Prolog - The 7 Sinners

Wisesa Wirayuda
Karya Wisesa Wirayuda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Oktober 2016
The 7 Sinners

The 7 Sinners


Kiamat itu hanyalah sebuah awal dari kehancuran ini. #The7Sinners

Kategori Fantasi

2.9 K Hak Cipta Terlindungi
Prolog - The 7 Sinners

Oleh: Wisesa Wirayuda

Prolog

Mereka bilang, "semua titik kehidupan akan hilang ketika datangnya kiamat." Namun ternyata tidak, kiamat adalah awal dari semuanya.

Berdiri disini sekarang saja rasanya sudah menjadi hal terberuntung untukku. Disaat Geo, temanku yang juga selamat dari malapetaka ini, hanya bisa meratapi jasad orang tuanya yang sudah hancur berantakan. Lututnya tak sanggup lagi menahan tubuhnya yang gemetar sejak tadi. Disisi lain aku bisa mendengar Lucas meringis kesakitan, dan kini ia sudah terbaring lemas. Kaki kirinya terjepit reruntuhan bangunan ini. Aku sudah kehabisan akal bagaimana membantunya untuk bisa lepas dari sana.

Kepalaku juga sepertinya terus meneteskan darah. Sesungguhnya rasa takut ini membuatku tidak bisa memikirkan rasa sakit lagi. Dari rombongan pengungsi yang berjumlah puluhan orang, nampaknya hanya tersisa kami bertiga. Sisanya tewas setelah tertimpa reruntuhan gereja ini, atau mungkin mati di ditelan monster sialan itu. Saat itu kami sedang berdoa memohon kepada Tuhan agar Dia menyudahi malapetaka ini. Suasana gereja sangat menakutkan kala itu. Sampai akhirnya suara melengking seorang perempuan mengalihkan kami semua dan menambah suasana mencekam kedalam gereja.

“Itu Diabolos!!!” teriak perempuan itu dari pintu masuk gereja.

Sejak saat itulah aku mulai gemetar. Padahal aku belum pernah melihat rupa Diabolos. Membayangkannya saja aku sudah takut, ditambah lagi apa yang sudah makhluk itu lakukan pada desa kami.

Beberapa jam setelah hentakan keras itu, desa kami menjadi hancur. Aku sudah tidak mengenali lagi tempat yang membesarkanku ini. Kini aku bisa melihat langit yang biru dari balik reruntuhan. Suara angin masih saja membisikkan tangisannya padaku. Aku juga bisa melihat buku-buku yang bertebaran dimana-mana. Buku-buku yang biasa aku dan teman-temanku baca selagi kami belajar agama. Termasuk belajar apa itu Diabolos. Sosok Iblis yang paling mengerikan. Sosok yang tidak pernah aku bayangkan akan muncul di desa kami dan mengubrak-abrik semuanya. Iblis yang mewakili sifat marah atau Wrath!

“Sam!” teriak suara dibelakangku.

Kulihat Geo sudah tidak meratapi orang tuanya lagi. Kini ia berdiri dengan pakaiannya yang lusuh. Rambutnya yang hitam pendek kini dipenuhi debu dan pasir dari reruntuhan ini. Ia membawa sebuah tongkat kayu. Aku bisa melihat betapa marahnya dia. Aku juga bisa melihat keinginannya untuk membalaskan dendam.

“Kita harus keluar dari sini dan membalas perbuatan mahkluk brengsek itu!” katanya sembari meneteskan air mata.

Aku hanya terdiam, kemudian aku mengangguk, tak banyak yang bisa aku lakukan sekarang ini. Geo pun begitu, ia hanya punya harapan, harapan untuk membalaskan dendam orang tuanya.

“Tahan dulu amarahmu itu. Kita bantu Lucas keluar dari penderitaannya itu. Bantu aku angkat kayu besar ini.” Kataku.

Geo segera bergerak mengikutiku. Dia masih saja tidak bisa berhenti menangis. Badannya terus saja gemetar, mungkin ini pertama kalinya dia melihat lautan darah seperti ini. Tidak sepertiku yang setiap hari menghabiskan waktu di tempat pemotongan hewan ternak. Yah, tapi apa yang kau harapkan dari sekumpulan anak-anak? Kurasa, mereka tidak teriak-teriak saja itu sudah bagus.

“Kakiku...” rintih Lucas saat kami menghampirinya dan mencoba untuk mengangkat reruntuhan yang menimpanya itu. “Aku tidak akan bisa lagi bermain bola dengan kakiku yang seperti ini.” Lucas meringis kesakitan ketika aku dan Geo mencoba mengangkat puing-puing dari kakinya.

“Tidak,” Kataku. “Kita tidak akan bisa bermain bola lagi selamanya. Jadi berhentilah menangis dan seret tubuhmu itu ketika kami mengangkat tembok ini.”

Lucas kemudian menahan rasa sakitnya itu, dan langsung menarik dirinya saat aku dan Geo berhasil mengangkat tembok itu menggunakan balok kayu. Kemudian Geo membawa Lucas keluar dari daerah reruntuhan. Saat itulah suara auman yang luar biasa keras itu kembali terdengar. Suara yang langsung mengingatkanku bagaimana kengerian ini terjadi. Karena itu, aku segera berlari menuju tempat Geo membaringkan Lucas dan ikut bersembunyi dengan mereka berdua.

“Apa kau takut?” tanya Geo padaku. Aku menggeleng. Aku tidak mau terlihat lemah didepan mereka. Setidaknya akulah disini yang bisa mereka harapkan. Jika aku terlihat takut, bisa dikatakan mereka juga akan merasa lebih takut lagi. “Kau pemberani, Sam.”

“Tidak, kita lah yang pemberani.” Kataku. "Kita lewati ini bersama-sama." Kulihat mereka berdua tak lagi menangis.

Auman yang memecah langit itu kembali hadir. Kami semakin mendekatkan diri dibalik hutan dekat reruntuhan gereja. Suasana begitu mencekam. Seolah kami tidak tahu lagi harus berlari kemana. Aku merasa tempat ini sudah paling aman. Sampai Lucas berusaha bangkit dari tidurnya dan matanya terbelalak melihat ke arah langit. Refleks aku juga ikut melihat ke arah yang sama.

Disana aku melihat untuk pertama kalinya sosok Diabolos yang sedang menyentuh langit dengan jemarinya dan hadirlah sebuah portal hitam besar yang kemudian diikuti dengan beberapa mahkluk yang bermunculan.

Seketika saja dunia ini terasa semakin gelap dan bulan purnama itu terlihat memerah cahayanya.


  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    done read.
    saya curious dengan nama Diabolos. apakah dia punya kembaran bernama Dialibur? *eh
    #kabuuuur

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    Tujuh dosa mematikan, hmm...
    Ketika lihat nama-nama itu jadi ingat serial anime fullmetal alcemist, mungkin itu film pertama yg ku tonton tentang 7 sinners, dan kini diceritakan dengan kiaah yg berbeda, bagus!
    Tapi ngomong-ngomong knapa tidak dibuat project?

    • Lihat 2 Respon