Suara Tangisan Sore Itu

Wiwid YK
Karya Wiwid YK Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Agustus 2017
Suara Tangisan Sore Itu

Dari kejauhan terdengar suara tangisan. Kadang terdengar jelas, kadang lirih kemudian hilang dan terdengar lagi. Terus berulang, seperti isyarat agar diriku mencarinya. Tidak ada siapa-siapa hanya diriku dan kabut tipis di sore itu.
 
Tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahuku. Siapa yang menangis? Kenapa dia? Ini sudah terlarut sore! Akupun mencari tahu keberadaan suara itu dengaan penuh pertanyaan dan penasaran. Di sela-sela kabut tipis, terlihat bayang-bayang anak kecil duduk di pinggir parit yang tidak jauh dari hutan bambu.
 
Pukul 17.27 cuaca mendung. Udara yang sangat dingin dan kabut tipis, menghalangi penglihatan. Sekelilingku terlihat tidak begitu jelas. Suara tangisan tadi terdengar semakin jelas saat diriku terus  melangkah mendekati anak yang terlihat sedang duduk di pinggiran parit. Sraaak, terdengar suara kaki yang menginjak semak-semak. Terakhir, saat sedemikian dekatnya, sosok anak kecil dibalik kabut tadi lenyap. 
 
Kemana anak yang duduk di pinggiran parit ini? Ini sudah hampir malam! Tidak lagi terdengar suara tangisan, hanya suara pepohonan yang tertiup angin. Suara pohon bambu krengkiiiit... Kreteeeggg... saling menarik dengan pohon bambu yang lainnya. Membalikkan badan,  kurasa hanya halusinasi. Seperti ada yang mengawasi. Ku beranikan menoleh, tidak ada siapa-siapa. Aku putuskan untuk pulang, sebentar lagi malam, pasti akan sangat gelap tempat ini. 
 
Tapi, suara itu terdengar lagi. Ku dengarkan dengan seksama tangisan itu. Kali ini terdengar sangat jelas. Yaa... Aku yakin di dalam hutan bambu itu! Meski sudah mulai petang, rasa penasaran memaksaku memberanikan diri untuk bergegas masuk ke dalam hutan bambu. Berlari mengejar suara tangisan itu. Lagi-lagi terdengar lirih dan semakin hilang. 
 
Aku berhenti dan baru sadar berada ditengah hutan bambu yang gelap sudah tidak tahu lagi jam berapa, tidak ada satupun manusia selain diriku. Hanya suara binatang malam, jangkrik dan sejenisnya. Rasa takutku kian menjadi saat mendengar suara cekikik'an, suara tawa terdengar seperti mengejekku. 
 
Tidak ada angin, tapi terdengar krengkiiiit... Krettt... Krengkiiiit... Kreketeeeggg...  Krengkiiit... Suara pohon bambu, batinku. Tapi tidak ada angin, bagaimana bisa bunyi? Seperti ada yang mengawasi, aahh.. ini hanya halusinasi. Tidak ada siapa-sapa hanya ada aku. Ku beranikan menoleh, tidaak...
 
Mataku tertuju pada anak kecil bergelantungan di pucuk pohon bambu. Kurasa dia yang tadi menangis tapi kenapa dia mentertawaiku? gumamku dalam hati. Matanya Menatap tajam ke arahku, seolah aku adalah musuhnya. Di hantui ketakutan, aku berlari menghindar tanpa tau arah.
 
Berjalan pelan, menghela nafas. Aku yakin sudah jauh darinya. Kenapa? Kenapa ini? Terasa berat, seperti ada beban diatas pungungku. Suara tangis dan tawa cekikikkan yang sama dengan suara didalam hutan bambu, terdengar jelas. Dia... Dia..! 
 
Dia, yang tadi bergelantungan di dalam hutan bambu, sudah berada di punggungku. Sangat berat, tangannya merangkul leher sangat kuat. Sedikit menoleh, wajahnya pucat pasi,kelopak matanya hitam pekat, bulu kudu berdiri, ketakutan semakin menjadi. ingin sekali berlari, namun kakiku begitu berat.. Sangat berat, jangankan berlari, sedikit saja untuk bergerak tidak bisa. Dia terus saja cekikikkan mengejekku. Keringat dingin keluar, panik dan ketakutan.
 
Sudah berapa jauh kuberlari? Kaki penuh luka gores rumput alang-alang. Perih, seperti tidak ada tenaga yang tersisa. Setengah sadar, berat diatas punggungku berangsur menghilang. Makhluk apa tadi gumamku, luka goresan dikakiku terasa sakit dengan sedikit darah yang mulai mengering. Aku  duduk dibawah pohon besar di dekat pinggir parit. Tempat semula diriku mencari suara tangis sore itu. keadaan masih ketakutan dan nafas tersengal, masih tidak percaya dengan semua yang ku alami. Selama itukah? Perasaan, baru menjelang malam aku masuk hutan, kemudian mengalami semua kejadian itu. Sekarang sudah pagi. Aku sudah berada di sini, di dekat tempat semula diriku mencari suara tangis sore itu.
 
Yogyakarta 10 Agustus 2017

  • view 90