Bab 1: Alich

Wisesa Wirayuda
Karya Wisesa Wirayuda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Oktober 2016
The 7 Sinners

The 7 Sinners


Kiamat itu hanyalah sebuah awal dari kehancuran ini. #The7Sinners

Kategori Fantasi

2.8 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 1: Alich

-15 Tahun kemudian-

Tak usah membayangkan bunga-bunga yang bermekaran indah sekarang. Aku bahkan tak bisa lagi melihat dimana adanya warna. Lihat saja dimana kami sekarang! Kami terpaksa tinggal di sebuah perpustakaan yang sudah tak berpenghuni. Gedung ini satu-satunya yang masih terlihat bagus diantara gedung-gedung lain. Aku tak tahu apakah peradaban manusia bisa bertahan dari malapetaka ini atau tidak. Bertahun-tahun sudah, monster-monster itu meyerang dunia ini. Tanpa henti dan tanpa adanya ampunan. Semuanya kini hancur.

Dunia ini sudah hancur.

Sejauh ini aku baru melihat satu mahkluk saja dengan mataku sendiri. Sedangkan enam sisanya aku tak ingat pasti bagaimana rupanya. Diabolos! Seperti yang diteriakan oleh orang-orang. Mahkluk yang menghancurkan desaku dan kehidupannya. Mahkluk yang paling besar diantara yang lain. Mahkluk yang meleyapkan desaku hanya dalam waktu semalam. Mahkluk yang harus kubunuh dengan tanganku sendiri bagaimanapun caranya.

Teman-temanku juga berpikiran yang sama. Terutama Geo, yang melihat langsung bagaimana tubuh orang tuanyanya terkoyak hancur. Anak cengeng itu kini sudah bertransformasi menjadi seorang prajurit perang, dengan gayanya yang pemberani ditambah tubuhnya yang sekarang berotot padat. Hampir setiap hari dia berlatih memainkan pedangnya yang ia buat sendiri. Pedang yang mengandung tetesan darah dari orang tuanya. Menurut Lucas hanya pedang itu yang bisa membelah kepala mahkluk-mahkluk itu. Namun tentu saja kami belum pernah mencobanya.

Sedangkan Lucas, masih dengan kacamatanya, dan kini dia bersikap lebih tenang. Dia bukanlah Lucas yang bisa ceria seperti waktu kami bermain bola bersama. Kini Lucas menjadi seorang laki-laki pendiam yang menggunakan kursi roda karena kaki kirinya tak bisa bergerak lagi. Namun jangan salah, Lucas kini menjadi yang paling cerdas diantara kami bertiga. Sepuluh tahun terakhir dia menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku di reruntuhan perpustakaan kota yang sekarang menjadi tempat tinggal kami bertiga. Lucas juga pernah berkata, "Kalian berdua sudah banyak membantuku. Kini giliranku. Aku akan mencari jalan keluar."

Jika kalian ingin tahu, lima belas tahun terakhir, seluruh dunia bersatu untuk mengalahkan mahkluk-mahkluk yang mereka sebut “The Seven Sinners” atau Tujuh Pendosa, dan sekarang kita berusaha membangun peradaban yang baru setelah para Sinners  itu kabur melalui portal sialan itu. Namun hal itu dianggap sebagai kemenangan kaum manusia. Segala peralatan perang dari segala penjuru dunia sudah digunakan melawan mereka. Senjata api sama sekali tidak berguna, pesawat tempur paling canggih sekalipun hanya terlihat seperti burung beterbangan yang jatuh, apalagi aku dan teman-temanku. Namun rasa dendam ini seperti tak bisa hilang. “Ampuni musuhmu, cintai musuhmu, maafkan musuhmu.” Itu yang mereka bilang. Omong kosong.

Aku tidak pernah tau darimana datangnya mahkluk-mahkluk itu. Sebuah portal yang aku lihat saat aku kecil dahulu kala, tidak pernah lagi aku melihatnya. Sekarang mahkluk-mahkluk brengsek itu tiba-tiba saja menghilang. Setelah mereka menghancurkan dunia ini serta harapan-harapan didalamnya, mereka pergi begitu saja.

Ah, kecuali Alich.

Iblis satu itu kini sudah tertangkap. Ukurannya yang tidak terlalu besar membuat pasukan militer bisa menanganinya secara fisik, ditambah lagi Alich sepertinya tidak banyak melawan. Namun dugaan Lucas, monster berbentuk seperti manusia raksasa itu tidak akan bisa ditahan berlama-lama. Cepat atau lambat, dia pasti akan membunuh manusia disekitarnya dan kabur setelahnya. Jika prediksi Lucas benar, kemungkinan Alich akan melakukan pemberontakan di bulan purnama malam. Karena menurut Lucas, Bulan purnama lah penyebab mengapa desa kami bisa hancur dalam waktu semalam. Bulan purnama bisa memberikan kekuatan lebih pada mereka. Hanya saja karena kami semua belum pernah melihat langsung Alich, kami tidak bisa memastikan seberapa kuat monster ini.

Saat ini, Alich berada di penjara bawah tanah dengan penjagaan berlapis. Namun tetap saja, Lucas sedikit tertawa mendengar tentang penjara ini, jarang sekali aku melihatnya tertawa belakangan ini. “Penjara bawah tanah? Yang benar saja.” Katanya ketika melihat beritanya di TV. “Mahkluk-mahkluk seperti mereka itu hanya mempan jika sudah disegel dengan sihir.” Lanjutnya.

Ya, Sihir adalah sesuatu yang bisa melawan mereka. Atau setidaknya itu yang Lucas sampaikan padaku. Itulah kenapa mereka sulit dikalahkan oleh senjata api, pesawat jet, bahkan tank baja sekalipun.

Dan lagi, jika prediksi Lucas benar, Alich adalah monster terlemah dari tujuh yang ada. Jadi rasanya agak keterlaluan jika pasukan seluruh dunia tidak bisa mengurusi mahkluk dengan tinggi lima meter itu, atau setidaknya itu yang dikatakan berita. “Kabar buruknya, malam ini adalah malam bulan purnama.” Kata Lucas.

Itu artinya kita harus membunuh Alich malam ini.

“Teman-teman, lihat ini!” Geo memotong diskusiku dengan Lucas dan membuat kami menghadapan TV yang tayangannya tidak sejernih yang aku ingat. “Apakah itu Alich?”

Disana terlihat sosok tinggi, namun karena penjara bawah tanah itu gelap sekali, aku tidak bisa melihat bagaimana wujud utuhnya, ditambah lagi rambut panjangnya yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Meskipun begitu, aku masih bisa merasakan betapa jahatnya dia. Dia terlihat tidak banyak bergerak namun masih terdengar erangannya. Aku kira dia bisa merasakan sakit.

Kemudian saluran TV berpindah menjadi sebuah pengumuman dari pemimpin Aliansi Dunia, Vladimir Mori. “Dia lagi.” Kata Lucas, dan kemudian dia pergi meninggalkanku dan Geo.

“Dunia, seperti yang kita semua tahu bahwa saat ini kita berhasil menangkap satu dari Tujuh Pendosa. Mahkluk ini diberi nama Alich. Kini mahkluk ini sudah berada dibawah pengawasan tim Militer Dunia, dan dengan sistem pengamanan yang kuat. Bahkan satu juta manusia saja tidak akan bisa mengancurkannya.”

“Satu juta itu sepertinya lelucon, kan?” tanya Geo, sembari ia terkekeh sejak awal.

“Malam ini, akan menjadi awal yang baru bagi peradaban manusia. Karena malam ini, kita, seluruh umat manusia akan menyaksikan bagaimana mahkluk ini dibinasakan. Malam ini, akan menjadi malam kemenangan kita semua. Kematian Alich akan menjadi awal dari bentuk pemberontakan kita semua. Setelah mahkluk ini, kita juga akan menangkap enam mahkluk yang lain. Termasuk juga Diabolos!” kata Presiden dengan nada yang percaya diri.

Geo yang sejak tadi menertawai Presiden, mulai menghapus air matanya. “Orang ini benar-benar lucu.” Katanya.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.

“Tentu saja kita harus menghentikan upaya orang-orang itu menyerang Alich. Karena tentu saja mereka semua akan mati malam ini. Mereka sama saja dengan bunuh diri.”

“Kalau begitu kita segera bersiap. Sebentar lagi langit akan gelap.”

***

"Bagaimana jika kita salah? Maksudku, bagaimana jika apa yang kita lakukan sejauh ini ternyata perc...”

“Kau bisa penggal kepalaku dengan pedangmu itu.” Jawab Lucas dingin pada Geo.

Sejauh ini kami bertiga memang hanya mengandalkan Lucas dalam segala informasi yang kami miliki. Termasuk bagaimana caranya mengalahkan mahkluk-mahkluk itu. Lucas menemukan informasi-informasi aneh seperti ini dari banyak orang.  Selama beberapa tahun ini dia juga melakukan penelitian tentang sihir. Terkadang aku melihatnya sedang megobrol dengan orang asing di pinggir jalan. Akhirnya, ketika dia sudah menguasai seluk beluknya, dia segera saja mengajarkannya padaku dan Geo.

Itulah yang selama ini kami latih. Geo berlatih bagaimana menggunakan sihir pada pedangnya. Menurut Lucas, darah orang tua pada pedangnya itu bisa menambah kekuatan padanya. Aku memang terkadang melihat pedang milik Geo bersinar ketika sedang digunakan berlatih. Namun aku masih tak yakin apakah ini akan berhasil, minimal melawan Alich. Mahkluk terlemah dari yang lain.

Sedangkan aku, sejauh ini aku hanya mampu mengeluarkan cahaya dari telapak tanganku. Aku tidak pernah merasa bahwa ini bisa membunuh mahkluk-mahkluk itu. Namun Lucas terus saja menyuruhku untuk percaya pada cahaya itu. Yah, bisa dikatakan, Lucas seorang cenayang sekarang. Aku pernah melihatnya mengeluarkan beberapa elemen seperti angin, api dan air. Namun itu bukan jaminan bahwa kita bisa selamat malam ini. Kami bertiga masih belum tahu sejauh mana kapasitas kami masing-masing. Hanya saja dendam yang kami bawa sejak dulu ini tidak pernah hilang dan sepertinya akan terus menggelora di dalam diri kami semua. Rasa benci itu aku rasa akan menjadi abadi.

Lamunanku terhenti beriringan dengan mobil yang juga berhenti. Kami berhenti di dekat hutan. “Ini jalan yang aman untuk menuju penjara bawah tanah itu.” Kata Lucas. “Bantu aku naik ke kursi rodaku.”

“Kau pernah kemari?” tanya Geo.

“Tentu saja. Hampir seluruh kota ini pernah aku datangi. Bahkan jalan-jalan tikus sekalipun.”

“Tapi kapan?” Geo keheranan, dan dia melirik padaku sembari mendorong kursi roda.

“Kau tidak akan pernah tahu kapan seekor ular akan menyerangmu. Yah, itulah aku. Aku bergerak disaat orang-orang tertidur... maksudku, kalian, tertidur.”

“Bagaimana mungkin kau kemari, melewati jalan yang sulit begini.”

“Lagi-lagi kau meragukan aku.” Kata Lucas. Geo seketika saja terdiam.

“Maaf.” Katanya dengan sedikit tawa canggung.

Kami terus saja mengikuti jalan berbatu seperti yang ditunjukkan Lucas. Geo nampak sedikit kesulitan mendorong kursi roda Lucas itu. Sampai akhrnya Lucas memberi kami perintah. “Ya, disini.”

“Disini? Ditengah hutan? Kau ser...” aku segera menyikut Geo, menyuruhnya untuk diam.

“Persiapkan diri kalian. Pegang tanganku. Pejamkan mata kalian.” Perintah Lucas.

Aku dan Geo memegang tangan Lucas. Kulihat Geo sudah memejamkan matanya, begitupun Lucas. Entahlah, aku merasa bodoh melakukan ini. “Kubilang tutup matamu, Sam!” seketika saja aku memejamkan mataku, Lucas memang bisa melihat meskipun matanya tertutup sejak ia belajar sihir. Aneh memang. Selang beberapa detik, Lucas menyuruh kami membuka mata kami. Tanpa kami sadari kami sudah berada di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang baik.

“Tapi bagaimana bisa ini...” Geo bingung. Sebenarnya aku juga terkejut, ini pertama kalinya kami melakukan teleportasi. Lucas pernah menyinggung perihal ini, seperti teori atau sejarahnya, namun tetap saja rasanya agak aneh berpindah ke suatu tempat dalam satu kedipan mata.

“Sudah kubilang, percayakan padaku.” Kata Lucas, sembari ia membenarkan posisi rambut coklat gelapnya itu.

“Dimana kita?” tanyaku.

“Biar kuingat-ingat dulu.” Lucas memperhatikan sekitarnya dengan seksama. Seolah semua kenangan dan ingatannya sedang berproses untuk mengumpulkan informasi. “Kita sudah dekat. Kita harus segera.” Geo bergegas mendorong Lucas dan kami mempercepat langkah kami.

Tempat ini terlihat seperti sebuah lab penelitian. Sangat bersih, dan warna putih yang mendominasi bisa membuatmu merinding. Ditambah lagi udara disini lumayan dingin. Sampai akhirnya aku bisa melihat ruangan dengan beberapa orang di dalamnya. Mereka sibuk mengutak atik komputer dihadapan mereka dan sebuah layar besar di tengah ruangan yang menunjukan pemandangan lain. Alich terlihat berada di layar itu. Manusia-manusia ini sedang mempelajari Alich.

“Tak perlu dilihat. Mereka hanya membuang-buang waktu saja.” Kata Lucas. Kami kembali bergegas.

Gedung ini terasa bergetar sedikit demi sedikit sampai akhirnya berguncang hebat. Kami bertiga otomatos berhenti bergerak. Alarm mulai berbunyi, dan gedung ini menjadi riuh tak karuan. Kemudian Lucas memberikan aba-aba untuk kembali bergerak, meskipun gedung ini terus bergetar. Disusul dengan suara auman yang rasanya pernah aku dengar sebelumnya, hanya saja yang ini lebih terdengar ringan. Sudah pasti itu Alich, tubuhnya yang lebih kecil menghasilkan suara yang tidak sekeras milik Diabolos.

“Apa kita terlambat?” tanyaku pada Lucas.

“Tidak, kita datang diwaktu yang tepat. Hanya saja... Pasukan militer sepertinya sudah memulai eksekusi.” Katanya.

Keringat dingin mulai bercucuran di tubuhku. Aku mulai merasakan takut. Sudah sekian lama aku tidak merasakannya. Namun rasa takut itu rasanya hanya hadir sekilas saja. Rasa takut itu kini sudah berganti dengan amarah yang kupendam sejak lima belas tahun terakhir.

“Tenang lah, semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan kejadian lima belas tahun yang lalu terulang kembali. Aku benar-benar akan memastikan makluk itu terbelah kepalanya dengan pedangku.” Geo bisa merasakan apa yang kurasakan. Atau lebih tepatnya, kami bertiga memang terhubung. Kami bertiga adalah keluarga. Sudah sepantasnya kami saling menjaga.

“Terima kasih.” Kataku. Proses lima belas tahun memang membuatku terlihat seperti anak bawang. Disaat dahulu aku yang pertama kali memberikan mereka dukungan semangat, kini aku merasa mereka berdua sudah jauh melampauiku. Bukan hal yang buruk sebenarnya. Hanya saja aku terkadang merasa aku seharusnya bisa diandalkan.

“Gerbang itu!” tunjuk Lucas. Dari gerbang baja yang besar itu aku bisa merasakan sumber getaran ini. Sepertinya disana lah Alich berada.

Geo menarik pedangnya, seolah dia sudah sering melakukan ini. Sedangkan aku masih ragu dengan apa yang akan aku lakukan. Kemudian Lucas menyentuh gerbang di hadapannya itu dan membuka gerbang tersebut tanpa banyak tenaga. Setelah itu, kami bertiga, untuk pertama kalinya bisa melihat langsung Alich, iblis yang mewakili sifat Kemalasan Manusia atau Sloth!

Alich kini sudah terlepas dari belenggunya. Tembakan-tembakan dari tim pengamanan yang sama sekali tidak melukainya. Alich sama sekali tidak melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri, kepalnya selalu melihat ke atas. Getaran-getaran yang ada itu bersumber dari ledakan senjata api, bukan Alich.

“Geo!” aku sama sekali tidak menyadari Geo sudah berlari menghampiri Alich, ditengah-tengah ratusan tembakan seperti ini.

Geo berlari dengan kencang, aku belum pernah melihatnya berlari secepat itu. Entah itu adalah sihir atau bukan. Karena selama ini aku hanya melihatnya berlatih bermain pedang. Dari larinya yang cepat itu, kemudian Geo melompat tinggi, tepat dibelakang Alich. Kini ia berada tepat dibelakang kepala Alich. Satu tebasan yang telak bisa membunuh Alich.

Namun Alich sepertinya tidak semalas yang kita kira, ia menyadari kehadiran Geo. Dia mengangkat tangannya dan menangkis tebasan pedang Geo dengan tangan kosong, kulihat kukuny ayang panjang itu sangat menakutkan. Aku tidak melihat adanya penyesalan pada wajah Geo, karena kini pedangnya berlumuran darah. Pedang yang ia buat sendiri itu ternyata mampu melukai Alich. Aku terkejut melihatnya. Disaat peluru-peluru itu tidak bisa melukai Alich dan kini untuk pertama kalinya dalam sejarah kemanusiaan, kami semua bisa melihat darah Alich yang juga berwarna merah.

“Geo awas!” Lucas berteriak menyadarkan Geo yang sejak tadi puas tersenyum. Secepat angin dirinya menghindar dari serangan Alich.

Geo mempersiapkan kuda-kudanya untuk kembali menyerang. Seketika saja Alich melompat tinggi dan rambut panjangnya yang berterbangan di udara menambah kesan seram pada mahkhuk satu ini. Geo bersiap menyambut kehadiran Alich yang akan terjun dari atas. Namun ia tak kunjung turun. Alich ternyata memiliki sayap. Seperti sayap kelelawar yang besar. Sayap berwarna hitam pekat dan angin dari kibasan sayap itu membuat ruangan yang mirip goa bawah tanah ini menjadi berangin. Alich terbang dan kini dia siap untuk bertarung.

“Geo tidak akan bisa melakukannya sendiri. Kita harus membantunya.” Kataku pada Lucas.

“Lakukanlah sesuatu jika begitu.” Lucas tersenyum padaku. Namun aku tidak mengerti. Aku tidak tahu apakah kekuatanku bisa menghentikan Alich seperti yang Geo lakukan. “Percaya lah pada dirimu sendiri.” Lanjutnya.

Keadaan penjara masih saja riuh, alarm tak kunjung dimatikan. Beberapa tembakan senjata api masih saja terdengar.

“Kita... kalau begitu, kita harus memerintahkan orang-orang ini untuk berhenti menembak dan pergi menyelamatkan diri mereka masing-masig, atau kita harus mengevakuasi mereka.” Kataku.

“Biar aku yang melakukan itu. Kau bantulah Geo disana.” Aku hanya mengangguk. Ketika aku sudah maju beberapa langkah, kusadari Lucas sudah tidak dibelakangku lagi.

Kulihat Geo masih mencoba untuk menyerang Alich, hanya saja karena dia begitu tinggi terbang, Geo menjadi kesulitan. Kemudian aku melihat Geo berkonsentrasi, dalam beberapa detik aku bisa melihat kakinya bercahaya kehijauan dan ia kembali melompat tinggi, lebih tinggi dari sebelumnya. Seolah ia bisa melangkah diatas udara.

Tangan Alich yang begitu panjang mampu menggapai Geo dimanapun dia berada, hanya saja Geo tak kalah cepat. Sampai akhirnya pedang Geo kembali bertemu dengan salah satu tangan Alich, ukuran Geo yang jauh lebih kecil dari Alich membuat dia tidak bisa berbuat banyak. Sementara tangan Alich yang satu sedang menahan Geo, tangannya yang satu lagi siap menghantam, kukunya yang panjang itu sudah pasti bisa membelah Geo menjadi dua bagian.

Pukulan itu telak mengenai pedang Geo dan aku bisa melihat Geo terjun bebas dari ketinggian sepuluh meter. Aku berlari berniat menangkap Geo, namun Alich terlihat terbang terjun mengejar Geo yang kesulitan bergerak. Jika aku diam saja, sudah dipastikan Geo akan mati. Teriakan Alich memekakan ruangan bawah tanah ini.

Clair, venez!” kata-kata itu muncul begitu saja dimulutku. Seketika saja muncul cahaya dari telapak tanganku, dan aku tidak menyadari bahwa cahaya putih ini akan memenuhi ruang besar ini. Aku bisa melihat Alich memberontak mundur dan terbang meninggalkan Geo yang terus terjun bebas. Setelah aku hentikan sihirku, kutangkap Geo. Sekuat tenaga aku tahan benturannya, namun akhirnya kami terjatuh juga.

Alich yang terganggu dengan cahaya yang aku hasilkan mulai bisa mengendalikan dirinya dan kembali terbang ke arah kami berdua. Geo bergegas berdiri dan mempersiapkan dirinya untuk melawan. “Vent, couper le plafond!” itu adalah mantra andalannya. Warna kehijauan yang tadi aku lihat di kakinya, kini ada pada pedangnya. Aku merasa angin disekitarku sekarang sedang menuju pedang Geo. Alich semakin dekat, untuk pertama kalinya aku bisa melihat matanya yang berwarna merah gelap.

Benturan antara Alich dan Geo sangatlah keras, aku ragu Geo bisa menahan itu. namun seketika saja aku mendengar teriakan Geo. “Yeaaaaaaaaah!!!” begitu Alich berbenturan dengan pedang Geo, sebuah angin kencang menerjang balik Alich ke atas. Ini pertama kalinya aku melihat mahkluk sebesar ini dilempar bebas seperti itu. Kulihat juga beberapa orang yang belum mengevakuasi diri mereka, terbengong melihat apa yang dilakukan Geo pada Alich.

Mahkluk itu kini menabrak bagian atas bangunan, ada beberapa bebatuan yang terjatuh ke bawah. Salah satunya, batu besar yang jatuh menuju gerbang tempat kami masuk. Itu berarti kami tidak bisa melarikan diri sekarang. Satu-satunya cara untuk pergi adalah menunggu Lucas kembali.

“Ini gawat.” Kata Geo.

“Ada apa?”

“Lihat!” Geo menunjuk ke arah Alich. Mata Alich kini menyala. “Sepertinya sekarang diluar sana bulan sudah penuh.”

“Bersiaplah, dia kembali.”

“Aku kehabisan tenaga, sepertinya aku tak bisa lagi melawannya.” Aku bisa melihatnya kelelahan. Kini sepertinya hanya aku yang bisa melawan Alich.

Percaya lah pada dirimu sendiri.” Kata-kata Lucas terngiang dikepalaku. Aku kembali mengingat-ingat semua latihan yang pernah Lucas ajarkan. Dan satu-satunya yang terpikir olehku hanyalah...

Clair de lune, viens!”

Kucurahkan segenap tenagaku untuk melakukan sihir ini. Lucas pernah mengatakannya, sihir ini bukanlah yang terkuat, tetapi cukup ampuh untuk setidaknya melumpuhkan mahkluk itu. Secara teori, cahaya mengalahkan kegelapan.

Kuarahkan telapak tanganku pada Alich yang kembali terjun terbang kearahku. Mata merahnya dan rambut panjangnya membuatku merinding. Kurasakan gelombang aneh dalam tanganku, dan kemudian muncul bola cahaya kecil yang melayang di telapak tanganku. Bola itu membesar, membesar, membesar dan akhirnya melesat seperti meriam. Menghantam tepat pada Alich dan membawanya kembali berbenturan dengan atap ruangan besar ini.

Bola cahaya itu terus menekan Alich sampai aku mendengar suara retakan. Gedung ini akan hancur!

“Ayo kita lari!” Teriak Geo.

“Aku datang tepat waktu sepertinya.” Lucas tiba-tiba saja muncul dihadapan kami, “Pegang tanganku.” Setelah aku menggenggam kuat tangannya dan memejamkan mataku, kini aku menyadari aku sudah tidak berada di ruang bawah tanah itu. Kami kembali di hutan. Tempat kami datang tadi.

Kemudian aku mendengar ada sebuah ledakan besar dari arah belakangku. Dari arah penjara bawah tanah. Kulihat sebuah bola cahaya besar yang masih mendorong seekor monster. Mendorongnya terus ke langit.

“Apa kita perlu mengejarnya?” tanya Geo.

“Lihat!” perintah Lucas.

Bola cahaya itu meledak. Sayangnya Alich berhasil menghindar dari ledakan itu, dan kini ia terbang bebas di langit. Dia lalu mengeluarkan auman seram yang sudah pasti membuat panik orang-orang disekitarnya.

“Ini gawat.” Kata Geo.

Alich, dengan tangannya yang terluka oleh pedang Geo dan sayapnya yang kini sedikit sobek, terbang ke langit yang gelap pekat dan setelah dia merasa cukup tinggi, dia kembali menukik kebawah. Kemudian muncul sebuah lingkaran hitam tepat berada di bawah Alich akan menabrak. Alich masuk ke dalam lingkaran itu, dan hilang bersamanya.

“Dia... kabur?” tanya Geo.

“Yeah, dia pulang ke tempatnya berasal. Ke Neraka.” Kata Lucas.

  • view 301