Bab 6: Adom

Wisesa Wirayuda
Karya Wisesa Wirayuda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Oktober 2016
The 7 Sinners

The 7 Sinners


Kiamat itu hanyalah sebuah awal dari kehancuran ini. #The7Sinners

Kategori Fantasi

2.4 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 6: Adom

“Apa?! Kau kembali ke masa lalu?” Geo tersentak.

“Jangan terlalu keras!” Lucas segera menutup mulut Geo dengan tangannya. Ia sampai harus bangkit dari tidurnya. Kini giliran Lucas yang terbaring setelah ia nampaknya menghabiskan seluruh tenaganya untuk melakukan sihirnya itu.

“Seberapa jauh kau bisa mengembalikan waktu?” tanyaku.

“Pertanyaan bagus. Sejauh ini aku hanya memutar waktu sampai 4 jam ke belakang. Jadi jangan bayangkan kita akan kembali ke masa lalu sebelum Diabolos datang.” Katanya. Itu juga hal pertama yang muncul di kepalaku saat Lucas mengatakan ia bisa kembali ke masa lalu dan menyelamatkan Blake.

“Tapi kenapa?” tanya Geo.

“Entahlah, saat itu aku hanya panik. Aku berpikir untuk melakukan segala cara, dan ya, aku ingat ada sebuah buku tentang sihir memanipulasi waktu. Mengapa tidak aku mencobanya?”

“Apakah aku bisa melakukannya?”

“Kurasa tidak, karena di buku itu tertulis hanya orang-orang yang bisa menggunakan sihir yang berkaitan dengan waktu saja yang bisa melakukannya. Contohnya diriku yang menggunakan teleportasi. Mungkin ada juga orang lain yang menguasai sihir memanipulasi waktu, aku hanya belum menemukan orang lain.”

Aku semakin merasa bahwa kekuatanku bukanlah apa-apa dibandingkan Geo dan Lucas. “Jadi, bisa dikatakan kau juga bisa melihat masa depan?” tanyaku.

Lucas kembali berbaring, “Mungkin lebih tepatnya aku mengubah masa depan dengan mengubah masa lalu. Ini tidak sekeren yang kalian kira, bisa jadi aku justru mengubah masa depan ke arah yang lebih buruk. Iya kan? Dan lagi, menggunakan sihir ini dibutuhkan banyak tenaga. Aku merasa aku tidak bisa lagi menggunakan teleportasi sesering sebelumnya. Sihir ini benar-benar menguras tenagaku.”

“Oh ya, kau bilang zombie-zombie itu kau biarkan hidup? Apakah itu tidak apa-apa?” Geo memiliki pertanyaan yang bagus.

“Aku masih belum tahu, tapi sejauh yang kupahami, portal itu hanya bisa dibuka ketika bulan purtama, lebih tepatnya ketika warna bulannya agak kemerahan. Matkun sudah melewatkan kesempatannya kemarin malam, jadi bisa dikatakan ia akan kembali mencoba membuka portal itu tiga puluh hari dari sekarang. Yah, setidaknya itu yang kupikirkan saat itu...”

Seketika saja, Cory sudah berada di antara kami, aku sangat lambat untuk menyadarinya. Geo pun terlihat sudah menarik pedangnya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Aku kemari tidak untuk membuat onar.” Kata Cory. “Kudengar dari kakakku, kau bisa kembali ke masa lalu dan menyelamatkannya?” Cory nampak dingin. Geo kembali duduk di kursinya. Namun memposisikan pedangnya di sebelahnya. Geo terlihat sangat waspada dengan posisinya itu, ia nampak bisa langsung melompat dan menyerang Cory kapanpun.

Lucas terdiam dan memandangi Cory, wajah Lucas terlihat kelelahan untuk berdebat. “Ya, tapi itu kulakukan hanya semata-mata aku ingin menolongnya. Aku tidak memikirkannya lebih jauh, aku masih membiarkan Matkun hidup.” Katanya mencoba untuk berkata jujur.

Cory menghembuskan napasnya. “Aku tidak tau mana yang terburuk saat ini, kembalinya the Sinners atau aku kehilangan kakakku.”

“Itu juga yang aku pikirkan sekarang. Tapi yang terpenting, dirimu tidak sendirian ketika the Sinners benar-benar akan datang.”

“Aku tidak membutuhkan pertolongan siapapun.” Kata Cory.

“Aku mengerti. Tapi asal kau tahu, kau akan bersedih jika kau kehilangan Blake.” Lucas megatakan itu karena ia sudah tahu masa depan dari matinya Blake.

Cory terdiam. Ia nampak berpikir panjang.

“Aku sudah tahu aku hanya akan membuat posisiku menjadi dilematis.” Kata Lucas.

“Apa menurutmu kita harus membicarakan ini dengan Alan?” tanya Cory akhirnya.

“Aku pikir, kita harus mengumpulkan semua anggota Barrier di manapun mereka berada.” Kata Lucas.

***

“Menurutmu apa yang paling terburuk akan terjadi?” tanya Geo berbisik padaku. Kini kami sudah duduk di sebuah ruangan yang lumayan luas tempat sebuah pertemuan biasa dilakukan. Di antara kami semua ada meja putih melingkar indah.

“Maksudmu? Kau bisa membayangkan sesuatu yang lebih menyeramkan dari kembalinya the Sinners?” tanyaku balik padanya.

“Yah, kurasa itu memang yang paling buruk.”

Ruangan ini begitu sepi. Belum banyak orang yang datang ke sini, sejauh mataku melihat kini barulah ada aku, Geo, dan Lucas yang sibuk mengobrol dengan Alan. Mungkin pada saat sekarang ini undangan yang disebut-sebut oleh Tea barulah dikirim. Entahlah.

Alan terlihat sedang mendiskusikan sesuatu. Ia sampai membuat permukaan meja di hadapannya menjadi hamparan peta tiga dimensi untuk memperjelas maksudnya, meskipun petanya tidak berwarna. Ia terlihat menunjuk-nunjuk peta buatannya itu, peta itu nampak hidup mengikuti jarinya.

“Alan, mereka sudah di sini.” Kata Cory secara tiba-tiba, tapi Alan tampak tak kaget atau tersentak sekalipun. Nampaknya ia sudah terbiasa dengan tingkah laku anggotanya yang satu itu.

Peta buatan Alan kini perlahan mendatar kembali menjadi dataran meja yang halus. “Baiklah, kita mulai pertemuan ini.” Katanya.

Dibukanya pintu ruangan ini lebar-lebar oleh Cory. Satu per satu anggota Barrier bermunculan. Diawali oleh Tea dengan kaa matanya, penjaga perpustakaan Barrier. Disusul Blake dengan beberapa perban menutupi kepalanya. Kemudian ada Steve yang terlihat mengunyah sesuatu.

“Wah! Ternyata kalian masih hidup!” itu Rin. Anak misterius yang muncul dan kemudian langsung pergi begitu saja ketika kami pertama kali bertemu. Aku tak melihat asap-asap gelap yang menutupinya seperti kala itu. Lucas hanya melambaikan tangannya padanya.

Satu per satu dari mereka langsung menempati tempat duduk yang sudah disediakan. Sejauh ini semuanya adalah orang-orang yang sudah pernah aku lihat. Sampai muncul seorang kakek-kakek dan seorang anak perempuan. Kakek-kakek itu nampak lemas sekali, ia bahkan berjalan menggunakan tongkat. Matanya sudah tidak terbuka lebar dan ia memakai jas yang sangat elegan. Sedangkan anak kecil itu, penampilannya lebih mirip boneka keramik yang biasa dipajang di etalase. Mengenakan topi bundar berwarna hitam, dan senyumnya sangat menyeramkan buatku.

Mereka berdua berjalan beriringan, si anak kecil sembari menuntun si kakek. “Profesor Dean, Marina.” Sapa Alan hangat.

Mereka berdua hanya mengangguk dan kemudian duduk di salah satu tempat duduk yang kosong. Kudengar ada seseorang yang berlarian di lorong. “TUNGGU! JANGAN MULAI DULU PERTEMUANNYA!” teriaknya dari jauh. Begitu ia sampai di pintu, iaterengah-engah dan mencoba untuk menarik napas dalam-dalam.

“Kita belum mulai, Paula. Masuklah.” Kata Alan. Perempuan berkulit hitam itu kemudian berjalan santai menuju kursinya.

“Satu, dua tiga. Empat...” Cory menghitung jumlah kami semua. “Hah! Seperti biasa si bodoh itu selalu terlambat!” katanya.

“Cory...” kata Blake mengingatkan.

“Apa? Ia memang bodoh... dan lambat.”

“Cory duduklah,” kata Alan. “Kita akan memulainya meskipun ia tak hadir sekalipun. Tutup saja pintunya.”

Cory menurut. Ia kemudian menutup pintunya. Tepat setelah pintu tertutup rapat, Cory tiba-tiba saja sudah duduk di sebelah Blake, dan kemudian seseorang berteriak dari luar.

“AAAAAAAAAH!” hal berikutnya yang kusadari adalah pintu ruangan ini sudah hancur berkeping-keping. Aku terkaget dan Geo seperti biasa sudah siaga dengan pedangnya.

“Tak perlu... anak muda.” Kata profesor Dean pada Geo.

“Malius, kau bisa mengetuk saja pintunya. Aku akan pastikan kau boleh masuk.” Kata Alan. “Kau menambah pekerjaanku saja.” Alan mengarahkan telapak tangannya pada serpihan pintu yang berkeping-keping itu, dan pintu itu bersatu lagi menjadi satu. “Angkat itu untukku, Malius! Dan pasangkan kembali pintunya, kita tidak bisa memulai pertemuan ini tanpa menutup pintu itu.”

“Cih.” Malius nampak kesal, tubuhnya ang besar itu mampu mengangkat pintu ukuran besar tanpa banyak menghabiskan tenaga.

“Baiklah, kita sudah lengkap. Kita mulai pertemuan ini karena kita tidak punya waktu yang banyak.” Kata Alan.

Malius kemudian berjalan ke tepat ke arahku dan Geo, “Hai anak baru!” sapanya. “Pedang yang bagus!” katanya pada Geo. “Kita harus bertarung suatu waktu. Aku juga punya pedangku sendiri!” ia menunjukkan pedang besar di punggungnya, kemudian ia duduk di sebelahku.

“Malius...” desah Alan.

“Ya... ya... ya... maaf kapten!”

Geo mengangkat tangannya.

“Apa yang kau lakukan?” bisikku.

“Ya Geo?” respon Alan.

“Masih ada satu bangku yang kosong, apakah kita tidak menunggunya saja dulu?”

Ruangan mendadak hening. Aku sendiri tidak mengerti apa maksud dari kesunyian yang mendadak ini. Namun tetap saja, apa yang Geo lakukan benar-benar bodoh. Maksudku, di sebelahku kini ada pria raksasa dengan tinggi lebih dari dua meter. Salah berbicara sekali saja sepertinya aku sudah habis olehnya.

“Geo, kursi ini memang berpenghuni. Tapi si pemilik kursi ini nampaknya sudah tidak kembali lagi sejak sepuluh tahun yang lalu. Ia menghilang bersamaan dengan menghilangnya para Sinners. Yah, bisa dikatakan ia sudah tidak bersama kita lagi. Dan Geo, kehadiranmu, Lucas dan Sam adalah untuk mengganti posisinya yang telah lama kosong.” Jelas Alan.

“Maafkan aku, aku tidak...”

“Tak apa, salahku juga belum memberitahukan ini pada kalian. Oh ngomong-ngomong, namanya Ryu. Kalian pasti akan menyukainya jika kalian bertemu dengannya. Ia sangat baik, loyal, dan selalu menjadi panutan kami di Barrier. Ia juga salah satu dari tiga pendiri Barier selain aku dan Rin.”

Rin? Aku tercengang. Anak-anak itu adalah salah satu dari tiga pendiri Barrier. Ini sangat diluar dugaanku.

“Hah! Kau menghancurkan kejutanku. Tadinya aku ingin sedikit bermain dengan mereka, sekarang mereka akan menjadi segan padaku.” Kata Rin.

“Tidak ada lagi waktu untuk bermain...” kata Lucas.

“Lucas benar. Ini sudah waktunya untuk kita serius. Karena musuh kita sudah di depan mata. Steve, setelah penjelasan Lucas, aku ingin kau menampilkan kondisi dunia ini pada kami semua.” Steve mengangguk dan kemudian mengutak atik leptop di hadapannya.

Geo berbisik padaku. “Dunia ini sudah hancur, bagaimana bisa ia memiliki leptop secanggih itu?”

“Oh, itu adalah leptop yang sudah rusak, namun Alan memperbaikinya dan mengubahnya sedikit.” Jawab Tea dari sebrang meja.

“Mohon maaf Tea? Aku tidak jelas mendengarmu.” Kata Alan.

“Ah, bukan, aku hanya menjawab pertanyaan Geo.”

Alan terlihat sedang menghembuskan napasnya panjang-panjang. Kemudian ia menggebrak meja di hadapannya. BRAAAK! Seketika saja di atas meja kami masing-masing muncul peta tiga dimensi yang serupa dengan yang ditampilkan Alan sebelumnya pada Lucas. “Sekarang, jika sudah tidak ada lagi yang akan kalian obrolkan, sebaiknya kalian lihat peta kalian masing-masing!” Alan kemudian mengubah wajahnya dengan wajah aslinya yang bertato dan beberapa tindikkan di wajahnya.
“Kalian seharusnya tidak bercanda jika Alan sudah menggunakan wajah itu.” Kata Malius berisik.

Hah... orang-orang ini sangatlah aneh bagiku.

“Seperti yang kalian lihat, peta di depan kalian itu menggambarkan St.Valley secara akurat. Aku juga memberi tanda dimana ditemukan lingkaran-lingkaran sihir sesuai laporan Lucas dan Blake. Sedangkan titik-titik yang bergerak itu adalah jasad-jasad manusia yang dirasuki Matkun. Jumlahnya sudah tidak terlalu banyak sekarang. Namun tetap saja jumlah sebanyak itu bisa untuk sampai membuka portal. Penjelasan lebih lanjut akan disampaikan oleh Lucas. Tolong dengarkan.” Alan kemudian mempersilahkan Lucas untuk berdiri dan menyampaikan poin-poinnya.

“Terima kasih Alan.” Lucas menarik napasnya dalam-dalam. “Lima belas tahun yang lalu, the Sinners muncul begitu saja ke bumi ini. Ada yang mengatakan mereka membuka portal dari neraka, ada yang mengatakan ada manusia yang membukanya. Namun yang manapun itu aku tidak tahu. Hal ini mengganggu pikiranku selama ini. Mengapa mereka tidak membuka saja portal itu dan kemudian kembali ke sini. Ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Sesuatu itu bisa jadi kekuatan kita jika kita mengetahuinya terlebih dahulu. Tapi...”

“Lagsung ke intinya saja, anak muda, aku bingung.” Kata Dean.

“Ah...” Lucas menjadi semakin gugup. “Akan kupersingkat menjadi satu pertanyaan,” Lucas berpikir panjang untuk itu, “Apa kelemahan the Sinners?”

Aku mendengar beberapa tarikan napas panjang dari orang-orang di ruangan ini. Tarikan napas panjang sepeti mereka seakan sedang mulai berpikir. Bersamaan dengan itu, Steve juga menampilkan kondisi bumi hari ini. Semuanya sama, hancur di beberapa tempat, ada sedikit kehidupan, tidak ada teknologi secanggih gadget Steve, dan aku juga bisa melihat penderitaan panjang manusia yang masih berlanjut.

“Yang kubutuhkan sekarang hanyalah informasi. Aku ingin kalian menggambarkan bagaimana sosok iblis-iblis itu. Sejauh ini aku baru berinteraksi dengan Alich, Matkun dan sekedar melihat Diabolos. Kukira kalian juga pernah melihat mereka.”

“Kau pernah melihat Dabolos?” tanya Paula.

“Yah, aku , Sam, dan Geo melihatnya sewaktu kami masih kecil. Ia datang dan menghancurkan desa kami, dan merengut semua yang berarti dari kami.”

“Ah baiklah,” kata Paula. “Aku, tidak begitu pandai menceritakan ciri-ciri sesuatu, tapi aku akan menceritakan misi mata-mataku di daerah perhutanan Amazon. Alan mengutusku ke sana setelah Asmodeus, iblis yang mewakili sifat kecemburuan manusia atau Envy, menghancurkan desa-desa di sekitar sana dan kemudian menghilang. Desa-desa itu kini tak berpenghuni, namun aku aku masih menemukan hewan-hewan berkeliaran. Aku juga menemukan catatan di sebuah reruntuhan, disana digambarkan bahwa Asmodeus adalah iblis yang mereka yakini bersemayam di perairan Amazon. Aku tidak yakin apakah Asmodeus sebenarnya masih bersemayam di sana, seperti Matkun yang tetap tinggal di bumi, aku sama sekali tak menemukan kejanggalan di sana.”

“Terima kasih, Paula. Aku akan mengingat informasi itu.” Kata Lucas.

“Jika kau lupa, kau bisa bertanya padaku, aku ingat semua hal.” Kata Tea.

“Terima kasih Tea.” Lucas mencatat sesuatu di bukunya, “Selanjutnya?”

“Aah,” Dean mengangkat tangannya. “Aku juga memiliki kenangan yang indah dengan salah satu dari mereka.” Katanya.

“Ceritakan tentang desa kita juga.” Kata Marina berbisik.

Dean mengangguk padanya. “Desa kami bernama Onorato. Sebuah desa dengan laju perekonomian yang pesat. Yah, katakanlah desa kami adalah desa yang kaya dan selalu menjadi incaran pembisnis. Mereka bilang desa kami sangat strategis. Namun ternyata tidak itu saja. Ketika masa-masa kejayaan desa kami, Greed datang, atau biasa disebut Cimeries, iblis yang mewakili dosa keserakahan. Aku sendiri melihatnya secara langsung, aku tak yakin apakah Marina pernah melihatnya atau tidak.”

“Aku masihlah berumur dua tahun saat itu, Dean. Aku tidak ingat apa yang terjadi.”

“Aah, baiklah. Sepertinya kau pernah mengatakan itu sebelumnya ya?”

“Kau selalu lupa.”

Dean tertawa sedikit. “Maaf, maaf...”

“Jadi bagaimana ciri-ciri Cimeries ini, Prof. Dean?” tanya Lucas.

“Ukurannya sangat besar, aku tak tahu berapa ukuran pastinya. Aku juga melihat sayap putihnya yang berjumlah enam. Tiga di kanan, tiga di kiri pastinya. Pertama kali melihatnya aku tidak yakin mahkluk jenis apa dia sebenarnya, ia terlihat seperti malaikat dan cahayanya sangat mengkilaukan mata. Sampai akhirnya, ia kemudian menghentakkan tongkat besarnya ke tanah, dan sejak itulah desa kami luluh lantah. Selanjutnya yang kuingat hanyalah Marina menangis di pinggir jalan, sedangkan aku terjepit di reruntuhan.”

“Aku menolongnya keluar dari reruntuhan itu, ia cukup berat untuk ukurannya.” Kata Marina.

Lucas terlihat menulis kembali di catatannya.

“Kau sudah menemukan sesuatu?” tanya Alan.

“Belum.” Lucas nampak sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. “Marius, kau punya sesuatu untuk dibagikan?”

“Tak banyak sebenarnya, kurasa. Alan belum lama ini memberikan misinya padaku untuk melihat-lihat desa terpencil bernama Hebert. Jaraknya tak jauh dari temapt Dean dan Marina melihat malaikat maut itu,” Marius nampak tak serius menceritakan ini semua. Ia tersenyum sedikit. “Hebert terletak di utara. Desa yang menurut informasi yang kudapat adalah tempatnya raja-raja dunia ini dilahirkan. Namun omong kosong, desa itu sudah habis terbakar begitu aku datang ke sana.”

“Marius, Hebert adalah desamu sendiri. Aku mengutusmu ke sana karena kau berasal dari sana.” Kata Alan. “Tolong berikan informasi yang lebih akurat meskipun aku tahu kau kesulitan untuk mengingat-ingat kejadian menyedihkan itu.”

“Tidak, itu sudah cukup.” Kata Alan. “Aku hanya ingin bertanya apakah kau pernah melihat salah satu dari the Sinners?” katanya pada Marius.

“Namanya Focalor. Ia perwakilan dari dosa keangkuhan manusia atau Pride. Ia adalah sesuatu yang disembah oleh orang-orang desaku. Mereka percaya Focalor adalah jelmaan kesatria perang yang tangguh, dengan pedang apinya, dan kuda hitam. Namun apa yang kulihat lebih daripada itu. Ukurannya bukan ukuran manusia, jadi aku tidak akan menganggapnya sebagai kesatria perang. Aku tidak ingat pasti bagaimana wujud aslinya, yang kulihat hanyalah nyala api.”

"Jika aku tak salah, desa Hebert adalah desa dimana orang-orang berukuran seperti Marius berasal. Di desa itu memang terdapat banyak sekali kesatria pedang handal yang bertubuh besar." Tambah Alan karena Marius tidak berniat memberikan informasi yang lengkap. Mungkin cukup berat untuknya menceritakan detil tentang tragedi itu.

Lucas kemudian berhenti menulis, “Bagaimana dengan Gluttony?”

Tak ada satupun yang menjawab. Kesimpulanku adalah, mereka semua belum pernah melihat Gluttony.

“Mengapa tidak kau ceritakan bagaimana rupa Diabolos? Dia iblis yang paling besar kan? Dan dia adalah pemimpinnya, ya kan?” tanya Rin.

Sungguh aneh rasanya bahkan sang pendiri Barrier sekalipun belum pernah melihat Diabolos. “Aku akan coba jelaskan.” Kata Geo berdiri dari tempat duduknya, semua mata tertuju padanya.“Saat itu kami sedang berada di gereja. Sampai akhirnya seorang perempuan berteriakkan mana Diabolos, disusul dengan beberapa orang yang juga masuk ke dalam gereja untuk berlindung. Kami yang sedang berdoa tadi langsung berhenti dan mendengarkan suara monster dari luar. Orang-orang masih terus berdatagan ke dalam gereja setelah rumah mereka hancur. Tak lama setelah itu gereja kami pun bergetar dan hancur dan hanya kami bertiga yang selamat. Hanya tersisa kami dari ratusan warga desa Chamberlin. Setelah kami bertiga pergi dari rertuntuhan itu, kami berlindung ke perbukitan, dan dari atas sana kami melihat Diabolos. Di mataku, Diabolos benar-benar besar dari ekspetasiku. Suaranya menggemparkan langit. Bentuk Diabolos seperti naga, dengan sayap yang besar. Aku juga melihat giginya yang runcing. Jika menurut kalian Alich itu besar, Kalikan dua puluh atau tiga puluh kali maka kau akan mendapatkan ukuran Diabolos.” Geo benar-benar menangkap detik tiap detik dari peristiwa yang merengut orang tuanya itu.

“Darimana kau dapakan pedang itu?” tanya Malius pada Geo.

“Aku membuatnya sendiri.”

“Tak terlalu buruk. Pedang itu sangat cocok dengan ukuranmu. Jangan tersinggung!”

Ruangan kembali sunyi. Pertemuan besar ini kini berasa seperti lingkaran peer to peer dimana orang-orang saling mencurahkan masalah hidup mereka dan mendapatkan dukungan dari peserta pertemuan yang lain.

“Aku masih membutuhkan informasi tentang Glottony. Tea, kau tahu sesuatu?” tanya Lucas.

Gluttony adalah dosa yang mewakili dosa kesia-siaan. Aku belum mengetahui bentuknya. Namun Alan mengirim Ryu untuk memata-matainya. Iblis itu bernama Orobos.”

Mataku, Geo, dan Lucas kemudian melirik ke arah Alan. Sekarang aku mengerti mengapa tidak ada yang mau menjawab pertanyaan Lucas. Kenangan ini sangatlah berdampak pada mereka semua. Menghilangnya Ryu itu berarti menghilangnya juga semangat juang Barrier.

“Aku mengerti.” Kata Lucas akhirnya.

  • view 209