Tataran Sunda Bagian Dari Surga Dunia

Windi Ariesti
Karya Windi Ariesti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Februari 2016
Tataran Sunda Bagian Dari Surga Dunia

Kisah terukir dari setiap jejak yang tersulam. Januari kemarin, untuk kedua kalinya saya mengunjungi tempat yang tampak seperti tak ada ujungnya itu. Padahal tentu ia memiliki ujung yang indah. Ya, keindahan hanya akan ternikmati oleh para pengelana yang sabar. Kami empat sekawan, yang kala itu hanya perempuan lah tokohnya, memberanikan diri untuk mendaki ceria di tengah liburan semester. Gunung Guntur pilihan kami, maksudku, Curug Citiis yang berada di wilayah Gunung Guntur. Air terjun curug Citiis yang berada 1.000 mdpl di atas permukaan laut ini berasal dari mata air yang mengalir dari Gunung Guntur. Dua mata air yang mengalir di antaranya air dingin mengalir ke curug citiis dan air panas mengalir ke Cipanas. Memerlukan kaki dan tekad yang kuat untuk menempuh sekitar 5 km dari daerah Kampung Dukuh untuk dapat melihat langsung keindahan curug ini. Tepatnya Kampung Dukuh atau Desa Pasawahan, Kec. Tarogong, Garut, Jawa Barat. Di perjalanan, sesekali kami bertemu dengan para pendaki lain, kami saling bertegur sapa bahkan tak jarang yang menawarkan minuman atau bantuan lainnya. Ciri khas yang paling saya sukai dari setiap perjalanan mendaki adalah hampir semua orang tampak bersahabat, ramah dan tak kikir untuk saling peduli. Walau tak jarang juga ada makhluk egois yang saya temui. Dari sana saya mengerti, "Karakter asli seseorang akan kau temukan saat mendaki, karena lelahnya akan membuat mereka tak ada tenaga untuk bersandiwara.? Para pendaki ini tak hanya orang dewasa, ada hal yang menarik benak saya, anak - anak itu. Mungkin mereka seumuran anak SMP yang baru masuk. Mereka juga sama seperti yang lain, tak sungkan untuk menyapa kami. Perjalanan yang cukup panjang seperti kenangan yang tak ada habisnya membuat kami sering bertemu dengan anak ? anak tadi. Mereka sang pendekar biru; Andi, Ridwan, dan.. saya lupa nama yang lainnya. Mereka yang mengakrabi kami duluan, dengan lucunya berusaha menjadi tour guide bagi kami yang agak awam.

Pukul 08.00 pagi kami mulai berjalan, sekitar pukul 12.00 kami baru sampai di curug. Seharusnya, bisa lebih cepat dari itu. Namun, ya, saya dan ketiga sahabat saya berniat untuk jalan santai saja dan sejujurnya banyak waktu yang digunakan untuk mengabadikan momen. Air terjun ini tampak sederhana, mungkin tidak ada kelebihan yang istimewa dibanding air terjun yang ada di sudut kota lainnya. Tapi lebih dari itu, saya merasakan bahwa alam selalu mampu menyadarkan kita tentang kehidupan. Seperti air terjun yang selalu pasrah menjatuhkan dirinya tanpa berontak pada Tuhan yang telah menciptakan, ia percaya bahwa ketentuan-Nya jauh lebih baik dari prasangkanya. Dan memang, dengan begitu, ia tampak indah, bukan? Kalau bukan karena airnya yang jatuh dan mengalir, mana ada puluhan mata yang mau menyaksikan keindahannya yang tercipta disini. Sayang, terkadang orang - orang lebih suka menghabiskan waktu luangnya untuk turut menghabiskan uang di tempat dengan kerlap kerlip warna-warni menghiasi, pakaian impor berjajar mahal, atau tempat hedon lainnya.

Terlepas dari legenda yang mengatakan bahwa konon katanya di sini lah salah satu tempat para raja di pulau Jawa mengadakan pertemuan, saya tidak mendapatkan sejarah pastinya. Yang saya dengar, penduduk di sini mengatakan mengapa curug ini dinamai citiis (yang dalam bahasa sunda, tiis artinya dingin) itu disebabkan karena memang suhu airnya yang dianggap paling dingin sewilayah Garut. Dan saya rasa, setuju. Air yang mengalir begitu jernih, ditambah udara bersih yang belum terkontaminasi oleh hiruk-pikuknya kota juga menjadi nilai tambah sebagai alasan orang harus datang ke sini.

Pukul 14.00 kami beranjak pulang, dan anak - anak tadi masih bersama kami. Mereka menawarkan jasanya secara cuma ? cuma untuk menemani kami yang hanya berempat. Seperti bidadari yang kehilangan selendang, mungkin mereka mengkhawatirkan kami. Itu pikiranku. Haha. Entah lah dengan pikiran anak ? anak seperti mereka, mungkin mereka hanya berpikir perjalanannya akan lebih seru dan asik jika bersama banyak orang. Meski sebenarnya, saya jadi ingin sekali meneruskan perjalanan hingga puncak. Mengembalikan euforia berjumpa dengan samudera di atas awan, seperti di puncak Gunung Cikuray, daerah Cilawu, Garut, September lalu. Menyaksikan mentari memamerkan sinarnya yang indah terbit di ufuk timur puncak Gunung Tertinggi di Garut. Ia seperti mengajak setiap makhluk hidup untuk meniti hari dengan pasti. Terbitnya menghidupkan kembali jiwa yang sempat tidur, mengangkat harapan baru dan menyadarkan bahwa tak akan ada yang pernah pudar sebagaimana sinarnya yang terus ada selama Tuhan menghendaki. Namun, mendaki sampai puncak tidak ada dalam daftar rencana kami hari itu. Jadi, pilihan kami hanyalah pulang, meninggalkan sisa keindahan dari salah satu bagian surga dunia.

Sepanjang perjalanan, kami menciptakan berbagai obrolan. Dan ada hal yang paling saya ingat dari sepenggal percakapan kami.

??Dek, kamu sering main kesini??

??Iya Teh.? (Teh- panggilan orang Sunda untuk perempuan seperti Kak, Mba)

??Gak bosen??

??Nggak, kan sama temen ? temen.?

??Kalau kesini suka foto ? foto gak? Ngapain aja gitu kalau kesini??

??Nggak Teh, ya ini, kan bisa nikmatin pemandangan yang bagus, sekalian olahraga juga.?

?Sejurus tertegun saya mendengar jawabannya. Saya malu atas diri yang sering mengedepankan kepentingan mengunggah foto hingga lupa tentang keindahannya itu sendiri. Seperti tidak ada hal lain yang bisa dinikmati selain ingin berbagi kepada orang tentang foto yang seolah dunia harus tahu bahwa ?aku pernah kesini?, ?aku pernah begini?, dan lain ? lain. Padahal sebenarnya, apa yang terlihat pada gambar hasil jepretan terkadang tidak sebanding dengan susahnya perjuangan menggapai.

Memang, anak ? anak dengan pemikiran jernihnya seringkali lebih mampu menaklukan keangkuhan orang yang katanya sudah dewasa. Juga mereka berhasil membuat pikiran negatifku tentang anak ? anak zaman sekarang, yang awalnya kupikir anak ? anak zaman sekarang terlalu banyak gaya dan di luar batas, ternyata tidak, tidak semua. Buktinya, ya mereka, di saat teman ? teman yang lainnya lebih memilih untuk menghabiskan waktu di tempat bermain online, mereka malah berpikir untuk mengunjungi tempat ini. Tempat yang katanya bisa membawa mereka untuk menikmati indahnya pemandangan. Meski saat di tempat air terjun tadi mengalir, sempat kami melihat ada anak ? anak seusianya yang tidak segan untuk merokok di depan kami. Sungguh sedih rasanya. Sesibuk apakah orang tuanya, anak sekecil itu sudah kenal dengan hal ? hal yang seharusnya tak dikenalnya?

Di perjalanan pulang saya juga sempat menyapa si bibi yang tadi warungnya sempat kami singgahi. Ia tampak masih setia menunggui orang yang siapa tahu mampir ke tempatnya. Di kaki gunung ini ada beberapa warung yang berdiri memang. Saat mendaki tadi saya sempat membuka percakapan singkat dengan si bibi. Ia bercerita bahwa dirinya mulai berjualan pukul 07.00, hampir setiap hari, tidak hanya hari libur, dan sama seperti kami, untuk sampai kesini ia harus berjalan kaki. Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera.. Hehe itu sih lagu. Sungguh perjuangan yang mengharukan. Untuk siapa ia melakukan itu? Untuk mempertahankan kehidupan dirinya dan juga orang yang dicintainya. Lagi - lagi saya malu atas diri yang seringkali tak sadar membuang waktu dan materi untuk hal yang tidak penting. Tidak ingat bagaimana singkatnya waktu yang dimiliki untuk menjalani lika ? liku kehidupan, tidak ingat tentang bagaimana perjuangan orang yang banting-tulang untuk bisa memperoleh secarik kertas bernominal.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat sampai, memang biasanya seperti itu kan. Namun, memang lebih cepat karena kami melewati jalan pulang yang berbeda. Saat berangkat tadi kami melalui jalur dari jalan Cipanas Baru, itu terasa lebih jauh karena jalannya memang tampak sepi, jarang dilalui orang. Namun disana kami cukup mendapatkan pemandangan yang bagus dengan lereng bebatuan yang tampak di sekililing. Namun ada yang sempat menarik benak saya, di sana saya menemukan kendaraan besi sebagai perkakas penambangan tampaknya. Entah milik siapa, yang pasti seharusnya mereka tak ada di sana. Saya pikir ternyata "Peraturan ada untuk dilanggar" itu belum ada habisnya di Negeri ini. Oknum tak bertanggungjawab. Haruskah diberantas? Ya, tentu. Tapi itu tidak semudah menuangkan kopi ke dalam cangkir. Bahkan untuk sekadar menuangkan kopi pun tidak selalu mudah. Apalagi kalau kopinya sangat panas dan cangkirnya terbuat dari plastik yang tidak kuat dan mudah meleleh. Saya tidak mengatakan bahwa cangkir itu mengibaratkan kondisi Negeri ini ya.

Dan saat perjalanan pulang, barulah saya menemukan jalan lain yang ditunjukkan oleh anak - anak itu, ya, Kampung Dukuh. Di sini juga kita akan bertemu dengan tempat resmi sebagai tempat pendaftaran para pendaki. Tak lain gunanya adalah untuk mengantisipasi risiko yang akan terjadi. Bila sampai ada pendaki yang tidak kembali sampai batas waktu kemping, maka akan segera dilakukan tindakan. Ya, seperti itu. Dan pemandangan kami kali ini tidak seperti saat berangkat tadi, di sini kami hanya menemui sawah - sawah dan rumah - rumah yang berderet cukup rapi.

Sekitar pukul 16.30 kami sampai di jalan raya. Hujan besar. Dan anak - anak itu masih bersama kami. Di sini tidak ada angkutan umum yang lewat, kami masih harus berjalan sekitar 1 km ke arah timur atau barat untuk bisa bertemu dengan angkutan umum. Sedangkan anak - anak itu hendak berjalan ke arah utara menuju rumahnya yang tak jauh dari daerah sini. Mereka setia menunggui kami yang masih bingung memilih jalur mana. Betapa pedulinya anak - anak itu, padahal kami baru saja berkenalan tidak lebih dari 8 jam. Sebenarnya, di daerah sini biasanya ada kendaraan tradisional kota ini, Delman. Kendaraan yang tidak memiliki bahan bakar, ia menggunakan tenaga hewan, yaitu kuda yang dipadukan dengan bak kayu beroda di belakangnya, untuk bisa mengangkut manusia. Atau bisa juga menggunakan ojeg. Tapi tidak ada satu pun yang lewat saat itu. Tapi tidak lama, sambil menunggu air langit cukup lelah untuk berjatuhan, tiba ? tiba ada angkutan umum yang lewat. Padahal seharusnya tidak ada. Spontan anak ? anak itu langsung memberi isyarat kepada si supir untuk memberhentikan angkot-nya. Beruntungnya kami.

Akhirnya kami berpisah di sana. Kami masuk ke dalam angkot dan lantas mereka berlalu pergi. Berlalu pergi dengan meninggalkan kenangan yang tak terlupakan. Menghadirkan sebuah pelajaran baru dari sebuah perjalanan. Memberikan inspirasi yang sederhana namun di luar hal yang biasa.

Kami terus menyaksikan mereka hingga punggungnya tenggelam oleh jarak, tak terlihat lagi. Mereka tidak tampak lelah sedikit pun. Mentari kecil yang senantiasa sabar menjalani kehidupan. Tulus menikmati keindahan. Pintar menggunakan waktu luang. Dan, peduli terhadap setiap elemen yang turut menghiasi kehidupan.

Saya jadi sadar, bahwa kita jangan pernah sombong untuk mengen al. Karena kita tidak pernah tahu akan lewat cara apa Tuhan menyadarkan. Setiap orang yang tak pernah terbayang akan kita temui, selalu menciptakan pelajaran baru dari setiap kisah perjalanan yang tersemai.

Pergi mengunjungi sebuah tempat, bukan tentang bagaimana kita bisa dengan pintar mengambil foto begitu bagusnya, namun lebih dari itu, kita harus mampu merasakan bagaimana sebuah keindahan tercipta. Dan bukan tentang sejauh mana kita pergi, namun sejauh mana kita bisa mengambil pelajaran dari setiap perjalanan kita.

Di tataran Sunda, tempat kelahiran tercinta, saya sudah menemukan bagian dari keindahan surga dunia. Mulai dari sun rise yang terbit halus, gunung yang berdiri kokoh, langit yang dengan birunya tampak begitu gagah, bahkan saat gelap tetap tampak indah dihiasi kerlipnya bintang, air yang selalu mengalir memberikan harapan hidup, dan tanah yang selalu bersedia untuk dipijak. Harta karun yang lain semoga bisa segera saya temukan di bagian sudut lainnya.

  • view 177