CERPEN ASAL MULA RUMAH ADAT NARATAKE

wiwin fitriani
Karya wiwin fitriani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Januari 2018
CERPEN ASAL MULA RUMAH ADAT NARATAKE

NAMA                       : WIWIN FITRIYANI BANA

NIM                            : 142 211 1124

KELAS/SEMESTER : C/VII (TUJUH)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

 

 

 

ASAL MULA RUMAH ADAT

HARI HOWA (RUMAH LAUT)

DI DESA TEREWENG

 

           Desa Tereweng merupakan sebuah pulau kecil yang berada di Kecamatan Pantar Kabupaten Alor yang merupakan gerbang pertama keluar masuk kapal di pulau Alor. Pada zaman dahulu di pulau Tereweng, hiduplah sekelompok masyarakat dari berbagai suku yaitu suku toda isi, hatang , nara take, tolang dan suku hu moal. Mata pencarian suku-suku itu adalah menanam dan melaut. Meskipun terbagi dalam berbagai suku namun mereka hidup dengan aman dan tentram dalam satu semboyan “tomi nu taha nu ma pi habang lelang ening haung yang berarti “mari kita satu hati dan satu jiwa untuk membangun kampung halaman kita.” Dibaluti dengan semboyan ini, mereka hidup bergotong royong serta saling bergantungan antara satu sama lain. Dalam keharmonisan yang terjalin di atas sebuah pulau yang begitu akur, mereka dilanda oleh krisis alam, yaitu tidak memiliki air sehingga mereka harus mengambil air di daerah seberang yaitu Nuhawala yang sekarang disebut Desa Nule untuk melangsungkan hidup mereka.

Pada suatu hari, mentari pagi menyapa di ufuk timur pulau Tereweng dengan pancaran lembut yang menghangatkan gubuk yang daunya termakan oleh musim kemarau dan menerobos celah gubuk penduduk, orang-orang memulai aktifitasnya masing-masing dalam sorotan sinar pagi yang indah itu. Di tengah kesibukan mereka, seorang bapak yang biasa disapa Asa Wagang yang merupakan ketua adat dari suku Naratake dan penghuni rumah adat suku Naratake mengajak anaknya yang bernama Wagang Kou untuk pergi mengambil air di Nuhawala karena kesedian air mereka sudah habis. Mereka pun pergi ke Nuhawala menggunakan sebuah sampan. Sesampainya mereka di Nuhawala, mereka pun menimba air di kali dengan menggunakan uri* yang mereka bawah dalam jumlah banyak guna persiapan untuk sebulan. Uri demi uri perlahan-lahan mereka mulai terisi air. Matahari pun semakin condong ke barat yang ditemani angin laut yang berhembus kencang serta gelinciran air laut yang terlihat putih dari kejauhan.             Dengan sedikit nada yang keras Asa Wagang menyuruh anaknya agar uri yang sudah terisi air segera dibawa ke sampan.

“Ayo Ama. Cepat bawakan uri-uri yang sudah penuh itu kesampan, Sebentar lagi gelombang akan semakin besar.” Wagang Kou dengan terburu-buru mengangkat uri-uri yang sudah terisi air itu ke sampan sementara, Asa Wagang mengisi uri lain yang masih kosong. Lama-lama uri merekapun semuanya terisi air, Wagang Kou dan Asa Wagang pun kembali ke Tereweng.

Hembusan angin laut di atas permukaan diiringi gelombang yang semakin tinggi, Asa Wagang dan Wagang Kou pun berdayung di atas terpahan gelombang yang menghadang perahu mereka yang berisi muatan itu. Percikan laut terus menerpa di sisi-sisi perahu mereka ketika mereka semakin dekat di pulau Tereweng. Perlahan-lahan gelombang terus menerpa perahu bapak dan anaknya yang berisi muatan itu. Percikan gelombang yang sedikit demi sedikit masuk ke dalam perahu mereka yang membuat sebentar lagi perahu mereka akan tenggelam, Bapak Asa Wagang pun meminta pertolongan kepada warga Tereweng dengan suara yang lantang,

”Tolong.....Tolong!!!” teriak Asa Wagang

Teriakan itu menerobos sampai ke telinga warga kampung. Warga perkampungan panik atas suara Asa Wagang yang meminta tolong. Pontang-panting warga pun kesana kemari untuk menolong Asa Wagang dan anaknya.

Matahari menggambarkan waktu senja dengan tatapan yang sedikit keruh atas sapaan malam yang datang, Warga pun berlari ke pantai dan mengambil perahu mereka masing-masing untuk menolong Asa Wagang. Ketika perahu warga yang semakin mendekati perahu Asa Wagang dan anaknya itu, Suara Asa Wagang pun semakin menghilang bersema tenggelamnya matahari sehingga tatapan warga tak bisa menerobos gelapnya malam diatas lautan yang bergelombang itu. Kesana kemari warga tetap terus mencari jejak mereka namun malam semakin larut warga tak kunjung juga menemukan mereka sehingga warga pun memutuskan untuk pulang dan melanjutkan pencarian pada esok hari.

Warga berdatangan dari berbagi suku ke rumah adat suku Naratake untuk berdoa dan melakukan berbagai ritual agar bisa menemukan Asa Wagang dan Wagang Kou. Setelah doa dan berbagai ritual dilakukan warga pun bersepakat untuk tidur bersama dan akan mencari Asa Wagang dan anaknya pada pagi hari. Di dalam tidur mereka seorang Bapak Asa Wagang suku Naratake pun bermimpi. Dalam mimpinya ia menemukan Asa Wagang mengenakan sebuah pakaian raja lalu datang ke rumah adat suku Naratake.

“Jangan kalian mencari kami. Karena kami sudah bahagia disini,” Kata bapak Asa Wagang.

Lalu Asa Wagang pun pergi ke pantai. Warga tersebut pun bangun di pagi harinya lalu menceritakan mimpinya tersebut kepada warga yang semalam tidur bersama di Rumah Adat Suku Naratake yang siap mencari Asa Wagang dan Wagang Kou pada pagi itu. Warga yang sudah siap untuk mencari Asa Wagang dan anaknya itu lalu mengurungkan niat mereka ketika hendak mendengar mimpi tersebut.

Bulan berganti tahun warga perkampungan bertanya-tanya tentangan gerangan sosok Asa Wagang yang memakai pakaian raja itu. Hingga pada suatu hari,warga suku Naratake melakukan sebuah pesta pernikahan. Di dalam melaksanakan pesta tersebut, mereka mengundang warga dari berbagai pulau dan kampung tetangga di daerah seberang. Warga-warga perkampungan yang di undang datang silih berganti menggunakan perahu layar yang lalu kemudian di jemput oleh warga –warga suku Naratake dari Tereweng.

Dalam penjemputan penjamuan tetamu yang meriah itu, warga dikejutkan dengan suatu gerangan dari laut yang tak pernah didengar oleh masyarakat. Gerangan itu bermula dari tempat hilangnya Asa Wagang bersama Wagang Kou pada beberapa waktu yang lalu. Tempat tenggelamnya Asa Wagang dan anaknya itu terlihat gulungan laut seperti ombak yang bergulung secara perlahan-lahan menghampiri darat namun gulungan ombak itu pun semakin mengecil saat menghampar pada bebatuan yang berjejer di pinggir pantai pulau Tereweng.

Gulungan ombak yang semakin mengecil itu lalu memuntahkan ikan-ikan kecil dan ikan besar yang menghempas di daratan. Ikan-ikan itu terlempar di pinggiran pantai. Tatapan warga yang melihat keajaiban yang muncul dari laut itu tiba-tiba dikejutkan lagi dengan berubahnya ikan-ikan itu menjadi laki-laki ganteng dan perempuan-perempuan cantik. Manusia-manusia jelmaan dari laut yang dilihat itu tak seperti manusia bisanya yang sehari-hari mereka temui di darat. Manusia-manusia jelmaaan itu lalu berbaris dengan rapi di pantai dan kemudian berjalan ke rumah pesta pernikahan.

Sebagian orang yang berada di rumah yang tak melihat kejadian aneh di pantai di kagetkan dengan sapaan salam dari salah satu manusia yang tak pernah ditemui dalam hidup mereka. sosok manusia itu adalah seorang wanita cantik yang berusia lanjut memakai gaun yang indah, wanita itu lalu masuk kedalam rumah dan mencari tuan pesta

”Dimana tuan pestanya? Ada yang ingin saya katakan pada tuan pesta” tanya wanita itu kepada salah seorang warga dari Suku Naratake yang sedang menyiapkan makanan untuk tetamu yang datang.

”Tuan pestanya ada di dapur,” jawab orang itu. Dengan langkah yang ayu wanita itu berjalan ke dapur menemui tuan pesta.

”Saya adalah permaisuri laut. Saya yang mengambil Asa Wagang dan anakanya. Asa Wagang saya angkat sebagai suami saya dan anaknya saya jodohkan dengan salah satu bidadari laut. Nama saya adalah Siti Wagang dan Asa Wagang sekarang saya angkat menjadi raja.” Mendengar perkataan wanita tersebut, tuan pesta tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa diam dan mendengar perkataan wanita laut yang mengejutkan itu. wanita itu lalu melanjutkan penjelasannya.

“Kami rombongan dari laut datang dan ingin menghadiri pesta ini, dan mulai hari ini saya ingin kita mulai menjalin hubungan kekeluargaan dengan baik. Jika kalian di darat membuat pesta dan maka pergilah ke pantai di mana terdapat sebuah batu besar yang berbentuk seperti kelopak bunga. Duduk di atasnya lalu katakan bahwa kalian akan melakukan pesta dan ingin mengundang keluarga bapak Asa Wagang. Dengan cara itu kami akan datang menghadiri undangan kalian, dan jika kami membuat pesta maka akan mengundang kalian dengan cara memberikan sebuah tanda yaitu ombak yang besar maka kalian datang ke batu tersebut dan membawa seekor hewan untuk disembelikan lalu darahnya di sirami di atas batu tersebut dan kepalanya di simpan di atasnya kemudian badan dan isinya di bagikan kepada seluruh anggota suku Naratake. Dengan begitu kami bisa meraskan kehadiran kalian di istana laut. Mungkin kami bisa datang ke alam kalian dalam jelmaan manusia tapi kalian tak bisa datang ke alam kami dalam jelmaan ikan.”

Pesta pernikahan yang di lasungkan dengan meriah itu berjalan dengan aman dan tentram hingga berakhirnya pesta, semua tetamu yang datang berpulangan lalu rombongan dari laut pun pulang kembali. Sebelum mereka pulang Siti Wagang yang merupakan permaisuri dari laut itu lalu berpesan kembali kepada tuan pesta sambil mengusap punggung tuan pesta sebagai tanda kasih sayang dan merupakan sebuah perjanjian yang tidak bisa di ingkari oleh orang-orang yang berada di darat. Ia berpesan kembali kepada orang-orang agar selalu mengingat apa yang ia katakan kemarin karena apa yang kemarin ia katakan adalah amanat dari raja Wagang.

“Jika di suatu hari kita mengalami suatu kesalahpahaman atau putus hubungan maka kalian jangan pernah melupakanya, terutama jika kalian mendapatkan suatu musiabah di laut maka sebutlah namanya karena ia akan datang untuk menolong kalian sampai anak cucu nanti.”

Setelah berpesan, rombongan dari laut itu pun kembali dan diantar oleh tuan pesta sampai di pinggir pantai. Ketika sampai di pinggir pantai, rombongan itu lalu lompat satu persatu kelaut kemudian berubah wujud kembali menjadi ikan dan berduyung berenang kedalam lautan lapas.

   Pesan dan amanat yang di sampaikan oleh Siti Wagang itu lalu dituruti oleh tuan pesta. Ia pun menyampaikan amanat itu kepada warga suku Naratake agar tetap menjaga hubungan mereka dengan keluarga raja Asa Wagang. Amanat itu terus terus dipegang teguh dan dilakasanakan. Hubungan undang mengundang terus terjalin dengan baik, hingga suatu hari suku Naratake kembali membuat pesta dan mengundang keluarga raja Asa Wagang. Keluarga raja Asa Wagang pun datang menghadiri undangan tersebut.

Ketika pesta tersebut berakhir, warga dari suku Naratake ingin melakukan tarian lego-lego bersama tetamu dari laut. Tarian lego-lego pun mulai dilakukan, seorang tamu dari laut yang datang bersama anaknya yang masih bayi ingin ikut menari, ia menidurkan anaknya di sebuah bakul dan menggantungnya, Ia berpesan kepada seorang dari suku naratake yang kebetulan tidak ikut lego-lego. Jika anaknya menangis maka jangan mengambil bakul tersebut tetapi hanya menggoyangkan saja. Ia pun pergi dan meneri bersama rombongan yang lain.

Setelah beberapa menit kemudian, anak tersebut menagis sehingga orang yang menjaganya ingin melihat bayi itu. ketika orang itu melihat isi bakul tersebut, ternyata isi dalam bakul tersebut adalah seekor ikan. Orang itu mengambil ikan itu dan membakarnya. Setelah tarian berakhir ibu itu terburuh-buruh datang untuk meliahat anaknya. Ketika ia melihat anaknya di dalam bakul, ia tak menemukan anaknya. Dengan nada marah ia menyakan kepada orang yang ia pesani tadi

“Di mana anak saya?” tanyanya dengan panik.

“Aku tak melihat anakmu dan tak ada anak yang berada di sini,” Jawab orang itu. “Anak yang saya tidurkan di dalam bakul itu di mana?” tanya ibu dari laut itu dengan nada yang marah. Ketika mendengar pembicaraan ibu itu, orang yang menjaga anak itu pun kaget

“Apa..itu anak mu..? Saya tadi melihat seekor ikan yang berada di situ sehingga saya sudah membakarnya.”

Mendengar jawaban itu ibu dari laut itu pun menagis dan mengatakan kepada ibu tersebut bahwa hubungan mereka berakhir. Dari kejadian ini, hubungan antara darat dan laut berakhir. Rombongan dari laut pun pulang dalam keadaan kecewah dan marah.

Sejak saat itu rumah adat suku Naratake kini dinamai Rumah Laut atau Hari howa dan batu tempat untuk mengundang keluarga Asa Wagang dinamai Batu Laut atau hari war yang masih berada di Tereweng sampai saat ini.

 

Catatan :

* Uri : Tempat penampung air yang terbuat dari bambu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 79