Full Day (Parenting) School

Wiwi Jingga
Karya Wiwi Jingga Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Full Day (Parenting) School

Full Day School, katanya. Sebenarnya bukan sebuah kata asing bagi saya, mengingat dari SMP saya sudah biasanya pulang sekolah jam 4, dan ketika SMK saya pulang sekolah jam 5 sore. Jadi, ketika wacana ini tersebar, bukan suatu masalah yang besar bagi saya.

NAMUN, belakangan ini setelah baru lulus dari SMK, saya memilih untuk mengajar anak-anak sembari menunggu diterima di perguruan tinggi. Dulu, ketika saya full day school, saya merasa orang yang paling "sekolah" di antara teman-teman yang lainnya. Apalagi ketika saya sudah SMK dan kegiatan belajar di sekolah dengan tugas dan ulangan yang semakin padat, saya merasa lebih yang paling "sekolah" di antara sekolah-sekolah lainnya.

Ketika saya mulai mengajar, dan mempelajari anak-anak, saya merasa tertampar, disadarkan oleh sebuah hal. Yaitu apa yang dinamakan sekolah selama ini adalah bukan sekolah yang sesungguhnya. Saya baru merasa "sekolah" ketika sudah dihadapkan dengan anak-anak. Bagaimana menanggapi segala macam pertanyaan-pertanyaan aneh yang harus dengan bijak dan ilmu yang sesederhana mungkin agar anak tidak salah pengertian. 

Mungkin yang kita lihat selama ini adalah sang anak belajar, dan sang guru megajar. Tapi justru yang harus selalu belajar adalah seorang guru, terlebih seorang orang tua. Karena guru memiliki puluhan anak, dan jarang seorang ibu memiliki puluhan anak. Sehingga peran yang terpenting yang harus selalu belajar adalah orang tua. 

Baiklah, jika full day school diterapkan kepada anak-anak SMA sederajat, saya setuju. Dengan catatan kegiatannya dibuat agar semenarik mungkin, dan itu menjadi tugas lebih guru untuk mencari cara-cara baru agar murid tidak semakin lesu. Tapi saya sangat tidak setuju jika full day school diterapkan kepada anak-anak SD. Baru belajar satu jam pun, terkadang anak-anak sudah mulai jenuh. Karena memang kodratnya anak-anak masih suka bermain dan berlari-lari. Biarkan mereka tumbuh dengan cerianya, menikmati masa-masa kecilnya dengan kebebasan selama tidak melenceng dari norma-norma. 

Namun, jika opini bapak mentri adalah Full Day Parenting School, saya sangat setuju. Mungkin PR dan target kurikulum pendidikan yang kami butuhkan adalah:

1. Bagaimana mendidik anak dengan contoh, bukan kata-kata.

2. Bagaimana mendidik bermental baja yang tidak mudah mengadu dengan masalah sepele yang dibuatnya sendiri.

3. Bagaimana mendidik anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri selama masalah masih dalam koridor "masalah anak-anak".

4. Bagaimana mendidik anak berpendirian, berani mengatakan kebenaran, dan mengakui kesalahan.

5. Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari anak-anak, agar dijawab dengan bijak dan bahasa yang sebaik dan sesederhana mungkin.

6. dan masih sangat banyak PR bagi orang tua untuk terus belajar.

Mungkin Full Day Parenting School ini bisa dimulai ketika anak-anak belajar di sekolahnya masing-masing, sementar sang ibu belajar di sekolah khusus ini. Kemudian jam pulangnya bisa bersamaan, dan sang ibu mulai mencoba menerapkan apa yang dipelajarinya sementara biarkan sang anak menangkap apa-apa saja yang ingin ia pelajari. Karena jika seorang anak dibiarkan bebas mempelajari apa yang ingin ia pelajari tentang kehidupan yang baru baginya itu, maka biasanya pertumbuhan dan perkembangannya akan melejit melebihi ekspektasi kita.

Pulang sekolah, sang ibu bisa mulai melakukan kegiatan-kegiatan rumah seperti memasak. Sang anak bisa  memperhatikan ibunya memasak, mencoba memegang terigu. Ketika sang ibu mencuci, sang anak bisa belajar terbiasa dengan air namun masih dengan pengawasan. Atau sang ibu berkebun, sang anak bisa terbiasa diajarkan memegang tanah dan cacing agar kelak tidak menjadi anak yang manja.

Karena sesungguhnya, orang tua lah yang seharusnya belajar lebih banyak. Tugas anak hanya meniru apa yang orang tuanya lakukan. Semoga, kita semua dapat mengerjakan PR-PR kita dengan baik. 

 

Note: Izin memakai fotonya mbak Alyssa Soebandono, mas Dude Herlino, dan Rendra. Karena saya bingung harus mengunggah foto apa yang sesuai. 

  • view 203