LELAKI YANG MERAYAKAN KEMATIAN

Wijatnika Ika
Karya Wijatnika Ika Kategori Tokoh
dipublikasikan 20 Januari 2016
LELAKI YANG MERAYAKAN KEMATIAN

Lelaki muda ini menurutku lebih pantas menjadi seorang traveler dan sukses sebagai penulis buku seri traveling anti-mainstream seperti seniornya Agustinus Wibowo atau Trinity. Hal lainnya adalah lelaki ini pantas sekali mengcopy jejak Bondan Winarno dalam hal wisata kuliner sebab tubuhnya cungkring sekali umpama penduduk lapar tanah. Alih-alih menjadi anak muda yang menghabiskan waktunya untuk hura-hura seperti jingkrak-jingkrak bahagia di konser-konser musik bertiket seharga makan malam orang sekampung, ia memilih merayakan kematian. Ya ampun, di zaman edan dan orang pada takut mati pemuda ini malah merayakan kematian?

Sesuai gaya hidupnya yang sederhana, lelaki muda ini memilih menyusuri kehidupan untuk merayakan kematian dengan cara sederhana. Tak lupa ia mengajak serta orang-orang, siapa saja yang sudi terlibat, untuk merayakan kematian. Kematian baginya bukan hal menakutkan. Kematian adalah klimaks kehidupan. Kematian adalah satu-satunya hal yang akan dituju semua orang di dunia. Baik itu terrorist yang terlebih dahulu mendatanginya melalui bom bunuh diri; atau selebriti kaya raya dan terkenal namun depresi; atau lelaki miskin yang terlbit hutang hingga hilang akal, kita semua akan mati dan menurut lelaki ini kematian adalah hal yang patut dirayakan. Hm, menarik juga.

Tidakkah kematian menakutkan? lelaki muda ini sepertinya telah belajar kebijaksanaan dari berbagai ragam ilmu pengetahuan dan cerdik pandai, sebab ia memiliki caranya sendiri untuk turut serta merayakan kematian dari berbagai kematian kemanusiaan di belahan nusantara. Baginya, bukan kematian yang menakutkan. Tapi yang lebih menakutkan adalah bagaimana cara seseorang mati yang dilupakan. Misal, ingatkah kita soal seorang petani yang mati ditembak TNI karena menolak lahannya dikonversi jadi sawit? ingatkah kita siapa namanya, usianya, nama keluarganya, hobinya, dan alasannya menolak konversi? atau ingatkah kita tentang perempuan tidak cantik rupanya bernama Marsinah, perempuan buruh yang mati dalam keadaan mengenaskan karena habis diperkosa sejumlah orang di sebuah lokasi sawah yang jauh dari pemukiman? Marsinah adalah salah satu tokoh buruh yang bersuara lantang menentang pemerasan terhadap buruh. Ingatkah kita? adakah Marsinah atau si petani miskin masuk kedalam doa-doa kita pada Tuhan?

Tidak penting memang mengingat semua orang, apalagi yang tidak punya mengaruh apapun dalam hidup kita. Tetapi bagi pemuda ini, sebagai manusia beradab (Apalagi kalau berpendidikan) sangat tidak layak kita melupakan kematian mereka yang berjuang untuk kepentingan publik. Sebab kematian orang-orang seperti mereka adalah kematian yang tidak adil, yang anyir, yang menjungkirbalikkan peran Tuhan sebagai pemilik Kehidupan dan Kematian. Kematian semacam itu harus dituntut di muka pengadilan, sebab demikian bangsa kita menjuluki dirinya negara hukum. Agar segala hal dijalankan atas hukum yang telah dirancang dengan susah payah dan biaya mahal di rumah rakyat DPR.

Suatu kali aku bertemu dengan lelaki ini dan mengorek-ngorek informasi tentang mengapa ia memilih merayakan kematian alih-alih kehidupan sebagaimana umumnya manusia. Ia mengaku bahwa pada suatu hari, di kota Bandung, ia membaca sebuah surat kabar nasional yang mengulas soal Aksi Kamisan depan Istana Merdeka, Jakarta. Sekumpulan manusia yang anggota keluarganya hilang atau terbunuh dalam berbagai tragedi berdarah di Indonesia menuntut negara berlaku adil. Saat membaca kisah itu ia berfikir, apa yang bisa ia lakukan selaku seniman dan pemuda bangsa ini untuk berkontribusi atas kepedihan mereka. Dan ia memilih untuk berdiri bersama mereka yang mati dalam ketidakadilan atau mereka yang hilang atau mereka yang kampungnya tenggelam. Ia berdiri dalam diam sebab ingin teriakannya sampai ke hati sanubari para penguasa.

Aksi Kamisan Bandung, adalah salah satu parade mingguan merayakan kematian ala pemuda baik hati ini. Setiap Kamis sore mulai pukul 4-6 menjelang matahari rebah di barat, ia berdiri menggunakan topeng putih di wajahnya. Diam mematung merayakan kematian dibawah payung hitam beraroma kesedihan dan kehilangan tak terperi para keluarga korban yang mengais-ngais keadilan di negara hukum ini. Telah ratusan Kamis ia merayakan kematian dan ia akan terus mengulangnya agar semakin banyak orang turut serta merayakan kematian.

Bagi pemuda yang lebih memilih melakoni bisnis atau hobi traveling, hobi lelaki muda ini mungkin cenderung aneh dan buang-buang waktu. Tidak! jangan sekali-kali bilang begitu! sebab pemuda ini bahwa tak punya anggota keluarga yang menjadi korban tragedi apapun di negeri ini. Meski para intel di Bandung menguntitnya kemana-mana, tak juga ditemukan hubungan darah dengan mereka yang mati, hilang atau entah bagaimana nasibnya dengan para korban. Ia cuma merasa hatinya mendidih oleh aroma kematian sebab negara begitu abah soal keadilan. Karenanya, karena berteriak dengan pengeras suara atau berpuisi sudah terlalu mainstream, ia berteriak dalam diam. Bagi pemuda ini, diam adalah teriakan paling keras dan menggetarkan. Sebab dengan diam, teriakannya tak akan menyakiti telingamu, tapi akan masuk kedalam hatimu umpama cinta pada kekasih. Jika engkau mendengar teriakannya di hati sanubarimu yang terdalam, bisa jadi engkau akan begitu mencintai caranya merayakan kematian sebelum mereka yang mencintaimu merayakan kematianmu yang telah dekat dengan cara berbeda.

Jika kau tak percaya bahwa kematian dapat dirayakan dengan teriakan diam semacam itu, datanglah ke Bandung pada Kamis sore. Kau akan lihat lelaki muda bertopeng putih ini berdiri dibawah payung hitam, di depan geung Sate yang bersejarah. Kau akan melihat bahwa tubuhnya yang cungkring dan kecil itu tak ada apa-apanya jika melawat aparat penegak hukum bangsa ini. Sekali pukul ia bisa sampai pada kematian. Tapi begitulah dia. Menurutku, dia cukup mewakili sebagian besar rakyat bangsa ini yang kecil dan terkucil tapi teriakan mereka yang keras telah merubah kematian yang menakutkan menjadi festival yang harus dirayakan.

Depok, 20 Januari 2016

?

  • view 445