Bab 5: Lucas

Wisesa Wirayuda
Karya Wisesa Wirayuda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Oktober 2016
The 7 Sinners

The 7 Sinners


Kiamat itu hanyalah sebuah awal dari kehancuran ini. #The7Sinners

Kategori Fantasi

2.6 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 5: Lucas

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ahirnya aku merasakan gelisah lagi. Aku sudah berjanji pada Sam dan Geo aku akan mengurus semuanya, namun lagi-lagi aku gagal. Sekarang Sam dan Geo terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Mereka berdua nampaknya sudah memberikan segala kekuatan untuk mengalahkan Matkun. Iblis itu benar-benar cerdas, rencananya begitu matang untuk mengantisipasi kehadiran Adom. Ia tahu bahwa kami akan datang. Dia bahkan tidak benar-benar sedang melawan kami. Apa yang dilakukan Matkun hanyalah mengulur waktu.

Kini aku berada di Barrier, sebuah ruangan kecil yang memang digunakan untuk mengobati Adom yang sedang terluka. Semacam klinik, namun terlihat seperti kamar putri raja. Tepat setelah Sam menembakkan peluru cahayanya, ia kemudian terjatuh. Namun itu belum membunuh orang-orang yang dirasuki Matkun. Ada beberapa orang yang masih bergerak, dan dengan tenaganya yang terakhir, Geo melesat dan membasmi mereka. Setelah itu ia pun terjatuh kehabisan tenaga. Setelah itu aku tak lagi berpikir panjang, aku langsung saja membaea mereka berdua ke Barrier. Wajah Alan terkaget ketika melihatku datang. Ia kemudian membantuku membopong Geo, sedangkan aku membawa Sam.

Di telingaku sekarang masih terngiang-ngiang perkataan Sam. “Aku tahu itu meskipun kau menutup-nutupinya dariku dan Geo.” Apakah itu berarti Sam tak lagi percaya padaku? Aku memang belum cukup. Bisa kembali berjalan dengan kedua kakiku saja nampaknya belum cukup.

Dalam persekian detik, aku merasakan udara hangat dekat wajahku, di saat yang sama aku sudah melihat Cory menyentuh pipi kananku dengan genggaman tangannya dan hal berikutnya yang kusadari adalah diriku sudah tersungkur dari kursiku.

“Bodoh!” teriaknya. Kurasa aku memang pantas mendapatkan itu. “Aku tak menyangka kau melepaskan Matkun begitu saja! Kau sudah gila? Kau pasti sudah gila! Hei! Lihat mataku ketika aku sedang berbicara!”

“Aku... Aku minta maaf.”

Tanpa kusadari, Cory sudah berada di dekatku lagi, ia kemudian memberikan pukulan terbaiknya ke arah wajahku, sekuat tenaga aku mengangkat tangaku untuk menghadangnya, sayangnya aku terlambat. Aku merasakan darah menetes dari hidungku. “Tidak, kau tidak bisa begitu saja meminta maaf, atau setidaknya bukan padaku. Kau memiliki hutang yang sangat besar pada peradaban manusia dengan hanya karena kau membiarkan Matkun hidup. Kau berhutang pada teman-temanmu, kau berhutang pada Blake yang kau tinggalkan sampai mati! Kau juga bahkan berhutang banyak pada Geo dan Sam!”

“Aku tahu.” Kepalaku menunduk begitu saja, kulihat darah itu menetes beberapa kali ke pangkuanku. Aku biarkan saja. Mataku sekuat tenaga kutahan agar tak menangis. Aku begitu ceroboh dan egois. Seharusnya aku melakukan sesuatu saat itu, bukannya kabur seperti pengecut. “Aku hanya ingin menolong mereka.”

“Tidak, kau justru menyulitkan dan menyia-nyiakan mereka berdua. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mencegah agar Diabolos dan yang lainnya tidak kembali. Mereka melakukan tugas mereka sebagai anggota Barrier. Sedangkan kau? Kau pengecut!” Cory sudah nampak tenang dan tak berniat memukulku lagi, namun aku masih bisa melihat ada amarah di matanya. “Kau gagal sebagai seorang Adom, bukan karena kau lemah, namun karena kau menyia-nyiakan usaha teman-temanmu.” Katanya. “Kau bahkan tak menolong Blake.” Kemudian ia segera saja pergi dari hadapanku. Aku tahu ia menyembunyikan tangisannya dariku.

Kepalaku sekarang sedang memproyeksikan kenangan semasa aku masih anak-anak bersama Geo dan Sam. Aku merindukan saat-saat itu. Akan kulakukan apapun agar aku bisa merasakan kebahagiaan itu. “Lucas?” Suara itu menghentikan lamunanku. Itu Geo. “Aku mendengar ada yang berteriak-teriak, makannya aku keluar.” Air mataku mulai mengalir.

“Kau harus kembali ke dalam, kau harus istirahat.” Kataku sedikit melirih.

“Kau baik-baik saja?”

“Geo, berhenti menghawatirkanku, aku baik-baik saja.” Aku sebisa mungkin tidak melihat ke arah Geo karena ia pasti akan melihatku menangis ditambah ada darah di hidungku.

“Kau bisa menceritakan apapun padaku.” Kata Geo. Aku bisa melihat sosok Geo yang masih anak-anak dalam tubuhnya yang kekar itu. Ia begitu penyayang. Bahkan aku ingat bagaimana ketika ia menemukan seekor kucing yang terluka dan ia membawanya padaku dan Sam. Ia menangis saat itu. Namun sekarang, anak-anak itu sudah berubah menjadi kesatria perang yang mampu melindungi siapapun dengan tangannya sendiri. Tidak sepertiku yang memang sejak dahulu tak bisa melakukan apapun.

“Aku tidak sedang tidak ingin banyak berbicara. Kepalaku pusing, tapi aku baik-baik saja.” Kataku.

“Baiklah.” Aku bisa mendengar Geo menghembuskan nafasnya dan kembali masuk ke dalam ruangannya berasal tadi kemudian menutup pintunya.

Kemudian kuingat Sam, seorang anak yang biasanya tertinggal ketika sedang lomba lari, kikuk, dan tak bisa percaya pada orang asing. Namun setelah Diabolos mengancurkan desa kami, aku melihat ialah yang paling pemberani diantara kami semua. Aku tahu jauh di lubuk hatinya, ia tak ingin melihat teman-temannya terluka. Aku bisa melihat itu dari cahaya yang ia tembakkan dari sebuah senjata api biasa. Dia memang luar biasa, aku tahu itu dari pertama kali aku mengajarinya sihir. Cahayanya itu memang bukan semata-mata menerangi jalan yang gelap, namun juga akhirnya menyadarkanku betapa lemahnya diriku.

Aku bangkitkan tubuhku untuk kembali duduk di kursiku tadi. Kupejamkan mataku. Rasanya semua beban ini ada di pundakku sekarang. Aku harus melakukan sesuatu, minimal, aku bisa menghilangkan rasa bersalahku pada Geo dan Sam.

Teringat sebuah lingkaran mantra yang pernah kubaca di sebuah buku. Lingkaran untuk memanipulasi waktu. Mungkin dengan mantra itu aku bisa memperbaiki semuanya. Dengan kepala yang masih pusing, aku berlarian ke perpustakaan, berlari aku sekencang-kencangnya sebelum Alan benar-benar mengambil lagi kakiku.

Perpustakaan yang dimiliki Barrier tidaklah seluas perpustakaan yang menjadi tempatku, Geo dan Sam tinggal selama ini. Namun Barrier memiliki buku-buku yang tidak akan bisa ditemukaan di manapun. Informasi tentang sihir, Sinners, sejarah Adom, dan masih banyak lagi dapat dengan mudah diakses di sini. Selama lima belas tahun ini, manusia terus mendokumentasikan semua kejadian tentang Sinners dan dunia ini, dengan begitu semuanya bisa diwariskan kepada generasi berikutnya nanti. Karena hanya informasi lah sesuatu yang berharga di dunia ini. Tidak mempunyai informasi sama saja dengan tidak hidup. Itu prinsipku.

Setelah aku melewati pintu perpustakaan, aku kemudian berlari ke deretan rak buku yang membahas tentang sihir. Aku sudah beberapa kali ke sini, jadi aku sudah hafal betul letaknya.

“Lucas?”

“Tea.” Sapaku. Gadis berkacamata itu sedang merapihkan buku yang sepertinya baru saja ia selesaikan. Maksudku, bukan membacanya, tapi memindainya dengan pikiran. Merekam semuanya dalam ingatannya. Hal ini dilakukan karena Alan ingin jika nanti kemungkinan terburuknya Barrier akan hancur, semua informasi di sini tetap akan terjaga.

“Kau perlu bantuan?” tanyanya.

“Aku mencari buku tentang manta. Aku pernah membacanya di sini tapi aku...”

“Ini.” Kata Tea menunjukkan jarinya pada sebuah buku. “Sihir apa yang kau sedang cari?”

“Memanipulasi waktu.”

“Ada di halaman dua ratus tiga puluh tujuh.” Jawabnya.

“Oke baiklah, terima kasih.” Aku kemudian membawa buku itu dan pergi dari sana. Mencari beberapa bahan untuk melakukan mantra ini. Tentu saja aku tidak akan menemukan itu semua di Barrier. Aku harus kembali ke tempat tinggalku, Perpustakaan yang terbengkalai itu.

Berlari, berlari, dan berlari adalah hal terakhir yang aku pikirkan. Kubayangkan Sam dan Geo juga berlari di belakangku seperti pertama kali kami berlari mengejar Matkun. Itu membuatku berlari semakin kencang. Sampai aku berada di luar Barrier dan melakukan teleportasi untuk akhirnya sampai di perpustakaan kumuh alias tempat tinggalku. Segera saja aku mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan. Lilin, garam, kapur, air, dan yang terakhir adalah sesuatu yang tak kuduga, darah seorang Adom. Aku sedikit tersentak, biasanya untuk membuat sebuah mantra hanya diperlukan darah hewan, jumlahnya bahkan tak lebih dari beberapa tetes, tergantung seperti apa kuatnya sihir itu. Aku menyimpulkan, mantra ini bukanlah mantra yang sering dilakukan.

Aku baca lagi keterangan di buku itu.  Mantra ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Selain Adom, ialah harus juga bisa memanipulasi waktu. Teleportasi termasuk salah satunya. Itu lah kenapa aku yakin mantra ini bisa kulakukan. Mantra yang akan kulakukan ini hanya akan memundurkan waktu selama 4 jam kebelakang, untuk itu aku hanya memerlukan beberapa tetes darahku. Entah ini akan berhasil atau tidak, yang jelas waktu terus bergulir dan aku harus cepat.

Karena aku teringat Blake.

Jika sihir ini digunakan oleh Matkun, dan menjadikan Blake sebagai tumbalnya, aku rasa waktu akan berjalan mundur lebih lama dari sekedar 4 jam. Matkun bisa memutar waktu kembali ke malam bulan purnama dan mengulangi semuanya. Sepertinya itu adalah rencana besar Matkun yang baru aku sadari sekarang, yah meskipun aku tak yakin ia akan berhasil atau tidak. Tapi nampaknya ia akan tetap melakukannya. Matkun adalah mahkluk yang mengobservasi.  berhasil atau tidak, ia akan tetap melakukan dan menumbalkan Blake. itu yang penting, aku harus menyelamatkan Blake.

Iblis-iblis ini memanglah sulit ditebak, atau lebih tepatnya mereka seperti sudah mengetahui gerak-gerik kami. Alich contohnya, mahkluk mengerikan itu memilih untuk kabur begitu saja alih-alih memanggil teman-temannya. Mengapa ia melewatkan kesempatan itu disaat sekarang Matkun bersusah payah untuk membuka portal itu lagi. Aku mengerti jika Alich adalah iblis yang terlemah dan bisa dikatakan yang paling mudah untuk dibaca gerak-geriknya, namun hal itu masih menjadi misteri bagiku. Alich tidak semata-mata kabur. Ada sesuatu yang ia lakukan, dan aku masih belum menemukan jawabannya.

Kemudian, di malam yang sama dengan kepergian Alich, apa yang dilakukan oleh Matkun? Mengapa ia tidak juga membuka saja portalnya? Informasi ini tidak bisa aku dapatkan dari siapapun, bahkan Alan saja tidak punya jawaban untuk pertanyaanku ini. Sepertinya memang aku harus menemukannya sendiri.

Aku mulai menabur kapur dan garam itu di lantai, berdekatan dengan mantra pintu masuk ke Barrier.Kugambar lingkaran mantra sesuai petunjuk di buku. Kuletakkan lilin-lilin kecil di beberapa tempat. Setelah selesai dengan itu, aku berdiri tepat di tengah lingkaran itu. Kulukai telapak tanganku dengan sebuah pisau. Darah mengalir lembut di tanganku, dan kemudian aku jatuhkan ke tanah.

Mantra ini kemudian bersinar setelah darahku menyentuhnya. Tandanya mantraku berhasil. Jika petunjuk bukunya benar, yang perlu aku lakukan sekarang hanyalah melakukan teleportasi ke hutan St. Valley.

“Baiklah.” Kupejamkan mataku, dan sesaat kemudian aku mendengar suara Sam dan Geo. Aku kini berada di hutan St. Valley. Aku berhasil memutar waktu ke belakang. Yang harus kulakukan sekarang hanyalah mengubah masa depan.

CLAIR DE LUNE, CANNON!” teriak Sam.

Aku datang di saat yang tepat. “Geo! Persiapkan dirimu!” aku melihatnya kebingungan.

Setelah Sam menembakkan pelurunya aku sudah tahu bahwa ia akan terjatuh dan tak sadarkan diri. Tubuhnya terlempar ke belakang, tidak seperti sebelumnya, kini aku berlari ke arahnya dan berusaha menahan tubuhnya. Hingga akhirnya ia berhenti menembak. Tubuhku tak tahan melawan momentum, dan kami pun terjatuh.

Seperti sebelumnya juga, masih ada beberapa mayat hidup yang bergerak. Geo berdiri dan sudah berniat akan membasmi mereka. “Tidak! Geo! Kau dan Sam harus kembali ke Barrier!”

“Apa maksudmu?”

“Kemari bantu aku berdiri, ulurkan tanganmu.” Geo kemudian secepat angin ia sudah berada di dekatku, meraih tanganku dan menarik tubuhku. Namun sebelum aku benar-benar berdiri. Aku melakukan sihirku untuk mengirim Geo yang sudah kelelahan dan Sam yang sudah tak sadarkan diri kembali ke Barrier, “Iminyango ivulekile!” Rencanaku berjalan lancar sejauh ini. “Satu misi sudah selesai.”

Selanjunya Blake. Aku harus cepat sebelum terjadi sesuatu padanya. Aku berlari dari kejaran manusia-manusia tak bernyawa yang masih tersisa. Berlari aku sekuat tenaga menuju suara tembakkan senjata itu berbunyi. Kurasa Blake masih baik-baik saja. Namun tetap saja aku harus segera.

“BLAKE?” teriakku pada angin. Aku belum menemukan Blake dimanapun. Namun aku masih bisa mendengar suara tembakkan senjata api miliknya. Kulihat juga desa ini sudah hancur dan terbakar di beberapa tempat. Hewan-hewan ternak yang malang itu kini sudah berguguran jatuh.

Suara tembakkan itu semakin dekat, dan kemudian kutemukan Blake sedang melawan beberapa manusia-manusia abadi itu. Ada yang sudah kehilangan kepalanya, tangan, bahkan kaki mereka. Namun mereka masih bergerak dan berlarian kesana kemari. Ada yang membawa senjata tajam juga, dan ada yang hanya membawa balok kayu. Sekarang aku mengerti mengapa Cory mengatakan bahwa Blake dikalahkan oleh orang-orang ini. Selain karena mereka abadi, Blake nampaknya kehabisan tenaganya. Ini sepertinya detik-detik dimana Blake akan diserang oleh orang-orang ini, karena mereka terlihat sedang mencari celah untuk menyerang.

“Lucas? Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menyelamatkanmu. Jangan lengah!” kataku.

“Apa kau bodoh? Dimana Sam dan Geo?”

“Aku sudah mengirim mereka ke Barrier.”

Blake mangarahkan senjatanya padaku. “Maaf, aku tidak bisa mempercayai siapapun di sini. Desa ini benar-benar membuatku muak!” kulihat orang-orang tanpa kepala di sekitar kami berhenti mendekat.

“Aku mengerti. Silahkan tembak saja aku. Misiku sudah selesai untuk memastikan Sam dan Geo selamat, dan kau juga sepertinya masih hidup. Namun sebelum itu, izinkan aku untuk mengirimmu ke Barrier juga. Cory, adikmu, akan kehilanganmu jika kau mati.”

“Bagaimana bisa kau tahu bahwa aku dan Cory kakak beradik?”

“Percaya padaku, aku sudah menerima pukulan darinya dua kali, dan sekarang aku sadar bahwa membiarkanmu mati adalah pilihan yang paling buruk.”

Blake tertawa sedikit. “Satu-satunya yang akan mati adalah mahkluk-mahkluk kotor ini!” kata Blake, ia memindahkan moncong senjatanya dariku.

“Kondisimu sekrang ini bukanlah kondisi yang bagus untuk bertempur. Kau sudah kehabisan banyak tenaga, dan begitu kau terjatuh kehabisan tenaga, mahkluk-mahkluk ini akan segera menghabisimu.”

“Kenapa kau yakin sekali aku akan mati?” tanyanya dengan nada yang mengejek. “Kau bahkan tak bisa membaca masa depan, kau hanya pintar berpindah tempat.”

“Aku sendiri tidak tahu apakah kau benar-benar mati atau tidak. Aku hanya menyimpulkan dari keadaan kita sekrang, dan lagi, Cory mengatakannya padaku.”

“Kau membingungkan, apa maksudmu?”

“Kita akan mati jika kita di sini lebih lama lagi. Itu maksudku.” Aku berusaha untuk tidak banyak berbicara. Jadi aku katakan saja poin-poin mengapa aku ada di sini sekarang.

“Aku...”

“Apakah kau ingin membiarkan Cory bersedih? Atau kau jika tidak, kau bisa ikut bersamaku ke Barrier sekarang juga.”

“Jika kita pergi, itu sama saja kita membiarkan Matkun membuka portal.”

“Ia sudah gagal tadi malam, bulan purnama berikutnya adalah tiga puluh hari dari sekarang, kita masih punya waktu untuk kembali.” Kataku.

“Kau benar...”

“Matkun adalah perwakilan dari nafsu kotor manusia, ia sudah pasti akan membuatmu melekat padanya. Seperti seorang lelaki mesum yang tidak akan pernah meninggalkan tempat pelacuran. Matkun akan memikat musuhnya bagaimanapun caranya. Ditambah lagi ia sangatlah cerdas mengatur rencana.”

“Bagaimana kau bisa tahu itu semua dalam waktu secepat ini?”

“Percayalah padaku, hasil tidak selalu menunjukkan proses yang panjang.”

“Aku sama sekali tak mengerti perkataanmu.”

“Baiklah, kita pergi dari sini sekarang. Mendekatlah supaya aku bisa menyentuhmu.”

Blake mendekatkan dirinya padaku, sembari ia terus bersiaga dengan senjatanya.

“Pejamkan matamu, dan hiraukan apapun yang kau rasakan.” Kutahu Blake sudah menutup matanya, kemudian setelah aku menutup mataku, yang aku tahu adalah kini kami berada tepat di lingkaran mantra pintu masuk menuju Barrier.

“Sudah lama aku tidak kemari. Sebelum ada dirimu yang bisa membuat portal semacam ini, aku benar-benar harus berenang untung sampai di Barrier.” Kata Blake.

“Yah, aku pernah mendengar tentang pesawat tempur militer yang jatuh di laut sekitaran sini. Sudah pasti itu adalah dirimu.” Kami berdua berjalan santai menuju Barrier, seolah tidak ada apapun yang terjadi sebelumnya. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa Cory sudah melompat untuk memeluk Blake.

“Kakak!” teriaknya.

Di saat yang sama, aku melihat Geo dan Sam di pintu masuk Barrier. “Kalian baik-baik saja?” tanyaku.

“Seharusnya kami yang menanyakan itu padamu.” Kata Sam.

“Aku tidak ingat betul, tapi bagaimana bisa kau mengirim kami berdua ke Barrier tanpa kau ikut dengan kami?” tanya Geo. Geo memang jarang bertanya tentang hal yang mendetil, namun kali ini ia memperhatikan. Ya, aku memang biasanya melakukan teleportasi untuk diriku saja. Jika ada orang lain yang akan ikut, aku tetaplah harus ikut berpindah tempat.

“Kalian lagi-lagi meragukan aku...” kepalaku rasanya berat sekali. Tanganku rasanya lemas untuk sekedar digerakkan, kakiku sudah lelah berlari. Tubuhku tak kuat lagi kutahan. Aku memang tak sekuat Geo, dan juga tak sebijaksana Sam. Aku memang lemah, namun dengan begitu, aku bisa terus mengetahui limitku. Aku bisa mengerti mengapa orang-orang terus berjuang untuk orang-orang yang mereka sayangi. Sam dan Geo, tanpa mereka sadari, sudah mengajarkanku untuk lebih kuat dan bijaksana.

Jadi aku sudah tak peduli lagi jika diriku jatuh tersungkur karena kelelahan sekarang, aku yakin Sam dan Geo akan menangkapku. Karena itu yang selalu mereka lakukan.

  • view 221