Cinta yang Tak Pernah Selesai

Wijatnika Ika
Karya Wijatnika Ika Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2016
Cinta yang Tak Pernah Selesai

Pertama kali matamu memandang mataku dan aku memandang matamu, matamu seolah bersenandung. Selalu ingin tahu. Pun saat kamu mengapit lenganku. Waktu itu aku nyaris limbung. Kepalaku pening karena udara terlalu dingin. Matamu masuk kedalam mataku. Kamu bersamaku selalu, sejak saat itu. Bersiap memungut daun mapel, mengapit lenganku saat aku mulai pening. Kamu mengikutiku bagai awan pada angin. Kamu menungguku di pintu, setiap pagi dan kita berjalan bersama-sama. Kamu juga membawakanku secangkir coklat hangat setiap kali hujan.

Sampai suatu hari, kamu bilang kita bukan teman.

Tapi apa? Kamu bilang aku beruang kutub kedinginan, kamu penyelamat.

Kita sama suka duduk di halaman. Menikmati matahari. Kita sama suka menyaksikan daun-daun berguguran. Kita sama suka menunggu salju dan memandangi langit berlama-lama. Langit kota yang biru.

Mau kah kita menjadi teman yang duduk bersama untuk mengagumi alam? Tak ada yang salah kan dari hubungan yang demikian? dan aku setuju kata-katamu yang sederhana.

Kamu menggenggam tanganku sesekali.

Kita masih sama suka menikmati daun-daun yang berguguran. Kita masih sama suka memandangi langit yang biru. Sampai suatu waktu, langit menjadi pucat, lalu abu-abu. Kamu dan aku mengira akan turun salju, pada malam atau esok pagi.

Salju. Aku ingin punya pengalaman bersama salju. Aku ingin punya ingatan tentang sentuhan kelembutan dari langit itu dan kamu mengatakan bahwa kamu akan menemaniku mewujudkan keinginanku. Kamu terlalu baik.

Daun-daun menghilang dari dahan-dahan pohon. Ranting-rantung kurus telanjang menantang angin yang kejam. Rerumputan menguning dan mati. Angin dingin berhembus kencang, melarikan daun-daun yang bersembunyi di semak-semak yang layu. Salju begitu asing. Kata-kata cinta begitu asing.

Mungkin aku tak akan pernah melihat salju, katamu. Tetapi katamu lagi, salju mungkin akan turun besok, maka kamu mengajakku membeli cokelat hangat. Lalu kita duduk bersama menikmati bahagia yang sederhana.

Waktunya pulang. Kamu mengantarku ke jalan itu. Kamu memandangiku saat aku melangkah.?Kamu memandangiku, seolah ingin mengatakan sesuatu tentang yang sederhana itu. Kamu bilang akan sangat merindukanku. Aku bilang datanglah ke negeriku untuk berlibur.

Itulah hari terakhir aku melihatmu.?

Kamu, cinta yang tak pernah selesai.

?

Depok, 26 Januari 2016

-Kenangan dari bertahun silam-

?

  • view 206