Bab 3: Matkun

Wisesa Wirayuda
Karya Wisesa Wirayuda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Oktober 2016
The 7 Sinners

The 7 Sinners


Kiamat itu hanyalah sebuah awal dari kehancuran ini. #The7Sinners

Kategori Fantasi

2.6 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 3: Matkun

 “Aku masih tak percaya kau seolah menjualku hanya untuk mendapatkan kakimu kembali.” Geo memiliki poin yang menarik. Lucas hanya tersenyum dan sedikit menghembuskan napasnya. “Jadi berapa lama lagi kita akan di sini?”

“Sampai Alan mengatakan kita boleh pergi.”

“Kenapa? Selama ini kita bekerja sendiri, mengapa sekarang semuanya ‘terserah si penguasa’ begini?”

“Geo, kita membiarkan Alich kabur, itulah kenapa kita disini.” Kataku.

“Maksudmu kita dihukum karenanya?” Geo semakin penasaran saja. Aku hanya mengangkat bahuku.

“Tidak ada yang dihukum, dan tidak, kita tidak untuk dihukum di sini. Kita semata-mata hanya mengamankan diri di sini.” Lucas nampak tenang dalam duduknya, sedangkan Geo beberapa kali berdiri dari kursinya seolah ingin pergi. Sedangkan aku, aku sebenarnya masih memikirkan apa yang dikatakan oleh perempuan berkecepatan suara itu, apakah aku benar-benar layak di sini?

Ruangan lumayan besar ini, yang dikatakan Alan sebagai ruang istirahat kami, sama sekali tidak memiliki suara apapun. Kesunyian ini sebenarnya membuatku jenuh dan tak nyaman. Maksudku, mengapa kita semua tidak melakukan apapun? Mencegah kedatangan para Sinners misalkan, atau melatih diri. Apapun yang nampaknya berguna ketimbang hanya mengobrol di ruangan bodoh ini. Banyak orang-orang yang akan mati jika kita hanya berdiam diri saja.

“Sam, kau tahu kan aku bisa mendengar pikiranmu?” Lukas membuyarkan lamunanku, aku benar-benar belum terbiasa dengan telepati ini. “Percayakan saja pada Alan, ia tahu apa yang harus dilakukan. Sejauh ini, semua strateginya sangatlah cermat. Kau bahkan tak akan menyangka strategi itu muncul dari seseorang dengan banyak lubang tindik di wajahnya.”

“Ngomong-ngomong, sampai kapan pikiran kita akan terhubung?” tanyaku.

“Kau mulai kesal sepertinya.” Lucas tertawa untuk kesekian kalinya.

“Ayolah Sam, bukankah ini keren? Kita tak perlu bersusah-susah berteriak di medan perang.” Kata Geo.

“Aku hanya ingin memikirkan beberapa hal sendirian, aku ragu kalian mau mendengarnya atau tidak. Lagipula, aku hanya bertanya.”

“Apapun yang menjadi sumber kegelisahanmu ini, kita bisa melewatinya bersama-sama. Ingat kita bertiga adalah tim. Ditambah lagi kita bergabung dengan Barrier sekarang.” Jawab Lucas.

“Jawab saja pertanyaanku.”

“Hanya di tempat ini. Ini dikarenakan portal masuk ke tempat ini yang menyambungkan pikiran orang-orang yang masuk secara bersamaan. Jadi ketika kita keluar dari portal itu lagi, pikiran kita akan kembali seperti semula. Jadi tenanglah.”

“Bagaimana jika aku memikirkan sesuatu yang menjijikan? Apakah kalian akan mendengarkannya juga?” tanya Geo.

“Jangan pernah sekali-kali mencobanya!” Kataku dan Lucas bersamaan.

Candaan kami terhenti ketika kami mendengar suara aneh dari seluruh sudut ruangan. Semacam bunyi sirine ketika akan ada gelombang tsunami yang datang. Hanya saja sepertinya sumber bunyi ini berasal dari dalam bangunan ini. Sampai akhirnya seseorang hendak membuka pintu ruangan dimana kami berada. Itu Cory, ia memberi kami gestur untuk mengajak kami bersamanya, dengan berjalan cepat kami mengikutinya.

Dari gestur tubuhnya aku bisa melihat bahwa ia tidak sedang baik-baik saja. Atau mungkinkah kita semua sedang dalam masalah? Apakah iblis-iblis itu sudah kembali?

Bunyi sirine aneh itu masih terdengar. Cory membawa kami ke sebuah ruangan lain dimana keadaannya gelap dengan banyak sekali layar besar di dindingnya. Beberapa hanya menampilkan deretan angka dan huruf yang tak kumengerti, yang lainnya menampilkan beberapa gambar bergerak. Ada orang asing yang aku lihat sedang sibuk mengutak-atik seluruh peralatan yang ada hanya dengan menggerak-gerakkan telapak tangannya dan tanpa menyentuh apapun. Kurasa ia anggota Barrier yang lain.

“Alan, mereka di sini.” Kata Cory.

“Apa yang terjadi?” tanya Lucas pada Alan.

“Sudah saatnya untuk tidak jatuh ke lubang yang sama...”

***

Dari salah satu layar besar itu aku bisa melihat langit menggelap. Di layar yang lain angin terlihat menggerakkan pepohonan. Ada sekitar sepuluh layar menunjukkan lokasi yang berbeda, ada beberapa tempat yang familiar, ada juga yang hanya menampilkan hutan belantara. Beberapa layar menunjukkan kegaduhan orang-orang penduduk suatu desa. “Steve, apa sudah waktunya?” tanya Alan.

Lelaki bertubuh gemuk itu tidak menjawab apapun, ia sibuk memerhatikan layar-layarnya, sampai akhirnya ia berhenti. “Dua jam dari sekarang.” Jawabnya.

“Baiklah, kita harus segera. Ayo!” Ajak Lucas. Aku dan Geo kebingungan. Kemana kita akan pergi?

“Apakah semuanya baik-baik saja?” tanyaku.

“Tidak ada yang sedang baik-baik saja semenjak kalian melepaskan Alich!” jawab Cory sinis.

“Cory, cukup.” Alan memang terlihat sebagai seorang pemimpin jiga dalam situasi seperti ini. Ia bersikap tenang meskipun kita semua tahu bahwa iblis-iblis itu akan berdatangan satu per satu jika kita tidak mencegahnya. “Kalian cepat pergi!” katanya kemudian kepadaku, Geo dan Lucas.

Lucas mengangguk dan kemudian berlari, Aku dan Geo segera mengikutinya. Kami berlari menuju tempat pertama kali kami datang, berlarian di dasar laut. Ini pertama kalinya aku melihat Lucas berlari lagi setelah lebih dari liba belas tahun. Ingatan masa kecilku muncul kembali dimana kami saling mengejar atau bermain bola sepak. Entah mengapa rasa kengerianku akan Tujuh Pendosa kini sedang digantikan oleh rasa bersyukurku karena saat ini aku masih bisa berlari bersama kedua orang ini, dan ya aku tidak lupa bahwa mereka berdua bisa mendengar isi kepalaku saat ini. Kulihat mereka berdua tersenyum juga.

“Kalian siap?” Tanya Lucas.

Aku dan Geo mengangguk mantap. Tanpa disuruh kami sudah menutup mata. Kemudian sensasi terbang yang sama muncul kembali. Hingga akhirnya aku mendengar suara Lucas menyuruhku untuk membuka mata. Saat ini kami sudah berpindah tempat dari dasar laut ke hutan belantara dan langit yang sudah gelap. Hutan St. Valley. Itu nama-nama yang sejak tadi aku dengar. Sebuah hutan pinus dengan kabut tebal yang terlihat seperti arwah yang gentayangan.  Di sini, kami akan menunggu Matkun, Iblis yang mewakili hasrat kotor manusia atau Lust!

“Aku merasakan udara yang sangat kuat disini.” Kata Geo. Mungkin tempat ini bisa menjadi keuntungan baginya.

“Jika perhitungan Steve tepat, iblis itu akan datang sebentar lagi.” Kata Lucas.

Aku membayangkan monster berukuran lebih besar dari Alich, karena kita semua tahu Alich adalah iblis yang paling kecil diantara yang lain. Namun sepertinya menilai sesuatu dari ukurannya bukanlah sesuatu yang bijaksana menurutku.

“Ada yang datang!” Kata Lucas. “Tidak satu, sepertinya banyak orang.”

Dugaan Lucas benar, ada suara-suara langkah kaki dari belakang kami. Suara langkah kaki yang diseret secara paksa. “Sembunyi!” kataku sedikit berbisik. Geo seketika melompat ke atas salah satu pohon, aku tak bisa melihatnya lagi, Lucas terlihat sudah menghilang, sedangkan aku bersembunyi di balik batang pohon sendirian. Sepertinya enak juga jika kita mempunyai kemampuan yang baik untuk bersembunyi seperti mereka.

Suara langkah kaki itu kian mendekat, tak ada suara lain seperti suara percakapan atau suara hewan. Kemudian aku melihat beberapa bayangan mulai mendekat, bayangan sebesar orang dewasa, ada juga bayangan anak-anak. Apakah hutan ini berhantu? Tidak, Lucas bilang mereka adalah manusia. Aku semakin menyembunyikan tubuhku. Ada suara ranting patah yang terinjak oleh mereka, dan samar-samar kini aku mulai mendengar suara berbisik dari mulut mereka.

Aanbid die Matkun... Aanbid die Matkun... Aanbid die Matkun...

Mereka menyebut nama Matkun, ini gawat. Satu per satu dari mereka mulai menampakkan dirinya, aku bisa melihat mereka benar-benar manusia biasa. Mata mereka terpejam. Apakah mereka semua tertidur sambil berjalan? Dari balik pohon aku melihat ada perempuan paruh baya, anak-anak, lelaki dewasa yang bertubuh tinggi dan juga ada yang gemuk. Mereka semua berjalan perlahan, dari situ aku menyimpulkan mereka tidak bergerak dengan kendali mereka sendiri.

Aku masih menyembunyikan tubuhku. Orang-orang yang tak sadarkan diri itu satu per satu melewati pohon tempatku bersembunyi, dan masih melantunkan mantra aneh itu. Karena mata mereka tertutup, aku beranikan diri untuk menghampiri salah satu dari mereka, seorang anak-anak. Dari mulutnya aku juga mendengar mantra itu, “Aanbid die Matkun... Aanbid die Matkun... Aanbid die Matkun...” Aku beranikan diri untuk menyentuh pundaknya, siapa tau aku bisa membangunkannya.

“Hei! Hei!” kataku. Anak itu tetap berjalan mengacuhkanku. Sekarang aku melihatnya dari belakang. Beberapa orang melewatiku begitu saja. Pakaian mereka tidaklah rusak atau koyak. Semuanya masih bagus, ada beberapa yang memakai baju tidurnya, ada pula yang memakai baju santai. Apapun ini, Matkun pasti sudah melakukan sesuatu pada mereka. Namun bagaimana mungkin? Matkun bahkan belum menampakkan dirinya.

“Sam, kita harus hati-hati.” Kata Lucas. Ia akhirnya muncul.

“Dari mana saja kau?” tanyaku. “Dimana Geo?”

“Di dekat sini ada sebuah desa, dugaanku desa ini pernah didatangi Matkun sewaktu Diabolos menghancurkan desa kita.” Lucas terlihat sedang berpikir keras, ia bahkan tak menjawab pertanyaanku. “Dimana portalnya? Mengapa belum terlihat portal?” Lucas semakin gugup. Ini pertama kalinya sesuatu berjalan di luar ekspetasinya. Kemudian ia memandangku seolah ia mengerti sesuatu. “Ini gawat.”

“Apa?” tanyaku.

“Matkun tidak kembali ke Neraka kala itu. Sial, Alan tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini.”

“Apa maksudnya?”

“Orang-orang ini... Mereka adalah Matkun... Kita harus menjauh... GEO! KAU DENGAR? KITA HARUS MENGHINDAR!”

“OKE!” teriak Geo dari atas. Lucas mulai berlari menjauhi kerumunan orang-orang yang seperti maya hidup ini, mereka terus saja berdatangan. Kesimpulanku, mereka ini adalah orang-orang di desa yang Lucas sebutkan tadi.

“Kita harus menolong orang-orang itu!” kataku.

“Kenapa aku tidak menyadari ini dari awal...” Lucas nampak kesal sekali sekarang, ia mengacuhkanku. Larinya semakin kencang. Namun sayangnya, sejauh apapun kami berlari, kami selalu berpapasan dengan manusia-manusia dengan bibirnya yang terus mengucap mantra pemanggilan Matkun. Kemudian, orang-orang ini berhenti bergerak, bahkan mereka berhenti bergumam. Hutan ini seketika saja menjadi sunyi. Lucas melambat, kemudian ia berhenti dari larinya. “Ada apa ini?”

Geo akhirnya turun dari atas pohon, “Aku belum pernah melihat yang seperti ini seumur hidupku.”

“Matkun...” Lucas berbicara sendiri. “Sewaktu Diabolos menghancurkan desa kita, ia dan para Sinners lainnya menyebar di belahan bumi lain. Di sini, Matkun menguasai tempat ini. Namun tidak seperti Diabolos yang menghancurkan segalanya, Matkun sepertinya malah berdiam di tempat ini. Aku pernah medengar desas-desus sebuah desa yang tidak hancur oleh kiamat. Desa itu bernama St. Valley. Desa abadi. Dimana orang-orangnya tidak bertambah tua, dan ini lah mereka sekarang, tak lebih dari gerombolan boneka. Jiwa mereka tidak lagi berada di tubuh mereka, semuanya sudah mati. Itulah kenapa kita tidak bisa menolong mereka, Sam.” Katanya padaku. Ternyata ia tidak mengacuhkanku sama sekali. “Tapi aku belum pernah mendengar laporan buruk tentang desa ini, semuanya damai-damai saja. Matkun sepertinya cerdas.”

“Mengapa hari ini ia muncul?” tanya Geo.

“Mungkin ini ada hubungannya dengan kembalinya Alich ke Neraka.” Lanjut Lucas.

Orang-orang ini, atau lebih tepatnya, sekumpulan jasad tanpa jiwa ini mulai bergerak-gerak aneh. Kepala mereka menggeleng-geleng, seolah tak ada tulang lehernya. Kemudian mereka menengadah memandang langit, semuanya tanpa terkecuali, mulut mereka terbuka. Geo mengeluarkan pedangnya, kulihat pedangnya sudah bersinar hijau.

Dari mulut orang-orang desa ini, muncul benda hitam panjang yang menggeliat seolah mereka ingin menggapai sesuatu.

“Lucas...” Kataku.

“Tetap tenang. Jangan Lengah.”

Benda aneh itu menggeliat semakin kencang, kemudian terus keluar dari mulut jasad-jasad malang itu. Memanjang, sangat panjang sampai menggapai pepohonan di sekitar mereka. Setelah itu, jasad-jasad itu mulai terangkat dari tanah. Melayang mendekati puncak pohon, ditarik oleh benda hitam panjang itu. Sampai pada akhirnya kami melihat pemandangan yang mengerikan seolah sudah terjadi tragedi gantung diri masal. Aku merasa perutku seperti ditendang dari dalam, mual sekali.

Di balik bayangan gelapnya hutan, sesuatu menggeliat mendekat dari belakang kami berdiri. Geo dengan cepat menghadang serangan tadi. Itu benda yang sama seperti yang keluar dari mulut jasad-jasad yang kini tergantung di atas pohon.

“Ah, teman-teman...” Geo menyadari sesuatu. Tepat di balik bayangan hitam di belakan kami ternyata ada sosok aneh yang besar. Bentuknya seperti bola besar dengan banyak cabang-cabang yang menggeliat di permukaannya.

“Ini... ini wujud asli Matkun.” Lucas nampak tak bisa berbuat apa-apa. “Ukurannya sangat besar dari yang pernah aku bayangkan. Ini sulit.”

Tanpa perintah, Geo melesat hendak menyerang Matkun. “GEO!” teriakku.

Dengan cepat Geo menghindari beberapa serangan Matkun. Namun jumlah tangan-tangan Matkun terlalu banyak dan cepat, Geo dengan kecepatan anginnya pun belum bisa menggapai Matkun. Ia kembali berkumpul denganku dan Lucas. “Ia sulit ditembus.”

Lucas terlihat masih berpikir tentang langkah selanjutnya. Sedangkan aku, hanya menonton. Aku merasa tak berguna sekarang. Cory benar, sepertinya aku tidak akan bertahan lama lagi.

“Sam... Geo... Aku punya rencana. Kita sembunyi terlebih dahulu!” Diskusi di situasi seperti ini sepertinya bukanlah solusi yang bagus. Seandainya aku bisa mendengar isi pikiran mereka seperti ketika kami sedang di Barrier.

Kami berlari menjauh dari Matkun, setidaknya menghindari tangan-tangannya yang mengganggu itu. Matkun berhenti menyerang kami setelah kami cukup jauh darinya. Kemudian di balik pepohonan Lucas menceritakan rencananya. “Matkun adalah Iblis yang memanipulasi dengan cara masuk ke dalam tubuh musuhnya dan mengambil kendali dari dalam. Kurang lebih seperti yang terjadi kepada penduduk desa St. Valley ini. Jadi untuk sementara jangan biarkan benda aneh itu menyentuh kalian, selama kita tidak terkontrol olehnya, kita aman. Selanjutnya, Matkun tidak terlihat banyak menyerang, terkecuali jika kita mendekat. Jadi kurasa ia sedang mempersiapkan sesuatu yang tak lain adalah ia ingin membuka portal, ia tak ingin diganggu. Sam, berikan tembakan terbaikmu sesuai aba-abaku. Geo, setelah Sam menembakkan bola cahayanya, aku ingin kau mengikutinya untuk sampai ke tubuh inti Matkun. Aku sebisa mungkin akan menolong dengan teleportasiku, dan ingat, kita di sini bukan untuk membunuh Matkun, itu masih sulit dilakukan dengan keadaan kita yang sekarang, kita hanya diberi tugas untuk menghentikannya membuka portal. Jangan sampai Diabolos kembali ke dunia ini!” Aku dan Geo mengangguk.

Kami siap menjalankan rencana kami, namun kemudian ada suara bergemuruh dari arah luar hutan. Seperti suara sirine dan suara tank baja. Pasukan militer ternyata sudah mengepung tempat ini. “Sembunyi!” kata Lucas.

Pasukan militer itu segera saja mengepung Matkun. Menembakinya dengan berbagai senjata, namun sama seperti Alich, Matkun juga kuat dari serangan biasa seperti itu. Dalam waktu beberapa menit saja pasukan militer itu sudah tak berkutik lagi. Mengapa mereka tidak pernah belajar dari pengalamannya?

Seseorang mengeluarkan bazoka dan mengarahkannya pada Matkun. Lucas tersentak, ia merasakan sesuatu. “Kenapa?” Geo bertanya.

“Kukira hanya kita Adom yang ditugaskan di sini?” kata Lucas.

“Maksudmu?” tanyaku.

“MATI KAU MAHKLUK PEMBAWA BENCANA! CANNON, VENEZ!” Bazoka itu bersinar, kemudian muncul semacam lingkaran mantra tepat di depan lubang pelurunya. Pria berseragam militer itu menahan senjatanya sekuat tenaga. Terlihat dari otot-otot di tubuhnya yang berkontraksi. Dan akhirnya, “BOOM!” tembakan itu melesat menuju Matkun. Pelurutnya tidak mengenai tubuh Matkun karena tertahan oleh tangan-tangannya itu. Namun pelurutnya berhasil melukai Matkun dan menghancurkan beberapa tentakelnya. Tentu saja hal itu tidak berdampak banyak, karena segera setelah itu Matkun kemudian memulihkan dirinya. “Cih!” pria di atas mobil besar itu nampak tak puas dengan tembakannya.

“Sudah kuduga, kita memang harus menyerang tubuhnya secara langsung.” Kata Lucas.

Seusai serangan si pria militer itu, Matkun mulai bergerak. Ia menyerang pria itu secara bertubi-tubi, namun berhasil dihindari.

“Dia salah satu dari kita, kita harus membantunya.” Kata Lucas. “Geo, Sam, ini saatnya...”

Pria yang belum kuketahui namanya itu masih berusaha menembakkan senjata-senjatanya. Semuanya berakhir sama. Kulihat Lucas masih mencari celah untuk memberiku aba-aba. Geo menunggu gerakanku. Sampai akhirnya si pria dari militer itu terjatuh terkena serangan Matkun. Darah keluar mengotori wajahnya.

“SEKARANG!” teriak Lucas.

Kuarahkan telapak tanganku pada Matkun, lalu “Clair de lune, viens!” Bola cahaya itu muncul dan dengan cepat menerjang Matkun. Sekarang aku mengerti mengapa aku harus menyerang duluan. Cahaya yang kutembakkan ini membuka jalan menuju tubuh Matkun karena tangan-tangannya itu tidak bisa menyentuh bola cahaya itu. Kemudian Geo melesat mengikuti dari belakang.

Setelah bola cahaya itu berhasil mengenai tubuh inti Matkun dan meninggalkan sedikit luka, Geo mengibaskan pedangnya untuk memperparah lukanya. Geo kemudian segera menghindar dari sana.

“Berhasil!” Kata Lucas. Tangan-tangan Matkun terlihat menggeliat kesakitan.

Matkun kembali menyembuhkan dirinya, namun prosesnya kali ini sedikit lebih lama dari hanya sekedar menyembuhkan tangan-tangannya. Ada beberapa tentakel matkun yang berusaha menggapai langit. Bayangan ini tak asing bagiku, ini sama seperti saat Diabolos akan membuka portal untuk pertama kalinya dan mengundang bencana ke muka bumi.

Bulan purnama mulai bercahaya kemerahan.

“Lucas! Ia akan membuka portalnya!” Teriak Geo.

CANNON, VENEZ!” sebuah roket melesat menuju tangan-tangan lemas itu dan seketika saja hancur. Matkun yang masih menyembuhkan dirinya tidak bisa berbuat banyak.

Cahaya matahari dari timur mulai perlahan muncul. “Kelemahan utama Matkun adalah cahaya. Oleh karena itu ia harus bersembunyi ke dalam tubuh manusia.” Kata Lucas puas karena rencananya berjalan dengan baik.

Matkun perlahan-lahan mengecil, tangan-tangannya itu menjalar kesana-kemari dengan cepat. Kembali memasuki jasad-jasad kosong yang menggantung di pohon-pohon pinus. Jasad-jasad itu kemudian berjatuhan dan bangkit dengan kaki-kaki mereka masing-masing. Mereka berdiri mematung di tempat mereka berdiri. Kasihan sekali mereka. Andai saja ada cara untuk menolong mereka, sudah pasti aku akan melakukannya.

“Apa yang terjadi dengan mereka sekarang?” tanya Geo.

“Aku tak yakin, yang jelas Barrier akan tetap memantau desa ini.”

So, jadi kalian Adom juga?” tanya seseorang. Dia adalah pria militer itu. Dari pasukannya kini hanya tersisa dirinya dan beberapa orang yang sudah kabur terlebih dahulu. “Dan kalian juga menyebut-nyebut Barrier. Apakah kalian anggota Barrier? Jika bukan...” Pria ini mengarahkan senjatanya pada kami. Darah masih mengalir di pelipisnya.

“Hey hey hey... tunggu...!” Geo menghalangiku dan Lucas dari bidikan orang aneh itu.

“Jawab saja pertanyaanku.”

“Ya, kami dari Barrier,” pria itu menurunkan senjatanya. “Aku Lucas, ini Sam, dan itu Geo. Kami bertiga baru saja bergabung. Maaf, tapi apakah kau anggota Barrier juga? Aku tak pernah melihatmu.”

“Ah! Ya, Cory dan Rin baru-baru ini menceritakan tentang penambahan anggota baru. Aku ingat sekarang. Namaku Blake. Ngomong-ngomong, strategi yang kau gunakan bagus juga, berjalan dengan baik.” Katanya pada Lucas. “Dan kau,” katanya ada Geo, “Kecepatanmu luar biasa, kukira Cory akan senang bertemu denganmu.”

“Ah ya, kami sudah bertemu.” Geo tersenyum pahit.

“Dan.... kau, Sam, bola cahayamu itu tak asing buatku. Aku pernah melihatnya di suatu tempat tak lama ini... tunggu dulu.... Apakah kalian yang membiarkan Alich kabur? Cory pernah bercerita tentang itu namun aku tak ingat pasti.” Tanyanya.

Aku memandangi Lucas, tak tahu harus menjawab apa.

  • view 269