MEMELUK RINDU

Keara Mustafa
Karya Keara Mustafa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 September 2017
MEMELUK RINDU

              27 Agustus 2010, adalah tanggal keberangkatanku. Tinggal dua hari lagi. Semua keperluan sudah aku siapkan. Bahkan beberapa barang sudah aku masukkan ke dalam koper. Namun tidak bisa aku pungkiri, hatiku tidak pernah tenang. Setiap hari selalu merasa gelisah. Tidak jarang perasaan ragu menyergapku. Tapi semua sudah terlanjur sampai disini. Aku tidak mungkin membatalkannya. Selain tenaga yang terbuang juga dana yang aku keluarkan pun begitu besar. Mungkin ini hanyalah bisikan syetan yang tidak akan pernah rela seseorang menempuh jalan kebaikan.

             

              Mendekati hari keberangkatanku, kamu terlihat semakin lemas. Seperti kehilangan semangat hidup. Matamu selalu terlhat sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Aku merasa, bahwa akulah penyebab kamu seperti ini. Dulu kamu begitu ceria. Senyummu begitu tulus, dan matam selalu berbinar. Namun saat ini dengan kondisimu sekarang bagaimana mungkin aku bisa tenang meninggalkanmu. Bagaimana mungkin aku bisa fokus untuk kuliah jika aku meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini. Hal inilah yang sering membayangiku, hingga perasaan ragu itu kembali menyergapku. Apakah keputusanku ini sudah benar, atau semua ini hanyalah keinginan nafsuku belaka. Tapi, entahlah. Yang aku inginkan saat ini adalah melihat senyummu kembali merekah. Senyum yang selalu menggetarkan jiwaku. Seperti senyum yang kamu suguhkan saat kita nekat bertemu di masjid pesantren dulu. Kamu masih ingat itu kan Ya ? ohh, senyum itu. Betapa aku merindukan senyum itu.

             

Hingga akhirnya hari keberangkatanku tiba. Semua keperluan sudah tertata rapi dalam dua buah koper. Untuk paspor dan juga berkas-berkas penting lainnya aku masukkan kedalam tas yang berbeda. Karena takutnya nanti bercampur dengan yang berat-berat akan jadi lusuh. Ayah sudah memanasi mobil, ibu juga terlihat sudah siap. Mereka akan ikut mengantarku sampai ke bandara. Karena setelah itu, aku akan bergabung dengan calon mahasiswa lainnya.

              “sudah setengah delapan Rey, ayo cepat” ayah mengingatkanku. Namun aku masih merasa enggan untuk bangkit.bertahun-tahun aku menghabiskan waktu bersama ayah dan ibu. Ingin ini, ingin itu tinggal minta. Namun, sebentar lagi duniaku akan berbeda. Meski dulu aku juga pernah berpisah dengan ayah dan ibu waktu aku di pesantren. Namun, dulu hampir satu bulan sekali mereka menjengukku. Bertemu dengan mereka adalah obat kangenpaling mujarab sedunia. Tapi kali ini berbeda. Pengembaraanku akan sangat jauh. Aku akan berjuang untuk hidup di negeri orang. Tidak adak keluarga atau family yang akan mengurusiku. Semua akan aku lalui sendiri. Dan tentunya tidak akan ada lagi suara lembut Ibu membangunkanku untuk sholat shubuh. Juga tidak akan ada lagi suara ayah yang paling suka mendendangkan lagu musisi Ebiet G.ad. semua itu hanya akan menjadi kenangan yang terbungkus rapi dalam memori ingatanku. Yang akan menemani keseharianku kelak. Namun yang lebih mengganjal dalam fikiranku adalah kamu Ya, bagaimana dengan perasaan kamu ? sanggupkah kamu menungguku selama itu ?

              Tidak terasa air mataku meleleh saat aku mengingat saat-saat dimana kita pertama kali nekat untuk merecanakan . Perasaanku semakin sendu jika ingat masa-masa kita masih di pesantren.

              Aku mencoba untuk bangkit. Ayah dan ibu sudah menunggu di depan. Namun tiba-tiba ponselku berdering. Fotomu terpampang dilayar.

              “Assalamu’alaikum..” kamu mengucapkan salam.

              “Wa’alaikumsalam, ada apa Ya ?”

              “Kamu udah berangkat ?” tanyamu. Suaramu terdengar lirih.

              “Belum, sebentar lagi” jawabku.

              “Apa kamu sudah benar-benar yakin ?” suaramu serak. Tangismu kembali pecah. Mendengar isakkanmu hatiku kembali luluh. Perasaan bersalah merasuki hatiku. Apakah hanya karena demi mengejar cita-citaku yang tentunya aku sendiri belum tahu kelanjutannya harus menyakiti orang-orang yang dengan tulus menyayangiku ?  mendadak aku menjadi ragu. Sekilas terbesit aku ingin membatalkan keberangakatanku, dan merajut mimpi bersamamu. Mengukir kisah yang pernah kita angankan bersama. Namun, disisi lain, kesempatan ini aku tunggu selama bertahun-tahun. Sejak masih di pesantren aku sudah menginginkannya.

              “Entahlah Ya, aku berangkat dulu. Ayah sudah manggil. Assalamu’alaikum..” aku sengaja menghindar dari pertanyaan itu darimu. Sebab jika nanti di bandara aku melihat air matamu keluar atau kamu memintaku untuk tidak pergi, maka seketika itu pula aku akan membatalkan keberangkatanku. Sudah cukup aku melukiskan kesedihan di hidupmu. Aku tidak ingin mengulang masa lalu kelam yang hampir saja menghancurkan hubungan kita. Terkadang keinginan tidak harus diwujudkan. Adakalanya keinginan itu harus dihapus untuk memulai satu hal yang lebih bermanfaat.

###

 

 

              Ini adalah kali kedua aku menginjakkan kaki di bandara internasional Soekarno-Hatta. Dulu aku masih sekitar umur tigabelas tahun. Waktu itu ayah mengajakku berkunjung pada teman lama ayah di Makassar. Kini, aku kembali menginjakkan kaki di bandara ini lagi. Setelah memarkir mobil, aku langsung menuju terminal 2D. Disana sudah terlihat ramai para calon mahasiswa yang sedang mengenang momen-momen terakhir bersama keluarga. Aku memutuskan untuk mecari tempat duduk yang lain. Tapi tidak terlalu jauh dari mereka. Tentu aku mencari tempat duduk yang sepi. Sementara ayah dan ibu menemui petugas dari kementerian agama. Sambil merebahkan tubuhku pada kursi, aku mengedarkan pandanganku. Tentunya aku mencari kamu. Di ujung lorong sebelah kanan aku melihat papa dan mamamu. Mereka berjalan menuju arahku. Namun aku tidak menemukan kamu bersama mereka. Apakah kamu tidak mau menemuiku untuk yang terakhir sebelum kita berpisah lama ? segitu sakit hatinya kah kamu padaku ? sekelebat pertanyaan itu muncul dalam benakku.

              “kok disini Rey ? nggak ikut gabung sama calon mahasiswa yang lain ?” tanya mamamu yang kini sudah berada di depanku.

              “lagi pengen menyendiri tante” jawabku sambil masih mencari-cari keberadaanmu.

              “kamu cari Raya ?” tanya mamamu. Mungkin mamamu sudah tahu, sejak tadi aku terlihat sedang mencari seseorang.

              “iya tante, emang Raya nggak ikut ?” tanyaku.

              “ikut, tapi tadi katanya mau ke toilet dulu. Tapi udah dari tadi kok nggak kembali-kembali ya..” tutur mamamu. Perasaan lega sedikit terasa. Ternyata aku terlalu berlebihan kepadamu. Kamu pasti datang Ya, hanya saja aku yang terlalu pesimis.

              “pa, coba papa susul Raya gih, masak di toilet kok hampir setengah jam.” Kata mamamu pada papamu. Terlihat mamamu khawatir tejadi apa-apa denganmu. Begitu juga denganku Ya, apa yang terjadi padamu ? apa kamu sengaja tidak mau menemuiku. Dan sengaja mencari alasan untuk ke toilet yang tidak lain karena ingin menghindariku. Lalu papamu beranjak menuju toilet dimana tadi kamu tuju. Sejurus aku ingin ikut memastikan kalau kamu tidak kenapa-napa, namun tiba-tiba suara ayah memanggilku.

              “rey, sini dulu. Kamu belum ngisi daftar hadir” suara ayah setengah berteriak. Ibu yang tahu kalau ada mamamu disampingku langsung menghampiri mamamu. Dan aku berlari kearah ayah bersama beberapa petugas dari Kementerian Agama. Setelah aku mengisi daftar hadir aku bersalam-salaman dengan beberapa calon mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Aku sempat kesulitan berbicara dengan calon mahasiswa dari Madura. Dia sering menggunakan bahasa asli daerahnya. Dan aku yang tidak begitu faham dengan maksudnya hanya menganggukkan kepala saja.

              Ditengah perbincanganku dengan beberapa calon mahasiswa tadi, tiba-tiba terdengar suara jeritan dari ujung lorong terminal 2D. Beberapa orang berhamburan menuju sumber suara. Aku pun ikut berlari ingin melihat apa yang terjadi. Karena banyaknya orang dan juga ada yang masih menenteng tasnya membuatku sedikit kesulitan untuk berlari. Sesampainya di tempat kejadian aku masih bisa melihat ada seseorang perempuan yang bersimbah darah di kepalanya. Seperti bekas benturan. Namun aku tidak jelas melihat wajahnya. Rasa penasaran mengalahkan desakan orang-orang. Aku ingin lebih dekat melihat wajah perempuan bernasib malang tersebut. entah mengapa Ya, aku sendiri pun tidak tahu, aku hanya mengikuti kata hatiku. Setelah cukup dekat, seperti tidak percaya rasanya. Hatiku terasa remuk redam kala melihat perempuan yang bersimbah darah itu adalah kamu. Wajah putihmu yang masih terbalut jilbab merah muda, terlihat basah oleh darah. Darah segar mengucur dari keningmu. Apa yang terjadi padamu Ya ? kenapa semua ini bisa terjadi ? . tidak beberapa lama datang tim medis dari bandara. Meraka membawamu dengan meja dorong dan berjalan cukup cepat untuk memberikan pertolongan padamu.

              Waktu itu sudah tidak memikirkan keberangkatanku. Aku tidak mungkin meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini. Biarlah aku jadi gembel di Indonesia, asal aku masih bisa berada disisimu. Aku mengambil dua buah koperku dan membawanya masuk ke mobil. Ayah ternyata mendukung keputusanku untuk membatalkan keberangkatanku. Begitu pula dengan ibu. Setelah aku pastikan barangku tidak ada yang ketinggalan di bandara. Ayah langsung memacu mobil dengan kecepatan cukup tinggi untuk menuju rumah sakit dimana kamu dirawat. Selama di jalan bayangan wajahmu yang bersimbah darah terus menyergapku. Apa yang telah aku lakukan ? sehingga kamu menjadi seperti ini Ya ? aku terus memaki diriku sendiri.

              Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju ruangan dimana kamu dirawat. Karena tadi ibu sudah menelepon mamamu menanyakan di ruang mana kamu dirawat. Jadi aku tidak butuh waktu lama untuk menemukan ruangannya. Dari jarak yang cuktup jauh aku bisa melihat mamamu duduk di depan sebuah ruangan ICU. Terlihat mamamu masih menangis. Dan sampingnya ada papamu yang juga terlihat gelisah. Berkali-kali papamu mengintip jendela ruang kamu dirawat.

              “Assalamu’alaikum, tante..” aku mengucapkan salam setelah sampai di ruang kamu dirawat. Melihat kedatanganku, mamamu langsung memegang tanganku. Tangannya gemetar. Sambil menangis mamamu tanya, ada apa sebenarnya ?

              “Rey, jawab tante. Ada apa sebenarnya ? apa yang terjadi ?” suara mamamu gemetar. Tangisnya kembali pecah. Aku mendengar pertanyaan mamamu seperti orang bisu. Lidahu kelu untuk menjawabnya. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu kejamnya sama kamu. Aku janji Ya, jika aku tahu siapa yang melakukan semua ini. Seumur hidup aku tidak akan memaafkannya. Menyakitimu berarti juga menyakitiku. Bahkan lebih perih rasanya bagiku. Karena aku tidak bisa melindungimu.

              “kenapa Rey...jawab tante..” suara mamamu membuyarkan lamunanku. Mamamu masih menangis. Aku merasakan kesedihan yang luar biasa dirasakan mamamu. Ibu mencoba untuk menghibur mamamu. Namun tampaknya mamamu sangat terpukul.

              “Reyhan nggak tahu tante...tapi Reyhan janji. Reyhan akan mencari tahunya sampai ketemu. Reyhan janji”

              “terima kasih Rey, terima kasih..” ucap mamamu.

  • view 70