Inilah Awal Perjuanganmu, Kawan

Astri Laksita Wikaningtyas
Karya Astri Laksita Wikaningtyas Kategori Renungan
dipublikasikan 24 Agustus 2016
Inilah Awal Perjuanganmu, Kawan

Kalau 1 Agustus 2016 lalu disebut sebagai harinya Gadjah Mada Muda nama kerennya Gamada -ceileeh, nah kalau Rabu ini mungkin nyebutnya hari lebaran-nya Gadjah Mada Tua. Eh kok tua sih, kasian amat kedengerannya. Kita sebut ini sebagai prosesi wisuda, graduation.

Ya, setelah menerima ribuan bibit unggul Indonesia, kali ini bertepatan di 24 Agustus 2016 ini UGM untuk kesekian kalinya melepas ribuan pemilik masa depan. Periode ini, 3.200 wisudawan guys, amaziiing. Ibarat burung, mereka telah lepas dari sangkar pendidikan yang diharapkan menjadikannya lebih baik dari sebelumnya. Terbang bebas ke udara nan luas, mengepakkan sayapnya sesuka hati. Namun ingat, kemana pun kalian terbang akan selalu dihadapkan pada pertanyaan “Dari mana asal kalian?”.

Kalian membawa nama baik almamater pendidikan kalian. Berbuat baiklah dan memberikan manfaat. Jangan pernah lupakan guru kalian, teman kalian, dan segalanya yang turut serta dalam proses penempaan diri di kampus biru itu.

 

Seperti pesan terakhir ayah dari Eyang Habibie sebelum meninggal kepada beliau (udah pada nonton film-nya kan ya?), Jadilah mata air. Kalau kamu baik, di sekelilingmu akan baik. Tapi kalau kamu tak baik, di sekitarmu pasti kotor.”.

 

Junjung tinggi nilai-nilai ke-UGM-an dan ingatlah selalu Hymne Gadjah Mada. Mungkin banyak di antara kalian yang tidak hafal bahkan menemukan nada untuk menyanyikannya pun sulit, kecuali kalian yang aktif dalam UKM di Gelanggang Mahasiswa -tempatnya mahasiswa membuang penat pikiran, hehe.

Kalau UKM Marching Band nih ya, mungkin tiap bulan lah ya nyanyiin Hymne, soalnya kalau MB UGM punya budaya melantunkannya setiap selesai event apapun dan event itu biasanya ada lah kalau sebulan sekali. Yaa.. hafal di luar kepala lah kalau orang bilang. Biasanya ada temen yang nanya “Kok hafal sih?”, “Iya dong, kan anak Marching Band UGM (muka bangga, haha). Mungkin UKM lain pun begitu, maaf cuma bisa ceritain MB UGM karena itu yang dulu aku ikutin di kampus waktu aku masih muda.

 

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua

Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku

Di dalam Pancasilamu jiwa seluruh nusaku

Kujunjung kebudayaanmu kejayaan Indonesia

 

Naah... itu bait pertamanya. Pegangan untuk yang berstatus mahasiswa sesuai liriknya.

Kita menyanyikannya saat pertama kali bertemu dengan orang berkedudukan paling tinggi di universitas, Pak Rektor. Kala itu, panas-panasan di lapangan Grha Sabha Pramana -kalau kata orang UGM itu tuh gedung/lapangan GSP. Gedung serbagunanya UGM, bahkan banyak yang bilang gedung manten. Hihi

 

Nah, di 24 Agustus ini, bukan lagi bait itu yang kita dendangkan. Bukan lagi di lapangan, tapi di dalam gedungnya. Tapi masih tetep panas-panasan sih, cuma panasnya beda, kalau ini panas karena gedungnya penuh sesak orang dan jadi panas. Bukan panas matahari. Kebayang kan, ribuan orang di dalam satu gedung itu panasnya kayak gimana? Itu baru wisudawannya, belum lagi wali-wali yang turut mendampingi.

Kita menyanyikannya secara khidmat, dengan tangan kanan mengepal di dada, seolah-olah merasuk di dalam jiwa. Merinding, itu pasti. Bahkan mungkin tak sedikit yang menitikkan air mata (kalau cewek, jangan deh, ntar make-up wisudanya luntur lagi #lah?).

 

Bagi kami almamater kuberjanji setia

Kupenuhi dharma bakti tuk Ibu Pertiwi

Di dalam persatuanmu jiwa seluruh bangsaku

Kujunjung kebudayaanmu kejayaan Nusantara

 

Ada beban eh amanah tambahan yang diberikan di pundak kita. Yaa, tentu saja dengan status kita sebagai alumni.

 

Di situ kita berjanji setia pada Ibu Pertiwi. Merantaulah, sekolahlah yang jauh, tuntutlah ilmu hingga ke ujung dunia sekalipun, namun ingat untuk kembali ke negaramu. Capailah ilmu untuk masa depan Indonesia.

 

Di pagi itu, ribuan wisudawan/wati berdiri dengan bangga di depan rektor dan seluruh dekan UGM, untuk mempersembahkan dengan bangga bahwa kita telah siap menuju ke dunia yang sesungguhnya. Dunia yang penuh dengan lika-liku yang akan menempa kita menjadi berlian yang lebih bersinar. Kita jabat tangan beliau, kita terima selembar tanda kelulusan kita, dan yeay kita wisuda. Bapaaak, Ibuuuk, aku wisudaa.

 

Tugas UGM untuk proses penempaan pertama kita sudah selesai. Selanjutnya, terserah kita, masih mau lanjut kuliah (di kampus yang sama, kampus lain -swasta/negeri, ataupun ke luar negeri sekalipun), bekerja, menciptakan lapangan kerja, atau apapun. Namun, tetaplah bersahaja dan berpegang teguh pada prinsip bahwa masa depan Indonesia ada di sini (tunjuk pundak masing-masing).

 

Tetap semangat dan teruslah berkarya. Untuk I-N-D-O-N-E-S-I-A.

 

 

 

Ditulis spesial dalam rangka Wisuda UGM Program Sarjana Periode IV Tahun Ajaran 2015/2016

Yogyakarta, 24 Agustus 2016 | A. L. Wikaningtyas

 

Gambar diambil di sini

  • view 175