KurinduITD - Sensor Identitas, Sensor Cinta

Wisesa Wirayuda
Karya Wisesa Wirayuda Kategori Renungan
dipublikasikan 10 Oktober 2016
KurinduITD - Sensor Identitas, Sensor Cinta

Sensor Identitas, Sensor Cinta

Oleh: Wisesa Wirayuda*

Penolakan terhadap sebuah fakta selalu terjadi dimanapun dan kapanpun, hal tersebut didasari oleh banyak alasan seperti agama, moralitas yang dijunjung satu individu atau kelompoknya, tingkat pendidikan dan pengetahuan (baik itu secara formal atau non-formal), dan lain-lain. Penolakan terhadap sebuah fakta sebenarnya boleh saja dilakukan, namun biasanya dilakukan dengan cara memberikan sebuah fakta lain atau memberikan ‘teori tandingan’ untuk menjatuhkan fakta tersebut. Sayangnya kebanyakan orang justru menolak sebuah fakta secara mentah-mentah hanya karena mereka tidak suka melihat atau mengetahui fakta tersebut dan cenderung kemudian meninggalkan dan malas untuk membahasanya lebih jauh lagi. Orang-orang seperti ini biasa disebut Denialist.

Jika dilihat dan diteliti lebih jauh lagi, penolakan yang dikemukakan oleh orang-orang Denialist tidak sesederhana rasa ketidak nyamanan diri mereka akan sebuah fakta, namun ada juga faktor bahwasanya mereka adalah orang-orang yang memegang kendali akan kehidupan ini, alias mayoritas. Mereka merasa bisa dan berwenang untuk menolak sebuah fakta tanpa harus memeberikan alasan atau ‘teori tandingan’. Seperti membuang anomali kecil yang mana bukan permasalahan besar bagi mereka. Namun jumlah anomali sekecil apapun, mereka tetaplah manusia yang harus dihargai dan diakui keberadaannya.

Dalam karya Danny JA, film “Cinta Terlarang Batman dan Robin” misalnya, yang kemudian berubah judul menjadi “Cinta yang Dirahasiakan”, itu sangat jelas memperlihatkan posisi orang-orang Denialist yang bisa berlaku sebebas-bebasnya untuk membuang sebuah fakta.

Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diangkat dari puisi Danny JA dalam bukunya yang berjudul Atas Nama Cinta tersebut awalnya menceritakan kisah kasih antara dua orang laki-laki di lingkungan pondok pesantren. Namun karena dianggap “menghina” ajaran agama tertentu, film ini akhirnya harus berganti judul dan mengganti latar belakang tempat cerita tersebut yang awalnya bertempat di pondok pesantren menjadi Sekolah Menengah Atas biasa. Bagi saya, hal ini sangat disayangkan karena sensor yang terjadi adalah sensor kepada identitas si tokoh dalam film, lain halnya dengan sensor yang terjadi pada adegan seks atau adegan merokok misalnya.

Saya sadari betul bahwa film ini merupakan fiktif belaka, namun perilaku homoseksual di kalangan santri yang disebut dengan istilah Mairil dan Nyepet itu ada dan bukanlah sebuah rahasia lagi. Mairil dan Nyepet juga sudah banyak dijadikan objek penelitian oleh akademisi. Bahkan, dalam beberapa penelitian mereka, Mairil dan Nyepet disebut-sebut sebagai ‘tradisi’ di pesantren yang cenderung dilakukan oleh senior laki-laki kepada junior laki-lakinya di pondok pesantren. Ya, homoseksual juga ada di lingkungan yang religius sekalipun. (Contoh penelitian dan artikel tentang Mairil dan Nyepet: Mairil: Phenomena Homoseksualitas di Pesantren, Gambaran Perilaku Mairil dan Nyepet Santri Terhadap Pecegahan HIV/AIDS di Pondok Pesantren, Mairil, Tradisi Seks-sejenis di Pesantren dan Mairil : Dari Imam Syafi’i Hingga Robert K. Merton : Fikrah Edisi 41)

Saat ini, saya tidak sedang dalam posisi yang pantas berpendapat mengenai halal atau haramnya Mairil dan Nyepet. Tulisan ini saya buat semata-mata hanya karena Indonesia mulai kehilangan warnanya dan saya akan mencoba untuk memunculkan warna-warna itu kembali, terutama setelah beredar kabar bahwa orang-orang Denialist ini sedang berupaya untuk menkriminalisasikan LGBT dan seks pra-pernikahan di Mahkamah Konstitusi sana. Jadi alih-alih membahas tentang halal atau haram, saya akan lebih banyak membahas mengapa mengkritik sensor terhadap identitas itu menjadi menarik dan penting.

Menurut hemat saya, memilih identitas adalah hak memilih yang sangat mendasar bagi seseorang. Katakanlah identitas seseorang itu bisa terdiri dari agama atau konsep kebertuhanan, pandangan politik, identitas gender, orientasi seksual, dan lain sebagainya. Dari dasar tersebut kemudian manusia-manusia dengan identitas yang berbeda-beda itu akan saling belajar untuk mengerti satu sama lain. Itulah makna kebhinekaan yang paling sederhana yang bisa saya pahami. Jadi menyensor identitas itu sama saja menghilangkan hak memilih dan meliyankan si pemilih tersebut.

Dari pelarangan izin tayang film “Cinta Terlarang Batman dan Robin”, kita bisa melihat bahwa ada kelompok yang mencoba untuk melunturkan warna-warni kebhinekaan. Kelompok-kelompok yang memilih untuk tidak menghargai pilihan orang lain menggunakan dalil agama. Jika dipikir-pikir, mengapa melalui dalil agama? Apakah apapun yang menggunakan isu agama akan selalu ramai dibicarakan di negara yang orang-orangnya moralis ini?

Pembahasan tentang agama akan secara langsung merasuk ke dalam individu-individunya dan menggerakan hati nurani mereka, sehingga orang asing di pinggir jalan pun merasa perlu untuk memukuli waria yang sedang kebetulan lewat, ormas-ormas atas nama agama tertentu yang merasa perlu untuk merazia tempat makan yang buka di bulan puasa, atau juga ketika ayat-ayat suci digunakan sebagai kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan politik yang berbeda agamanya. Agama bisa menjadi senjata yang paling ampuh sebagai penggiring wacana menuju hilangnya kebhinekaan Indonesia. Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa ini semua adalah salah dari agama, menurut saya ini adalah akibat orang-orang memperalat agama untuk kepentingan pribadinya sehingga menghilangkan makna agama yang seharusnya menjadi pembawa pesan perdamaian dan berkat untuk semua manusia bahkan seluruh mahkluk hidup. Karena sejauh pandangan saya, sumber wacana pelarangan film tersebut bukanlah karena film itu dianggap merusak nama baik agama tertentu melainkan sesederhana kebencian yang diekspresikan melalui dalil agama terhadap kelompok minoritas, dalam hal ini terhadap LGBT.

Tidak sampai di situ, kasus pelarangan penayangan film “Cinta Terlarang Batman dan Robin” ini juga membuktikan kerapuhan kelompok mayoritas yang Denialist. Mereka harus terlihat sempurna. Sehingga ketika ada sebuah film yang mengangkat cerita tentang homoseksual di lingkungan pesantren, yang pada faktanya ada dan terjadi, kelompok mayoritas tersebut haruslah menghentikan penayangan film tersebut untuk membersihkan nama mereka. Karena jika tidak, citra mereka sebagai penguasa akan ambruk. Seperti seorang pembantai sadis yang tidak boleh ketahuan memiliki tato Hello Kitty di tubuhnya. Rapuh seperti maskulinitas, rapuh serapuh-rapuhnya.

Kombinasi dari “orang-orang yang memperalat agama untuk kepentingan pribadinya”, “kelompok mayoritas Denialist yang harus terlihat sempurna”, dan “rapuhnya kelompok mayoritas atau rapuhnya maskulinitas” itu pada akhirnya menjadikan ini terlihat seperti wabah penyakit yang sulit untuk disembuhkan karena orang-orang mulai terlena dengan rasa nyaman menjadi mayoritas. Rasa nyaman itulah yang akhirnya membuat mereka merasa perlu untuk membuang kelompok-kelompok anomali, karena mereka takut zona nyaman mereka terganggu. Kita semua harus melihat ke dalam diri kita, sudah sampai sejauh mana rasa nyaman itu merasuki diri kita, dan sudah berapa banyak kelompok yang kita buang keberadaannya hanya karena mereka berbeda. 

Saya, sebagai manusia yang tidak sempurna, berharap kita semua bisa kembali membuka sumber-sumber ilmu pengetahuan yang terus berkembang dan kembali belajar alih-alih untuk membenci. Kita pun harus mengerti bahwa keberagaman itu bukanlah sebatas warna kulit dan suku saja, namun masih banyak lagi seperti orientasi seksual dan identitas gender seseorang. Karena toh pada akhirnya kita semua adalah manusia biasa yang sedang berbagi ruang bersama di bumi yang semakin tua ini. Jadi, mengapa tidak kita berbagi kasih dan mempertahankan kebhinekaan Indonesia sebelum benar-benar  hilang?

  • view 404