Kades Yudha. Prolog.

Aang Pratama
Karya Aang Pratama Kategori Project
dipublikasikan 28 Agustus 2017
KADES YUDHA

KADES YUDHA


Setelah setahun lamanya Yudha lari dari tanggung jawabnya di Desa Ciheras. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menunaikan janjinya kepada mendiang sahabat dekatnya. Jadi seorang Kades!

Kategori Fiksi Remaja

406 Hak Cipta Terlindungi
Kades Yudha. Prolog.

Enggak kerasa udah setahun lamanya Yudha meninggalkan tempat ini, Desa Ciheras namanya. Sebuah perkampungan yang menghadap langsung Samudra Hindia, tempat doi kuliah kerja nyata.

Awal-awalnya, Desa Ciheras cuma tempat buat beresin kewajibannya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Namun akhirnya Yudha mutusin buat kembali ke Ciheras.

Ada dosa yang doi bikin di tempat ini. Dosa besar.

Dosa besar yang selama setahun ini doi coba lari darinya.

*****

Yudha berdiri di tengah-tengah sawah pribadi milik Kang Didit. Menarik napas dalem-dalem, menikmati campuran aroma air laut dan bau padi siap panen. Hal yang enggak akan doi temui di Bandung, yang makin padat, panas, dan menggila penghuninya.

Heeemmmm! Udah setahun enggak nikmatin udara kayak gini!

Namun ada yang berbeda dengan suasana di sawah padi pribadi seluas setengah hektare ini. Enggak ada mobil carry pick up warna hitam selalu stand by di pinggir jalan, ngawal sang empunya sawah nginspeksi lapangan setiap jelang ashar begini.

Mungkin sang pick up gantung ban karena sang boss besar sudah lama tiada.

Ketika ingat sosok Kang Didit, rasa kangennya akan suasana Desa Ciheras berubah seratus delapan puluh derajat, malah jadi sedih dan penuh penyesalan. Ditambah kediaman beliau yang berdiri tegak di tengah-tengah sawah semakin kelihatan jelas oleh kedua mata Yudha, malah nambah rasa khawatir sama gelisah.

*****

“Yudha??”

Yudha tersentak denger suara orang yang manggil nama doi. Yudha hapal banget suara sapa. Suara orang yang doi enggak mau temuin secepat ini. Tapi apa boleh buat, nasi udah jadi bubur,  doi noleh ke orang itu, plus senyuman yang dipaksa-paksa.

“Teh Ningsih! Apa kabar?!” balasnya canggung.

“Eh, emang bener Yudha! Ngapain papanasan di situ??” Teh Ningsih, janda Kang Didit, yang manggil Yudha.

“Ah, enggak lagi ngapa-ngapain, Teh! Hehehe.”

“Hayu, ke rumah, atuh! Ntar pingsan!”

“Siap, Teh!” Yudha langsung cabut ke rumah Kang Didit.

*****

“Tadi, teh, dikirain siapa yang melamun di tengah sawah!” sambut Teh Ningsih kepada Yudha yang sampai di rumahnya.

“Biasa, Teh. Nostalgia dulu bentar.” Yudha cengengesan grogi.

Yudha ngeliatin sekeliling ruang tamu. Enggak ada yang berubah kayak waktu tinggal sebulan di sini selama kuliah kerja nyata. Rumah boleh, lah, ngampung banget secara kasat mata, karena temboknya modal papan triplek bekas.

Tapi tripleknya bukan sembarang triplek, Kang Didit udah memodif supaya tembok tripleksnya tahan segala cuaca kayak tembok beton!

Dulu, waktu pertama kali ke sini, Yudha dan temen-temen sekampusnya nyangka bakal tinggal di gubuk derita. Eh ternyata, peralatan elektronik dan furnitur yang ada di dalem, ikut perkembangan jaman banget!

Dari dulu, enggak ada yang berubah kalo ketemu Teh Ningsih. Tutur katanya ramah dan wajahnya meneduhkan, bener-benar sosok ibu yang ideal.

Tapi pas disidik-sidik lagi sama Yudha, ada yang berubah dari sosoknya. Doi keliatan kurusan dan suaranya kayak orang kecapean, padahal keluarga Kang Didit dikenal keluarga yang enggak punya puser. Enggak ada capeknya.

“Gimana kabar yang lain?” Yudha nanyain kabar adek ipar dan anak lelaki satu-satunya, Lia dan Ditsy.

“Alhamdulillaah. Baik semua.” Teh Ningsih nyuguhin segelas teh manis hangat sama biskuit kalengan.

Yudha mikir-mikir sebentar, “Berarti sekarang Ditsy udah kelas enam SD, yah?”

“Iya, udah kelas enam SD.”

“Jam segini, kok, belum pulang?” Biasanya, setengah empat sore udah ada di rumah, bantu-bantu sang bunda nyiapin makan malam.

Teh Ningsih menghela napas, “Sekarang, mah, abis pulang sekolah main sama gengnya.”

“Ditsy udah mulai ABG, tuh!” Yudha ketawa canggung. Dan makin canggung pas Teh Ningsih cuma bales pake senyuman alakadar.

“Lia masih jadi guru bantu di SD Ciheras?”

“Masiih! Dan sekarang makin sibuk. Soalnya yang ngajar di sekolah jadi empat orang lagi, jadi mesti ngajar kelas siang juga.”

“Waduh, kok?!”

Seinget Yudha, sebelum doi pulang ke Bandung, SD Ciheras udah punya enam orang guru. Karena surat permohonan tambahan guru, yang udah bertahun-tahun enggak pernah di-acc sama kepala desa Ciheras, akhirnya di-acc en dikirim ke Dinas Pendidikan Kabupaten.

“Terus, gimana sama Koperasi sekarang? Sapa yang handle, Teh?”

“Semenjak Kang Didit enggak ada, sekarang Koperasi dipegang sama Teteh.”

Yudha tercekat, doi bayangin betapa repotnya Teh Ningsih jadi ketua Koperasi Majeng Sarerea, koperasi masyarakat Ciheras yang didirikan dan dikelola oleh almarhum suaminya.

“Waduh! Repot, atuh, Teh?!”

“Yah, apa boleh buat, Yud. Dijalani aja.” Teh Ningsih terkekeh pilu.

Yudha geleng-geleng prihatin, ternyata ini penyebabnya Teh Ningsih kelihatan stress berat. Rasa berdosanya makin kental pas tau kondisi keluarga Kang Didit dan Ciheras setelah setahun lamanya ditinggal kabur olehnya.

Dan akhirnya, hal yang dikhawatirkan Yudha datang.

*****

“Ada apa, nih, main ke sini? Lagi napak tilas, yah?”

Yudha yang barusan sudah merasa agak santai berkat basa-basi barusan, lagi-lagi kembali gugup dan pucat seketika.

“Be-Begitulah, Teh. Hehehe..” jawab Yudha canggung.

Doi coba putar otak gimana bisa laksanain tujuan utamanya dengan cara enggak terlalu frontal.

“Sekalian ziarah ke makam Kang Didit, Teh.” Yudha makin gugup.

“Oh, gitu.”

“Maaf banget, Teh! Saya enggak sempet melayat!”

“Ah, enggak papa!” jawab Teh Ningsih, “Terus udah ziarahnya?”

“J-Justru mau minta tolong Teteh buat nemenin saya ziarah! Bisa, Teh??”

Teh Ningsih nengok ke jam dinding, “Aduh. Kebetulan saya mesti ke dermaga dulu. Kalau mau, ntar sama Lia aja?”

Tapi doi inget sesuatu, “Tapi enggak tau juga, deng. Takutnya Lia pulang malam, takut ada lembur.”

Yudha enggak berkomentar, cuman liatin Teh Ningsih dengan muka harap-harap cemas. Teh Ningsih pun ikut bingung sama tingkah Yudha. Dan Yudha pun makin cemas waktu liat janda Kang Didit ikutan bingung!

“Yaudah, atuh, nanti saya minta tolong orang koperasi buat anterin Yudha ke makam, gimana?”

Tapi enggak ada kata iya dari Yudha, sikap diem tapi gelisah doi malah bikin Teh Ningsih makin kebingungan.

“Jadi gimana?” Teh Ningsih mulai pusing sama kelakuan Yudha, tapi doi coba tetep buat bersikap sopan.

Enggak ada jalan lain lagi! Musti dilakuin sekarang juga! Kasihan Teh Ningsih!

*****

Yudha tiba-tiba melangkahi meja tamu yang ngebatasin mereka berdua dan nyamber kedua tangan janda cantik anak satu itu!

“Saya mau minta maaf ke Teteh dan keluarga!!” Yudha tertunduk ketakutan.

Teh Ningsih hanya terdiam dan kebingungan sama sikap Yudha.

“Euhh??.. Kok??..”

“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Teh! Kecelakaan yang terjadi setahun yang lalu itu!..” Yudha neleh ludah dulu sebelum lanjut, “ULAH SAYA, TEH!!”

Teh Ningsih makin kebingungan dengan pernyataan Yudha.

Akhirnya, tujuan utama Yudha buat mutusin buat pergi jauh-jauh dari Bandung ke desa paling selatan di provinsi Jawa Barat ini udah berhasil disampaikan.

Kagok edan! Baru tiga puluh persennya Yudha nyampein pengakuan dosa. Gas terus!

“Sebenarnya waktu itu ibu saya enggak kenapa-kenapa. Saya bohong ke kalian kalo ibu saya masuk rumah sakit. Saya cuma enggak tahan disuruh di Ciheras terus-terusan!!”

Yudha nunduk serendah-rendahnya di depan Teh Ningsih, bahkan jidatnya ampe nyium kedua tangan Teh Ningsih.

“Saya enggak nyangka, kalau kecelakaan itu bakal terjadi! Yudha mohon ampun ke Teteh!!” tutupnya.

Enggak ada jawaban atau respon apa pun dari Teh Ningsih. Hanya suasana ruang tamu berubah hening. Yudha udah mikir pasti bakalan kayak begini, doi hanya bisa sujud di depan sang janda dan menutup mulutnya sampai ada jawaban dari Teh Ningsih.

Tiba-tiba terdengar tangis dan jeritan memilukan memecah kesunyian rumah Kang Didit. Yudha enggak nyangka kalau kenyataannya jauh lebih memilukan dari apa yang dibayangin. Janda Kang Didit menangis dan menjerit panjang dan memanggil-manggil nama suaminya.

“Maaf, Teh!..” air matan Yudha mulai mengucur enggak terkendali bersama ingusnya. “Ampun, Teh!!..”

*****

“MAAF?! AMPUN?!”

Yudha kenal betul siapa pemilik suara menggelegar itu. Lia. Adik cewek satu-satunya almarhum Kang Didit. Ternyata doi pulang cepet dan nguping percakapan Teh Ningsih dan Yudha dari tadi.

Dengan secepat kilat, Lia meringkus tubuh Yudha. Biarpun badan doi lebih kecil dari Yudha, tenaga Lia sanggup mencengkram kerah baju dan maksa Yudha buat berdiri dan ngadepin dirinya yang sedang murka.

“ELO ENGGAK TAU GIMANA MENDERITANYA KELUARGA KAMI SELAMA SETAHUN INI GARA-GARA ELO?!!”

Tapi bagian ini Yudha enggak kepikiran. Bagian Lia bakalan murka dan menghajar mukanya dengan bogem mentah ampe nyungsruk di lantai kayak sekarang. Yudha cuma meringis pasrah, menikmati gigi-giginya yang rasanya mau copot semua, sebagai salahsatu konsekuensi atas keegoisan fatalnya setahun yang lalu.

“DASAR BANGSAT!!” tinjuan kedua mendarat di pipi kirinya.

“BAJINGAN KAMU!!” lalu tinjuan ketiga mendarat di pipi kanannya untuk kedua kalinya.

“KELUARGA GUE JADI SUSAH GARA-GARA ELO, ANJING!!”

“RAKYAT CIHERAS JADI ENGGAK PUNYA MASA DEPAN KARENA LO BUNUH KAKAK GUE!!“ tinjuan keempat mendarat di pipi kirinya.

Yudha mulai kelenger dengan hukuman fisik Lia, sang atlit karate tingkat provinsi Jawa Barat.

“NYAWA BALAS NYAWA!!” Lia menjerit kayak orang kesurupan sebelum melayangkan tonjokan terakhir.

“LIA! SUDAH!! Aa mu enggak akan kembali walau kamu mau bunuh dia!!” jeritan Teh Ningsih berhasil mengerem kencang Lia yang gelap mata.

*****

“Maaf kalo Lia keterlaluan.” Teh Ningsih ngompresin pipi Yudha yang udah kayak bakpau kebanyakan isi selai anggur, montok dan kebiruan.

“Enggak papa, Teh. Udah seharusnya.” Yudha meringis menahan sakit.

“Tuh, kan! Dia aja rela dibegituin!” Lia yang bersila tangan, bersungut-sungut di pojokan ruang tamu, tersenyum nyinyir.

“Sudah!”

“Saya malu banget. Udah setahun bikin keluarga Teteh susah, saya malah diperlakuin begini. Padahal biarin aja saya babak-belur begini.”

Teh Ningsih enggak komentar, ia terus mengompresi wajah Yudha dengan telaten.

“Saya ke sini emang enggak cuma mau ziarah sama minta maaf doang.”

Teh Ningsih menghentikan kompresan, “Apalagi, Yud??..”

“Justru saya mau bertanggung jawab atas kesalahan yang saya perbuat setahun yang lalu ini!”

Enggak cuma Teh Ningsih yang kebingungan, sekarang Lia pun ikutan bingung.

“Saya mau jadi Kades di Ciheras!!”

Teh Ningsih dan Lia melongo waktu denger apa yang dikatakan Yudha barusan, bahkan mereka berdua ampe saling liat satu sama lain.

*****

  • view 42