Bab 8: Geo

Wisesa Wirayuda
Karya Wisesa Wirayuda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 November 2016
The 7 Sinners

The 7 Sinners


Kiamat itu hanyalah sebuah awal dari kehancuran ini. #The7Sinners

Kategori Fantasi

2.3 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 8: Geo

Wajahku menempel pada sesuatu yang lengket dan sedikit basah. Lucas benar, Orobos ada di sini. Monster itu  tiba-tiba saja membuka mulutnya dan menelanku hudup-hidup. Aku tak mengerti mengapa aku tak merasakan apapun. Dinding mulutnya tanpa kusadari sudah mengelilingiku. Aku sekuat tenaga melompat tinggi namun tetap saja, mulutnya tertutup sebelum aku mencapai giginya yang sepertinya sangat tajam itu.

Disini, di dalam perut monster ini, terlihat seperti lorong panjang yang tak berujung. Sejauh yang kulihat, hanyalah dinding perut monster ini yang berwarna merah muda. Aku kebingungan, entah apa yang harus aku lakukan sekarang agar bisa keluar dari sini. Apakah aku harus menunggu agar Lucas dan Sam tertelan juga? Ah, aku terlalu mengandalkan mereka. Mereka sudah cukup menolongku, seharusnya kini giliranku yang menolong mereka.

Aku berjalan perlahan sembari aku sentuh dinding perut ini. Monster ini nampaknya tidak bergerak sama sekali. Buktinya aku masih bisa berjalan bebas, tidak terpontang panting kesana kemari. Bahkan air di kakiku ini nampak tenang. Entah air dari mana ini, yang jelas baunya tak sedap sekali, warnanya saja bahkan agak kekuningan.

Dalam keheningan ini, aku merasakan ada sesuatu yang terbang ke arahku. Aku bisa merasakan kecepatan yang biasa saja jika dibandingkan dari Cory. Benda-benta yang beterbangan itu aku hadang dengan cara megalihkan arah anginnya. Semudah menghindari peluru.

“Wah, tak kusangka aku bertemu seorang adom setelah sekian lama.” Kata seseorang di balik kegelapan. “Apakah kau baru tertelan?” tanyanya. Kulihat tampilannya sangatlah kotor dan rambutnya tak tertata rapih.

“Balok kayu yang kau gerakkan tadi, bukanlah sesuatu yang kau lempar. Katakan apa yang barusan itu?” aku sengaja menghiraukan pertanyaannya. Sepertinya orang ini adalah Adom juga. Namun aku tidak yakin.

“Itu tidak penting. Tapi yang jelas, kekuatanmu sepertinya memanipulasi angin, ya?” orang ini nampaknya memiliki pengamatan yang bagus. Padahal aku sama sekali tak mengeluarkan angin yang kecang untuk menghindar dari serangannya itu. “Seranganku yang barusan adalah serangan yang tak bisa dihadang bahkan oleh tentara sekalipun. Namun yah, tetap saja, seranganku tadi hanyalah serpihan kayu. Jadi jika diganggu oleh angin sedikit saja maka arahnya akan berbelok, dan lagi di dalam perut ini tidak ada angin kencang atau apapun. Jadi itulah kesimpulanku. Kehadiranmu di sini sepertinya sudah ditakdirkan, kau akan membantuku keluar dari sini.” Katanya yakin.

“Keluar dari sini? Aku kira akan mudah untuk keluar dari sini.”

“Kau nampaknya belum mencobanya, ya kan?”

Aku mengangguk. Kukira perut monster ini bisa aku belah begitu saja. Namun nampaknya tidak. Aku terlalu gegabah untuk memikirkan itu.

“Ikut aku.” Katanya. Ia berlajan seperti sudah terbiasa dengan situasi di sini. “Kau beruntung monster ini sedang tertidur sekarang. Jadi dia tidak banyak bergerak. Jika dia sudah bergerak, saranku kau harus berpegangan pada apapun selagi kau bisa.”

“Bagaimana mungkin kau masih hidup?” tanyaku.

“Sederhana, Orobos memakan seluruh desa, begitu pula dengan makanan-makanan dan hewan-hewan ternak. Yah, membuat api dengan bebatuan bukanlah hal yang sulit untukku. Dan yah, tentu saja aku harus menghemat. Namun Orobos memang monster yang rakus, ia hampir setiap hari menelan sesuatu yang baru. Entah sebuah rumah, atau hewan, atau sebatas bebatuan saja. Semuanya akan langsung menuju lambungnya dan perlahan asam perut akan menggerogoti benda-benda itu. Tugasku hanyalah menangkap benda-benda yang mungkin berguna sebelum menuju lambung. Itulah mengapa menurutku kau beruntung. Kau tidak melesat langsung ke lambung.”

Aku mengerti sekarang, jika aku tertelan lebih jauh lagi, aku akan dicerna oleh monster ini. Mengapa aku tidak memikirkan ini sejak tadi?

“Selamat datang di rumahku.” Katanya. Ia tidak bercanda. Itu benar-benar sebuah rumah yang utuh, bahkan dengan atapnya. Meskipun keadaannya sudah rusak. “Sebenarnya aku selalu berganti rumah setiap seminggu sekali, karena sudah pasti rumah ini cepat atau lambat akan terjun bebas ke lambung jika monster ini bergerak. Namun sebelum itu, kita masih bisa mengambil makanan di dalamnya. Atau mungkin benda-benda yang berguna untuk membantu kita keluar dari sini.”

“Aku tunggu di sini saja, perasaanku tidak enak sekali.” Kataku.

“Kau akan terbiasa.”

“Aku tidak mau membiasakan diri di sini aku ingin keluar.”

Orang asing itu menghembuskan napasnya. “Kau memang harus banyak belajar. Sekarang kau coba saja sayat perut monster ini menggunakan pedangmu itu.” Ia menantangku. Kugenggam gagang pedangku, kuarahkan konsentrasiku pada ujung pedangnya. Kini pedangku berwarna kehijauan, angin kencang menerpaku dan mengelilingi pedangku. Sekuat tenaga kuayun pedang itu ke arah dinding perut Orobos. Ini serangan yang sama seperti yang kulakukan pada Alich beberapa waktu lalu. Serangan yang mampu membuatnya berdarah. Seharusnya serangan ini juga berhasil pada Orobos.

Namun ternayata tidak, dinding Orobos sama sekali tak terluka, bahkan tidak ada respon apapun darinya. “Kau mengerti sekarang? Tidak ada gunanya. Jadi lebih baik kita pikirkan bersama-sama apa yang harus kita lakukan sekarang. Aku punya rencana, kau mau dengar?” tanyanya.

***

Entah berapa lama lagi aku harus menunggunya. Orang aneh itu kini sedang mempersiapkan sesuatu. Aku sendiri disuruhnya untuk menunggu dan memersiapkan pedangku. “Aku hanya butuh kau untuk menghadang apapun yang akan datang nanti selagi aku mempersiapkan ini.” Katanya tadi. Aku masih belum mengerti apa yang akan menghadang kami nanti.

Kurasakan tubuh monster ini mulai bergetar. Kemudian aku melihat seseorang berlarian ke arahku, orang aneh itu kini sudah berada di hadapanku. “Ada apa ini?” tanyaku.

“Orobos sudah mulai bergerak. Sudah waktunya untuk makan. Dia akan menelan sesuatu dan apapun yang ia telan itu sebisa mungkin kau harus menghadangnya.”

“Tapi bagaimana?” tanyaku. “Sejauh ini aku hanya bisa memotong sesuatu dengan pedangku, bukan menghadang sesuatu.”

“Seorang prajurit, selain dia tahu bagaimana untuk menyerang, ia juga harus tahu bagaimana untuk bertahan. Entahlah, mungkin kau bisa terbangkan sesuatu atau semacamnya. Aku mengandalkanmu. Kau ingin keluar dari sini kan?” tanyanya. Kemudian ia berlari menuju tempatnya berasal.

Orobos kemudian mulai bergerak secara vertikal. Kurasakan tempatku berdiri mulai terangkat. Seketika saja lorong ini menjadi jurang yang dalam. Aku tak mengerti bagaimana orang aneh itu bisa bertahan betahun-tahun dalam kondisi seperti ini.

Pedang yang sejak tadi kupegang kutancapkan di dinding perut bagian dalam ini. Kulihat aku berhasil membuat luka yang cukup dalam, namun tidak ada darah yang keluar. Kudengar sesuatu mulai berjatuhan dari arah mulut Orobos. Apakah ini yang dikatakan orang aneh itu untuk kuhadang?

Jika membayangkan beberapa batu saja sepertinya aku masih bisa menghadangnya. Namun yang terjatuh ini sepertinya beberapa puing bangunan. Aku bisa melihat pintu dan jendela yang juga terjun bebas menuju lambung Orobos. Aku melewatkan reruntuhan itu dan tak bisa menghadangnya. Pedangku kugunakan untuk menahan diriku agar tak terjatuh. Apa lagi yang bisa kulakukan? Aku juga tak mendengar apapun dari orang aneh itu, sepertinya ia sudah saatnya untuk tertelan.

Kudengar sesuatu yang bertubrukan di bawah sana. Kulihat ada beberapa puing-puing yang beterbangan kembali ke atas. Aku tidak mengerti bagaimana mungkin beberapa puing-puing ini bisa terlembar kembali. Apakah itu ulah si orang aneh itu?

Aku cabut pedangku dari dinding perut Orobos dan membiarkan diriku terjun bebas sampai aku melihat sesuatu. Orang aneh itu berdiri di sebuah kayu-kayu yang saling menyilang satu sama lain sehingga terlihat sepertinya orang aneh ini juga sedang berusaha untuk mengahdang apapun untuk terjun ke lambung orobos. Tapi kenapa?

“Mengapa kau biarkan puing-puing itu berjatuhan? Bukankah sudah kukatakan padamu untuk menghadangnya?” tanyanya.

Aku mendarat di salah satu balok kayu besar yang ada. “Pedangku kugunakan untuk menahan tubuhku, aku tak bisa melakukan apapun.” Aku merasakan sesuatu sedang berjatuhan lagi. Kufokuskan pikiranku ke pedangku dan kemudian mengibaskan pedangku ke arah atas. Udara yang kuat menekat reruntuhan itu. Namun tidak untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya puing-puing itu berjatuhan kembali. Aku mempersiapkan diriku untuk kembali menekan dengan udara. Namun sesuatu melesat cepat dari arah bawahku. Kayu-kayu yang sama seperti tempatku berpijak bergerak dan menghancurkan puing-puing itu menjadi ukuran yang lebih kecil, menyisakan kayu-kayu dari puing-puing itu. Aku mencari siapa yang mengendalikan kayu-kayu ini. Namun aku tak melihat siapapun dengan mantranya. Aku hanya melihat orang aneh itu hanya berdiri beberapa meter dariku.

“Aku mengerti sekarang. Kau nampaknya Adom baru.” Katanya sembari menangkapi beberapa balok kayu yang bisa ia gapai.

Aku mengangguk meskipun aku tak mengerti apa maksudnya. “Kau Adom juga?”

“Yah, tapi aku bukanlah Adom seperti yang kau bayangkan. Aku tidak belajar sihir dari siapa-siapa. Aku mempelajarinya sendirian, dan setelah itu aku tertelan oleh Orobos. Sial sekali.”

Aku terdiam.

“Aku benar-benar tidak mengerti padamu. Apakah kau tidak merasakan sesuatu? Seperti bahaya atau keinginan untuk menolong?” pertanyaannya benar-benar aneh. Aku tak tahu harus menjawab apa.

“Kau bahkan tak menjawab pertanyaanku. Baiklah, sepertinya memang aku tidak bisa banyak mengandalkanmu.” Katanya.

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ia maksud. Tentu saja aku merasakan bahawa. Aku berada di dalam perut monster besar, apa yang bisa lebih buruk dan bahaya dari ini? “Jadi bagaimana kita bisa keluar dari sini?” tanyaku. Aku malas berbasa-basi.

Orang itu hanya memandangiku. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau tidak berniat untuk menolongku, ya kan?”

“Aku takut terjadi sesuatu pada teman-temanku. Itu satu-satunya yang kukhawatirkan sekarang.” Kataku.

“Kau bahkan tak berpikir jika kau gagal keluar dari sini itu sama saja artinya kau akan mati?”

“Aku tahu teman-temanku akan membantuku jika itu terjadi.”

“Baiklah, terpaksa aku harus menyadarkanmu.” Katanya. Tempatku berpijak mulai bergerak dan membuatku terjatuh dari atasnya. Kugunakan pedangku untuk menggapai sesuatu. Namun kayu-kayu itu bergerak untuk menghadang gerakanku. Aku melihat orang aneh itu tidak bergerak sama sekali dari berdirinya. Ia yang menggerakkan kayu-kayu ini. Namun aku tidak mengerti bagaimana ia melakukan itu. Adom, sejauh yang kulihat, hanya bisa menggunakan sihirnya jika ia berfokus pada sihirnya. Namun orang ini, sembari ia terus menyerangku, ia sembari menyiapkan kembali balok-balok kayu yang lain.

Semakin lama, aku semakin terpojokkan semakin ke dalam. Jika aku biarkan ini aku akan ditelan oleh Orobos. Aku coba untuk menghadang beberapa kayu yang menyerupai ular itu dengan pedangku. Aku berhasil menghancurkan beberapa, namun jumlahnya yang banyak tidak bisa aku tangani semuanya.

“Jika kau memang hebat dan bisa menghadapi semuanya sendirian, sebaiknya kau bisa keluar dari sini sendirian. Tak perlu kau menanyakan padaku caranya untuk keluar.” Katanya.

“Kau sama sekali tak akan pernah mengerti apa yang aku pikirkan!” Kataku sembari terus menghadang serangannya dan berusaha untuk tidak semakin terdorong ke bawah.

Orobos bergerak lagi, kini tubuhnya mulai menurun dan memposisikan dirinya secara horizontal, meskipun tak lurus sempurna. Ini waktu yang sempurna untuk menyerang orang ini. Aku fokuskan sihirku pada kakiku dan melesat sekuat tenagaku.

“Aku sudah tahu kau akan datang dari arah itu dengan kecepatan itu. Aku memang tak bisa meremehkanmu.” Sebuah tembok dari kayu muncuk di hadapanku. Pedangku tak bisa menembusnya. Tembok itu kemudian semakin meluas, lapis demi lapis terus bertambah di sisi-sisinya. Orang ini berniat untuk menutup akses jalan keluar untukku.

Terdengar suara dari balik tembok kayu ini, suara kayu-kayu yang bergerak dan merapat menjadi dinding yang lain. Kuhancurkan dinding di hadapanku ini dengan sekuat tenaga, dan kudapati tembok yang lain sudah menutup. Kurasa orang ini ingin mengulur waktu saja. Aku harus cepat. Sebaiknya aku segera hancurkan semua tembok-tembok ini sebelum Orobos bergerak lagi.

Kuhancurkan lagi tembok di hadapanku, lagi dan lagi hingga berpuluh-puluh kali. Sampai akhirnya aku bisa melihat orang aneh itu sudah menungguku dengan sebuah meriam kayu yang besar. Dengan meriam sebesar itu sudah pasti ia berniat mendorongku kembali ke arah lambung Orobos. Badanku rasanya sudah lelah sekali. Tembok-tembok tadi aku rasa bukanlah untuk mengulur waktuku, melainkan untuk menghabiskan tenagaku.

“Adom baru memang belum terbiasa menggunakan kekuatannya dalam waktu yang lama. Ternyata dugaanku benar. Kuharap keangkuhanmu bisa menahan seranganku yang ini.” Katanya.

Ia kemudian menembakkan meriamnya itu. Pelurunya yang super besar itu melesat ke arah wajahku. Tidak mungkin lagi aku menahan peluru sebesar ini. Namun aku masih memposisikan pedangku untuk melawan. Aku belum bisa menyerah. Aku harus keluar dari sini bagaimanapun caranya. Aku tidak bisa membiarkan Sam dan Lucas cemas. Perasaan lima belas tahun yang lalu tidak boleh terulang lagi. Aku bukanlah Geo yang dulu yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Vent, Counter!”

Cahaya hijau muncul tepat di ujung pedangku. Begitu pedangku bersentuhan dengan peluru raksasa itu, muncul lah angin yang luar biasa kencang. Bola peluru itu berputar-putar tepat di hadapan wajahku. Hanya berjarak diantara pedangku. Kupaksakan tanganku untuk mengayun pedangku dan melempar bola peluru itu ke arah sebaliknya dengan kecepatan yang sepertinya lebih cepat dari sebelumnya. Aku berlutut setelah bola itu terlempar. Namun orang aneh itu berlari ke arahku, menghindari serangannya sendiri nampaknya bukans esuatu yang sulit baginya. Atau memang ia sudah merencanakan ini semua. Aku kembali menyiapkan pedangku, namun rasanya aku tidak bisa lagi bertempur.

“Fokuskan sihirmu yang tadi ke kakimu, sekarang! Kita harus mengejar bola itu. Bola itu akan membuka jalan keluar kita!” Katanya.

Aku hanya mengangguk. Sekuat tenaga aku paksa tubuhku ini untuk berdiri dan orang aneh itu aku angkat di punggungku. Sihir yang sama aku fokuskan di kakiku, dan aku merasakan ada angin yang mendorong tubuhku. Dilontarkannya aku sekuat tenaga. Melesat menembus keputusasaan dan kegelapan.

Tubuh Orobos mulai bergerak, sepertinya bola meriam di hadapanku itu memberi suatu pengaruh padanya. Di dalam perutnya yang bergerak-gerak ini aku mulai kehilangan keseimbangan. Aku hampir beberapa kali menabrak dindingnya. Namun orang aneh di punggungku ini menggerakkan kayu-kayunya untuk membuka jalan.

Hingga akhirnya aku melihat sebuah titik cahaya. Orobos membuka mulutnya lebar-lebar. Begitu peluru kayu itu berhasil keluar dari mulut Orobos ini, kamipun begitu. Kami terus melesat ke angkasa hingga akhirnya dorongan angin di kakiku sudah hilang. Kami mulai meninggalkan peluru yang masih melayang.

Kami mendarat di hamparan pasir yang luar. Pasir ini rasanya panas sekali. Dan entah dimana ini. Orang aneh itu terlihat kegirangan karena kami berhasil keluar. "YEAH!" teriaknya.

“Ayo, kita harus segera menyingkir dari sini sebelum Orobos menelan kita lagi.” Katanya.

Kakiku rasanya sudah lemas sekali. Jadilah orang aneh ini membopongku menuju reruntuhan bangunan. Aku masih memproses di pikiranku tentang apa yang terjadi. Tak kusangka keluar dari mulut Orobos akan sesulit itu.

“GEO!” teriak seseorang dari jauh. Itu Sam. Seperti biasa, ia selalu mencemaskanku. Ia berlari disusul oleh Lucas. Sam kemudian mengarahkan telapak tangannya pada orang aneh yang berada di sampingku ini.

“Wow, wow, wow... tahan dulu seranganmu itu anak muda.” Katanya.

“Kau...” Lucas mengenali orang ini.

“Hai... lama tak jumpa.”

“Ryu!”

“Ryu?” Tanya Sam.

“Anggota Barrier yang sudah lama menghilang.”

Aku pun ikut tersentak. Jadi selama ini aku tertelan oleh Orobos bersama sang legenda. Adom yang mampu menguasai sihirnya dalam sehari. Itulah mengapa ia tak perlu lagi menggerakkan tangannya untuk melakukan sihir.

Sam menghampiriku untuk melihat keadaanku, aku katakan padanya bahwa aku baik-baik saja.

Di bawah terik sinar matahari, aku melihat Lucas sedang bertanya banyak hal pada Ryu. Dan disaat itu pula lah, aku merasakan ada harapan baru untuk keberlangsungan hidup umat manusia.

  • view 262

  • Wisesa Wirayuda
    Wisesa Wirayuda
    9 bulan yang lalu.
    Ceritanya lanjut ketika view (jumlah) sudah 500 ya... Sekalian kasih waktu buat yang belum baca kelanjutannya

    Sekalian saya fokus ke kerjaan dulu hehehe

    Terima kasih sudah baca

    • Lihat 2 Respon