Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 4 Maret 2018   06:40 WIB
Deadliner Keder

Ctrl+S lalu Close

“Yosh, selesai.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar…

            Suara adzan dari mesjid sebelah dan sebelahnya lagi berkumandang. Nyaris, terlambat sedikit saja aku akan menjadi Sangkuriang atau Bandung Bondowoso. Tidak, tidak! Jangan Sangkuriang. Memangnya aku ikhlas menendang laptop berisi harta karun skripsi BAB I sampai BAB IV? Sebaiknya, aku bersikap seperti Bandung Bondowoso saja yang tidak merusak apa-apa. Tapi, siapa yang harus kukutuk menjadi skripsi? Oh tidak. Aku jadi geli sendiri. Sebetulnya yang harus kulakukan adalah segera berwudhu dan shalat. Aku kan berhasil menyelesaikan revisi ini tepat sebelum subuh. Terima kasih Ya Allah.

            Seperti inilah caraku menguji adrenalin. Mengerjakan sesuatu mendekati deadline. Penasaran rasanya seperti apa? Ah, kukira di kampus ini banyak deadliner sepertiku. Yang pasti, kau akan merasa sangat keren kala tugas itu selesai dengan ajaib, dalam tempo sesingkat-singkatnya seperti teks Proklamasi, hebat bukan? Ah, tolong maklumi pikiranku yang semrawut dengan kabel, jadi seringkali korslet.

“Ama, ini semuanya jadi 10 ribu.” a Adul menyerahkan printout draf skripsi hasil renunganku seharian kemarin sampai tadi subuh. Dia adalah pemilik tempat fotokopi langgananku. Pernah menonton film Shrek? A Adul itu juga gemuk sseperti Shrek. Di dahinya ada garis-garis, mungkin dia sering mengerutkan dahinya. Aku juga sering membuat dahinya berkerut sih dengan tingkahku.

“Diskon a! First customer of the day,” siapa tahu hari ini tempat fotokopi a Adul sedang promosi.

“Siap, jadi sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan ya neng.”

“Oke terima kasih, nih nyimpen aja disini satu rupiahnya ya.”

            Aku menyerahkan uang sepuluh ribu sambil terkikik. Bahagia sekali pagi ini melihat bakal calon skripsiku sudah tercetak. Entahlah bahagia ini bertahan atau tidak setelah selesai bimbingan nanti. Lima menit lagi pukul tujuh, aku harus tepat waktu. Kalau tidak, pasti aku harus menunggu minggu depan untuk bisa bimbingan. Aku tidak tega, membuat aksi kejar deadline tadi jadi melompong sia-sia, tidak keren.

 

“Terima kasih pak, atas bimbingannya.” Aku tersenyum semanis mungkin di depan dosen pembimbing. Lesung pipit di bawah mata kananku pasti sudah terbentuk. Jangan coba Tanya mataku seperti apa. Deadliner itu kebanyakan bermata panda, tidak mengherankan tentu saja.

Empat puluh menit, huh waktu yang lumayan. Pak dosen pembimbing mengangguk. Di usianya yang hampir senja, beliau masih kritis mencorat-coret draf ini.

“Saya tunggu revisinya hari ini juga, maksimal pukul 9.”

“Hari ini pak?” kalian boleh katakan bahwa saat ini aku sedang shock.

“Ya, saya akan pergi umrah minggu depan. Kalau ingin acc, revisi hari ini. Kalau tidak juga tidak apa-apa.” Tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan. Acc? Aku sudah menunggu kata ajaib ini selama dua bulan terakhir.

“Baik pak, saya akan revisi sekarang. Permisi pak, Assalamu’alaikum.”

Kepalaku masih memutar-mutar ulang suara tadi seperti kaset. Revisi hari ini, maksimal pukul 9. Eh? Langsung hari ini juga? Mimpi apa aku semalam? Tapi, untuk deadliner sepertiku tentu bukan hal asing. Kalau soal dikejar deadline, kurasa sih aku sudah biasa, aku pasti bisa.

Aku masih duduk membereskan draf di depan kantor program studi Pendidikan Akuntansi, saat dosen pembimbing menghampiriku dengan membawa sebuah laptop. Aku sedikit bingung, tapi aku bersiap saja memperhatikan apa yang akan dilakukan dosenku dengan harap-harap cemas.

“Ama, tolong antarkan laptop ini pada Pak Arman di gedung Pascasarjana lantai 3. Pak Arman akan menunggu di kafeteria.” Aku bernafas lega, syukurlah tidak ada hubungannya dengan skripsiku. Aku sempat mengira akan ada revisi tambahan.

Aku mengangguk memberikan jawaban bersedia dan menerima laptop tersebut. Ini tidak akan lama. Setelah mengantar laptop, aku akan mengerjakan revisi. Suasana di dalam fakultas belum terlalu ramai. Petugas kebersihan sedang sibuk membersihkan lantai di beberapa bagian gedung. Aku berlarian kecil di tangga yang untungnya sudah kering dari bekas pel. Aku bisa lari lebih kencang seandainya tidak sedang membawa dua laptop sekaligus.

Di lantai satu, langkahku melambat karena cukup banyak orang yang berlalu-lalang. Apalagi di dekat ruang akademik itu, ramainya sudah seperti keramaian di depan kantin. Matahari sedang bersinar hangat. Kehangatannya bercampur dengan gejolak dalam diriku yang sedang panas karena tantangan ini. Baru saja aku lolos dari keramaian di depan ruang akademik, sebuah suara menghentikan langkahku.

“Neng jurusan apa?” oh ternyata bu Nia, salah satu staf di bagian Akademik Fakultas.

“Jurusan Pendidikan Akuntansi bu.” Tanganku mulai pegal menenteng laptop. Lagipula kenapa laptop ini tidak diberikan dengan tas nya. Aku jadi harus ekstra berhati-hati.

“Oh iya, sini isi dulu kuesioner. Belum ada yang mengisi dari jurusan Pendidikan Akuntansi.” Bu Nia menarik tanganku ke dalam ruang akademik. Oh, aku bisa apa? Perasaanku mulai tidak enak.

Sebuah kuesioner dengan lima puluh item pertanyaan. Aku menelan ludah melihatnya. Tidak ada pilihan lain, aku harus menyelesaikannya dengan cepat. Jujur saja, aku sedikit asal mengisinya. Setelah selesai, aku mengembalikan kertas kuesioner kepada bu Nia. Ternyata urusanku tidak sampai disitu. Bu Nia meminta agar aku memanggilkan perwakilan teman-teman sejurusan. Aku merasa tidak sopan jika menolak.

Aku berlari dengan hati-hati menuju gedung yang ada di seberang, lalu naik ke lantai tiga. Di sana sudah ada beberapa orang. Meskipun sudah tidak ada perkuliahan, tapi hari ini kita memang ada kumpulan kelas. Aku langsung meyuruh mereka ke ruang akademik tanpa basa-basi. Jam 07.55, aku menghela nafas dan langsung meninggalkan kelas. Teriakan panik masih dapat kudengar, meski aku melangkah dengan cepat menuju lantai satu.

“Ama, laporan PPL terakhir dikumpulkan hari ini,” teriak Lala. Degg, bertambah satu lagi tugasku dan aku belum berniat memikirkannya. Seingatku aku tinggal membuat bab penutup, semoga akan cukup waktu untuk mencetaknya. Di koridor lantai satu, tiba-tiba lima orang mahasiswa baru memakai pita ungu menghalau jalanku. Sungguh, aku bukan artis yang senang dimintai tanda tangan, ini menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi, aku tidak ingin terlihat jutek dimata adik-adik tingkat. Aku meraih bukunya cepat dan memberikan tanda tangan, tanpa mereka sempat memperkenalkan diri.

Aku mulai merapalkan do’a, semoga tidak ada lagi halangan dijalan. Aku berjalan sebentar karena sudah capek berlari. Tersisa tiga gedung yang harus kulewati, yaitu FPIPS, FPSD, dan Poliklinik untuk sampai di gedung Pascasarjana. Merasa sudah lebih baik, aku kembali berlari kecil.

Brukk

“Aww.” Seseorang yang tidak sengaja ku tabrak memegang lengannya. Tanpa disadarinya, tumpukan kertas yang dia pegang berjatuhan di jalan. Melihat lembar paling atas yang terbuka, aku mengenali bahwa kumpulan kertas itu adalah draf skripsi. Pasti dia mahasiswa akhir sepertiku.

“Yah, berantakan.” Ucapnya parau. Aku ingin pergi, tapi tidak mungkin. Menghela nafas panjang lagi, aku membantu memunguti kertas-kertas itu dan menyusunnya sesuai halaman.

“Maafkan aku.” Aku menyerahkan draf itu lalu segera pamit pergi.

Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 08.10. Aku melanjutkan langkah. Keringat mulai bercucuran, tanpa bisa kuseka karena tanganku sibuk memangku laptop. Akhirnya, aku sudah sampai di depan Poliklinik. Ya, tinggal sebentar lagi. Aku tersenyum kecil, menyadari sejak tadi aku tidak tersenyum. Namun, senyum itu luntur seketika saat seorang wanita paruh baya menghampiri dan memintaku untuk mengantarnya ke gedung BPU tempat kenalannya melangsungkan pernikahan putranya.

Aku tidak melihat orang lain yang bisa dimintai tolong. Tidak ada juga yang kukenal. Tapi ini sedikit lagi, aku khawatir Pak Arman sudah lama menunggu. Aku menatap wanita di depanku dengan lemas.

“Maaf, tapi aku sedang terburu-buru, bisakah kutunjukkan saja arahnya? Aku yakin ini mudah.” Wanita di depanku menggeleng, dia memegang kakinya yang kesakitan.

“Ma-af, aku butuh seseorang untuk menuntunku. Kakiku sedang sakit.” Aku menatapnya iba. Baiklah, aku tidak tega membiarkannya kesusahan. Aku memegang laptop dengan tangan kiri, dan memapah wanita paruh baya itu dengan tangan kanan. Wanita ini mengingatkanku pada nenek. Aku akan merasa sangat bersalah jika nenek ditelantarkan.

“Terimakasih sudah mengantarku, lihat wajahmu berkeringat. Tapi kau tetap cantik.” Mendadak aku tersipu dengan pujiannya. Aku segera pamit, mengingat kembali tujuan awalku. Cukup lama waktu yang kuhabiskan untuk mengantarnya ke gedung BPU. Pukul 08.30, aku menelan ludah. Jantungku mulai berdetak kencang, kaki dan tanganku gemetar.

“Ada apa denganku? Kenapa pembawaanku jadi tidak tenang. Tidak seperti biasanya.” Aku seperti kehilangan sifat seorang deadliner. Sekarang aku ingin menangis. Huaaa, sejak kapan aku menangis saat sedang mengejar deadline? Ini tidak keren.

Aku mengatur nafas saat sudah berdiri di depan gedung Pascasarjana, “Alhamdulillah.” Aku celingukan mencari lift. Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam gedung Pascasarjana. Aku bergerak ke sebelah kanan, dan melihat pintu lift, syukurlah. Aku segera menuju lantai tiga.

Di lantai tiga, aku baru menyadari ternyata aku buta arah. Dimana kafetaria? Aku hanya melihat ruangan kelas disini. Koridor tampak sepi, orang-orang sedang berada di dalam kelas. Aku terus berjalan menyusuri koridor mencari kafetaria. Pukul 08.45, keringat sebesar biji jagung bercucuran di wajahku, bagaimana aku mengerjakan revisi dalam lima belas menit? Belum saatnya kah aku mendapatkan acc?

Aku kembali lagi ke depan pintu lift. Seketika aku merasa bodoh, pantas saja tidak ada kafeteria disini. Ternyata ini lantai 2. Tidak ada waktu merutuki kebodohanku, aku ingin menyelesaikan dulu urusan laptop ini. Urusan revisi? Entahlah aku sedih mengingatnya. Saat pintu lift terbuka di lantai 3, langsung terlihat sebuah kafeteria, syukurlah. Di dalam sana, aku mencari-cari sosok Pak Arman.

Itu dia, Pak Arman sedang duduk di meja 4 dengan dua orang rekannya. Pakaiannya kemeja dengan jas rapi, mungkinkah Pak Arman akan sidang disertasi? Aku jadi merasa takut terlalu lama mengantarkan laptop ini. Aku berjalan menuju meja 4. Saat mulutku hendak memanggil nama pak Arman, tiba-tiba kaki kananku tersandung kaki meja. Mulutku menganga sangat lebar. Tidak! Laptopnya? Laptop yang sudah kujaga. Bagaimana? Pak Arman? Aaaaaa…

Dukk

Aku merasakan jidatku membentur sesuatu dengan keras. Lalu aku mendengar suara seseorang.

“Heh, pagi-pagi udah ketiduran.” Itu suara a Adul.

Aku membuka mata dan mengerjap-ngerjap, menepuk pipi dua kali, sakit. A Adul mengernyitkan dahinya, menatapku aneh. Tapi itu sudah biasa.

“Ini printout-nya udah selesai. Habis mimpi apa? Sampai ngos-ngosan begitu.”

Aku mencerna kalimat a Adul perlahan. Jadi gangguan bertubi-tubi yang kualami tadi, dengan urusan laptop dan revisi, ditambah laporan PPL yang katanya akan dikumpulkan, semua itu? Hah, aku bernafas lega. Tapi memang mimpi tadi sangat melelahkan. Sedetik kemudian aku meringis, kekacauan-kekacauan nyata dan membatin itu, hmm aku akan pikir-pikir lagi untuk tetap menjadi deadliner atau tidak. Sepertinya waktu bukan lawan yang mudah. Sementara keajaiban tidak menjamin akan selalu hadir.

***

Karya : Siti Wulansari