KurinduITD-Meneladani Teresa: Melintasi Sekat Perbedaan, Mewujudkan Kedamaian

Anastasia Ervina
Karya Anastasia Ervina Kategori Agama
dipublikasikan 17 November 2016
KurinduITD-Meneladani Teresa: Melintasi Sekat Perbedaan, Mewujudkan Kedamaian

Aku selalu menyeru agar kita membantu umat Hindu jadi umat Hindu yang lebih baik. Muslim jadi Muslim yang lebih baik. Dan umat Katolik menjadi umat Katolik yang lebih baik.

Nukilan dari Bunda Teresa di atas seharusnya bisa menampar kita, bangsa Indonesia yang akhir-akhir ini malah anehnya semangat memperuncing perbedaan, ketimbang belajar menerima keberagaman yang ada. Dan perbedaan agama agaknya lebih sering menimbulkan masalah yang sensitif di negeri ini, hingga menjurus pada diskriminasi.

Menurut Denny J.A. dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi”, diskriminasi berdasar agama adalah yang paling sulit untuk dihapuskan karena tindakan diskriminasi tersebut kerap kali dilabeli dengan alasan moral dan keyakinan. Penganut agama atau keyakinan satu merasa ajarannya paling benar, dan karena itu melakukan diskriminasi terhadap penganut agama dan kepercayaan lain. Pernyataan dari Denny J.A. ini diperkuat oleh data dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) tahun 2010 yang memperlihatkan bahwa 22,6% masyarakat Indonesia masih tidak bisa menerima tetangga yang berbeda agama dari mereka, 42,8% publik tidak bisa menerima kalau di lingkungan mereka didirikan tempat ibadah dari agama lain, dan 38,8% masyarakat tidak bisa menerima apabila kepala pemerintahan berasal dari agama yang berbeda.

Berbicara tentang diskriminasi, tentunya tidak melulu harus dengan tindakan nyata alias disalurkan lewat kekerasan fisik saja, tapi juga bisa secara verbal. Terlebih di zaman media sosial saat ini, diskriminasi lewat perkataan amat gencar dilakukan. Toh tinggal ketik saja sambil tidur-tiduran pun bisa. Tak perlu adu otot segala. Hasilnya, nyaris tiap detik, tulisan-tulisan yang merendahkan kelompok agama lain dibagikan oleh para pengguna internet. Lantas, menjelang hari raya agama tertentu, kata-kata bernada hinaan dan kebencian tersebut diproduksi berkali-kali lipat lebih banyak dari biasanya. Pola ini telah saya amati cukup lama dan jujur saja membuat saya kecewa dengan para penganut agama yang kekanak-kanakan tersebut.

Menyitir penggalan surat Bunda Teresa kepada Perdana Menteri India tahun 1979, yang termaktub dalam buku Anna Farida berjudul “Keharuman Cinta Mother Teresa” yaitu, “Bapak Perdana Menteri, agama bukan sesuatu yang bisa Anda atau saya paksakan. Agama itu adalah ibadah kepada Tuhan, dan karenanya harus sesuai dengan panggilan nurani. Setiap manusia wajib memutuskan dengan cara apa kita akan memuliakan Tuhan. Saya memilih Katolik Roma sebagai agama. Tak mungkin saya mampu memaksa siapa pun untuk menerima agama saya. Kita punya sebutan masing-masing untuk keyakinan itu, dan menyebut Tuhan dengan berbagai nama.”

Kata-kata Teresa yang tertuang dalam suratnya tersebut terdengar begitu meneduhkan. Kendati beliau adalah seorang biarawati yang notabene cenderung fanatik terhadap agama yang ia imani, tapi anehnya surat Teresa malah menggambarkan bahwa ia punya rasa toleransi yang begitu tinggi. Hal tersebut juga dibuktikan oleh perempuan yang dijuluki Angel of Mercy ini dengan menolong orang-orang miskin di Kalkuta tanpa membeda-bedakan agamanya. Menurut beliau, kebanyakan manusia menjadikan perbedaan sebagai kendala untuk berbagi.

Lantas, mengapa kita mesti begitu takut sekali dengan perbedaan? Kenapa kita masih sulit menerima dan berteman dengan orang di lingkungan sekitar yang punya keyakinan berbeda? Kenapa kita tidak suka melihat rumah ibadah agama lain didirikan, sehingga peristiwa pengeboman tempat ibadah kerap terjadi di negeri ini? Kenapa kita mati-matian menolak kepala pemerintahan yang berasal dari agama lain?

Cahaya putih matahari saja dalam fisika sebenarnya tersusun atas tujuh spektrum yaitu: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Hal ini membuktikan bahwa semesta yang terlihat homogen sekalipun di dunia ini bahkan terbentuk dari keberagaman yang sungguh kompleks, bukan?

Banyak dari kita sering bersumbar mencintai Tuhan, tetapi dalam praktiknya, kita bahkan masih kesulitan menerima orang di lingkungan kita yang tidak seagama. Padahal, Teresa menegaskan bahwa mengatakan "Aku mencintai Tuhan" saja tidak cukup. Kita juga harus berkata "Aku mencintai tetanggaku". Hal senada juga dicetuskan oleh W.H. Auden yang berujar, “Saling mencintai, atau punah dari muka bumi.”

Cintalah bahasa terkuat di dunia ini. Bukan amarah, bukan pula kebencian. Ketika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, maka tak ada ruang lagi untuk kebencian, sehingga kita bisa mencintai segala sesuatu yang sama sekali berbeda dengan kita. Sebagaimana yang diyakini oleh James Herriot yaitu, "Orang yang paling mencintai segala sesuatu, baik besar maupun kecil, adalah pendoa terbaik."

Kembali mengupas tentang menerima perbedaan, ingatan saya jadi terlempar ke beberapa tahun silam, sewaktu saya pertama kali membeli buku “Keharuman Cinta Mother Teresa”. Lantaran Teresa adalah tokoh dunia yang merupakan biarawati, otomatis saya merasa sangat yakin bahwa yang menulis biografi beliau adalah seorang Kristiani. Namun, sesampai di rumah dan membuka bukunya, saya dibuat terlongong-longong selama beberapa saat sewaktu mendapati foto profil penulis menggunakan jilbab dan tersenyum anggun. Dialah Anna Farida, yang bagi saya cukup berperan besar sampai hari ini dalam mengajarkan saya untuk dapat menerima perbedaan agama dengan pikiran terbuka.

Ternyata, tak hanya saya yang dibuat heran, sebelumnya teman-teman Anna Farida pun tak habis bertanya kenapa beliau mesti menulis biografi tentang Teresa, bukan tentang tokoh-tokoh dunia yang seiman dengannya. Namun, dengan berani, Anna Farida menjelaskan, “Jika ternyata dia tidak seagama dengan saya, it’s not a big deal. Saya mengenalnya sebagai salah satu guru kemanusiaan, bukan guru ngaji saya.”

Oh, saya jadi mengkhayalkan betapa indah dan damainya dunia ini kalau dipenuhi dengan orang-orang serupa Teresa dan Anna Farida, yang bisa menyikapi secara substil perbedaan-perbedaan yang ada, bukannya malah membesar-besarkan dan menjadikannya tembok pemisah antara satu sama lain.

Lagipula, meski nampak berbeda, tapi bukankah sebetulnya kita semua adalah makhluk egaliter di hadapan Pencipta?

 

[Gambar diambil dari sini]

  • view 309