Bab 4: St. Valley

Wisesa Wirayuda
Karya Wisesa Wirayuda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Oktober 2016
The 7 Sinners

The 7 Sinners


Kiamat itu hanyalah sebuah awal dari kehancuran ini. #The7Sinners

Kategori Fantasi

2.5 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 4: St. Valley

Pagi ini, kami berempat memilih untuk tidur di hutan, yah meskipun sekarang matahari sudah tinggi, rasanya badanku lelah sekali. Aku juga bingung mengapa Lucas tidak mengizinkan kami untuk tidur di desa itu, toh tak ada penduduknya. Jasad-jasad manusia itu masih berdiri mematung di antara kami. Seram juga jika dibayangkan sewaktu-waktu mereka akan bergerak kemudian menyerang kami.

“Hey kalian, bangunlah. Lihat ini!” itu Blake, ia nampaknya tidak ikut tidur. Darah di pelipisnya kini sudah hilang.

Aku bangkit dari tidurku, mencoba memfokuskan mataku pada arah yang ditunju oleh Blake. Ada seekor anjing di sana. Tadi malam aku tidak melihat ada kehadirannya. Anjing itu tidak mematung. Ia sedang mengendus-endus salah satu jasad yang sedang mematun. Blake menghampiri anjing itu, namun anjing itu langsung berada di posisi siaga untuk menyerang.

“Blake, tak usah dihiraukan.” Kata Lucas.

“Tidak, tunggu.” Blake nampaknya penasaran akan sesuatu. “Apa kalian pikir jasad-jasad ini akan kembali bergerak? Mereka punya sebuah desa untuk ditinggali. Aku belum pernah mendengar ada sebuah desa yang ditinggalkan penduduknya secara ramai-ramai. Ini hal baru yang kudengar.”

“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Lucas bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Blake.

“Orang itu, maksudku, jasad itu adalah pemiliknya. Aku punya seekor anjing yang mati dua tahun yang lalu. Aku tahu betapa loyalnya anjing pada pemiliknya. Anjing tak pernah lupa siapa pemiliknya. Meskipun pemiliknya sudah mati.”

“Kau yakin dia bukan anjing liar yang kebetulan lewat?”

“Anjing liar akan menjauhi gerombolan manusia, yah atau setidaknya ia pikir ini adalah sekumpulan manusia. Tapi tidak, ia seolah sudah familiar dengan orang-orang ini.”

“Jadi maksudmu,” selaku. “Mereka akan bangun lagi? Tapi kapan? Mengapa tidak sekarang?”

“Kau tahu sesuatu?” tanya Blake pada Lucas.

“Tidak, Alan tidak menceritakan apapun tentang orang-orang ini. Kurasa kita harus mencari tahu sendiri.”

“Kalau begitu kita harus segera, kurasa Matkun masih akan muncul malam ini.” Kata Blake.

“Kesimpulan yang bagus. Kalau begitu kita ke desa St. Valley saja, siapa tau kita menemukan sesuatu di sana?” Saran Geo.

Kami semua mengangguk kemudian bergegas bersiap pergi. Beberapa langkah kami berjalan, anjing tadi mengikuti kami. Ia menghampiri Blake. Entahlah, mungkin ia tahu Blake sangat pengalaman dengan anjing. “Ia sepertinya lapar.” Blake turun pada lututnya, ia mengelus-elus anjing itu. “Siapa namamu?” anjing itu hanya menggonggong ceria. “Ah baiklah sepertinya kau akan ikut aku hari ini.” Blake maraih tas ransel ala militernya dan mengeluarkan roti. Ajing itu kemudian lahap memakannya sampai habis.

“Sejak kapan kau bergabung militer?” tanya Lucas. “Kudengar Barrier sangat membenci militer dan tak mau banyak bersentuhan dengan mereka.”

“Ah pertanyaan yang bagus. Kukira Alan sudah menceritakannya karena dialah yang memintaku bergabung dengan militer. Tujuannya...”

“Memata-matai.” Timpal Lucas.

“Yeah, seperti itulah. Hanya saja sekali sudah bergabung dengan militer, aku kesulitan untuk keluar lagi. Aku bergabung dengan militer lima tahun yang lalu. Saat itu juga aku baru saja bergabung dengan Barrier.”

“Siapa yang kau mata-matai?” tanya Geo.

“Alan mencium adanya keanehan di militer. Maksudnya, ia mencium adanya penghianatan Adom di sana. Namun selama aku di militer, aku tidak menemukan adanya Adom lain. Bisa dikatakan misi mata-mataku sudah gagal kala itu. Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi karena aku merasa tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, namun tak pernah diizinkan oleh pemimpinku saat itu, Vladimir Mori.”

“Ah pria di televisi itu.” Kata Geo.

“Jadi, Barrier bukanlah satu-satunya organisasi untuk Adom?” tanyaku.

“Tidak, Barrier adalah satu-satunya. Adom yang dicurigai oleh Alan adalah Adom yang bergerak sendiri untuk mengejar tujuannya sendiri.” Blake kemudian selesai memberi makan anjing malang itu. “Baiklah, kita lanjutkan berjalan.”

“Ah itu menjelaskan mengapa kau sempat ingin menembak kami.” Jawab Lucas. Blake hanya mengangguk.

“Apa anjing itu bisa masuk ke Barrier?” tanya Geo.

“Tentu tidak, ia akan mati tenggelam sebelum sampai di Barrier.” Jawab Lucas.

“Sayang sekali.” Timpalku. “Blake, maksudmu, apa yang dicari oleh Adom penghianat yang kau maksudkan tadi?”

“Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu tentang itu bahkan Alan sekalipun.”

“Aku menyimpulkan itu adalah sesuatu yang luar biasa, sampai-sampai ia memilih untuk tidak membantu Barrier melawan Sinners.” Kata Lucas. Ia punya poin yang bagus.

“Kita sudah sampai.” Kata Geo.

Desa St. Valley. Desa didekat hutan dengan udaranya yang dingin. Desa ini jauh lebih kecil dari desa kami. Mungkin hanya ada sekitar seratus rumah. Rumah-rumah di sini terlihat sederhana, tidak ada yang hancur, semuanya masih terlihat layak tinggal. Lampu-lampunya masih menyala. Ada beberapa hewan ternak yang nampaknya sehat-sehat saja.

“Matkun memang cerdas, ia membangun sistem kehidupan yang teratur agar tidak ada yang curiga bahwa dia sedang mengambil alih tempat ini.” Kata Lucas.

Desa ini seperti desa pada umumnya, dengan gereja yang berpusat di tengah desa. Gereja yang mengingatkanku pada desaku yang kini sudah rata dengan tanah. “Apakah akan ada sesuatu di gereja?” tanyaku.

 “Aku akan memeriksanya, kalian lanjutkan melihat-lihat, mungkin semacam buku, berkas, atau benda-benda peninggalan sejarah. Itu akan membantu.” Kata Lucas. Aku dan Geo mengangguk.

“Aku akan mencari rumah ketua desa ini.” Kata Blake dan kemudian pergi ditemani anjing barunya itu.

“Menurutmu, untuk apa ada hewan-hewan ternak di sini? Kukira mereka abadi?” tanya Geo.

“Kau benar, jika mereka tidak memakan hewan-hewan ini sudah pasti populasinya akan banyak sekali. Apakah mereka membunuhnya begitu saja?”

“Apakah kau pikir kita harus masuk ke salah satu rumah?” tanya Geo.

“Untuk apa?”

“Memastikan apakah mereka benar-benar makan atau tidak.” Terdengar konyol, namun Geo memiliki maksud yang bagus.

“Kita coba rumah itu.” Rumah dengan penerangan yang baik dan dinding berwarna biru segar. Rumah pemilik hewan ternak di perkarangan rumahnya. Sapi itu melihatku lekat-lekat ketika aku melewatinya. Pintunya tidak ditutup, sudah pasti karena rumah ini ditinggalkan begitu saja. Di dalam rumah ini penuh dengan barang-barang namun semuanya tersusun rapi. Tv masih menyala. Tempat ini benar-benar tidak terlihat pernah diserang oleh Sinners.

Aku dan Geo berpencar, “Jangan sentuh apapun.” Saranku padanya. Ia mengangguk. Aku belum menemukan adanya tanda-tanda kehadiran makanan. Maka dari itu aku ke dapur. Kulihat ada kulkas juga, namun begitu kubuka isinya benar-benar kosong. Geo benar, jika orang-orang ini abadi, mereka tidak memerlukan makanan dan jika hewan ternak itu hanya hiasan seperti yang Lucas katakan, sudah pasti jumlah mereka akan semakin bertambah. Berarti kemungkinannya hanya ada dua. Orang-orang ini membunuh hewan-hewan ternak mereka untuk menjaga populasi, atau hewan-hewan ini juga abadi. Yang manapun itu aku tidak tahu.

Di sebelah Dapur aku menemukan sebuah pintu yang tertutup. Kemudian dengan hati-hati aku buka pintu itu. Kemudian aku menemukan sebuah tangga untuk turun ke bawah tanah. Di bawah sana sangatlah gelap. “GEO!” teriakku. Kudengar ia berlarian turun. Ia nampak terkaget begitu melihatku. “Tenang, aku baik-baik saja.” Kataku sembari sedikit tertawa. “Lihat!”

“Aku tidak bisa melihat apapun.”

Tentu saja karena gelap, tapi maksudku bukanlah itu. “Biar kubantu. Clair, venez!” Bola cahaya putih di telapak tanganku menerangi ruangan ini. Aku sedikit mengurangi kadar kekuatannya agar aku bisa memakainya lebih lama. Tangga ini lebih dalam dari yang aku kira, “Menurutmu, untuk apa rumah seperti ini memiliki ruangan bawah tanah yang dalam sekali?”

“Entahlah, mungkin disana kita bisa menemukan yang kita cari.”

“Apa kau mencium ini?”

“Oh, sial. Bau sekali.”

Bau ini tak asing buatku yang menghabiskan semasa kecilnya di tempat pemotongan hewan ternak. Ini adalah bau bangkai. Bau amis yang keluar dari darah yang mengering. “Dugaanmu benar.” Kataku. Kami berdua kemudian segera berlari menuruni tangga yang rasanya tak berujung ini. Di bawah sini kami menemukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, sebuah tempat ritual sihir.

“Oh sial...” Geo tercengang melihat pemandangan ini. Kami juga menutup hidung kami menghindari bau yang tak enak ini. Di tengah ruangan ini, ada semacam meja batu yang besar. Di lantainya ada semacam garis-garis aneh membentuk lingkaran. Mirip dengan yang pernah Lucas buat, namun aku ingat sekali ini bukanlah mantra teleportasi. Bangkai-bangkai hewan ternak berserakan di tiap jengkal sisi ruangan, bahkan ada yang sudah tinggal tulang dan sudah pasti banyak serangga beterbangan menghinggapinya. Kurasa mereka dijadikan semacam tumbal.

“Tapi untuk apa?” tanyaku pada Geo.

“Aku juga tak mengerti. Aku akan mencari Lucas, kau tunggu di sini. Aku tak akan lama.” Geo melesat pergi meninggalkanku sendirian. Dalam beberapa detik kemudian, Lucas sudah muncul di belakangku bersama Geo. “Enaknya bisa berpindah tempat dengan cepat seperti yang kalian lakukan.” Kataku.

“Kalian menemukan sesuatu yang menarik.” Kata Lucas.

“Ada mantra di lantainya, tapi au tak tahu mantra apa ini.” Kataku. “Dimana Blake?”

“Sepertinya ia masih mencari rumah pemimpin desa ini. Aku tak melihatnya.” Kata Geo.

“Ini... ini mantra pemanggilan.” Kata Lukas akhirnya.

“Sudah kuduga hewan-hewan ini dijadikan tumbal. Tapi apa yang mereka coba panggil?” Tanyaku.

“Matkun sangatlah cerdas...” Lucas lagi-lagi mengacuhkan aku. “Aku juga menemukan mantra ini di sebuah aula gereja. Namun tak ada darah atau apapun di sana. Mantranya sama.”

“Apa? Apa yang ia coba panggil? Mengapa kau tak pernah menjawabku....”

“Diabolos! Sam, Matkun mencoba memanggil Diabolos dengan mantra ini!” Lucas meledakkan isi kepalanya.

Ruangan menjadi hening.

“Lalu?” tanya Geo.

“Tentu saja itu tak bisa dilakukan. Sepertinya Matkun sudah melakukan beberapa kali percobaan, di gereja, di sini, dan mungkin di tempat-tempat lain. Namun gagal.”

“Jika ritual ini gagal, apa yang selanjutnya akan dilakukan Matkun?” tanyaku.

“Geo! Sam! Desa ini benar-benar sudah terkutuk. Kita harus keluar dari sini!”

“Apa maksudmu?”

“Mantra pemanggilan adalah mantra tersulit untuk dilakukan, dan jika gagal dilakukan akan memberikan dampak buruk bagi orang yang menggunakannya. Matkun menumbalkan manusia-manusia malang itu untuk menghindari efek samping sihirnya.”

“Hewan-hewan ternak ini?” tanya Geo.

“Sudah kubilang, Matkun hanya mencoba-coba. Ia mencoba semuanya, hewan ternak, jemaat gereja, dan mungkin warga desa ini pada akhirnya juga akan ia tumbalkan.”

Cahaya dari tanganku mulai meredup. Aku merasakan sedikit lelah. “Apa kita sudah selesai di sini? Cahayanya akan segera habis.” Kataku.

Kemudian setelah cahaya itu benar-benar hilang, kami mendengar suara tembakan dari luar. Tembakan senjata besar. Sepertinya itu Blake.

“Pegang tanganku!” Kata Lucas. Dalam hitungan detik, kami sudah berada di luar dan melihat Blake sedang membidik senjatanya ke udara.

“Kalian, berlindung!” perintah Blake. “ULTRA CANNON, VENEZ!” itu mantra yang bebeda dari yang sebelumnya. Tembakkan itu meluncur ke udara dan mengenai sesuatu. Blake berdiri dari posisi membidiknya. Kemudian sesuatu jatuh dari langit dan mendarat di sebuah atap lumbung jerami. Itu seekor anjing.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Lucas sedikit kesal melihat pemandangan ini.

“Kalian tidak akan percaya ini, tapi anjing itu menyerangku tadi.”

“Dan kau tembak dia sampai terbang ke angkasa?”

“Aku tidak menembak seekor anjing, aku menembak monster! Ada yang salah dengan tempat ini. Kita harus menghancurkannya.”

Lucas nampak sedang berpikir. Ia tahu bahwa anjing itu tidak mungkin menyerang Blake. Ada sesuatu yang lain. “Aku mengerti sekarang. Matkun memang cerdas.” Entah untuk keberapa kalinya Lucas mengatakan itu. “Matkun juga berada pada hewan-hewan ternak ini, dan anjing itu juga. Tapi menghancurkan tempat ini percuma saja selama Matkun masih bersemayam di tubuh orang-orang itu. Jika kita biarkan mereka, tiga puluh hari dari sekarang Matkun akan mencoba membuka portal lagi.”

“Kau ada benarnya.” Kata Blake.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.

“Setelah kita hancurkan desa ini, kita harus membunuh orang-orang itu bagaimanapun caranya.”

Jantungku berdetak kencang. “Aku tak bisa melakukan itu.” Kataku.

“Berhentilah melunak di saat-saat seperti ini. Jika kita tidak melakukannya, sudah pasti Diabolos dan Sinners yang lain akan kembali!” Blake nampak marah padaku.

Aku hanya berdiam diri saja.

“Tak apa, Sam. Jika kau tak mau. Biar aku yang melakukannya.” Kata Geo. “Akan kulakukan dengan cepat sampai kau tak sadari bahwa semuanya sudah selesai.”

Lagi-lagi aku diperlakukan seperti anak bawang. Kekuatanku memang tak bisa melukai siapapun secara fisik. Tidak berbahaya. Hanya berguna sebagai pengusir iblis atau bahkan hanya sebagai penerang jalan.

“Sam, lagipula mereka memang sudah lama mati. Kita justru akan menyelamatkan mereka dari penderitaan panjang mereka. Sudah saatnya mereka utnuk istirahat dengan tenang.” Kata Lucas.

“Kalian duluan saja ke hutan itu, aku akan menghancurkan desa ini sendirian. Jika diabolos saja bisa menghancurkan desa kalian dalam satu malam, aku juga bisa.” Selera humor Blake benar-benar membuatku muak.

“Desa kami ukurannya sepuluh kali lebih luas dari desa ini.” Kata Geo. Perkataannya menghilangkan senyum di wajah Blake. “Jadi jika kau ingin menyaingi Diabolos, kau harus menghancurkan desa ini dalam waktu satu jam.”

“Kalian cepat pergi dari sini sebelum aku tembak kalian.” Blake mengalihkan wajahnya dari kami.

“Ayo!” Ajak Lucas.

“Tunggu dulu.” Kataku. Lucas dan Geo berhenti dari langkahnya. “Blake, pinjamkan aku senjata.”

Blake memandangku dengan penuh ragu. Kemudian ia merogoh kantung senjatanya, dan memeberikanku sebuah pistol berlaras pendek. “Isinya hanya enam peluru. Gunakanlah sebijak mungkin.” Aku hanya mengangguk.

“Ayo sam, kita haru cepat.” Kata Geo. Aku mengangguk dan kemudian berlari sekuat tenaga menyusul mereka berdua. Lucas memberi aba-aba untuk memegang tangannya, dan dalam hitungan detik setelah aku menyentuh tangannya kami sudah berada di tengah-tengah sekumpulan orang. Mereka kini bergerak, ada yang sedang duduk-duduk, ada yang sedang berdiri, anak-anak sedang berlarian, dan ada pula yang langsung menyadari kehadiran kami. Namun mereka semua tidak berbicara satu sama lain. Semuanya hening.

Sedikit demi sedikit dari mereka kini mulai menyadari kehadiran kami. Wajah mereka marah. Untungnya tidak ada yang membawa senjata tajam atau semacamnya. Mereka benar-benar terlihat hidup sekrang.

“Jumlah mereka lebih sedikit dibandingkan tadi malam.” Kata Lucas.

“Apa mereka sebagian ada yang kembali ke desa?” tanya Geo.

“Sepetinya begitu. Kurasa Blake bisa mengatasi mereka.”

Orang-orang ini kini mulai berdiri, semuanya menatap kami dengan marah. Dan kemudian mereka mulai berlari ke arah kami secara serentak. “Ingat mereka ini bukan manusia, mereka sudah dirasuki Matkun. Hasrat hidup mereka sudah habis. Dengan membunuh mereka kita sama saja membunuh Matkun sedikit demi sedikit.” Kata Lucas.

Geo segera saja mengeluarkan pedangnya dan mulai menebas orang-orang tak bersalah ini. Kulihat mereka masih mengeluarkan darah. Namun mereka tidak meringis kesakitan. Beberapa yang menghampiriku berusaha ingin meninjuku menggunakan tangan mereka. Namun sejauh ini aku hanya menghindari mereka. Pistol pemberian Blake masih aku pegang. Aku belum berniat menggunakannya.

Hampir separuh dari mereka kini sudah terkapar di atas tanah. Anak-anak, orang tua, remaja, Geo habisi tanpa pandang bulu. Geo kemudian mengambil langkah mundur. “Ada yang aneh dengan mereka.” Katanya. “Karena terlalu cepat aku sampai tidak sadar. Lihat!”

Geo menunjukkan mayat-mayat yang terkapar tanpa kepala, tanpa kaki, ataupun badannya sudah terbelah, ternyata masih bisa bangkit. Mereka masih hidup. Padahal geo menggunakan sihir pada pedangnya.

“Ada apa ini?” tanya Lucas. Ini diluar rencananya. “Apakah mereka juga bisa menyembuhkan diri?”

Jika pedang Geo saja tidak bisa membunuh orang-orang ini, itu berarti pistol biasa yang diberikan Blake ini juga tak akan berpengaruh banyak.

“Jika begitu, kita gunakan strategi yang sama seperti tadi malam. Karena itu berhasil. Sam, tembakkan bola cahayamu itu dan kemudian Geo mengikuti dari belakang. Kulihat serangan ini memberikan efek yang cukup dalam bagi Matkun.”

Tanpa perintah lagi, aku tembakkan bola cahaya kepada orang-orang itu. “Clair de lune, viens!” diikuti dengan serangan pedang Geo. “Vent, couper le plafond!”

Serangan itu berjalan dengan sempurna dan mengenai hampir semua mayat hidup ini. Kini mereka kembali terkapar di tanah. Aku tidak melihat adanya tanda kehidupan pada mereka. Sepertinya serangannya berhasil. Sekarang tersisa sedikit saja, aku bisa menghitungnya. Sekitar dua puluh orang lagi. Namun Geo nampak sudah kelelahan, aku ingat itu adalah mantranya yang paling kuat. Dia memang selalu kelelahan setelah menggunakan mantra itu.

Dua puluh mayat hidup itu tidak berhenti. Ekspresi wajah mereka masihlah sama. Aku semakin panik, aku mulai mengarahkan pistolku pada mereka. Geo terjatuh pada lututnya. Lucas bersiap melakukan teleportasi jika sesuatu yang buruk terjadi. Orang-orang yang dirasuki Matkun itu kini mulai berlari ke arahku. Kutembakkan pelu pertamaku, tepat mengenai kaki salah satu dari mereka, peluru kedua meleset, yang ketiga mengenai kepala, yang keempat, kelima, dan peluru terakhir benar-benar meleset.

“Sam, mendekat padaku. Kita pergi dari sini.” Kata Lucas, ia kini sudah di sebelah Geo.

“Tidak, jika kita kembali ke Barrier tanpa membunuh monster ini, Diabolos akan kembali ke dunia ini. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Tapi... tapi.. aku begitu lemah. Melawan zombie ini saja aku kesulitan!” aku setengah berteriak karena rasa kesalku bercampur dengan rasa takut. “Dan lagi, jika kita tidak menyelesaikan misi ini, kita akan dikeluarkan dari Barrier dan kau akan kehilangan kakimu lagi.”

“Itu tidak benar.” Kata Lucas.

“Aku tahu itu meskipun kau menutup-nutupinya dariku dan Geo.” Dadaku rasanya sesak. Ini adalah emosi terpendam yang akhirnya aku keluarkan. Lucas nampakknya tak menjawab apapun. Lucas adalah keluargaku sekarang, Geo juga, jadi sepintar apapun mereka berbohong padaku, aku akan tetap tahu. Kali ini, aku benar-benar tak bisa membiarkan sejarah kelam itu terjadi lagi. Jangan sampai Diabolos kembali ke dunia ini dan merengut mereka berdua dariku. Kalupun Diabolos berhasil menginjakkan kakinya yang hina itu ke dunia ini lagi, aku adalah orang yang akan membunuhnya!

Itu adalah janjiku pada Lucas dan Geo.

CLAIR DE LUNE, CANNON!

Cahaya putih terang itu muncul pada pistolku. Dari lubang pelurunya aku bisa melihat cahaya mulai berkumpul dengan tenang. Melihat cahaya itu aku pun ikut merasakan ketenangan. Sampai akhirnya cahaya itu membesar, membesar, dan membesar. Begitu aku tarik pelatuk pistol itu, tubuhku terdorong ke belakang. Aku melihat cahaya yang menerangi jalan kami. Cahaya itu melesat. Membinasakan mahkluk-mahkluk kotor di hadapannya. Membersihkan dosa-dosa. Membawa kami bertiga menuju pintu kedamaian. Cahaya yang mampu menutup pintu neraka selama-lamanya.

Sedikit demi sedikit cahaya itu mulai meredup, bersamaan diriku yang mulai tak sadarkan diri. Kemudian hal terakhir yang kulihat adalah wajah kedua sahabatku.

  • view 210