#KurinduITD - Kemanakah Perginya Makna Bhinneka Tunggal Ika yang Sebenarnya?

Wulan Ramadhani
Karya Wulan Ramadhani Kategori Renungan
dipublikasikan 09 November 2016
#KurinduITD - Kemanakah Perginya Makna Bhinneka Tunggal Ika yang Sebenarnya?

Miris jika kita melihat situasi dan kondisi yang terjadi saat ini di Negara tercinta kita, Indonesia. Negara yang awalnya disebut sebagai sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dimana seluruh warga negaranya telah berpegang teguh pada moto atau semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Tetapi sepertinya semboyan flamboyan tersebut hanya sekedar semboyan lawas yang pada kenyataannya makna sebenarnya dari semboyan tersebut sudah lama hilang dan ditinggalkan oleh warga Indonesia sendiri. Bagaimana tidak, jika melihat situasi dan kondisi yang sedang terjadi saat ini di Indonesia, maka sudah tampak jelas bahwa kita, warga Negara Indonesia ternyata sudah lupa dan meninggalkan moto Negara kita sendiri dengan lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan bersama. Bukan hanya itu, bahkan demi kepentingan pribadi kita sampai rela mengorbankan kepentingan orang lain yang bisa berdampak buruk terhadap orang banyak. Padahal pada awalnya Negara Indonesia merupakan sebuah Negara yang digambarkan sebagai Negara yang cukup damai dan tentram bila dibandingkan dengan Negara-negara lain di luar disana. Jika kita bandingkan, Indonesia merupakan sebuah Negara yang ditinggali oleh beraneka ragam manusia yang memiliki banyak perbedaan, baik itu dari segi warna kulit, etnis,ras, bahasa, agama, bahkan budaya. Walaupun semuanya merupakan warga Negara Indonesia, tetapi seperti yang kita ketahui bahwa Negara tercinta kita, Indonesia terdiri atas ribuan pulau yang menyebabkan banyak perbedaan muncul dan timbul akibat dari perbedaan tempat tinggal dan situasi dimana mereka tinggal. Tetapi, walaupun begitu, kita tetap mampu untuk bisa menyatukan berbagai perbedaan tersebut menjadi satu dan hidup saling berdampingan satu sama lain tanpa menunjukkan rasa egois dan lebih menunjukkan rasa kebersamaan dengan mementingkan kepentingan bersama dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Setidaknya pada waktu itu. Tetapi, mengapa semakin berjalannya waktu dan semakin berkembangnya teknologi, justru lamban-laun moto Bhinneka Tunggal Ika yang kita miliki semakin lama semakin menghilang keberadaannya di dalam diri kita? Kemanakah perginya makna Bhinneka Tunggal Ika yang sebenarnya?

Timbulnya masalah seperti ini, tidak lain tidak bukan sebenarnya merupakan kesalahan dari warga Negara Indonesia itu sendiri. Mengapa bisa begitu? Bukankan sudah jelas, bahwa masalah yang terjadi di Negara tercinta kita ini merupakan ulah kita sendiri. Jika saja kita tidak terlalu egois dengan mendahulukan kepentingan pribadi kita dibandingkan dengan kepentingan bersama, maka masalah seperti ini tidak akan terjadi. Setidaknya tidak akan membuat Negara kita menjadi terpecah-belah seperti ini. Sebagai contoh, seperti yang kita ketahui bahwa Negara tercinta kita ini, Indonesia terdiri atas banyak perbedaan dimana salah satunya perbedaan dalam hal beragama. Sebagaimana tertulis di dalam Pancasila sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pada awalnya, sila pertama dari Pancasila tidaklah berbunyi seperti itu, melainkkan “Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Tetapi, mengingat bahwa Indonesia terdiri atas beraneka ragam umat yang menganut beraneka ragam agama, maka sila pertama dari Pancasila tersebut diubah. Jelas sudah terlihat, bahwa pada awalnya Indonesia merupakan Negara yang memiliki toleransi yang kuat terhadap sesama, sebagaimana tercermin di dalam Pancasila sila pertama. Tetapi, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, nilai toleransi yang kita miliki terhadap sesama mulai memudar bahkan menghilang. Jika awalnya rasa toleransi yang kita miliki terhadap sesama ini bermula dari perbedaan agama yang kita miliki, maka pada akhirnya rasa toleransi tersebut justru menghilang karena perbedaan agama itu sendiri. Hal ini juga bisa kita lihat sebagaimana tercermin di dalam salah satu puisi karya Denny J.A yang berjudul Atas NamaMu.

Atas NamaMu

Kebaikan tumbuh menyebar

Atas NamaMu

Kekerasan dan darah dipersembahkan

Berdasarkan dari isi puisi di atas, bisa kita simpulkan bahwa hal baik yang awalnya mengatas namakan Tuhan pada akhirnya justru bisa berubah drastis menjadi hal buruk yang menyebabkan kekerasan yang paling brutal dalam sejarah. Hal ini sama halnya dengan situasi dan keadaan yang sedang terjadi saat ini di Negara tercinta kita ini, Indonesia. Sebagaimana tergambar di banyak media massa bahwa belakangan ini Negara kita sedang dilanda dengan masalah penistaan sebuah agama yang di picu oleh perbedaan agama. Walaupun mungkin masalah ini bukanlah masalah pertama yang pernah terjadi yang disebabkan oleh perbedaan agama, tetapi bisa dikatakan bahwa masalah ini merupakan salah satu masalah terbesar yang pernah terjadi di Indonesia selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Melihat bagaimana besarnya pengaruh masalah ini terhadap warga Indonesia dimana seluruh wilayah Indonesia ikut serta turun ke lapangan dalam menanggapi serius masalah ini. Saya pribadi, sebagai salah satu warga Negara Indonesia sebenarnya cukup sedih melihat situasi dan keadaan yang sedang terjadi pada saat ini di Negara tercinta Indonesia ini, terutama ketika masalah yang muncul dan timbul ini sebenarnya bisa kita hindari jika saja kita mau lebih berlapang dada dan tidak egois serta bisa saling menunjukkan rasa toleransi yang kuat terhadap sesama umat beragama, sebagaimana moto dan semboyan kita Bhinneka Tunggal Ika serta bunyi sila pertama dari Pancasila. Jika saja nilai-nilai dari moto dan semboyan serta sila Pancasila tersebut bisa kita pertahankan dengan baik, maka masalah seperti ini besar kemungkinan akan bisa kita hindari.

Selain itu, kita sebagai warga Negara Indonesia kita harus mampu berpikir rasional dan menggunakan pola pikir kita sebaik mungkin dalam melihat dan menganalisis keadaan yang sedang terjadi di sekitar kita. Kita tidak boleh mudah terpengaruh begitu saja dengan segala pemberitaan dan isu-isu yang tersebar di sekitar kita dan menerimanya secara bulat-bulat tanpa memikirkan dan mempertimbangkan kebenaran dari hal tersebut. Bukankah kita sebagai manusia telah diberikan otak dan akal oleh Tuhan? Dan alangkah baiknya jika pemberian dan anugerah terbaik dari Tuhan tersebut bisa kita pergunakan sebaik-baiknya, terutama demi menjaga keamanan dan ketertiban dalam bermasyarakat. Seperti bagaimana tercantum di dalam ideologi kita, Pancasila pada sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Berdasarkan isi dari sila kedua Pancasila tersebut, bisa kita ambil kesimpulan bahwa sebagai warga Negara Indonesia yang baik yang telah mengakui bahwa Pancasila merupakan ideologi serta dasar negara kita, maka kita harus mampu bersikap dan berperilaku yang adil dan beradab terhadap sesama manusia, baik itu menyangkut kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Oleh sebab itu, kita selaku manusia yang berakal dan berbudi luhur harus bisa pandai-pandai dalam melihat situasi dan kondisi di sekitar kita dengan cermat dan teliti, sehingga kita mudah terpengaruh dengan segala pemberitaan dan isu-isu miring yang banyak tersebar di sekitar kita, terutama pemberitaan-pemberitaan di media massa yang kebenarannya belum bisa dipastikan seratus persen. Jadi, sebelum mengambil suatu kesimpulan dari suatu masalah, ada baiknya jika kita memikirkan hal tersebut dengan cukup baik dan matang, agar nantinya bisa diperoleh kesimpulan yang benar dan tepat, serta demi menghindari kesalahpahaman yang dapat menimbulkan perpecahan dan masalah antara sesama manusia. Sebagaimana layaknya dalam sebuah hubungan antara dua anak manusia. Jika saja kita bisa saling memahami satu sama lain dengan baik, maka tidak akan terjadi perpecahan. Hal ini juga bisa kita dilihat dalam salah satu puisi karya Denny J.A yang berjudul Taman 2.

Taman itu menjadi suci

Karena tiada lagi kau dan aku

Yang ada hanya kita

Dan CINTA

Jika sudah tercipta suatu kedamaian antarsesama umat, maka tidak akan ada yang namanya perpecahan dan masalah di antara kita, yang ada hanyalah kebahagiaan. Kebahagiaan bagi mereka yang dengan ikhlas dan cinta mendedikasikan dirinya berjuang untuk sesuatu yang lebih besar dari kepentingan pribadinya. Dedikasi harus dipersembahkan kepada sesuatu yang bersifat kepentingan publik. Keihklasan tersebut sebagaimana tergambar dalam salah satu puisi karya Denny J.A berjudul Kicauan Burung.

 Laut memberi uap pada hujan

Hujan memberi air pada bunga

Bunga memberi cinta pada burung

Burung member kicauan, indahkan pagi

Berdasarkan dari isi puisi di atas, bisa kita lihat bahwa seharusnya sebagai manusia dan makhluk hidup kita harus bisa hidup saling berdampingan satu sama lain, serta saling membantu dan melengkapi satu sama lain sehingga kita bisa menghindari yang namanya perpecahan dan mengesampingkan segala perbedaan yang kita miliki, karena perbedaan bukanlah suatu halangan bagi kita bersatu. Justru dari perbedaan itulah harusnya kita bisa bersatu  dan berusaha saling melengkapi kekurangan yang kita miliki. Saya harap, masalah-masalah seperti ini bisa segera diselesaikan dengan cara yang terbaik. Serta jangan sampai masalah-masalah seperti ini kembali terulang lagi di masa yang akan datang.

  • view 316