Merdeka Itu Bagaimana?

Wiwid YK
Karya Wiwid YK Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Agustus 2017
Merdeka Itu Bagaimana?

Merdeka buat saya itu ya saat melihat semuanya merayakan kemerdekaan, itu namanya saya merdeka. Setidaknya senyum  semangat  kebahagiaan yang mereka bagikan dengan cuma-cuma itu cukup mendamaikan dan memerdekakan hati saya.
 
Perlu diketahui, Mereka yang di pelosok-pelosok negri itu juga pengen merayakan kemerdekaan negaranya, bahagia menyambut hari kemerdekaan. Meski dengan dana yang megap-megap, mereka serentak patungan mengadakan perayaan. Bagi mereka, perayaan yang mereka buat itu sesuatu yang sangat luar biasa. Tetapi misal di bandingkan dengan perayaan yang ada di kota ya sebaiknya jangan di banding-bandingkan. Di kota ada arak-arakan, ada drum band dan pernak-pernik meriah perayaan kemerdekaan lainnya, sedang di kampung paling upacara udah selesai. Biasanya ada lomba untuk anak-anak juga ibu-ibu Pkk, lari karung dan sebagaianya. Untuk bapak-bapak ya tarik tambang. Setelah semua selesai, kembali ke rutinitas biasa ada yang Nyadap nira, ngangkut kayu, merumput dan rutinitas harian lainnya. Misal ada saudagar nyumbang ngadain hiburan ya menjadi pesta rakyat tersendiri. Unik!
 
Kehidupan kampung yang soal ekonomi itu naik turun, strong gaes. Semangat kemerdekaan yang tidak bisa di bendung. Pokonya Pitulasan, Kampung ini Merdeka!!! Gegap gempita, umbul-umbul bendera berada di setiap jalan-jalan perkampungan. Rapat agenda kecil pembentukan pengurus di gerakkan, semua bersorak Merdeka. 
 
Seperti yang saya lakukan bareng anak-anak kecil di kampung, mengisi air pada plastik es lilin yang sudah di kasih pewarna makanan. Ada warna biru, kuning, merah dan warna lain. Kemudian plastik tersebut di ikat pada ranting-ranting bambu. Di taruh di pekarangan rumah juga di pinggir-pinggir jalan. Udah bahagia. Sederhana warna-warni perayaan kemerdekaan untuk negri ini, dari kami di sebuah perkampungan kecil. Kami cinta Indonesia.
 
Di luar tanggal 17 yaa kalau minta di merdekakan secara instan, setiap personalnya merdeka tidur merem sambil dengerin musik campur sari leyeh-leyeh enak tenan. Gitu aja terus..., menggerutu dan Mengutuk keadaan sampai mulut berbusa. Jadi inget lagunya Sri Rejeki Pengen urip seneng uripo ning Pakem. (Pakem disini lebih di maksudkan kepada sebuah tempat rehabilitasi orang yang kejiwaanya terganggu/RS jiwa di daerah pakem)
 
Tahu sendiri juga masalah gontok-gontokan dari tingkat teri sampai poro juragan itu kerasa damai lak yaa waktu-waktu ini, pitulasan ini semua dari yang ceng-ceng po sampai yang berkelas vip sama rata merayakan kemerdekaan damai, adem ayem, tentrem. Juooos Tenan boskuuuh.....
 
Jadi merdeka buat saya itu ketika semuanya tetap bangga kepada negara meski batin kita itu sama terseok-seok keadaan yang aahsudahlah... Semua harus berjuang keras dengan urusan kehidupannya soal haus juga soal lapar, juga soal tempat tinggal.
 
Seberapapun gerah dan panas dingin keadaan, nikmati saja. Mau bagaimana, Makan ati saban hari juga ndak papa. Semoga setiap apa yang di lakukan, berguna bagi kepentingan orang banyak. Meski baru bisa berdoa dan mendoakan.
 
Ini adalah kesedihan atau apa saja terserah, melihat bacaan time line sosial media. Mungkin bukan hanya saya yang melihat sebuah tulisan-tulisan di sosial media kurang lebih seperti ini:
 
"Katanya merdeka, tapi kita masih begini-begini saja. Katanya merdeka, tetapi kita masih bersusah payah mengurusi kehidpuan keras ini. Katanya merdeka, tetapi semua masih saja mahal."
 
Tak apa kawan, semoga kita semua di kuatkan, di sehatkan, di mudahkan segala-galanya dan merdeka di dunia akhirat.
 
Yogyakarta 28 Agustus 2017

  • view 42