Bab 2: Barrier

Wisesa Wirayuda
Karya Wisesa Wirayuda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Oktober 2016
The 7 Sinners

The 7 Sinners


Kiamat itu hanyalah sebuah awal dari kehancuran ini. #The7Sinners

Kategori Fantasi

2.6 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 2: Barrier

Sepertinnya sebentar lagi kami akan terkenal. Tiga puluh hari sejak perginya Alich, di setiap pagi, seperti pagi ini, media memuat berita tentang kejadian malam itu. Dengan Headline “Sihir? Atau efek kamera?”, "Siapakah mereka?" atau "Malaikat penolong sudah datang!". Sudah pasti penam pakan kami terlihat jelas. Terutama aku dan Geo karena Lucas sedang menghilang kala itu.

“Wartawan memang selalu ada dimana-mana, dan lihat betapa konyolnya mereka. Aku bahkan tak habis pikir mengapa mereka tidak menyelamatkan diri mereka saja.” Kata Geo.

“Biarkan saja, memang sudah waktunya bagi kita untuk terlihat.” kata Lucas. Lucu sekali seseorang yang tidak muncul pada layar kaca yang mengatakannya.

“Apa ini akan baik-baik saja?”

“Aku tidak yakin." Aku melihat keraguan di matanya. “Seseorang di depan pintu.” Kata Lucas tiba-tiba saja.

 “Siapa? Biar aku yang membuka.” Kataku.

“Tidak. Awas!

Sesuatu berwarna hitam segera saja menyergap kami. Geo dengan cepat menangkisnya dengan pedang yang sudah mengeluarkan cahaya hijau, begitu pula di kakinya.

“Oh, kalian punya seseorang yang gerakannya secepat angin ya?” Kata sosok yang bersembunyi dalam gumpalan asap hitam itu. Suara anak-anak! Sedikit demi sedikit asapnya mulai mereda, dan juga sedikit demi sedikit sosok anak-anak ini muncul.

“Rin...” kata Lucas tenang. Geo melompat mundur ke sampingku dan memandangiku dengan aneh. Aku hanya mengangkat bahuku.

“Hai!” kata anak laki-laki berkacamata ini sembari tersenyum lebar.

“Kau mengenalnya?” Geo keheranan, dan masih mengeluarkan pedangnya. Namun anak itu, yang disebut oleh Lucas dengan sebutan Rin, masih saja tersenyum aku tidak melihat rasa takut pada wajahnya. Tidak seperti kami ketika pertama kali melihat Diabolos.

“Apakah aku mengganggu perayaan kalian? Kuharap tidak. Bukan karena itu tidak penting, tapi karena apa yang kalian lakukan tadi malam adalah omong kosong. Aku menyaksikan kalian kemarin malam, sayang sekali kalian tidak membunuh Alich. Dan Lucas, kau tahu apa jadinya kan jika Alich kembali ke sarangnya?”

Lucas mengangguk. Lucas ternyata menyembunyikan sesuatu dari kami. “Itulah kenapa kami bertiga disini.”

“Apa maksudmu?” Rin mulai berjalan-jalan, mengitari perpustakaan yang hancur ini. Mengambil memerapa buku lalu melemparnya ke belakang. “Kalian ternyata tidak pintar. Kalian tahu apa yang akan dilakukan Alich? Dia akan kembali bersama teman-temannya. Itu akan menjadi akhir dari kehidupan manusia.”

“Aku tahu itu. Semuanya sudah dalam kendaliku.” Kata Lucas.

Rin menatap tajam Lucas. “Omong kosong, sudah seharusnya aku tidak memberikan tugas ini padamu. Kalian belum siap untuk ini. Menangani Alich saja sepertinya kalian kesulitan. Aku akan laporkan ini ke ketua. Jadi, gunakanlah waktu kita yang sudah sedikit ini untuk merayakan kemenangan kecil kalian karena sudah masuk berita nasional.”

Lucas terdiam.

“Tunggu... Apa maksudnya ini? Ketua? Siapa yang kau maksud? dan... mengapa kau seolah mengontrol Lucas seperti itu?” tanyaku.

“Kau sepertinya orang yang penuh dengan rasa penasaran. Hati-hati, banyak pertanyaan tidak mencerminkan kau orang yang cerdas atau bodoh. Kurasa itu tugas Lucas untuk menceritakan semuanya padamu dan kurasa... kalian harus segera bergegas. Aku merasakan akan terjadi sesuatu lagi.” Rin kembali tersenyum. “Obscurité, disparaît!” Asap hitam tadi mulai mengepul di udara, sedikit demi sedikit menutupi tubuh kecil anak laki-laki itu. "Lucas, kau harus membawa mereka bertemu dengan ketua. Kurasa dia akan menyukai mereka berdua, dan sepertinya ia punya misi lain untukmu. Baiklah sampai jumpa lagi, dan... jangan mati!" Asap hitam itu terbang melayang dan kemudian menghilang.

Lucas kemudian pergi, tanpa memberikan penjelasan apapun. Geo yang nampak muak segera mengejar Lucas dan meminta penjelasan. “Akan kujelaskan dalam perjalanan nanti.” Jawab Lucas dingin. Geo semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Lucas, aku bisa melihatnya dari matanya.

"Perjalanan? Apakah kita akan pergi ke suatu tempat?" tanya Geo. Namu Lucas tak menjawabnya, ia memang suka mengindari pertengkaran yang tak perlu.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Aku tak percaya masih ada rahasia diantara kami bertiga setelah semua yang kami lewati bersama. Namun apapun alasan Lucas untuk merahasiakan ini semua, aku akan tetap percaya padanya. Dia adalah harapanku dan Geo. Jika tidak ada Lucas, sudah pasti aku dan Geo tidak bisa melakukan apapun untuk melawan iblis-iblis itu.

Televisi di ujung ruangan masih menyala dan ternyata masih memberitakan tentang kejadian tadi malam dengan judul headline yang berbeda-beda. Bahkan kasus hilangnya seseorang masih dikaitkan dengan munculnya Alich. “Pasti monster itu membawa kakak saya!” kata narasumber tanpa tahu apa kebenarannya.

Mataku menatap kosong layar televisi, namun pikiranku masih belum bisa lepas dari perkataan anak kecil bernama Rin itu.

"Kalian tahu apa yang akan dilakukan Alich? Dia akan kembali bersama teman-temannya. Itu akan menjadi akhir dari kehidupan manusia”

Apakah maksudnya aku akan bertemu Diabolos lagi?

“Sam! Geo! Kita harus bergegas!” Tiba-tiba Lucas berteriak dari jauh dan membuyarkan lamunanku. Lamunan tentang aku sedang membunuh Diabolos dengan tanganku sendiri.

Aku menghampiri ruangan dimana Lucas berada. Aku menyusul langkah Geo dan bersamaan masuk ke dalam ruangan Lucas. Kami memang jarang sekali kemari, kami lebih sering menghabiskan waktu di luar ruangan. Terutama Geo yang selalu melatih diri menggunakan pedangnya.

Di ruangannya, Lucas sedang mempersiapkan sesuatu. Lilin, serbuk-serbuk putih seperti garam, dan hal-hal lainnya yang aku belum pernah melihatnya menggunakan itu semua. "Kau sedang apa?" Geo mewakiliku untuk bertanya.

"Sudah saatnya aku mengenalkan kalian pada Barrier." jawabnya. "Mantra ini adalah pintu masuknya. kau tidak akan bisa masuk atau keluar dari barrier tanpa mantra ini."

"Apa itu..."

"Sudah kubilang aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang kalian berdiri di sini." Kami menuruti perintah Lucas, kami berdiri dan membentuk semacam lingkaran kecil.  "Kalian siap?"

"Aku tak yakin." kataku.

"Kalian selalu meragukanku, sudah kukatakan berkali-kali, percayakan padaku. Semua sudah dalam kendaliku. Jadi tolong, jika kalian saja tidak bisa percaya padaku, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, ditambah lagi setelah Rin marah padaku. Kalian itu keluargaku." Lucas yang sentimental itu akhirnya muncul. Jika ia sudah berkata seperti itu, aku dan Geo tidak bisa membalasnya lagi. Tapi toh, aku memang percaya padanya.

 "Oke." kataku dan Geo serentak.

Lucas menghembuskan napasnya, "Baiklah... Ini hanya akan berlangsung selama lima detik. Apapun yang kalian rasakan, hiraukan saja. Rasanya akan seperti tersetrum, namun kalian akan baik-baik saja. Apapun yang kalian lakukan, jangan melawan atau teleportasi ini tidak akan berhasil."

Aku mengangguk, "tutup mata kalian!" perintah Lucas.

Beberapa saat kemudian rasanya kakiku mulai terangkat dari tanah secara perlahan. Entah ini perasaanku saja atau aku benar-benar melayang. "Ya, kita memang melayang." Apakah Lucas membaca pikiranku? "Dan ya, aku membaca pikiranmu, Geo juga bisa mendengarnya. Pikiran kita terhubung satu sama lain."

"Apakah ini masih lama?" Tanya Geo dalam pikirannya.

"Ini baru saja dimulai." Jawab Lucas. Setelah terasa melayang, kini aku merasa sedang berputar-putar di udara. "Oke buka mata kalian!"

Aku ragu untuk membuka mataku, mengingat aku sedang melayang. Begitu kubuka mataku, tepat di hadapanku adalah hamparan laut yang luas. Ini tempat yang aneh untuk melakukan pendaratan. "MENGAPA KITA TIDAK MENDARAT SEPERTI BIASA SAJA?" Tanya Geo sembari berteriak.

"INI JALAN TERCEPAT!" Balas Lucas.

Jarak kami dengan hamparan air itu semakin dekat, aku kembali memejamkan mataku karena rasanya pasti akan sakit menabrak air dari ketinggian ini. "Tak perlu menutup matamu." kata Lucas dalam pikirannya. Kutarik napasku dalam-dalam. Rasanya aneh aku tidak merasakan apapun. Aku tetap menutup mataku sampai akhirnya seseorang menggenggam bahuku. Itu Geo, dia mencoba menahan tubuhku karena ternyata kami sudah sampai di dasar laut.

Kulihat Lucas bisa berdiri dengan kedua kakinya, berjalan di dasar laut tanpa seperti kesusahan. Geo juga begitu. Aku merasa aku bisa bernapas. Aku juga tak merasakan adanya tekanan air seperti halnya aku sedang berenang. Bahkan sepertinya bajuku tidak basah. Aku hanya merasa tubuhku ditarik ke bawah secara lembut. Aku bisa melihat ada sebuah mantra di bawah kaki kami sekarang, mantra yang sama seperti yang Lucas buat sebelumnya.

"Selamat datang di Barrier." Kata Lucas. "Saatnya aku  menjelaskan ini semua pada kalian. Karena kalian nampaknya sangat kebingungan dan tak mau berbicara."

"Kita bisa berbicara di dalam air?" tanya Geo. Ia kemudian nampak terkejut dan menutup mulutnya. Ada udara yang keluar dari mulutnya setiap ia berbicara.

"Ya kita bisa berbicara. Kalian tahu? Sebenarnya bukan itu maksudku mengajak kalian kemari. Tapi apakah kalian melihat istana itu?" Tanya Lucas. Udara-udara itu juga muncul dari mulut Lucas.

Samar-samar tak jauh dari tempat kami berdiri, aku bisa melihat sebuah bangunan besar. Tempat itulah sebenarnya yang disebut Barrier olah Lucas tadi, hanya saja aku dan Geo tidak bisa fokus. Kami lebih fokus pada mengapa kita bisa berjalan dengan santai di dasar laut? atau apakah aku akan mati sebentar lagi karena kehabisan udara?

Tidak ada ikan atau hewan apapun di sini, hanya kami bertiga sedang berjalan menuju bangunan besar mirip istana itu. Mungkin berlebihan jika dikatakan istana, tempat ini lebih terlihat seperti rumah mewah milik bangsawan. "Itu gerbang masuknya? tanyaku pada Geo di sebelahku.

"Sepertinya... tidak terlihat begitu ramah, benar kan?"

"Oh, apakah aku sudah mengatakan bahwa pikiran kita terhubung saat ini? Jadi jika kalian tidak ingin merasa konyol dengan udara-udara yang keluar dari mulut kalian itu, kalian bisa berbicara menggunakan pikiran kalian." kata Lucas lewat kepala kami. "Dan ya, itu adalah gerbang masuknya. Persiapkan diri kalian."

"Apakah kita akan bertemu seseorang atau melawan monster laut?" tanya Geo.

"Ah ya, aku lupa memberi tahu kalian. Barrier adalah sebuah markas rahasia untuk para Adom." Lanjut Lucas.

"Adom?" tanyaku. Lucas memandangiku dengan aneh.

"Apakah kau bercanda? Kita ini Adom!"

"Mana kutahu? Kau tidak pernah berkata apapun tentang ini."

"YA! MENGAPA KAU TIDAK BEBERKAN SAJA SEMUA INORMASINYA!" kata Geo kesal.

Lucas sedikit tertawa. "Sihir yang kalian lakukan itu berasal dari tempat ini. Atau, yah, aku yang membawakannya pada kalian mengingat aku yang mengajari kalian sihir. Tapi inti pembicaraanku adalah. Barrier adalah rumah kedua kita. Tapi sayangnya..."

"Sayangnya?" Geo mulai penasaran.

"Baru aku saja di antara kita yang resmi sebagai anggota Barrier. Tujuanku mengajak kalian kemari adalah untuk memperkenalkan kalian pada mereka. Aku belum mengatakan pada mereka kalian akan datang, oleh karena itu aku ingin kalian tetap siaga. Apapun bisa saja terjadi. Semacam sambutan atau sejenisnya."

"Apakah anak kecil yang tadi kita jumpai juga seorang Adom?" tanyaku.

"Yeah, Rin adalah anggota yang paling muda, secara umur, namun dia sudah lama berada di Barrier. Lebih lama dariku." Jawab Lucas. Sudah kuduga anak itu bukanlah seorang anak biasa.

"Ada berapa anggota Barrier?" Tanya Geo.

Kami bertiga berhenti tepat di depan gerbang besi berwarna hitam ini. "Hmm... Entahlah, jumlah anggota Barrier sulit dipastikan. Karena anggotanya terus bertambah. Munkin sepuluh, sudah termasuk ketua."

"Hanya sepuluh orang yang menempati istana ini?"

"Aku bilang mungkin. Memang berapa orang yang kau harapkan? Seratus? Mengajarkan sihir pada seseorang itu bukanlah hal yang mudah, diperlukan bakat dari dirinya dan juga pengalaman yang suram. Yah, terutama memiliki pengalaman suram, yang mana kita alami sewaktu kecil. Jadi bisa dikatakan Adom adalah orang-orang yang berhasil melewati saat-saat sulit dalam hidupnya."

 “Apakah kita akan melihat mereka semua hari ini?” tanyaku.

“Aku tidak bisa jamin, Kebanyakan dari mereka memilih untuk hidup di luar Barrier karena mereka juga memiliki misi untuk memata-matai. Termasuk Rin. Itulah kenapa ia bisa tahu apa yang kita lakukan.”

"APAKAH KALIAN BENAR-BENAR HANYA AKAN BERDIRI DI SANA DAN AKU MENUNGGU KALIAN SAMPAI KALIAN BERES NGOBROL?" teriak seseorang dari arah istana. seorang lelaki perawakan tinggi dan berkacamata.

"Bagaimana dia tahu kita sedang mengobrol?" tanya Geo. Benar juga mengingat kami mengobrol lewat pikiran kami.

"Entahlah, aku tidak mengerti, yang jelas dia benar, kita harusnya segera masuk." kata Lucas. "Oh, ngomong-ngomong, itu Alan."

Kami bertiga berjalan menghampiri Alan, ia ada di sebuah balkon menuju pintu masuk, melambaikan tangannya menyambut kami. "Kalian pasti Sam dan Geo? Selamat datng di Barrier." Katanya, ia menunjukkan pintu masuk dengan tangannya. Gelembung udara muncul dari mulutnya. Sepertinya ia tidak bisa bicara lewat pikiran seperti yang kami lakukan. Aku menjabat tangannya, orang ini terlihat hangat dan ramah. "Aku Alan, sepertinya Lucas sudah menceritakannya pada kalian."

"Tidak, aku belum menceritakanmu pada mereka." kata Lucas.

Alan menghembuskan nafas panjang. "Kau menambah pekerjaanku saja. Baiklah, Namaku Alan. Aku adalah ketua dari Barrier."

Aku keheranan. Di kepalaku ketika mendengar kata 'ketua', ia adalah orang yang menyeramkan dan mengintimidasi, tapi Alan tidak.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Alan.

"Mereka hanya gugup." kata Lucas dan sedikit tertawa.

"Ah baiklah, ayo kita masuk." Alan menggerakan tangannya dan pintu besar di belakangnya terbuka dengan sendirinya. Istana ini sebenarnya tidak seperti yang aku pikirkan, di dalam sini air tidak ikut masuk. Itu ajaibnya. Suasananya sepi, tentu saja. Sejauh ini aku belum melihat siapaun selain kami berempat.

Aku kembali berbicara di dalam pikiranku berharap Lucas bisa menjawab pertanyaanku, "Apa kemampuan Alan?"

"Kemampuannya adalah istana ini."

"Maksudmu?"

"Dia yang membangun istana ini sendirian."

"Tapi untuk apa? Maksudku, aku kira kekuatannya itu semacam pemanggilan badai atau membuat gempa bumi atau semacamnya."

"Untuk apa? Yah, memang terdengar biasa saja. Tapi kau akan tahu nanti, mengapa tempat ini bisa dikatakan tempat teraman untuk para Adom. Bahkan Diabolos tidak bisa menyentuh tempat ini."

"Tentu saja, istana ini ada di dasar laut." kata Geo menyela pembicaraanku dan Lucas.

"Jika diabolos bisa menghancurkan desa kita dalam satu malam, mengapa tidak ia menghancurkan istana di dasar laut?" tanya Lucas. Dia sebenarnya mempunyai poin yang bagus. "Tapi tenang saja, itu tidak akan terjadi."

"Entahlah, sepertinya kalian menyembunyikan sesuatu dariku. Aku bisa merasakannya. Aku tahu kalian sedang mengobrol dalam pikiran kalian, tapi tentu saja aku tak bisa mendengarnya. Jadi, ada yang bisa aku bantu?" Alan berhenti berjalan di hadapan kami.

"Ah tidak, mereka hanya penasaran tentang tempat ini, tentang dirimu, juga hal-hal mengenai sihir... dan masih banyak lagi." Jawab Lucas canggung.

"Tentangku? Ah ini selalu terjadi padaku. 'Sang ketua dengan kekuatan yang tidak berguna semacam pemanggilan badai atau membuat gempa bumi atau semacamnya', tenang saja kau bukan yang pertama. Atau lebih tepatnya semua anggota Barrier pernah berpikiran seperti itu" Wajah Alan meluntur, maksudku benar-benar meluntur seperti lilin. Aku dan Geo sedikit mengambil satu langkah mundur. Tidak dengan Lucas, ia malah tertawa terbahak-bahak. Wajah Alan kini mulai bergerak-gerak aneh, sampai kemudian wajahnya membentuk rupa yang lain. "Ini wajahku yang sebenarnya." Wajah yang bisa dikatakan berbeda dengan yang sebelumnya. Ada beberapa tindikan di wajahnya, tato, dan kaca matanya menghilang. Ini 'wajah ketua' yang lebih cocok untuk ekspetasiku. "Tapi aku tidak begitu suka dengan wajah ini, penampilan fisik selalu menentukan kesan pertama, dan wajahku yang ini selalu membuatku bermusuhan dengan orang lain. Entah mengapa."

"Jadi kemampuanmu ada dua?" tanyaku.

"Dua? Ah kau belum mengerti sepertinya. Tidak, kemampuanku sama seperti kalian, hanya satu, semua Adom begitu. Kemampuanku adalah aku bisa merubah keadaan fisik suatu benda, baik itu benda mati ataupun hidup. Contohnya tempat ini. Tadinya tempat ini hanyalah puing-puing bangunan tua yang terendam air seiring bergantinya zaman, aku tak ingat ini bekas kerajaan siapa. Aku tak sengaja menemukannya, jadi aku pikir keren juga jika aku buat sebuah markas besar di bawah laut. Contoh lainnya adalah kaki Lucas itu."

"Jangan bilang tujuan kita kemari hanyalah agar kakimu bisa kembali digunakan?" tanyaku ketus pada Lucas. Ia hanya tersenyum.

"Sebenarnya, itu adalah tujuannya yang lain." Kata Alan, kini wajahnya yang sebelumnya sudah kembali. "Itu hanya janjiku padanya, aku berjanji padanya jika ia mengajarkan sihir pada kalian, ia akan mendapatkan kakinya kembali."

"Tapi kenapa?" tanya Geo.

"Tunggu, aku mengerti sekarang." Kataku. Aku ingat bagaimana Lucas sering bepergian dan bertemu dengan orang-orang aneh. Aku ingat bagaimana Lucas begitu memaksaku dan Geo untuk mau belajar melakukan sihir. "Barrier membutuhkan anggota baru, benar kan?"

"Tepat." Kata Alan.

"Seseorang tolong jelaskan padaku." kata Geo. Sepertinya aku terlewat beberapa informasi.

Suasana seketika berubah, aku merasakan ada hembusan angin. Kemudian aku sadari Geo sudah melompat tinggi menghindari sesuatu. Sebuah bola transparan yang hampir mengenai kaki Geo. Dari atas udara itu, Geo kemudian melesat menuju serangan itu muncul. Tak ada siapapun disitu.

"Ah, dia cepat sekali." Kata sebuah suara di belakangku. Aku kemudian berlari menghindarinya. Sayangnya aku terlambat, ia sudah beberapa langkah di hadapanku sekarang. Keringat dinginku muncul. Perempuan dengan rambut pendek, ia tersenyum. Ia menghadapkan telapak tangannya padaku. "Bagaimana dengan dirimu? Sonore, tirer!"

Udara berkumpul di telapak tangannya, berkumpul menjadi sebuah bola seperti yang tadi, dan sudah pasti aku tidak akan bisa menghindarinya seperti Geo. Beberapa saat kemudian perempuan itu melepaskan bola di telapak tangannya, aku memejamkan mataku. Detik berikutnya yang kurasakan hanyalah hembusan angin yang keras, begitu kubuka mataku, Geo sudah ada di hadapanku menghadang bola aneh itu dengan pedangnya yang sepertinya ia sedikit terlambat untuk menangkisnya. Ada sedikit luka pada Geo.

"Cory, cukup!" Alan akhirnya bersuara.

"Siapa dia? Geo? dia begitu cepat, aku senang sekali bertemu dengan orang yang cepat seperti ini, semua Adom yang kukenal semuanya lambat." Cory tertawa terbahak-bahak.

"Mereka berdua adalah anggota baru kita." Kata Alan.

"Kau yakin? Apakah ia juga?" perempuan itu menunjukku. "Dia tidak terlihat melakukan apapun. Apa kau yakin ia bisa bertahan lebih dari satu bulan?" Ini benar-benar kesan yang bagus untuk pertemuan pertama.

"Cory, biar aku yang mengurus itu. Kembali lah ke tempatmu berasal." Kata Alan.

"Apakah kau yang membawa mereka kemari?" kata Cory pada Lucas.

"Yeah, mereka sudah seperti keluargaku sendiri. Sejak kami kecil kami sudah..."

"Ya ya ya, cukup cerita cengengnya. Kuharap kalian tidak cepat mati. Baiklah, aku ada di lantai atas jika kalian mencariku."

Perempuan ini gila, kecepatannya sama seperti Geo atau bahkan sedikit lebih cepat, aku tak yakin, ia kemudian melesat pergi dalam beberapa detik saja. "Perempuan itu..." Geo terlihat tidak bisa berkata-kata banyak, "Ia memakai angin juga."

"Bukan, ia lebih cepat dari itu, ia menggunakan gelombang suara." kata Alan. "Itulah mengapa ia lebih cepat darimu, yah, secara teori, kecepatan suara memang menajubkan."

Geo masih terlihat kesulitan berbicara, dan kemudian ia mengangkat wajahnya dan sedikit tersenyum, "Ini semakin menarik saja!"

  • view 297

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Projectnya bagus kak. Baru baca prolog nanti saya lanjut ya

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    dulu ada filmnya nih, Seven. nonton sepuluh kali. filmnya keren.

    • Lihat 6 Respon

  • Wisesa Wirayuda
    Wisesa Wirayuda
    1 tahun yang lalu.
    Duh, kenapa tulisan ini gak muncul di akun saya ya? jadi gak bisa diedit banyak typonya

    • Lihat 14 Respon