Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 25 Maret 2018   06:23 WIB
The Right Hand

“Lo hampir terlambat Azkia, rapatnya lama ya?” Gea sudah menghabiskan setengah gelas lemon tea sambil menunggu gadis yang detik ini baru datang menggendong ransel yang kelihatannya berat. Mata bulatnya tampak lelah. Kerudungnya sudah meminta untuk dibenahi. Namun wajah kalemnya tidak pernah pergi. Azkia mengangguk dan mengambil posisi duduk di samping Gea.

            Gea sendiri hampir lumutan berada di kedai Blue sejak setelah shalat ashar. Jika urusan makan, dia memang yang paling rajin, anehnya badannya paling kurus. Dia sempat merasa risih dan ingin pulang saat masih menunggu sendiri. Bagaimana tidak, banyak laki-laki yang menatapnya. Bukan, bukan terpesona dengan kulit putih alami dan bulu mata lentik alami. Betul, segala tentang Gea terlihat alami, termasuk sikap heboh dan kebiasaan anehnya. Omong-omong soal laki-laki tadi, mereka seolah menatap Gea dengan pertanyaan “Jomblo bukan ya?” Disaat seperti itu, kedatangan Nesya dan Ninda telah menyelamatkan Gea.

            “Udah jangan ditekuk lagi wajahnya! Azkia kan udah datang.” Ninda, gadis gemuk yang manis dipandang dengan tahi lalat kecil dibawah alis kanan menjadi sosok dewasa diantara mereka berempat. Sama seperti Nesya, Ninda satu tahun lebih tua dari Gea dan Azkia.

            “Hahaha, lucu sekali wajahmu dek.” Melihat Gea semakin memanyunkan bibirnya membuat Nesya tertawa. Dia gadis yang mudah tertawa, bahkan terkadang bisa tertawa dengan alasan yang hanya dipahaminya sendiri. Untung saja masih ada orang-orang yang ingin berteman dengan pemilik hidung mancung ini.

            “Ge, ayo cepat pesan makan, cacing kamu berisik tahu.” Mendengar kata makan refleks membuat raut cemberutnya luruh berganti senyum antusias. Azkia memang jeli, untunglah dia tahu titik kelemahan Gea.

            Diluar, terdengar suara guntur mulai bersahutan. Sejak Gea melangkah dari tempat kost pun langit memang sudah berwarna gelap. Suasana di luar mungkin muram, namun tidak dengan suasana di dalam kedai ini. Gea, Azkia, Ninda, dan Nesya menempati tempat lesehan dengan karpet menyerupai rumput dan meja lebar berwarna biru laut. Bantal duduk berwarna biru senada membuat duduk lesehan mereka lebih nyaman. Pencahayaan disini sangat pas, tidak silau dan tidak suram. Di ruangan sebelah, terdengar sangat berisik. Mereka makan dengan pasukan lebih dari dua puluh orang. Sementara di bagian sisi lain didominasi oleh pasangan yang sedang makan bersama. Hanya mereka saja yang datang berempat.

            Mereka tersenyum sumringah saat pelayan berambut mangkok datang membawa pesanannya. Rintik hujan sudah menjadi musik pengiring saat ini. Beruntungnya Azkia yang memesan coklat panas. Minuman yang dipesan Nesya dan Ninda juga tampak sesuai. Gea meringis, melihat eskrim yang sudah tersaji. Tanpa aba-aba Nesya sudah tertawa melihat ekspresinya. Meja mereka ramai dengan makanan yang bermacam-macam. Ada nasi timbel komplit, chicken katsu, tempe mendoan, keripik kentang, cumi lada hitam dan mie goreng.  

            “Selamat makan.”

             Gea senang rencananya membawa makhluk-makhluk sibuk ini bersantai sejenak berhasil. Sebagai tetangga kost yang baik, Gea sangat memperhatikan kebutuhan bersantai mereka. Dua minggu, Gea harus menunggu selama itu sampai mereka mau mengabulkan keinginannya. Dasar mereka tidak ber-peri-kesantai-an.

            Di sela-sela makannya, Gea tampak memikirkan sesuatu. Hei jika kau seorang pelari, dalam sepuluh menit, berapa kali putaran yang bisa kau capai untuk mengelilingi stadion? Mungkin tiga atau empat kali kan? Gea merasa tempo di sebelahnya berjalan begitu lambat. Saking penasarannya, berkali-kali dia mencuri pandang ke arah sebelah. Saat mencubit daging, saat mengunyah, saat pura-pura melihat pelayan yang melintas. Tapi apa ya yang berbeda dari Azkia? Di tengah kemelut dalam pikirannya sendiri, Gea melihat Nesya dan Ninda berwajah damai menikmati makanannya.

            Ada yang berbeda, beneran deh. Gea masih bersikukuh. Gea melihat makanan Azkia. Selama yang ada di hadapannya itu sepiring mie goreng campur telur, daging, sosis, bakso, dan kerupuk, itu normal. Yang tidak normal justru jika bukan menu itu yang dipesannya. Azkia mengangkat garpu, itu juga normal. Yang tidak normal kalau dia memakai trisula om Poseidon.

‘Ya Allah, serius deh, gue yakin ada yang aneh.’ Gea berteriak dalam hati.

Ting, akhirnya lampu pijar di otaknya menyala.

Gea berdehem menarik perhatian tiga temannya. Nesya dan Ninda sigap menatap penuh tanya ke arahnya. Di sampingnya, Azkia masih berkonsentrasi dengan mie goreng yang sangat dia gilai.

“Ehem, mie dengan netto 95 gram yang biasa lo habiskan dalam waktu 10 menit, sekarang bahkan sudah 15 menit dan belum habis. Telah terjadi penurunan tingkat kecepatan makan seorang Azkia. Sekian hasil penelitian Gea sebagai seorang life observer, dan gue sangat penasaran, apa ini maksudnya?” Tau-tau Azkia sudah mendapat pelototan yang menuntut penjelasan. Lihat, kebiasaan aneh Gea mulai muncul.

“Kamu terobsesi dengan observer ya? Cocok kayaknya buat bantu-bantu nulis skrpsi kakak hahaha” Nesya tidak tahan untuk menanggapi.

“Eits, kalau urusan itu beda lagi kak, gue pasang tarif hehe.”

“Hmm, gak jadi deh.” Nesya tampak mengeluh, sebenarnya berpura-pura kecewa.

“Aku jawab jangan nih?” suara Azkia sontak membuat tiga orang yang sudah selesai makan menatapnya antusias.

            “Dengan senang hati, silahkan.” teriak Gea. Mungkin dia terlalu bersemangat.

            “Dek, kamu nanggapin itu serius ya?” Ninda malah penasaran dengan sikap Azkia yang menanggapi ini dengan serius.

            “Kan gak ada yang bilang kalau gue bercanda kali kak.” Gea protes.

            “Iya kak, aku serius. Aku yakin ini alasannya kenapa kecepatan makanku menurun.” Mereka bertiga menajamkan pendengarannya.

            “Penyebabnya, karena saat aku makan, makanan yang menghampiri mulut bukan mulut yang menghampiri makanan.” Tiga orang tadi manggut-manggut sambil mencerna jawaban Azkia. Suasana kedai mulai agak sepi, rombongan di ruang sebelah tadi sudah pulang.

            “Maksudnya, kamu makan lebih anggun dari biasanya gitu ya?” kesimpulan sederhana Nesya.

            “Wah, itu maksudnya gimana lagi tuh?” Gea semakin penasaran. Sejak tadi dia tidak melepaskan matanya dari Azkia. Untung mereka sahabat, jika bukan pasti Azkia risih dilihat terus.

            “Jadi, saat makan itu akan berbeda jika caranya makanan yang menghampiri mulut. Kita akan makan dengan lebih rapi, tenang, dan rasanya nikmat, tidak terburu-buru. Ingat, terburu-buru itu seperti setan. Dan lagi betul kata kak Nesya, untuk perempuan jadi terlihat lebih anggun, lebih sopan saat makan. Ya, walaupun jadi lebih lama makannya. Tapi mungkin karena aku belum terbiasa aja sih jadi lama. Sebenarnya saat makan seperti ini, kita kan duduknya tenang, jadi makanan juga akan jatuh ke dinding usus pelan-pelan dan lembut, jadi lebih sehat.” Azkia sudah seperti pemateri yang sedang mengisi keputrian.

            “Ooh…” mereka kompak seperti paduan suara.

            “Wah, boleh juga nanti dipraktekkan. Btw sejak kapan kamu makan begitu?” Ninda ingin mengetahui lebih lanjut.

            “Tiga hari yang lalu, saat aku makan mie di pinggir jalan, seseorang menegurku.” Azkia tidak mengatakan cerita yang seutuhnya bahwa dia tidak tahu siapa orang yang menegurnya. Teguran itu dia terima hanya dengan secarik kertas yang diserahkan ibu pedagang nasi goreng.

            Cukup puas dengan terjawabnya rasa penasaran mereka, waktu juga berjalan seiring dengan santapan yang telah habis, kecuali mie goreng Azkia yang tinggal sedikit. Tahu kan dia sibuk menjawab pertanyaan tadi. Azkia melanjutkan makannya, sementara yang lain menunggu.

            “Itu tuh, dekat piring kamu ada makanan yang jatuh, makan aja belum lima menit.” Benarkan, mereka memperhatikan makan Azkia, sampai Ninda saja bisa melihat ada makanan yang jatuh. Azkia memungut makanan itu lalu mengikuti saran Ninda. Bukan karena belum lima menit, tapi Azkia tidak mau membiarkan makanan jatuh itu untuk setan. Setelah benar-benar selesai, mereka berjalan pulang membawa perut kenyang. Jarak dari kedai ke tempat kost tidak terlalu jauh.

            Saat di jalan pulang, tiba-tiba Azkia menghentikan langkahnya. Dia menarik tangan Gea, ikut menahan langkah gadis itu. Gea berbalik menaikan alisnya.

            “Tadi kamu lihat gak, waktu aku ambil makanan yang jatuh, pake tangan apa?” Terus waktu makan kerupuk pake tangan apa?”

            “Mana gue inget, kok nanya ke gue?”

            “Katanya life observer.” Azkia tersenyum meremehkan. Gea mengangkat bahunya tidak peduli.

            “Yaa, kan ada jam kerjanya juga. Memang kenapa?” Pandai juga dia berkilah.

            “Nih, lihat!”

            Gea menatap Azkia khawatir. Antara ingin tertawa tapi tidak tega. Dia akhirnya mesem-mesem sambil cekikikan di dalam hati saat membaca pesan di ponsel Azkia.

            From: 085821xxxxxx

Makan itu, gunakan tangan kanan! Tangan kirinya jangan lost control kayak tadi.

“Wah, lo dapet pesan-pesan cinta dari siapa?” Gea tertawa menggoda temannya. Pesan cinta? yang benar saja.

“Dari Hongkong.” Jawab Azkia asal.

Tunggu-tunggu, Azkia mulai gusar. Berarti nomor ponselnya sudah diketahui orang misterius itu? Sebuah tanda tanya besar menggantung di benak Azkia. Siapa?

***

 

“Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)

Karya : Siti Wulansari