Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 3 November 2016   11:56 WIB
Bab 7: Orobos

Entah apa yang dipikirkan oleh Lucas. Ia tiba-tiba saja membangunkanku dan Geo di malam hari. “Kita harus pergi dari sini.”

“Ini sudah malam...” Kata Geo sembari masih memejamkan matanya.

“Ayolah, ini penting.”

Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun, pertemuan Adom tadi siang cukup menguras tenaga dan pikiranku. “Pergi kemana?” tanyaku.

“Aku tau dimana Orobos!” katanya dengan nada yang yakin. “Atau yah, minimal aku tahu dimana desa yang pernah diserang oleh Orobos.”

“Mengapa sekarang? Masih ada hari esok.”

“Apakah kah kau masih bisa bicara seperti itu jika the Sinners bisa muncul kapan saja sekarang? Kau ingat perkataan Alan tadi siang bahwa kita harus terus waspada meskipun Matkun hanya bisa membuka portal itu satu bulan lagi?”

Aku menghembuskan napas panjang. Tugas pengabdian pada dunia ini benar-benar melelahkan. Baru kurang lebih tiga hari yang lalu kami melawan Matkun, sekarang Lucas sudah berbicara untuk mencari Orobos!

“Yah, dan Alan juga menyuruh kita untuk istirahat malam ini, bukan?” tanya Geo.

“Ayolah! Aku sudah mengerti sesuatu, aku hanya ingin memastikan. Jika kalian ingin membantuku, inilah saatnya. Aku janji jika aku sudah menemukan apa yang kucari, kita langsung kembali kesini. Bagaimana?”

“Baiklah, aku siap-siap dulu.” Geo bangun dari tidurnya. “Badanku rasanya remuk sekali.”

“Kau baik-baik saja.” Kata Lucas. “Kau ikut Sam?”

“Aku tak yakin, bagaimana jika yang lain mengetahui kita pergi tanpa izin?”

“Sejak kapan kau sangat patuh pada mereka, Sam?” tanya Lucas meledek.

“Yah, sejak kurasa mereka adalah teman-temanku, dan kita semua memiliki nasib yang sama.”

“Aku juga bernasih sama dneganmu, jadi kau harus patuh padaku.” Ledeknya lagi.

“Diam kau!” aku bangkit dari tidurku, mataku masihlah sulit untuk terbuka penuh. Sepertinya aku belum tertidur lama. “Siapkan saja mantra pindah tempatmu itu, aku akan siap dalam lima menit.”

“Kau meremahkanku, kita bisa pergi kapan saja!”

Aku bergegas bangkit dari tempat tidur, mencuci mukaku dengan air, dan mengatur rambutku sedikit. Tak lupa aku bawa pistol pemberian Blake yang katanya kini menjadi milikku. Pistol ini sedikit berubah sejak aku menembakkan cahaya darinya. Muncul seperti corak-corak pahatan pada permukaannya, benda ini menjadi benda sihir sekarang.

 “Aku siap.” Kataku akhirnya. Aku berjalan menemui Geo dan Lucas yang sudah siap beraksi juga.

“Pertama-tama kita harus menyelinap keluar.” Kata Lucas.

“Mengapa tidak kita langsung teleportasi dari sini saja?” tanya Geo.

“Apa aku sudah pernah bilang kalau Barrier menghadang jalur teleportasi apapun?”

Aku dan Geo terdiam.

“Sepertinya aku lupa memberitahukan detil-detil tempat ini. Akan kulakukan nanti, kita harus bergegas.”

Keluar dari ruangan, kami mengendap-endap di lorong yang gelap menuju pintu utama. Ada beberapa lilin di dinding yang menyala, sehingga menyulitkan kami untuk melihat apa yang ada di depan sana. “Apa perlu aku mengeluarkan cahayaku?” tanyaku.

Lucas melarangku dengan tangannya, tak mau bersuara. Aku dan Geo mengikutinya dari belakang. Setelah belokan di ujung lorong, kami akhirnya melihat pintu besar utama itu. Sejauh ini, keadaan masih sepi dan aku yakin tidak ada yang melihat kami.

Sesampainya kami di sebuah portal di luaran gedung. Lucas segera membawa kami ke suatu tempat dengan terik matahari yang langsung saja membakar mataku. Sepertinya kami berada di sisi permukaan bumi yang lain. Bumi itu bulat, bukan?

Di sekitarku sekarang adalah hamparan pasir gersang yang menutupi beberapa puing-puing bangunan. “Kita sudah sampai di Gurun Helbona.” Kata Lucas.

“Tak mungkin, Helbona adalah desa besar di sebuah bukit.” Kata Geo. Helbona adalah nama desa yang sangat terkenal. Di desa ini banyak orang yang berjualan bahan makanan. Bisa dikatakan Helbona adalah desa yang menjadi gudang makanan bagi beberapa desa lainnya. Jika ingatanku benar, pernah terjadi tragedi pada sebuah protes besar-besaran masyarakat miskin luar Helbona karena kesulitan mengakses bahan makanan yang melimpah itu, namun bukannya mendapatkan makanan, apa yang demonstran itu dapatkan adalah peluru besi yang kemudian bersarang di jasad kepala mereka. Makanan sepertinya bisa membawa malapetaka juga, mungkin itulah mengapa Orobos datang ke desa ini. Seperti kata Tea di pertemuan kemarin, Gluttony adalah dosa yang mewakili dosa kesia-siaan, kerakusan, dan pemborosan.

“Yeah, kurasa Orobos benar-benar menghancurkan desa ini sampai ke akarnya.” Kata Lucas.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Oh, kukira kalian sudah mengerti. Ini kesimpulanku. The Sinners memiliki ciri khas sesuai dengan gelar dosa apa yang mereka sandang. Alich, yang mewakili dosa Sloth, mempunyai kuku dan rambut yang panjang, dan ia juga malas bergerak. Matkun, yang mewakili dosa Lust memiliki karakter yang halus sehalus bayangan yang bisa merasuki siapapun, seperti hasrat yang berasal dari hati nurani seseorang. itu yang baru aku lihat dengan mataku sendiri. aku masih belum yakin dengan iblis yang lain.”

“Dan Orobos?” tanya Geo.

“Menurut sumber yang kudapat, Gluttony adalah dosa akan keserakahan manusia pada makanan. Itu sederhananya. Lebih kompleksnya, Orobos adalah monster dengan mulut yang besar. Kalian mengerti?”

“Aku kira gelar dosa mereka hanyalah sebatas gelar saja, aku tidak pernah berpikiran sedetil itu.” Kataku.

“Bagaimana dengan Steve?” tanya Geo.

“Ada apa dengannya?” Lucas balik bertanya.

“Yah, kulihat ia...”

“Gemuk?” tanyaku dan Lucas bersamaan. Geo menahan dirinya dari tawaannya.

“Tidak, Steve bukan berasal dari Helbona.” Kata Lucas. Kemudian ia terlihat sedang mengamati sekitarnya.

Aku penasaran apa yang dimaksud Lucas dengan ‘monster bermulut besar’ itu. Apa yang coba digambarkan oleh monster ini? Apakah maksudnya Orobos menelan desa ini? “Apakah kau yakin kita bisa menemukan sesuatu di sini?” tanyaku. Kami kemudian berjalan ke arah puing-puing yang masih menggambarkan sisa kehidupannya.

“Aku tidak yakin. Tapi Paula saja bisa menemukan catatan-catatan aneh di desa tempatnya bertugas. Seharunya kita juga bisa mendapatkan itu.”

Desa yang menurut Geo seharusnya desa di atas bukit ini kini begitu gersang dan panas. Aku rasa aku tak sanggup berlama-lama di sini, rasanya aku selalu merasa haus.

“Teman-teman!” Geo berteriak dari arah belakang. Begitu aku membalikkan badan, kulihat sebuah badai pasir sedang menerjang ke arah kami semua. “Kalian berdiri di belakangku!” aku dan Lucas berlarian ke arah punggung Geo, dan kemudian Geo memposisikan telapak tangannya ke arah badai itu. Dengan telapak tangannya, Geo membelah badai itu sehingga kami bertiga berada di tengah-tengahnya tak tersentuh oleh pasir-pasir itu.

Begitu badai itu berlalu, kulihat Lucas berputar arah dan memperhatikan perginya badai pasir itu.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kalian merasakannya juga?”

Aku memandangi Geo. Kurasa Lucas kembali menghilang dalam pikirannya. “Tidak.”

“Aku merasakan sesuatu pada badai itu.”

“Yang kurasakan hanyalah angin yang kencang. Jika ada sesuatu yang terbawa pada badai pasir itu, aku sudah pasti bisa merasakannya.” Kata Geo.

“Tidak, bukan pada badainya. Tapi di bawah kaki kita.” Lucas kemudian memandangiku dan Geo secara bergantian.

“Aku tidak mengerti.” Kataku.

“Aku sendiri tak yakin, kita harus segera mencari tahu apa yang terjadi pada desa ini!” Kami bertiga kemudian berlarian menuju puing-puing yang berjarak beberapa puluh meter di hadapan kami. “Apapun yang kalian dapatkan, laporkan padaku. Kita menyebar.” Kata Lucas.

Kulihat Geo kemudian melesat dengan kecepatan anginnya, dan kusadari Lucas sudah menghilang dari sampingku. Sedangkan yang kulakukan hanyalah berlari sendirian. Ii tak adil rasanya.

Di hadapanku kini adalah sebuah sisa bangunan yang sama sekali sudah tak berbentuk. Masih tersisa sedikit dari atapnya. Sedikit menolongku dari panas terik matahari. Kuteliti dindingnya, bebatuan, atau apapun yang sepertinya aneh. Namun aku tidak menemukan apapun. Tempat ini benar-benar sudah tak bersisa apapun. Bahkan informasinya. Kulanjutkan berjalan menuju puing-puing lainnya. Semuanya nampak sama.

“Sam? Kau menemukan sesuatu?” Lucas kemudian muncul di belakangku.

“Tidak, semuanya nampak sama saja. Dinding, batu-batunya, atap, semuanya sama.”

“Itu karena semua rumah di desa ini memiliki bentuk yang sama.”

“Sepertinya begitu. Apakah kau menemukan rumah kepala desaya atau bangunan besar? Gereja mungkin?”

“Tidak. Itu yang kuherankan juga. Tidak ada bangunan besar yang tersisa.” Lucas terlihat berpikir panjang lagi. “Sam, aku mengerti sesuatu.”

“Apakah Orobos menelan bangunan-bangunan besarnya?” tanyaku.

“Ya, karena orang-orang desa pasti mengungsi ke bangunan yang lebih luas. Seperti yang dilakukan orang-orang desa kita.”

“Tunggu dulu, maksudmu orang-orang di desa ini... ditelan oleh Orobos?”

Lucas tak menjawab pertanyaanku seperti biasanya.

“Kurasa kita sudah selesai dari sini, kita harus kembali ke Barrier. Kita cari Geo terlebih dahulu.” Aku hanya mengangguk.

Beberapa langkah dalam perjalan, aku menemukan sesuatu yang terbang di udara. Selembar kertas putih yang sudah terlihat usang. “Lucas!” kataku bermaksud memberitahukannya.

“Kejar!” Lucas dan aku kemudian berlarian. Kertas itu terbang tertiup angin kencang. Aku tidak yakin mengapa kami mengejar kertas itu seperti kami mengejar sesuatu yang berharga. Karena bisa saja kertas itu hanyalah kertas kosong tak berarti apapun. Namun kertas itu juga bisa saja berisi satu atau dua kalimat yang bisa membantu kami. Jika Geo tiba-tiba menghilang, sepertinya kertas itu bisa mudah untuk diambil.

Angin sekitar sini kemudian semakin mereda, kertas itu tak lagi terbang tinggi. Lucas, dengan kakinya yang belum lama ia dapatkan kembali, melompat sekuat tenaga dan berhasil menggapai kertas itu.

“Ada tulisan apa disana?” tanyaku.

“Ini halaman sebuah buku. Menurutmu jika kita bawa ini ke Tea, ia bisa mengingat sisa halamannya?”

“Tergantung apakah ia sudah baca bukunya atau belum, kan?”

“Kalau begitu kita harus kembali ke Barrier sekarang. Kau sudah melihat Geo?”

Aku menggeleng. Aku tidak melihat Geo dimanapun. Sejauh mataku memandang, semuanya hanyalah hamparan pasir dan beberapa puing bangunan.

“Bagaimana mungkin orang sebesar dia bisa hilang?” Lucas menghembuskan napasnya.

“Ayo kita cari saja dia.” Kataku. Kami mulai berjalan. Lucas kemudian membaca halaman buku tak jelas yang ia dapatkan itu.

“Aku benar-benar tak bisa menangkap apapun. Kalimatnya terputus.”

“Ada kalimat yang menarik, entahlah mungkin bisa dijadikan petunjuk atau semacamnya?” tanyaku.

“Ini. Tidak semua masa lalu dapat diulang dan tidak semua masa depan bisa berubah.” Dan kemudian ia menatapku. Lucas mengerti sesuatu. Namun aku tidak. “Kita harus mencari Geo!” Katanya.

Karya : Wisesa Wirayuda