Bab 9: Reuni

Wisesa Wirayuda
Karya Wisesa Wirayuda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Desember 2016
The 7 Sinners

The 7 Sinners


Kiamat itu hanyalah sebuah awal dari kehancuran ini. #The7Sinners

Kategori Fantasi

2.3 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 9: Reuni

“Wah sudah lama sekali aku tidak merasakan berdiri di bawah air seperti ini.” Ucap Ryu bersamaan dengan udara yang keluar dari mulutnya, ia pun sembari menggerakan beberapa kayu dengan pikirannya sehingga kayu-kayu itu mengular di dasar laut dan terlihat menuntun jalan. Lucas hanya tersenyum mendengarnya. Aku dan Geo berjalan di belakang mereka berdua. “Sudah bertahun-tahun aku menghabiskan diriku di Helbona. Sejak masa-masa kejayaannya sebagai desa dengan sumber makanan terbesar di dunia, hingga sekarang yang tersisa hanyalah hamparan pasir dan tak ada kehidupan.” Jubah hitam yang dikenakan Ryu membuat dirinya terlihat tenang saat berjalan. Jubah hitam itu ia gunakan untuk menutupi pakaiannya yang sudah rusak dan kotor. Jubahnya bergerak menggelombang mengikuti arus air.

“Apakah menurutmu akan aman-aman saja kita meninggalkan Orobos? Terakhir kali aku meninggalkan the Sinners, semua anggota Adom rasanya sedang memusuhiku.” Kata Lucas.

“Ada yang kalian tidak ketahui, dan menurutku itu penting sekali. Aku menemukan informasi ini bertahun-tahun yang lalu, namun sayangnya aku terperangkap di dalam mulut monster sialan itu.”

“Maksudmu, ada alasan mengapa Orobos masih di sini?”

“Ya, dan alasan mengapa kit amemang harus meninggalkan mereka. Tak perlu kita kejar mereka. Akan kuceritakan lebih jelasnya nanti.”

Ryu nampaknya sedang serius. Gelagatnya berubah sama sekali. “Dia sangat berbeda di luar sini.” Kata Geo tiba-tiba berbicara padaku. "Sewaktu masih di dalam mulut Orobos, ia terlihat bertenaga dan sangat lincah."

“Yah mungkin keluar dari mulut Orobos tidak berarti kebebasan untuknya, masih banyak yang harus diselesaikan olehnya.”

Di ujung jalan, aku melihat Alan dan Rin sudah menunggu kami. Wajah Alan nampaknya tak percaya melihat salah satu temannya akhirnya bisa kembali. “Aku tak percaya kau masih hidup.” Kata Rin seenaknya.

“Tentu saja aku masih hidup, tidak terlalu sulit bertahan di dalam perut monster rakus yang menjadikan sumber makanannku tidak ada habis-habisnya.” Ryu kemudian memeluk Rin. Kemudian Ryu menyapa Alan dan mengobrol sedikit, aku tak bisa mendengar ucapan mereka. Yang jelas, tiga Adom pendiri Barrier sekarang sudah berkumpul dan aku yakin akan ada sesuatu yang besar akan terjadi.

“Lucas, Geo, Sam! Kita adakan rapat sesegera mungkin!” Teriak Alan dari tempatnya berdiri. Kami bertika mengangguk dan segera melangkah masuk. Aku juga melihat beberapa orang memandangi kami. Lebih tepatnya memandangi Ryu. Dengan rambut, baju, dan wajah kotornya yang tertutup jubah hitam. Orang-orang mungkin tak akan menyangka bahwa dia adalah salah satu dari pendiri Barrier.

“Aku sepertinya harus membersihkan badanku dulu.” kata Ryu sembari melepaskan jubah hitamnya dan membawanya pergi.

“Biar Tea membantumu.” Kata Alan memotong langkah kaki Ryu.

“Tak perlu. Aku bisa melakukannya sendirian. Bertahun-tahun aku tertelan oleh Orobos dan aku masih hidup. Jika aku tidak bisa membersihkan diriku sendiri, itu sangatlah keterlaluan.”

Alan tersenyum. “Baiklah, aku akan siapkan ruang pertemuan kita. Semuanya harap bersiap-siap!” kata Alan meninggikan suaranya dan anggota Barrier kemudian bergegas untuk bergerak.

“Aku akan ke ruanganku dulu.” Kata Geo. Dan Lucas mengikuti Alan kemanapun ia pergi. Pikiranku sebenarnya masih belum bisa mencerna dengan sempurna apa yang sudah terjadi. Aku merasa aku sudah berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dan itu adalah sesuatu yang bagus untukku. Hal ini membuatku beberapa langkah lebih dekat kepada tujuanku, yaitu mengalahkan Diabolos.

“Sam! Ayo, pertemuan sudah akan dimulai.” Tea mengajakku.

“Cepat sekali.” Kataku. Aku mengikutinya dari belakang.

“Cory bersemangat sekali hari ini nampaknya.”

“Aaah aku mengerti.”

Lorong panjang menuju ruangan mirip aula itu pun aku tempuh dengan kesunyian. Tea nampaknya memang tidak banyak berbicara. Ia bahkan berjalan sembari membaca bukunya. Tadinya aku ingin menanyakannya tentang buku yang sedang ia baca itu, namun entah mengapa rasanya aku lelah sekali dan tak mungkin bisa memuat teori-teori yang rumit. Jadi aku batalkan niatku itu.

Di ruangan aku melihat semuanya sudah duduk. Terkecuali Ryu, Alan, Rin dan Lucas. Aku menghapiri Geo. “Kau tidak akan percaya apa yang baru saja terjadi padaku...”

“Apa?” tanyaku.

“Ryu...”

“Baiklah... baiklah... kita mulai...” Ryu berjalan ke dalam ruangan bersamaan dengan yang lainnya. Geo membatalkan perkataannya. Wajah Ryu benar-benar berbeda dari sebelumnya. Kini ia mengenakan pakaian yang pantas dan kulihat rambutnya sudah tertata rapi. “Aku punya kabar baik dan kabar buruk. Yang mana yang ingin kalian dengar terlebih dahulu?”

Ryu tak mendapatkan jawaban apapun. Kemudian Ryu memandangi Alan sembari penuh tanda tanya. “Ceritakan saja kabar buruknya terlebih dahulu.” Kata.

“Kabar buruknya adalah The Sinners masih berada di sekitar kita, mereka tidak pergi meninggalkan bumi ini!”

Beberapa wajah yang kulihat benar-benar tercengang. Terutama Alan, mungkin selama ini ia mengambil keputusan seolah The Sinners tidak berada di bumi. Tea menutup mulutnya menggunakan bukunya. Aku merasa aku semakin dekat dengan Diabolos, karena untuk pertama kaliya aku merasa aku bisa menemuinya dan menghabiskannya.

“Kau tidak serius.” Kata Malius. Ia kemudian mengangkat kakinya ke atas meja. Sungguh terlihat menakutkan. Tubuh Ryu yang jauh lebih kecil menjadikannya terlihat lemah, namun siapa yang tahu bahwa Ryu bisa mengalahkan Malius dalam hitungan detik?

“Aku punya beberapa bukti. Tapi akan sangat panjang jika aku menjelaskannya secara detil. Aku akan mulai dari yang paling umum saja. Alich, Matkun, dan Orobos, semuanya bisa membuka portal di waktu-waktu tertentu. Dan kemana menurut kalian mereka pergi?”

“Bukankah portal itu membawa mereka kembal ke neraka?” tanya Marina.

Ryu menggeleng. “Mereka hanyalah berpindah tempat, namun masih di Bumi.”

"Tapi bagaimana mungkin anak muda?" tanya profesor Dean.

"Hai Profesor, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Ryu. "Aku akan menjelaskannya nanti."

"Jangan berbicara padaku seolah aku ini anak-anak. Aku sudah menghabiskan puluhan tahun untuk bertarung melawan..." Marina menutup mulut rekan seperjuangannya itu.

"Silahkan lanjutkan." Kata Marina.

“Apa kabar baiknya?” tanyaku memotong.

“Kabar Baiknya. Aku tahu bagaimana caranya memulangkan mereka ke asalnya!”

  • view 215