CERPEN ASAL MULA RUMAH ADAT NARATAKE DALAM BENTUK NASKAH DRAMA

wiwin fitriani
Karya wiwin fitriani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Januari 2018
CERPEN ASAL MULA RUMAH ADAT NARATAKE DALAM BENTUK NASKAH DRAMA

 

”Tolong.....Tolong!!!” teriak Bapak Asa Wagang (minta tolong)

Teriakan itu menerobos sampai ke telinga warga kampung. Warga perkampungan panik atas suara Asa Wagang yang meminta tolong. Pontang-panting warga pun kesana kemari untuk menolong Asa Wagang dan anaknya.

Warga                          : Itukan suaranya Asa Wagang (sambil bertanya-tanya)

Kemudian warga menyelusuri teriakan suara tersebut, ternyata suara itu terdengar dari pantai. Lalu warga tersebut langsung menuju ke tepi pantai sesampai disana suara tersebut semakin menghilang dan sudah larut malam sehingga warga tersebut pulang dan akan mencarinya besok pagi.

Warga 1                                   : Ayo kita kembali ke rumah dulu karna ini sudah larut malam

                                                kita akan carinya besok lagi

Warga 2                                   : Kalau begitu kita bermalam di rumah adat saja bagaimana?

Warga 1                                   : Sepakat

 

Kemudian mereka bermalam di rumah adat Naratake. Dalam tidurnya salah satu warga bermimpi bahwa bapak Asa Wagang datang di rumah adat suku Naratake dengan memakai pakaian raja.

Asa Wagang : Jangan kalian mencari kami karena kami sudah bahagia disini. Lalu Asa Wagang pun pergi ke pantai.

     Warga tersebut pun bangun di pagi harinya lalu menceritakan mimpinya.

     Pada suatu hari Mereka melakukan sebuah pesta pernikahan. Di dalam melaksanakan pesta tersebut, mereka mengundang warga dari berbagai pulau dan kampung tetangga di daerah seberang. Warga-warga perkampungan yang di undang datang silih berganti menggunakan perahu layar yang lalu kemudian di jemput oleh warga –warga suku Naratake dari Tereweng.

Siti Wagang   : Dimana tuan pestanya? Ada yang ingin saya katakan pada tuan pesta (tanya wanita itu kepada salah seorang warga dari Suku Naratake yang sedang menyiapkan makanan untuk tetamu yang datang).

Warga : Tuan pestanya ada di dapur (jawab orang itu. Dengan langkah yang ayu wanita itu berjalan ke dapur menemui tuan pesta).

Siti Wagang : Saya adalah permaisuri laut. Saya yang mengambil Asa Wagang dan anaknya . Asa Wagang saya angkat sebagai suami saya dan anaknya saya jodohkan dengan salah satu bidadari laut. Nama saya adalah Siti Wagang dan Asa Wagang sekarang saya angkat menjadi raja.

Mendengar perkataan wanita tersebut, tuan pesta tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa diam dan mendengar perkataan wanita laut yang mengejutkan itu. wanita itu lalu melanjutkan penjelasannya.

Siti Wagang : Kami rombongan dari laut datang dan ingin menghadiri pesta ini, dan mulai hari ini saya ingin kita mulai menjalin hubungan kekeluargaan dengan baik.

Pesta pernikahan yang di lasungkan dengan meriah itu berjalan dengan aman dan tentram hingga berakhirnya pesta, semua tetamu yang datang berpulangan lalu rombongan dari laut pun pulang kembali Ia berpesan kembali kepada orang-orang agar selalu mengingat apa yang ia katakan kemarin karena apa yang kemarin ia katakan adalah amanat dari raja Wagang.

Siti Wagang : Jika di suatu hari kita mengalami suatu kesalahpahaman atau putus hubungan maka kalian jangan pernah melupakanya, terutama jika kalian mendapatkan suatu musibah di laut maka sebutlah namanya karena ia akan datang untuk menolong kalian sampai anak cucu nanti.

       Pemilik Rumah : Baiklah permaisuri. Untuk merayakannya kami akan menari lego-lego.

Siti Wagang : Itu akan menyenangkan.

Warga Laut : Permaisuri, apa aku boleh ikut menari ?

Siti Wagang : Tentu saja boleh. Titiplah anakmu pada seorang Ibu dari suku Naratake, lalu menarilah.

Wanita laut itu melihat ke sana kemari. Ia mencari seorang wanita untuk menitip anaknya.

Wanita laut : Mama, apakah saya bisa menitipkan anak saya ?

Mama         : Mengapa mau menitipkan anak ? (Heran)

Wanita laut : Aku ingin sekali ikut menari lego-lego.

Mama         : Oh baiklah, aku akan menjaga anakmu.

Wanita laut : Mama tidak perlu menggendongnya. Anakku sedang tidur di dalam bakul ini. Aku akan menggantungnya di sana. Bila nanti ia menangis, cukup goyangkan saja bakulnya mama. Mama tidak perlu menggendongnya.

Mama              : (mengangguk) baiklah

(wanita laut itupun pergi menari lego-lego setelah beberapa kemudian ia kembali)

Wanita dari laut : “Di mana anak saya?” (tanyanya dengan panik).

Warga                   : “Aku tak melihat anakmu dan tak ada anak yang berada di sini,” (Jawab orang itu).

Wanita dari laut     : “Anak yang saya tidurkan di dalam bakul itu di mana?”

Warga                   : “Apa..itu anak mu..?Saya tadi melihat seekor ikan yang berada di situ sehingga saya sudah membakarnya.

Mendengar jawaban itu ibu dari laut itu pun menagis dan mengatakan kepada ibu tersebut bahwa hubungan mereka berakhir. Dari kejadian ini, hubungan antara darat dan laut berakhir. Rombongan dari laut pun pulang dalam keadaan kecewah dan marah.

  

 

 

 

  • view 71