Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 30 Agustus 2017   11:42 WIB
Meski Membaca Tidak Membuat Pintar, Setidaknya Membuat Tahu

Soal Copy Paste tulisan yang kian menjamur. Pas mujur, pelaku Copy Paste justru lebih mahsyur ketimbang pemilik tulisan sebenarnya yang sudah bersusah payah meluangkan waktu, menguras pikiran demi sebuah tulisan. Tetapi apakah tujuan menulis itu semata-mata untuk kemahsyuran dan kekayaan yang biasa di sebut dengan komersil? Aaah... yang demikian itu urusan masing-masing, jadi yaa terserah.
 
Mbok yaa misal Copy Paste tulisan itu yaa di cantumkan sumbernya. Kan nggak susah cuma nyantumin sumbernya. Kecuali ada niatan lain, mencantumkan sumber menjadi sesuatu yang sulit. Mungkin, beberapa alasan seseorang enggan mencantumkan sumber adalah setiap apa yang di Copy Paste dan di tayangkan ke publik, biar di anggap sebagai karyanya, biar terlihat keren dan seabrek alasan gak masuk akal lainnya. Padahal, apabila tulisan megah yang tayang di khalayak ramai dan kadang mampu mengangkat nama pelaku Copy Paste tanpa sumber itu akan sangat memalukan saat dimana tulisan-tulisannya tersebut ketahuan belangnya terbukti hanya CoPas milik orang lain. Pelakunya tidak akan malu kecuali memang tidak tau malu alias urat malunya putus.
 
Dalam hal ini ada satu alasan masuk akal yaitu seseorang itu benar-benar tidak tahu bahwa Copy Paste tanpa menyantumkan sumber itu gak sopan. Terlebih mengakui hasil Copy Pastenya sebagai haknya itu tidak di benarkan.
 
Menyinggung soal Plagiarisme, Plagiat atau apalah namanya, yang katanya merupakan pengambilan sebuah karya orang lain yang kemudian menjadikan karya tersebut menjadi hak si pengambil, kok rasanya sangat kejam. Lalu bagaimana nasib tulisan-tulisan original yang bisa di jumpai di lapak sosial media yang jumlahnya ribuan bahkan lebih, tidak menutup kemungkinan juga menjadi korban perampasan semacam ini? Meski hanya tulisan sebuah kalimat Say Hello ceng-ceng po, curhatan gak jelas, dan tulisan-tulisan beragam lainnya. Tidak semua tulisan di sosial media itu terlindungi hukum, berbadan hukum, juga memiliki hak paten atau punya kuasa melindunginya. Tulisan-tulisan di sosial media atau lapak menulis lainya itu tidak memungkinkan untuk menempel Materai sebagai Segel. Apakah dengan demikian melegalkan siapa saja seenaknya nyomot dan mengklaim tulisan orang lain sebagai haknya? kok sadis dan nyeseg sekali...
 
Begal kok di mana-mana, gak di dunia nyata dunia mayapun ada. Kadang, ada yang bilang, seperti ini: 
 
"Saya sudah mulai menulis sejak masih SD, terserah orang mau percaya atau tidak. Ini bukan soal percaya atau tidak tapi bukti penjiplakan yang tak tertolak itu bagaimana? Mau mengelak?" Aahsudahlah...
 
Yang seperti itu kadang memang terlahir untuk memiliki follower triliyunan yang terlanjur jatuh cinta. Jadi tidak peduli apa yang di share itu murni karya Idolanya atau tidak, gak mau tahu. Ketika terbukti sebuah postinganya itu merupakan postingan ulang dari tulisan orang lain yang memangkas nama penulis asli, eee... La kok penulis asli yang di maki, di bully habis-habisan kan kurang ajar namanya.
 
Pas sudah mbededeg alias saking negnya dengan hal semacam ini. Kok ya tega-teganya nulis begini:
 
"Misal nggak mau di CoPas ya jangan nulis di sosial media, nulis saja di Batu"
 
Tulisan semacam itu kok membuat panas dingin demam dadakan, masuk angin malahan gaes. Tambah di suruh nulis di Batu, jan yaa ampun, hehehe... Misal mau menyediakan Batu sekalian menuliskan semua ide yang mesti di tuangkan dalam bentuk tulisan di Batu ya monggo, taapi gratis. La misal suruh bayar nggak sudi bro... Lumayan semua hasil tulisan di Batu tersebut bisa di taruh di depan rumah atau pinggir jalan, yangmana setiap tamu atau pejalan kaki yang lewat  mendapat suguhan gratis sebuah Prasasti modern, berisi curhatan, kata-kata mutiara, kalimat motivasi dan tulisan lain yang biasa kita jumpai di sosial media, atau lapak menulis lainnya. Kan keren... Bisa jadi obyek wisata baru.
 
Hanya soal  uneg-uneg terkait perampasan hak cipta sebuah tulisan yang lalu-lalang di ributkan di sosial media. Hanya tulisan tentang ketidaknyamanan atas kejadian perampasan semacam itu. Kok yaa... Ada, kok yaa... Tega. Bagaimana seseorang itu bisa mengakui karya orang lain menjadi karyanya, sedang dia tidak melakukan usaha secuilpun? Aneh....
 
Saya tidak tahu tentang aturan main kepenulisan. Membuat alur dan menjadikan suatu tulisan itu layak baca dan mudah di mengerti. Berawal dari kesukaan mendengarkan musik, minat baca yang memang sudah sejak lama saya suka. Membaca beberapa tulisan dari para penulis yang bisa di baca secara gratis di jejaring sosial media membuat saya iseng-iseng menulis di laman pribadi sosial media saya. Seperti facebook, twitter, Instagram dan tempat teduh InspirasiCo ini. Eelah... malah kecanduan membaca dan menulis meski Abstrak dan tulisannya kacau...
 
"Meski membaca tidak membuat pintar, setidaknya membuat tahu"
 
Yogyakarta 30 Agustus 2017

Karya : Wiwid YK