(Bukan) Fatamorgana - Part 2

Astri Laksita Wikaningtyas
Karya Astri Laksita Wikaningtyas Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Maret 2016
(Bukan) Fatamorgana - Part 2

(Bukan) Fatamorgana ? Part 1

?

?Nak, Ibu sangat bangga sama Nanang. Nanang satu-satunya anak laki-laki ibu dan Nanang tetep bisa menjaga diri dan keluarga. Ibu sayang banget sama Nanang. Tapi, membaca surat ini, ibu jadi sedih karena kalau Nanang bekerja meskipun itu nggak sepanjang hari, Nanang akan jadi jarang di rumah. Pagi sekolah, sore bekerja. Ibu pasti akan rindu dengan Nanang. Itu saja yang membuat ibu sedih, Nak.? ujar ibu sedikit terisak.

Aku pun seketika tersenyum lebar dan menghela nafas panjang agar ibu bahagia melihatku tersenyum pagi itu.

?Bu, coba tatap Nanang, Bu. Nanang nggak akan ninggalin Ibu kok, Bu. Nanang akan tetap sering di rumah. Nanang akan selalu ada buat Ibu kapanpun Ibu butuh Nanang. Ibu nggak perlu sedih. Nanang lakuin ini juga untuk Ibu dan semuanya kok. Nanang pengen bisa bantu Ais biar tetep bisa lanjut sekolah sampai SMA bahkan sampai kuliah. Ibu tenang aja. Nggak papa kan ya Bu? Tapi kalau Ibu memang tidak mengizinkan Nanang bekerja saat ini, Nanang akan turuti perintah Ibu kok Bu.? ungkapku dengan nada bicara yang tenang dan meyakinkan sembari menatap ibu.

Belum sampai ibu menjawab dan memberikan argumennya, Ais berteriak memanggilku mengajak berangkat ke sekolah. Aku dan Ais memang setiap hari berangkat bersama dengan mengayuh sepeda tua yang aku punya. Sepeda peninggalan almarhum Ayah yang sampai saat ini masih kokoh seperti gigihnya semangat Ayah dulu.

?Ya sudah, Nanang sekolah dulu. Itu Ais sudah mengajak berangkat. Nanti sore kita bahas lagi sembari minum teh hangat dan ketela rebus buatan ibu ya.? ujar ibu dengan senyum manis tergantung di wajahnya. Cantik.

?Baiklah, Bu. Nanang berangkat sekolah dulu ya, Bu. Doakan Nanang dan Ais agar selalu jadi siswa yang baik dan pandai sehingga mampu membahagiakan Ibu kelak.?, timpalku sembari menyalami dan mencium tangan ibu.

?Mas Nanaang, ayoo lah Mas. Nanti Ais terlambat ini.?, rengek Ais seperti biasanya.

?Iya, Ais. Sini dulu, salam dengan Ibu. Minta doa restu.?, ujarku dengan nada menasihati.

?Oh iyaa, lupaa. Tunggu Maas.?, teriak Ais sembari berlari kecil.

Ais pun berpamitan dengan ibu. Seusai bersalaman, kugendong adik kecilku agar cepat sampai ke keberadaan sepedaku di samping rumah. Kududukkan dia di atas boncenganku. Kutegakkan sepedaku, kutanggalkan penyangganya, dan kukayuh sepeda dengan semangat seperti biasanya. Ketika melewati pintu depan rumah, kulambaikan tanganku ke arah ibuku yang tersenyum bahagia menyambut kepergianku untuk mencari ilmu. Begitu juga Ais, ia lambaikan tangannya dengan senyum manis terbersit di wajah mungilnya.

?Nanti, tunggu di dalam sekolah lho ya. Jangan keluar-keluar. Tunggu di dekat ruang guru aja, nanti Mas Nanang yang masuk cari Ais.?, kataku di depan sekolahnya.

?Siaap, Komandan?, jawabnya dengan suara lantang dan tawa kecilnya.

Aku pun membalasnya dengan acungan jempol dan senyuman bangga melihatnya yang semakin tumbuh menjadi anak yang pintar. Kuberi salam ia seperti rutinitas biasanya. Ku cium keningnya tanda sayangku pada gadis kecilku ini. Kuawasi ia sampai benar-benar masuk ke halaman sekolah sembari kulambaikan tanganku.

***

Sosok dewasa lainnya yang menjadi panutanku, Rainy Azura. Mbak Iza, begitulah aku dan keluargaku memanggilnya. Kakak perempuan pertamaku ini bernasib tak sama dengan perempuan-perempuan sebayanya di desa sini. Ketika gadis-gadis di luar sana sedang asik menuntut ilmu, gadis cantik yang satu ini justru tak kenal lelah untuk mengais rezeki halal di mana pun ia mampu menggapainya. Namun, rencana baik Allah selalu datang tepat pada waktunya. Melalui pekerjaannya itulah ia justru dipinang seorang lelaki tampan melalui perjumpaannya di rumah persinggahan tempat Mbak Iza bekerja. Mas Reza; begitulah sapaan akrab pendamping hidup Mbak Iza. Tak hanya tampan, namun juga memiliki pekerjaan yang mapan di sebuah pulau yang jauh dari papan kami. Pekerjaannya di Pulau Batam itu mampu sedikit mengubah nasib kami yang dulu sangat terasingkan menjadi lebih terhiraukan. Di pulau itulah kini mereka tinggal bertiga dengan bayi laki-laki, buah cinta mereka.

Mbak Iza kerap mengirimkan paket sembako pada kami. Namun kali ini, ternyata bukan hanya paketnya yang datang. Tetapi Mbak Iza sekeluarga pun datang tiba-tiba dengan maksud memberi kejutan untuk ibu. Ibu bahagia sekali saat itu, tampak jelas di raut wajah ibu.

Mbak Iza pun datang di saat yang tepat yakni ketika aku dan Ais liburan sekolah. Kami semua berkumpul bersama di gubug sederhana kami. Emm.. Tapi tidak semua. Kakak keduaku tidak libur dari kegiatannya sehari-hari.

Kakak keduaku, Mbak Nisa bekerja sebagai pramusaji di restoran terbesar di desa kami ini. Meskipun bekerja di restoran terkenal, upahnya belum menyerupai karyawan gedongan layaknya yang sering terpampang di televisi. Namun, ia tak pernah gentar, ia tetap terlihat bahagia menjalani pekerjaan ini karena ia melakukannya berlandaskan rasa sayang pada keluarga dan ingin tetap bisa memberi pemasukan untuk keluarga. Begitulah pengorbanan kakakku yang memiliki nama lengkap Mentari Khairunnisa ini. Nama yang cantik.

Namun, kebersamaan kami tidak serta merta terhenti begitu saja. Mbak Nisa datang tidak dengan tangan kosong. Ia membawa kejutan. Satu paket menu restoran di tempat Mbak Nisa bekerja, ia bawa untuk makan malam keluarga. Paket menu yang terkenal paling lezat dan mungkin paling mahal. Tapi kami tidak melihat harganya, kami melihat kebersamaan dan kehangatan yang tercipta. Malam itu kami makan malam bersama di gubug kecil yang menyimpan kenangan tak terhingga. Aku bahagia, semua bahagia, terlebih ibu yang merasakan kehidupan mulai dari hadirnya hujan hingga munculnya pelangi di kehidupannya. Kebersamaan ini yang membuatku tak ingin meninggalkan ibu untuk saat ini hanya untuk mencari uang semata. Uang masih bisa dicari nanti, tapi kita tak bisa memutar waktu. Sedetik waktu bersama keluarga amat sangat berharga. Gunakanlah sebaik mungkin semampu kita.

***

Malam itu, ibu pun menceritakan awal mula kehidupan beliau dengan ayah hingga terciptanya buah hati yang meramaikan kehidupan mereka. Kata ibu, kami ini bandel tapi ngangenin dan menentramkan. Ada pengharapan yang besar di balik nama-nama kami, buah hati ibu dan ayah. Rainy, Mentari, Tawang, dan Pelangi.

Istilah hujan singgah di pikiran ibu dan ayah karena di kala itu kondisi keluarga memang sedang terpuruk seperti diterpa hujan badai. Namun, hujan tidaklah selalu buruk. Hujan justru mampu menjadi siraman kesegaran di tengah tandusnya kehidupan. Kehadiran hujan diharapkan mampu menyuburkan kembali taman bunga yang mulai layu. Begitu juga dengan kehadiran seorang bayi mungil di tengah keluarga kecil nan sederhana. Rainy. Begitulah nama itu tercipta.

Tak lain dengan Mentari. Nama kedua yang tercetus di kamus ayah dan ibu. Di tengah derasnya hujan, hadirlah cahaya yang menyinari taman itu. Cahaya mentari yang membantu memberi warna pada bunga dan daun di taman setelah diguyur hujan. Indah dan berseri-seri. Demikian juga pengharapan ayah dan ibu akan hadirnya Mentari di tengah taman dan hujan ini.

Ibu dan ayah kemudian mendongakkan kepala ke atas. Mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa dan mendapati hamparan langit. Langit yang terbentang luas memayungi keindahan taman ini. Ibu berharap langit ini dapat terus terbentang indah melindungi taman sederhana ini bersama dengan sejuknya hujan dan hangatnya mentari. Terciptalah nama Tawang yang berarti langit dalam Bahasa Jawa Kuno (sansekerta).

Tak hanya itu. Tanpa disangka, hujan dan matahari yang datang beriringan di langit selalu menawarkan keindahan setelahnya. Pelangi. Goresan mejikuhibiniu tampak jelas secara nyata. Indah tak terkira. Menambah kesempurnaan taman kecil.

?Lalu kita?? ujar ibu pada ayah kala itu sembari menatapnya tajam penuh cinta.

?Kita??, tanya ayah. ?Kita adalah pagar. Pagar yang harus selalu menjaga taman ini agar tidak rusak oleh paparan lingkungan luar. Kita adalah pagar yang selalu siap menjadi pagar tajam ketika ada makhluk tak diinginkan datang menghampiri, maupun menjadi pagar tumpul yang tak pernah menyakiti dan selalu menyambut ramah ketika ada tamu dengan maksud baik singgah ke taman?, lanjut ayah dengan bahasa bak pujangga andal.

Kemudian ibu mengangguk, tersenyum, dan memeluk ayah dengan erat. Ibu dan ayah menikmati anugerah itu. Memandang indah pelangi, dengan rintik hujan yang turun perlahan diikuti sentuhan hangat mentari, di bawah hamparan langit biru yang menawan. Romantis.

***

?Ibu, ayah titip taman kecil kita ya, Bu. Ayah mau berjuang mencari pupuk di luar agar taman ini dapat terus tumbuh menjadi taman yang semakin indah.?

Begitulah pesan terakhir ayah pada ibu sebelum ia meninggalkan kami untuk menjalani kehidupan indah di surgaNya. Manis dan pahitnya perjalanan kehidupan dapat kita rasakan selaras dengan bagaimana kita menyikapi setiap kejadian yang singgah dalam diri kita. Perjalanan kita bukanlah hanya sebongkah fatamorgana.

?

==Selesai==

  • view 85