Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 3 Maret 2018   16:41 WIB
Omedetou

            Dua pasang kaki melangkah beriringan. Nada dan Nida sudah bersahabat sejak Taman Kanak-Kanak. Mendengar kata amplop dan perangko, seperti melihat Nada dan Nida. Tepatnya enam bulan yang lalu, untuk pertama kalinya mereka terpisah. Nada suka drama, Nida suka kartun. Nada suka gunung, Nida suka taman bermain. Nada suka navy, Nida suka orange. Nada pintar berlogika, Nida berbagi rasa melalui sastra. Hingga enam bulan lalu, “Aku ambil Fisika.” Suara lain menyahut, “Aku ambil Sastra Indonesia.” Nada memilih Yogyakarta, Nida memilih Jakarta.

            “Jadi ini kampusmu. Suasananya cukup membuat nyaman.” Nida mengemut lagi lollipopnya setelah berbicara. Seringkali Nada berpikir menurutnya perusahaan lollipop harus berterima kasih kepada pelanggan seloyal Nida.

            “Ya, terima kasih sudah berkunjung ke kampusku,” seru Nada. Nida mengangguk dan tersenyum mengembang, pipi kanannya yang sudah gembul dua kali lipat lebih chubby karena posisi lollipop.

            “Kapan-kapan gantian kau yang main ke kampusku ya.”

            “Akan kuusahakan.”

            Taman di sekitar Fakultas MIPA sedang berseri. Banyak bunga beragam warna tengah mekar. Mereka duduk di bangku taman. Nida menatap tali yang mengalung di leher sahabatnya. Tidak pernah berubah. Dia mengalungkan flashdisk di lehernya setiap hari sejak kelas 3 SMP. Penting sekali memangnya? Postur tubuhnya tidak banyak berubah, tetap ideal, tidak kurus dan tidak gemuk. Pembawaannya semakin kalem. Nida jadi terlihat lebih dominan dengan sifat periangnya.

            “Eh, omong-omong apakah sudah ada orang yang kau suka di kampus ini?”

Nada menyipitkan matanya. Gadis itu mengubah posisi duduknya menjadi bertumpang kaki. Tangan kanannya menopang dagu. “Entahlah, kurasa aku…” kalimatnya menggantung tepat pada detik saat matanya menangkap sosok laki-laki bertubuh tinggi sedang mengaji di bawah pohon. Katanya, pandangan yang pertama itu halal, jadi dia akan menikmati anugerah ini dengan tidak terburu-buru. Rencananya gagal sebab Nida menyenggol bahunya, membuat dia mengalihkan pandangan dari sosok tadi. Ahh, hatinya mengeluh kecewa. Kalau sudah lepas, tidak boleh curi-curi pandang lagi kan. Ahh, Nida tidak tahu situasi.

“Aku apa?” Pasti sudah ada, iya kan?” Nida mendesak-desak jawaban, sambil tangannya membuka bungkus lollipop baru. Nada perlahan mengangguk jujur.

“Kau lihat yang sedang mengaji di bawah pohon itu?” Tunjuknya ke arah pohon yang berada lima meter di seberang kiri tempat mereka duduk. “Dia itu menarik,” sambungnya. Nida memfokuskan matanya untuk melihat laki-laki dibawah pohon itu. Nihil, dia hanya bisa melihat sosoknya dari bagian samping. Wajahnya tidak terlihat jelas. Laki-laki yang mereka perhatikan, menutup Al-Qur’an dan memasukannya ke dalam tas. Dia kemudian bangkit dan berjalan menuju gedung mahasiswa.

“Itu gedung apa? Ayo kita ikuti, aku ingin lihat wajahnya.” Nida ikut bangkit dari duduknya.

“Kita harus jaga pandangan tahu.” Nada mengingatkan.

“Aku kan belum melihat, jadi aku masih punya satu kali jatah.”

“Ya sudah, ayo!”

Mereka mengikuti laki-laki tadi sampai masuk ke dalam gedung yang berisi banyak sekretariat dari organisasi-organisasi kampus. Lelaki itu hanya membiarkan punggungnya untuk dilihat dua gadis yang menguntitnya diam-diam. Itu cukup membuat Nida geram.            

“Hei, jatahmu sudah habis. Jangan coba-coba ikutan melihatnya nanti!”

“Ck, iya maaf.” Nada mengalihkan pandangannya. “Eh, sebentar… ijinkan sebentar saja.” Tangannya menggenggam lengan Nida. Dia terpaku, melihat sekretariat yang baru saja dimasuki lelaki itu. Matanya membulat tidak percaya. Nida balik menepuk-nepuk tangan Nada, berusaha menyadarkan temannya yang sudah menarik perhatian orang yang melintas karena ekspresi bodohnya.

“Nid, sekretariat itu. I-itu… aku juga daftar menjadi anggota organisasi itu seminggu yang lalu. Itu artinya, aku dan dia satu organisasi. Sulit kupercaya.” Kepalanya menggeleng-geleng takzim, tapi jelas senyumnya sangat lebar, dan matanya berkilat bahagia.

“Ya, sulit dipercaya. Tapi, bahkan setelah kita menyusulnya kesini, aku belum lihat seperti apa wajahnya.”

“Lain kali, kalau aku sudah kenal, aku akan mengenalkannya padamu ya.” Nida mengangguk. Tanpa berlama-lama lagi, Nada membawa sahabatnya keluar gedung.

            Warna-warni kehidupan kampus selama tujuh semester sejak hari itu telah menempati ruang khusus dalam hatinya. Tidak ada kata yang dapat mendeskripsikan, semuanya jelas hanya terasa dalam hatinya. Lebih tepatnya, tidak dapat juga disampaikan. Seperti mendapat oasis di tengah gurun pasir, Nada merasa sangat beruntung disaat studi S1 nya selesai, dia mendapat kesempatan melanjutkan jenjang S2 dengan beasiswa. Tidak tanggung-tanggung, Jepang adalah tempat yang akan ditujunya.

            Di hari keberangkatannya, rekan-rekannya di organisasi turut mengantar Nada sampai bandara. Termasuk Hafy, kakak tingkat yang sempat dia kuntit dulu dengan Nida. Ada lima orang rekan satu organisasi yang mengantarnya. Mereka kompak memberikan benda kenangan pada Nada. Semua yang mereka beri sangat berharga untuk Nada. Terlebih, benda yang ia terima dari Hafy. Sebuah gantungan kunci terbuat dari kayu ukuran 8x5 cm yang bertuliskan ‘Omedetou’-artinya selamat- dalam aksara hiragana. Benda itu dibalut sarung berwarna orange. Nada mengenggam erat gantungan kunci itu. Tangannya merambatkan getaran yang ada pada hatinya ke permukaan gantungan kuncinya.

***

            Empat tahun berlalu.

            Ini yang membuatnya enggan kembali. Pindahan itu sungguh merepotkan. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang aktivitasnya akan berpindah ke Jakarta. Syukurlah, dia bisa dekat dengan Nida jika begitu. Rindu pada sahabatnya sangat besar, namun tidak bisa mengalahkan kewajibannya untuk membereskan tempat kost barunya terlebih dahulu.

            “Aku akan menghubungi Nida, secepatnya setelah aku menyelesaikan ini.”

            Setelah selesai membersihkan kamar dan menata barangnya sampai rapi, Nada berjalan keluar. Kakinya menuju rumah yang berada tepat di samping tempat kostnya. Itu adalah rumah pemilik kost. Nida akan menyelesaikan dulu urusan pembayaran.

            Tangannya mengetuk-ngetuk pintu. Tidak lama seorang wanita paruh baya memakai daster ungu dengan matanya yang sipit, tersenyum menyambut kedatangan Nada. Sekilas tampak mirip seseorang yang Nada kenal. Wanita itu mempersilahkan Nada masuk. Ibu pemilik kost permisi sebentar untuk mengambilkan minum. Padahal Nada tidak ingin merepotkan, karena dia juga tidak akan lama. Dia ingin segera menemui Nida.

            “Ini teh nya, silahkan diminum. Maaf menunggu lama.” Suaranya terdengar familiar, dan ini jelas bukan suara milik ibu kost. Nada mendongakkan kepala, matanya terantuk melihat wanita chubby dengan lollipop di dalam mulutnya. Tidak berbeda darinya, wanita chubby itu tersentak melihat wanita berpembawaan tenang dengan flashdisk yang mengalung di lehernya. Mereka sama-sama kaget, hingga membisu beberapa saat.

            “Nida, kau?”

            “Ya, ini aku.”

            Selanjutnya mereka berbagi kehangatan dengan pelukan erat, pelukan kerinduan seorang sahabat.

            “Sudah lama sekali sejak kita terakhir bertemu ya?”

            “Ya, terakhir kita bertemu saat aku menemanimu menguntit orang yang menurutmu menarik, benar kan?”

            “Ya, benar. Dan kita baru bertemu lagi sekarang. Aku sangat merindukanmu. Tapi, bagaimana ceritanya kau ada disini?”

            “Oh ya, benar ternyata sudah lama kita tidak bertemu.” Nida memperlihatkan jari tangannya. Di salah satu jarinya telah tersemat cincin pernikahan. “Ini rumah ibu mertuaku. Kebetulan aku sedang berkunjung.”

            “Kau serius?” Nada menutup mulutnya. Hatinya ikut bahagia mendengar sahabatnya telah menikah. “Maaf, aku tidak datang di pernikahanmu.” Nada menatap sahabatnya penuh rasa bersalah.

            “Tidak apa-apa. Maaf juga aku tidak mengantarkan undangannya ke Jepang hehe.” candanya. Karena ibu mertuanya belum juga muncul, Nida jadi keasyikan mengobrol dengan Nada. Banyak hal yang mereka bicarakan.

            “Wah, kedengarannya Jepang sangat indah. Aku jadi ingin kesana juga.”

            “Ya, kau harus kesana.”

            “Omong-omong, bagaimana dengan orang yang waktu itu kita ikuti. Kau sudah mengenalnya? Kau akan mengenalkannya juga padaku, seperti yang kau ucapkan waktu itu tidak?” Nada tersentak, ah benar, dulu dia sempat-sempatnya melakukan hal konyol seperti itu.

Nada memang sudah kenal dengan Hafy. Tapi, mereka hanya rekan satu organisasi. Seiring dengan aktivitasnya di organisasi, Nada mulai belajar untuk menjaga interaksi dengan lawan jenis. Dia menjadi tidak yakin untuk mengenalkan Hafy pada sahabatnya. Lagipula, Nada tidak tahu sama sekali bagaimana kabar Hafy sekarang.

            “Hmm lihat nanti saja, aku sudah lama tidak tahu kabar tentangnya. Oh ya, omong-omong aku belum tahu siapa suamimu.” Nada memberikan tatapan ingin tahu.

            “Ah iya, sayangnya dia sedang dinas keluar kota. Tapi, aku akan tunjukkan fotonya padamu. Kau ingin lihatkan fotoku saat memakai gaun pengantin?” Nida membuka ponselnya dan mencari foto pernikahan yang dilangsungkan satu bulan lalu.

            “Tentu saja aku ingin tahu, apakah gaun pengantin sahabatku ini muat atau tidak hehe.”

            Nida menyodorkan ponselnya, memperlihatkan foto dirinya yang sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna orange lembut dan seorang laki-laki bertubuh tinggi. Laki-laki ini tidak asing bagi Nada. Dia mengenalnya. Kenyataan itu membuat hatinya menangis. Wajahnya tetap ia pertahankan dengan senyum terukir agar tidak mengubah suasana yang sedang dirasakan Nida. Meski perubahan dalam hati Nada sendiri sangat menyesakkan, membuat bahunya gemetar yang ia redam dengan menautkan kedua telapak tangannya erat.

            “Namanya Hafy. Dia satu kampus denganmu loh, Kau mengenalnya tidak?”

            “Wah, iya. Sepertinya aku mengenalnya, tapi sekilas saja.” Jawab Nada sedikit berbohong.

            “Begitu ya. Eh, seingatku kau belum menyebutkan nama laki-laki itu, dia siapa namanya? Setidaknya meskipun aku tidak akan dikenalkan, minimal aku tahu namanya.”

            “Eh? Namanya, hmm… dia namanya Adrian.” Ragu-ragu Nada menjawab pertanyaan itu, dia melanjutkan dalam hati ‘Hafy Adrian’.

            “Baiklah. Kita sudah berbicara banyak dari tadi dan kau sama sekali belum mengeluarkan tanda-tanda untuk memberiku oleh-oleh. Kau tidak setega itu kan?” Nida berharap sesuatu, matanya mengerjap lucu, menggoda Nada.

            “Ini, untukmu.” Nada menyerahkan satu benda dengan sarung berwarna orange. Awalnya dia ragu. Walau itu benda berharga untuknya, tapi dengan status Nida saat ini rasanya benda itu lebih pantas untuk sahabatnya. Tepatnya, bila kondisinya sudah seperti ini, Nada memilih mengembalikan benda itu secara tidak langsung. Nida menerimanya dengan berbinar. Dia lalu membuka dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci kayu dari dalam sarung orange itu. Matanya menatap heran, alisnya mengernyit.

            “Tulisan ini, apa artinya?”

            “Tulisan itu dibaca ‘omedetou’ artinya ‘selamat’. Selamat atas pernikahanmu, Nida.” Nida tersentak, saat tiba-tiba tubuhnya dipeluk sangat erat. Nida dapat mendengar isakan kecil sahabatnya, selain itu bahunya juga bergetar. Perlahan Nida mendekap erat sahabatnya.

            “Kenapa kau menangis?”

            “A-aku menangis bahagia untukmu. Tolong jalani dengan baik rumah tanggamu. Aku merestuimu.” Air mata semakin mengalir deras dari sudut matanya.

            “Terima kasih Nada.”

            Ada keganjilan yang Nida rasakan, namun dia tidak paham keganjilan ini seperti apa. Begitupun dengan Nada, sikapnya seolah mengkhianati hatinya sendiri. Namun semoga begini akan lebih baik bagi semuanya.

Kali ini Nada pernah mencintai Hafy, Nida mencintai dan memiliki Hafy.

***

Karya : Siti Wulansari