Romansa Neraca

Romansa Neraca

Siti Wulansari
Karya Siti Wulansari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Maret 2018
Romansa Neraca

Sebuah kursi goyang tua berdecit ringkih, usianya tak jauh beda dengan wanita yang sedang duduk menghadap jendela. Sinar matahari menempa sebagian wajahnya. Namun ia tetap betah berdiam disana, hangat katanya.

“Nenek... nek aku ada PR dari sekolah, coba lihat deh, kata kakek kalau soal ini nenek jagonya.” Seorang gadis remaja beralis tebal menghampiri dengan buku besar di genggamannya. Nenek dengan bola mata sewarna madu itu tersenyum, memperhatikan buku tersebut.

“Sayangku, nenek sudah lupa materinya.” Nenek mengatakan hal tersebut sambil memandang hangat cucunya. Kemudian menatap kembali isi buku dan tersenyum sendiri, menimbulkan rasa penasaran.

“Nek, kok nenek senyum-senyum sendiri? Ayo ajari aku membuat laporan keuangan, kumohon.” Nenek yang sadar atas interupsi tersebut sedikit kaget dan salah tingkah.

“Emm, tidak ada apa-apa ko.” Jawab nenek singkat. “Di bagian mana yang tidak kau mengerti sayang?”

“Semuanya nek, aku benci semua jenis laporan ini, merepotkan.”

“Hei, kau tidak boleh mencaci ilmu!”

“Lalu, kalau nenek bagaimana?”

“Hmm?”

“Laporan apa yang nenek suka? Apakah semuanya?”

Nenek sangat membosankan bila menyukai semuanya. Nenek terlalu serius. Itulah pikiran yang diyakini Keisha. Orang-orang akuntansi itu orang serius. Pokoknya dia merasa tidak cocok.

“Hmm, laporan yang nenek suka …”

Mendapat pertanyaan seperti itu, dalam ingatannya sendiri sang nenek mulai membuka kembali sebuah cerita dari lembaran masa lalunya.

***

            Beberapa hal yang terlihat tidak berhubungan terkadang mempunyai titik temunya sendiri yang tersirat. Seperti, apa hubungannya laporan-laporan keuangan dengan tips memilih calon suami? Suasana kelas riuh oleh sebuah pertanyaan dari seorang dosen berambut cepak yang sedang mengajar akuntansi keuangan.

“Saya bertanya khusus kepada para wanita. Dalam memilih seorang pria, prioritas mana yang akan anda lihat dari pria tersebut, apakah neraca, laba rugi, atau arus kas?”

Hah?

Duh?

Apa?

Untuk waktu sesaat, mereka berpikir masing-masing. Beragam ekspresi pun mulai bermunculan. Ada yang menahan tawanya, ada yang mengernyit heran, ada yang tampak serius menimbang, ada pula yang berdiskusi. Parahnya lagi, ada beberapa laki-laki yang ikut-ikutan berpikir. Diluar ekspresi-ekspresi tersebut, seseorang tampak sedang memikirkan sesuatu dengan tangan mengusap kepalanya berkali-kali. Bola mata sewarna madunya tersembunyi dibalik kelopak untuk beberapa detik. Rupanya gadis ini masih mencerna apa sebenarnya inti dari pertanyaan dosen itu. “Apa hubungannya laporan keuangan dan calon suami?” keluhnya.

Orang-orang sebagian besar memilih laporan arus kas. Beberapa orang mengatakan idealnya laporan laba rugi. “Apa hanya aku yang memilih neraca?” Gadis bermata madu memilih jawabannya sendiri. Dosen kemudian memberikan jawabannya, tentu saja yang paling penting adalah laba rugi, karena itu dapat menggambarkan kemampuan usaha pria tersebut. Meskipun sudah menerima penjelasan demikian, hati gadis itu tetap condong pada pilihan neraca.

Dua tahun kemudian, gadis itu dihampiri kehidupan yang tidak sederhana lagi.  Keringat dan asap dapur masih menempel di baju. Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Seingatnya, ini masih terlalu awal untuk seseorang pulang. Dia berjalan ke arah pintu. Seorang lelaki membuka pintu rumah dan menjatuhkan tasnya. Bukan hanya tas, tubuhnya pun terduduk di kursi. Lelaki itu biasa terlihat berkarisma dengan tingginya yang cukup untuk ukuran pria, kulitnya yang tidak terlalu putih namun senyumnya manis dan tegas dalam waktu yang bersamaan. Hari ini tidak tampak kesan tersebut dari dirinya.

Istrinya menyambut dengan banyak pertanyaan yang ditahan. Dia bergegas ke dapur, membuat secangkir teh hangat. Setelah lelaki itu meminum tehnya, dia masih tidak bertanya, dia hanya memeluk untuk menenangkannya. Raut wajah suaminya tidak dapat menyembunyikan ketidakberesan yang mungkin sedang dihadapi.

Keesokan paginya, baru lah dia bercerita.

Designku belum terpilih.” Di luar tidak sedang hujan, tapi wanita ini baru saja merasa seperti tersambar petir. Tangannya menggenggam tangan lain di atas meja. “Ini untukmu.” Puisi dan secangkir kopi, semoga bisa sedikit menghiburnya.

“Aku akan berusaha lagi.” Senyum manis terukir di wajahnya.

            Hari-hari dilalui dengan semangat memberikan yang terbaik. Dalam seminggu terakhir, dia sangat berkonsentrasi pada satu design. Kali ini semoga keberuntungan membersamai usahanya. Setelah membereskan peralatan, dia menatap sekali lagi cetak biru buatannya sebelum menyimpannya untuk dibawa ke kantor besok. Tubuhnya mematung di depan pintu kamar melihat seseorang tengah berkonsentrasi penuh dengan catatan-catatan kecil dan kalkulator. Butir keringat tampak menghiasi dahi lebarnya. Jari-jarinya mengetuk tombol kalkulator. Berkali-kali, seperti memastikan hasil hitungannya, dan wajahnya tetap sama, menyimpan raut kecewa.

            “Tidak apa-apa, jika kita tidak bisa menabung bulan ini. Jangan dijadikan beban.” Wajahnya tersenyum menenangkan.

            Wanita di depannya mengangguk, “Dan jangan protes, aku akan lebih sering menghidangkan sayuran.”

            “Kapan aku pernah pilih-pilih dalam makanan, hmm?” Pertanyaan retoris itu dijawab dengan acungan jempol.

            Angin bahagia menguar, berhembus dari kantor sampai ke dalam rumahnya. Buah ikhtiar dan do’anya terpetik hari ini. Hasil rancangannya diterima. Beberapa hari kedepan, dia akan memimpin proyek pembangunan taman di sebuah panti jompo. Tentu hal ini mengobati kecewanya yang lalu dan akan memperbaiki pundi-pundi kantongnya.

            Dimana dia? Sosok yang dicarinya belum terlihat. Di dapur tidak ada. Di kamar tidak ada. Kamar mandi, ruang keluarga dan ruang tamu kosong. Satu tempat lagi belum diperiksa. Dia melangkah untuk memeriksa tempat itu. Bunga-bunga daisy tampak lebih segar setelah diberi minum oleh pemiliknya. Meski tampak tidak seceria sore-sore biasanya. Gerakan tangannya lemas, senyum juga hilang dari wajah manisnya. Dari tempat lelaki itu berdiri sekarang, dia hanya melihat punggung wanita itu.

            “Hei, aku pulang membawa kabar bahagia,” serunya. Pemandangan punggung itu berganti dengan pemandangan wajah datar yang sedetik kemudian tersenyum tipis. Membuat lelaki ini mengernyit heran.

            “Alhamdulillah, kabar apa?”

            Menyadari ada sedikit keganjalan, laki-laki itu balik bertanya, “Ada apa dengan wajah mengenaskan itu?” candanya. Bahkan candaannya tidak direspon, tidak seperti biasanya.

            “Tidak apa-apa. Jadi apa kabar bahagianya? Jangan membuat penasaran.” Ah sifat tidak sabarannya tetap ada.

            “Alhamdulillah rancanganku diterima.”

            “Hebat! Selamat untukmu.”

            “Terima kasih sayang. Cepat masuk jika sudah selesai, ada yang harus kita bicarakan bukan?” Matanya, mata orang yang menyeringai. Wanita itu menghela nafasnya, menyadari dirinya secara tidak langsung sedang didesak untuk bercerita, cepat atau lambat. Memang tidak ada yang bisa disembunyikan dari sosok itu.

            “Aku akan ceritakan sekarang saja. Aku sedih karena antologi puisi yang sudah kukirim ditolak oleh penerbit. Tapi aku sekarang baik-baik saja setelah mendengar kabar bahagiamu. Ayo kita makan. Aku akan buatkan makanan enak sebagai hadiah.” Jika sudah bisa berbicara panjang lebar seperti ini, maka keadaannya benar sudah membaik.

             “Baguslah, kau semakin pintar.” Laki-laki itu merangkulnya dan mereka memasuki rumah bersama.

            Setelah menikmati makan malam yang lebih nikmat dari biasanya, kini keduanya tengah disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Laki-laki itu berkutat dengan kertas, pensil, penggaris, dan kawan-kawannya. Sementara sang wanita mengeluarkan nada-nada tombol dari ketukan jarinya diatas keyboard.

            “Menulis puisi lagi?” pertanyaan pembuka yang memecah keheningan diantara mereka. Dia tahu, penolakan itu tidak akan membuat istrinya berhenti menulis.

            “Ya, satu bait lagi saja.”

            “Jangan terlalu lama, segera tidur. Aku akan membuat satu gambar dulu.”

            “Dua gambar saja.”

            “Kenapa dua?”

            “Kau selalu menggambar dengan cepat. Kita tidak akan selesai bersama jika kau hanya membuat satu gambar. Jadi buat dua gambar ya. Satu gambarnya, hmm gambar wajahku saja.”

Laki-laki itu menaikkan dua alisnya.

            “Hari ini aku tidak akan menerima penolakan dua kali kan?”

            “Baiklah, aku akan membuat dua gambar. Pastikan puisinya selesai saat gambar keduaku sudah jadi.” Acungan jempol mengiyakan perintah tersebut.

            Satu jam kemudian, mereka telah selesai. Seseorang yang pada dasarnya tidak sabaran sudah tidak sabar melihat sketsa wajahnya diatas kertas. Dia membulatkan matanya seketika, tidak lupa mulutnya juga terbuka. Sedetik kemudian, dia memasang wajah cemberut.

            “Kok gambar rumah?” kesalnya tidak terima.

            “Aku arsitek, bukan pelukis.” Jawaban polos yang menyebalkan.

            “Setidaknya buat bentuk seperti manusia, meskipun jelek.”

            “Sini lihat!” Dia duduk disamping istrinya. Tangannya membentangkan kertas berisi gambar yang katanya menggambarkan istrinya, padahal hanya gambar sebuah rumah. Lalu jarinya mengarah pada beberapa bagian gambar.

            “Kau itu, akan menjadi rumah untukku. Pintu ini adalah lengkung bibirmu saat tersenyum melepasku pergi dan menyambutku kembali. Jendela ini adalah matamu, tempat aku bisa melihat dunia dengan cara yang indah. Lantai ini, selalu mendukungku saat jatuh. Atap menggambarkan keluhuran akhlaqmu yang akan melindungi kehormatan keluarga ini. Dan dinding-dinding ini, dia tanganmu yang memeluk anak-anak kita dengan penuh kehangatan.” Darahnya berdesir hebat, dan kini berkumpul di wajahnya yang terlihat semerah tomat.

            “Mana puisi untukku?” laki-laki itu mengalihkan pembicaraan, tidak tega melihat wajah semerah tomat itu lebih lama, meskipun terlihat sangat lucu.

            “Eh, aku tidak sedang ingin memberimu puisi.”

            “Bukankah tadi kau menulis puisi?”

            “Ya, tapi aku sedang ingin menunjukkan ini, sini lihat!”

            Diamatinya dokumen dalam laptop yang sedang terbuka. Terdapat angka-angka dan selebihnya entahlah dia tidak mengerti. Tertulis kata kas, piutang, perlengkapan, utang, modal dan masih banyak lagi. Mungkin ini ada hubungannya dengan akuntansi, dia menyimpulkan seperti itu.

            “Ini namanya neraca, salah satu laporan keuangan perusahaan. Di akuntansi, aku membuat beberapa jenis laporan, dan aku paling menyukai laporan ini. Kau lihat, ada dua sisi disini? Itu mewakili kita dan perbedaan yang kita miliki. Dan perhatikan, komponen kedua sisi ini berbeda, tapi mereka berdua seimbang. Ya, neraca itu harus seimbang.” Meski sudah mendengarkan dengan serius, rupanya laki-laki itu tidak mudah paham juga. Baginya itu terlihat seperti dua buah kolom saja. Seperti bentuk dua buah jendela kalau di gambarnya..

            “Dosen pernah bertanya tentang laporan mana yang sebaiknya paling kita lihat saat mempertimbangkan calon suami.” Mendengar kata ‘suami’ laki-laki itu mulai menyimak serius.

“Menurutku diantara laporan arus kas, laporan laba rugi, dan neraca, jika kita akan memilih suami maka aku ingin neraca yang seimbang. Memperhitungkan untung atau rugimu, kukira bukan hal utama yang harus kulakukan. Entah mengapa kata ‘seimbang’ dan ‘menyeimbangkan’ terdengar puitis dan lebih kupercaya. Aku tak ragu memilih neraca. Bagaimanapun keadaannya kita perlu seimbang.” Penjelasan yang ini cukup membuat laki-laki itu mengangguk-angguk.

            “Aku tidak paham akuntansi seperti kau memahaminya, tetapi kata ‘seimbang’ itu aku suka mendengarnya. Karena ikatan kita antara dua pihak yang akan saling membersamai. Aku akan selalu menyeimbangkan neraca kita, okey?” Balasnya untuk perkuliahan singkat akuntansi yang baru saja diterimanya setelah enam bulan lamanya hidup bersama. Senyum cerah diseberang matanya menjelaskan sepertinya dia berhasil mengeluarkan kata-kata yang ingin didengar oleh pasangannya.

            “Kita akan jalani waktu yang panjang bersama.” Ucap mereka dalam hati masing-masing.

***

  • view 70