(Bukan) Fatamorgana - Part 1

Astri Laksita Wikaningtyas
Karya Astri Laksita Wikaningtyas Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Maret 2016
(Bukan) Fatamorgana - Part 1

Kubuang tatapan jauh ke luar jendela. Tertuju mataku pada sekelompok anak kecil yang sedang bermain gembira bersama. Tak ada beban. Tertawa, berlari, belajar tak mengenal permusuhan. Lalu, kuputar bola mataku ke sekitar dan terhentilah tatapanku pada seorang kakek, duduk termenung, tampak jelas di bingkai jendela istananya. Pria yang rambutnya telah berwarna putih itu, menatap anak-anak kecil di depannya dengan tajam. Seakan ia menaruh harapan besar pada anak-anak itu.

?Hei cucu-cucuku, kemarilah. Kakek punya buah anggur untuk kalian?, teriak sang kakek dengan lantang hingga membuyarkan lamunanku.

Tak ada satu pun anak yang tinggal di lapangan, semua menanggalkan apa yang mereka lakukan, dan berlari menghampiri sang kakek.

?Ooh, itu cucu-cucu kakek rupanya.?, gumamku dalam hati penuh spekulasi.

Tak hanya anggur yang kakek itu hidangkan untuk anak-anak kecil cerdas itu. Kakek itu pun menyajikan segelas sirup jeruk pelepas dahaga kepada para calon atlet sepak bola kecil itu.

?Aaah.. segeer, Kek.? ujar salah satu anak dengan tawa bahagia terukir di wajahnya.

?Terima kasih, Nak. Sudah, ayo kalian kembali bermain. Latihanlah yang baik agar kalian bisa menjadi atlet yang patut dibanggakan?, ujar sang kakek sembari mengelus rambut setiap anak yang menyalaminya.

?Kakek itu tinggal bersama siapa ya? Sedari tadi aku tak melihat orang lain keluar dari rumahnya. Apakah hanya bersama cucu-cucunya itu??, tanyaku dalam hati.

***

?Nanaaang kemarilah, Nak. Bantu Ibu mengangkat lemari ini?, suara lantang ibuku terdengar dari belakang gubug kami, membuyarkan lamunanku.

Namaku Tawang Bagaskara, tapi anggota keluargaku terlebih ibuku selalu memanggilku dengan sebutan Nanang. Nanang muncul dari kata lanang. Dalam bahasa Jawa, lanang mengandung arti ?laki-laki?. Ibuku memanggilku dengan nama itu dengan sebab aku adalah anak laki-laki satu-satunya di keluargaku. Semua saudaraku perempuan. Aku anak ke-3 dari 4 bersaudara. Akulah harapan ibu satu-satunya sebagai tulang punggung keluarga sebab ibuku tak lagi mencari pengganti ayahku semenjak ayah gugur dalam jihadnya kala itu.

Kubantulah wanita yang paling aku sayang di dunia ini. Tak ingin sekalipun aku mengecewakannya. Soso wanita yang sabar, tanggung jawab, penuh kasih sayang, perhatian, namun tetap tegas kepada orang-orang yang ia sayangi. Tak pernah aku katakan ?ah? pada ibuku.

?Mas Nanaaang, sini Mas. Temenin Ais main rumah-rumahan?, teriak adik perempuanku dengan manja.

Memang begini keseharianku, sejak ayah tak lagi bersama kami. Semua saudaraku dan juga ibuku selalu memanggilku dengan harapan mampu menyelesaikan masalah yang saat itu ada di hadapan mereka. Dulu, ketika pria super heroku masih ada di kehidupan kami, semua memanggil ayahku untuk hal tersebut. Termasuk aku.

Dua belas tahun aku mengenal sosok ayahku. Dan dalam 3 tahunku tanpa Ayah ini membuatku lebih mandiri meski seringkali aku rindu sosok Ayah yang mampu memahamiku sesama lelaki.

Pekerjaan ayah sangatlah mulia. Ayah bekerja di Basarnas (Badan SAR Nasional). Ia bekerja untuk nyawa orang lain dan untuk ketenangan keluarga dari orang-orang yang ia tolong. Bekerja di daerah bencana yang ekstrim bukanlah pekerjaan yang mudah. Pekerjaan itu membutuhkan keberanian mental dari orang yang menjalaninya dan keikhlasan hati dari keluarga terdekatnya. Pekerjaan itu membuatku tak tahu kapan ayah akan tiba ke rumah kembali dan memahami apa arti rindu yang sebenarnya. Tapi kami tak pernah lepas untuk mendoakan keselamatan ayah di medan perangnya.

Ayah adalah sosok pria setia, penyayang, perhatian, pintar, baik hati, lembut, namun tak akan pernah membiarkan keempat buah hatinya dan kekasih halalnya berbuat hal yang dilarang oleh Allah. Ayah adalah panutanku untuk menjadi pria sejati seutuhnya, kelak. Namun, Allah berkehendak lain, aku yakin Allah itu baik, sehingga Ia tak ingin ayah terjerumus hal yang tidak baik maka dipanggillah ayah terlebih dahulu ke surga-Nya. Ayah gugur ketika sedang menyelamatkan korban-korban Tsunami di Aceh kala itu.

***

?Mas Nanang jadi ayah ya, Ais jadi anak, terus kita main pergi ke pantai pura-puranya?, ujar adikku dengan suara imutnya yang selalu membuatku bahagia.

?Iya, sayang. Mas Nanang jadi ayah ya. Tapi Ais jadi anak ayah nggak boleh nakal, harus nurut sama ayah?, ujarku dengan peran (sok) dewasa.

?Iya, Mas Nanang?, timpalnya sembari memulai drama ini denganku.

?Adiik, mandi dulu Nak. Sudah sore?, ucap ibuku dengan nada penuh kasih sayang.

?Nanti, Bu. Masih main sama Mas Nanang.? rengek adikku yang tak mau menghentikan bermainnya.

Pelangi Nafisa Karima, begitulah nama lengkapnya. Anak paling kecil dan paling menggemaskan ini kerap disapa Ais. Dialah yang paling tak mengerti apa-apa ketika Ayah tiada. Kala itu Ais masih berumur 5 tahun. Umur yang masih sangat belia untuk mengenal apa arti ditinggalkan dan meninggalkan. Usia yang belum cukup untuk mengetahui apa itu pengorbanan untuk negara di medan perang. Kami, ibu dan kakak-kakaknya, hanya bisa menjelaskan semampu kami jika ia menanyakan salah satu sosok pahlawannya itu.

Ais adalah harta berharga kami. Dialah yang menjadikan alasan mengapa kami tak boleh bersedih, mengapa kami tak boleh menyerah untuk terus berjuang menjalani hidup. Ais adalah semangat kami ketika kami mulai merasa terpuruk. Seringkali Ais juga bertingkah lucu dan membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Kelakuan polosnya menjadi salah satu alasan kami untuk tetap bahagia memiliki gadis mungil nan cantik ini. Namun, kelakuan bandelnya terkadang membuatku kewalahan menghadapinya. Di sisi lain, entah mengapa, Ais selalu saja nurut ketika aku yang memberinya nasihat.

?Ais, sini sama Ayah. Kita mandi dulu ya. Biar Ais makin cantik. Ayah mandiin deh. Oke??, rayuku pada gadis mungil di depanku..

?Nggak mauuu?, dengan tetap merengek.

?Lho, tadi kan sudah janji, kalau Ais harus nurut dengan Ayah. Ayoo, mandi kalau gitu?, sembari tetap berperan sebagai ayah.

?Ih, Mas Nanang curang. Tapi mandiin Ais ya??, tanyanya masih dengan suara manja.

?Okeee.. yok sini.?, ajakku sembari menggandeng tangan mungil adikku.

?Nanang, kau begitu pandai Nak. Kamu bisa membujuk adikmu hingga dia mau mandi, Semoga kamu dimudahkan memiliki pendamping halal di hidupmu.? gumam ibuku dengan tetesan air mata di pipinya dan tak lepas pandangnya menatap anak laki-lakinya.

***

Pagi yang cerah. Tak ada yang berbeda, hiruk pikuk setiap makhluk menyongsong fajar berbondong menuju pasar mencari segenggam rezeki. Tak ubahnya seperti pagiku sebelumnya. Namun, semua menjadi tak sama. Goresan pelangi menyapa ramah di tengah sinar mentari yang sempurna. Hujan memang selalu menyimpan kejutan yang hadir indah setelahnya. Seperti kejutan yang aku dapatkan pagi ini. Aku mendapatkan surat panggilan kerja. Memang tak besar kudapatkan upah dari pekerjaan itu, namun setidaknya aku bisa membantu ibu membiayai sekolah Ais dan diriku sendiri.

Di rumah sederhana ini memang hanya aku dan Ais yang masih bersekolah. Kakak pertamaku tinggal bersama suaminya di pulau yang hanya aku lihat melalui sebuah peta ketika bu guru IPS-ku menjelaskan geografi wilayah Indonesia. Kakakku yang lainnya kini telah bekerja membantu meringankan beban ibuku meskipun pekerjaannya tak memberikan ia upah yang sangat banyak.

Kami memang sederhana, namun dari kesederhanaan inilah kami belajar untuk kaya. Kami tak merasa miskin, kami justru merasa memiliki karena arti kaya itu bukanlah hanya dilihat dari materi tetapi dapat hidup bahagia bersama dengan orang-orang yang menyayangi kita dan kita cintai.

?Ibuu.. Nanang dapat surat ini. Coba lihaat Buu?, teriakku sembari menyodorkan secarik kertas panggilan kerja pada ibu.

?Surat apa, Nak? Coba ibu lihat?, timpal ibu dan mengambil surat itu dari tanganku.

Seusai membaca surat itu, ibu justru terdiam dan tidak menanggapi dengan wajah bahagia. Aku bingung akan sikap ibu kala itu. Aku sebenarnya paling takut bertanya ketika wajah ibu dalam keadaan terlipat dan tak seceria biasanya. Apalagi kali ini ibu menjadi berubah setelah membaca surat yang aku tunjukkan. Aku merasa sangat bersalah, namun jika aku tak menanyakan perihal cemberut ibu, aku pun akan menjadi tidak tenang seharian. Akhirnya kuberanikan untuk memulai percakapan di tengah ketegangan itu.

?Bu, kenapa ibu malah diam?? tanyaku sembari membelai bahu ibu yang perlahan meneteskan air mata.

?Bu, Ibu, kenapa Ibu malah menangis? Nanang salah ya Bu? Nanang udah bikin Ibu kecewa ya Bu sampai Ibu tak kuasa membendung air mata seperti ini? Maafkan Nanang, Bu. Nanang janji nggak akan bikin Ibu kecewa lagi.? ujarku di hadapan ibu dengan air mata yang juga membasahi pipiku.

Seketika ibu memelukku erat. Aku bisa merasakan kesedihan ibu yang mendalam tapi aku tak tahu apa yang sebenarnya ibu rasakan dan membuat ibu menjadi seperti ini. Kubiarkan dulu ibu memelukku dan aku yakin ibu akan menceritakan semuanya setelah ibu puas memelukku.

Retno Suharti, kekasih dari Ahmad Shodiq ini adalah wanita yang sangat berharga dalam hidupku. Wanita yang menyimpan surga di telapak kakinya. Wanita mulia ini bekerja sebagai pencari kayu bakar di hutan untuk menghidupi aku dan saudara-saudaraku. Dulu, ibu dibantu ayah dalam mencari nafkah meskipun ayah sering tidak pulang ke rumah karena harus melaksanakan tugasnya di lokasi-lokasi ekstrim. Aku sebenarnya tak tega melihat ibu yang setiap harinya harus bekerja berat seperti itu. Ingin sekali aku membantunya meskipun hanya sedikit yang mungkin bisa aku peroleh di tengah-tengah kesibukan sekolahku.

?Nanang, kamu nggak salah apa-apa kok Nak. Nanang juga nggak sama sekali buat ibu kecewa. Justru ibu bangga sama Nanang?, ujar ibu dengan mata masih berkaca-kaca.

?Lalu, mengapa Ibu menangis sedih? Nanang bisa merasakan itu.? balas Nanang.

?

(bersambung)

  • view 173