lamanya ditinggal kabur olehnya.

Dan akhirnya, hal yang dikhawatirkan Yudha datang..

*****

“Ada apa, nih, main ke sini? Lagi napak tilas, yah?”

Yudha yang barusan sudah merasa agak santai, lagi-lagi kembali gugup dan pucat seketika.

“Be—Begitulah, Teh. Hehehe..” jawab Yudha canggung. Ia, pun, coba putar otak gimana ia bisa melaksanakan tujuan utamanya dengan cara yang enggakterlalu vulgar. “Sekalian mau ziarah ke makam Kang Didit, Teh.” Lanjutnya.

Ramahnya sedikit berubah ketika Yudha menyebut nama almarhum suaminya, “Oh, begitu.” Teh Ningsih menjawab dengan suara sedikit diturunkan.

“Maaf banget, Teh! Saya enggak sempet melayat!”

“Ah, enggak papa! Kan, waktu itu kamu masih dirawat juga, kok. Terus udah ziarahnya?”

“J-Justru mau minta tolong Teh Ningsih buat nemenin saya ziarah. Bisa, Teh?”

Teh Ningsih memperhatikan jam dinding, “Aduh. Kebetulan saya mesti ke dermaga dulu. Kalau mau, ntar sama Lia aja?” lalu ia teringat sesuatu. “Tapi enggak tau juga, deng. Takutnya Lia pulang malam kalau ada lembur.”

Yudha enggak berkomentar, hanya memandangi Teh Ningsih dengan muka harap-harap cemas.

“Yaudah, nanti saya minta tolong orang anterin Yudha ke makam, gimana?”

Enggak ada kata iya dari Yudha, Yudha malah tiba-tiba melangkahi meja tamu yang membatasi mereka bedua—bahkan ia langsung menyambar kedua tangan janda cantik anak satu itu!

“Saya juga mau minta maaf ke Teteh dan keluarga!!” ungkapnya dengan suara lantang.

Teh Ningsih hanya terdoim dan kebingungan dengan sikap Yudha.

“Euhh??... Kok??..”

“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Teh! Kecelakaan yang terjadi, ulah saya!!” Yudha enggak berani lagi memandangi wajah Teh Ningsih yang kebingungan.

Teh Ningsih makin kebingungan dengan pernyataan Yudha. Namun Yudha memutuskan untuk maju terus pantang mundur—melaksanakan tujuan doi jauh-jauh dari Bandung ke Ciheras.

“Sebenarnya waktu itu ibu saya enggak kenapa-kenapa. Saya bohong ke kalian kalo ibu saya masuk rumah sakit. Saya Cuma enggak tahan disuruh di Ciheras terus-terusan!!” Yudha menunduk serendah-rendahnya di depan Teh Ningsih, bahkan sampai mencium lantai.

“Saya enggak nyangka. Kalau kejadian itu bakal terjadi! Yudha mohon ampun ke Teteh!!” tutupnya.

Enggak ada jawaban atau respon apa, pun, dari Teh Ningsih. Hanya suasana sunyi dan tegang di ruang tamu tersebut. Yudha sudah mikir pasti bakalan kayak begini. Ia hanya bisa sujud di depan sang janda dan menutup mulutnya sampai ada jawaban dari Teh Ningsih.

Tiba-tiba terdengar tangis dan jeritan memilukan memecah kesunyian rumah Kang Didit. Sebenarnya Yudha yakin ini bakalan terjadi, tapi ia enggak nyangka kalau kenyataannya jauh lebih memilukan daripada apa yang ia bayangkan.

Semakin lama Yudha mendengar tangisan histeris Teh Ningsih, enggak kerasa kedua matanya mulai basah.

“Maaf, Teh!..” air matanya mulai mengucur enggak terkendali bersama ingusnya. “Ampun, Teh!!..”

*****

“MAAF?! AMPUN?!”

Yudha kenal betul siapa pemilik suara menggelegar itu.

Lia. Adik perempuan satu-satunya almarhum Kang Didit. Ternyata doi pulang cepat dan nguping percakapan Teh Ningsih dan Yudha dari tadi.

Dengan secepat kilat, Lia meringkus tubuh Yudha. Biar, pun, lebih kecil darinya, Lia sanggup mencengkram kerah baju dan memaksa Yudha untuk berdiri dan menghadap dirinya yang sedang murka.

“ELO ENGGAK TAU GIMANA MENDERITANYA KELUARGA KAMI SELAMA SETAHUN INI GARA-GARA ELO?!!”

Dan bagian ini Yudha enggak kepikiran. Lia bakalan murka dan menghajar mukanya dengan bogem mentah dan sampai jatuh tersungkur keras di lantai kayak sekarang. Sekarang ia hanya bisa meringis pasrah, menikmati gigi-giginya yang rasanya mau copot semua, sebagai salahsatu konsekuensi atas keegoisan fatalnya setahun yang lalu.

“DASAR BANGSAT!!” tinjuan kedua mendarat di pipi kirinya. “BAJINGAN KAMU!!” lalu tinjuan ketiga mendarat di pipi kanannya untuk kedua kalinya, “KELUARGA GUE JADI SUSAH GARA-GARA ELO, ANJING!!”

“RAKYAT CIHERAS JADI ENGGAK PUNYA MASA DEPAN KARENA LO BUNUH KAKAK GUE!!“ tinjuan keempat mendarat di pipi kirinya, Yudha sudah mulai kelenger dengan hukuman fisik Lia—sang atlit karate tingkat provinsi Jawa Barat.

“NYAWA BALAS NYAWA!!” Lia menjerit kayak orang kesurupan sebelum melayangkan tonjokan terakhir.

“LIA! SUDAH!! Aa mu enggak akan kembali walau kamu mau bunuh doi!!” teriakan Teh Ningsih berhasil mengerem kencang Lia yang gelap mata.

*****

“Maaf kalau Lia keterlaluan.” Teh Ningsih coba mengompres pipi Yudha yang sudah macam adonan bakpau.

“Enggak papa, Teh. Udah seharusnya.” Yudha meringis menahan sakit.

“Tuh, kan! Dia aja rela dibegituin!” Lia yang bersila tangan, bersungut-sungut di pojokan ruang tamu, tersenyum nyinyir.

“Sudah!”

“Saya malu banget. Sudah setahun bikin keluarga Teteh susah, saya malah diperlakuin begini.” Ujar Yudha kepada Teh Ningsih yang telaten sekali mengompres memar-memar di wajahnya.

Teh Ningsih enggak komentar, ia terus mengompresi wajah Yudha.

“Anu. Sebenernya. Saya ke sini enggak Cuma mau ziarah sama ngasih penjelasan, minta maaf doang.”

Teh Ningsih sampai menghentikan kompresan memarnya ketika mendengar apa yang keluar dari mulut bengkak Yudha.

Kagok edan! Yudha meneruskan perkataannya. Pokoknya semua maksud dan tujuan yang sudah ia persiapkan sebelum berangkat ke Ciheras segera tercapai. Kalau, pun, akhirnya ia akhirnya tewas di tangan Lia, setidaknya ia enggak bakalan mati penasaran!

“Justru saya berniat mau memperbaiki kekacauan yang saya bikin selama ini!”

Enggak Cuma Teh Ningsih yang kebingungan, sekarang Lia pun ikutan bingung.

“Saya mau jadi Kades di Ciheras!!”

Teh Ningsih dan Lia saling berpandangan satu sama lain, melongo kebingungan ketika mendengar apa yang dikatakan Yudha.

*****

  • view 14