Saat Mataku Terpejam Selamanya

Wiwid YK
Karya Wiwid YK Kategori Renungan
dipublikasikan 18 Agustus 2017
Saat Mataku Terpejam Selamanya

Selesai! bukan karena lelah bukan juga karena pendek usia. setiap yang hidup pasti akan mati. Saat mataku terpejam selamanya tidak lagi kedua mataku ini bisa menatap dunia, tidak lagi telingaku mendengar suara-suara bahkan saat seorang memanggil namaku. Aku telah pergi teramat jauh, lebih jauh dari angan-angan, lebih jauh dari dugaan-dugaan tentang keberadaan. 
 
Telah kuhabiskan dunia dengan sesuatu hal yang kadang aku sendiri masih selalu bertanya, semua tindakanku apakah akan berguna untukku atau yang lainya. Saat mataku terpejam selamanya, tak lagi kuasa tanganku menyeka air mata,air mataku atau air matamu.
 
Tak mampu lagi mulutku berbicara aku bisa dan aku kuat. saat mataku terpejam selamanya, tubuh ini sebegitu kakunya, dingin sedingin-dinginya. Jauh dari selimut yang menghangtkan. Sudilah memohon ampunan untukku, untuk diriku yang tak lagi dengan mudahnya kau temui dan engkau sapa dengan kalimat hey & hello.

Saat mataku terpejam selamanya, engkau adalah yang terkuat dan engkaulah yang terhebat. Saat dimana kakiku tak lagi kuasa menopang tubuh ini dan saat semua sedemikian gelap dalam pandangan kedua mata. Kukan menggenggam, menggenggam tanganmu sekuat yang ku bisa, sebisa apa yang kubisa sesampai itu aku berusaha untuk tetap terang sampai saat mataku ini terpejam selamannya. Semoga keberadaanku di dunia tidak pernah membuat kecewa siapa-siapa.
 
"Maaf dan kebencian, sesal dan kehilangan adalah jembatan keterasingan menuju titik Sadar"
 
Saat semua terlanjur sudah, sesal dan kehilangan bukankah tak lebih menjadi kenangan menyakitkan? Sebuah kenyataan yang terkadang memang pahit dan sebegitu getirnya. Yang tersisa hanyalah maaf, maaf dan maafkan kesalahanku.
 
Yogyakarta 18 Agustus 2017

  • view 137