I'm a Gadih Minang :)

Widya Lestari
Karya Widya Lestari Kategori Budaya
dipublikasikan 05 September 2016
I'm a Gadih Minang :)

Hola... Saya Iin Widya Lestari. Biasanya saya di panggil Iin oleh kedua orang tua saya dan juga keluarga besar saya. Bahkan teman - teman saya juga memanggil nama depan saya tersebut. Yah, itulah saya. Ok, saya lahir di suatu daerah di Lampung timur. Ayah dan ibu saya tulen orang Minang namun sejak ayah menikah dengan ibu, mereka pindah ke Lampung. Secara, sudah menjadi tradisi di Minangkabau bahwa setiap laki - laki memang mesti keluar dari kampung dan mereka merantau ke luar daerah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan tentunya juga untuk mengadu nasib. Ayah sejak dari bujangnya memang sudah merantau ke Lampung. Setelah ayah menikah dengan ibu, otomatis ayah harus bertanggung jawab  penuh dan menjalankan kewajibannya sebagai suami. Begitu juga sebaliknya dengan ibu. Oh ya sebelumnya ibu saya juga sudah biasa merantau. Ibu saya tergolong perempuan perantau karena sejak tamat sekolah, ibu sudah bekerja sebagai tenaga kerja sosial dan bekerja di luar daerah. Oh ya saya lupa, saya juga mesti menjelaskan bahwa kedua orang tua saya berasal dari Batusangkar. Yap, salah satu kota budaya di Sumatera Barat. Ok, ibu saya memang sudah biasa pergi bekerja dan keluar dari kampung dan tentu berbeda dengan perempuan - perempuan seusianya di kampung. Beruntungnya, nenek dan kakek saya tidak melarang ibu saya untuk bekerja di luar daerah. Bahkan ibu juga pernah merantau ke daerah Bandung, provinsi jawa barat dan beberapa  daerah sekitar jawa barat lainnya. Begitulah cerita yang saya dapatkan dari ibu saya. Wah bangga juga dengan beliau. Setelah menikah, ayah memboyong ibu saya ke Lampung Timur tepatnya di Labuhan Maringgai. Suatu daerah yang tergolong heterogen karena banyak pendatang seperti dari Jawa, Palembang, Bugis dan masih banyak lainnya.  Waktu pun berjalan dengan cepat, dan ayah dan ibu memiliki seorang putri, yaa tentu itu adalah saya. So, dengan kata lain, saya lahir di Lampung namun saya mewarisi darah minang yang diturnkan langsung oleh kedua orang tua saya. Kedua orang tua saya pun mendidik saya juga berdasarkan nilai - nilai agama dan tentunya ditanamkan juga unsur - unsur budaya minang kepada saya. Saya masih ingat ketika kami bertiga makan bersama, ayah memberikan saya arahan tentang bagaimana tata krama makan menurut adat minang. Misalnya dari mulai mencuci tangan, makan jangan bersuara dan lainnya. Ayah dan ibu juga masih banyak memberikan dan menanamkan nilai - nilaiminangkabau kepada saya terutama dalam hal nilai etika dan saling menghargai saudara serta mamak (paman). 

Waktu berlalu, hingga saya menamatkan sekolah Menengah saya di Lampung. Kedua mamak ( Paman atau adik dari ibu saya) saya  menyarankan saya untuk melanjutkan kuliah di Batusangkar. What?? saya sempat kaget karena saya belum pernah membayangkan kalau saya akan tinggal di kampung dalam waktu yang lama. Semasa saya masih kecil dan sekolah, kedua orang tua saya beberapa kali mengajak saya pulang kampung  atau  mudik (istilah trend nya). Akhirnya saya meneyetujuinya dan saya pindah ke batusangkar. Batusangkar merupakan daerah dengan julukan  kota budaya karena disana memang adat istiadatnya masih di junjung tinggi dan adatnya serta budayanya juga sangat unik dan menarik. Ok, batusangkar juga memiliki klim yang sejuk dan kadang dingin. Saya melanjutkan kuliah di suatu institusi islam di kota Batusangkar dengan memilih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Setalah beberapa saya tinggal disana, saya juga mesrti beradaptai dengan lingkungan yang baru. Budaya minang memang terasa kental disana karena mulai dari bahasanya, pada umumnya mereka menggunakan bahasa daerah alis bahasa minang. tentu saya mesti menyesuaikan diri untuk belajar dan memahami artinya kata per kata.  Selanjutnya, saya juga mengobservasi adat istiadat dalam pernikahan di batusangkar. Saya diajak oleh tante untuk menghadiri suatu pesta pernikahan. DI batusangkar, masih ada tradisi makan bajamba  atau makan  bersama dan makanannyapun telah di hidangkan  dan di tata dengan rapih, jadi nanti kami akan memilih lauk dan lainnya yang telah tersedia. Duduk makannya pun bersila alis menyimpulkan kaki, ah pokonya perempuan banget dan tidak boleh kakinya di naikkan sebelah.. :D 

Selain itu juga, adat sopan santun dalam berbicara juga masih di pegang erat. Bagaimana ketika berbicara dengan yang lebih tua, muda dan sebaya dengan kita. Serta masih banyak budaya - budaya lain yang saya pelajari disana. Mulai dari pernikahan, kematian, dan acara - acara adat lainnya. Serta pakaian adatnya yang unik. Ah pokoknya seru belajar dan memahami budayanya.  Terlepas dari semua itu, ada banyak pelajar yang saya dapatkan serta nilai nilai budaya dan moral yang saya dapatkan. Intinya adalah, dalam hidup kita mesti tolong menolong dan menghargai perbedaan. Tentunya ada beberapa perbedaan antara budaya sebelumnya kettika saya menetap di lampung yang tergolong mayoritas masyarakatnya heterogenis dengan Batusangkar yang notabenenya homogen. Iyaa... sebagai seorang Gadih miang tentu saya mesti memagang nilai dan norma yang saya dapatkan selama tinnggal di kampung. Saya bersyukur kepada Allah SWT karena telah memberikan saya kesempatan untuk menetap di kampung dan belajar tentang kehidupan sebagai bekal ketika saya berada di luar dan menjadi seorang perantau.  Gadih minang itu mesti kuat dan memiliki pendirian serta semangat dan cita - cita yang tinggi. Gadih minang mesti memegang teguh nilai agama dan norma kesopanan lainnya. Yap, saya mesti tanamkan itu dalam benak saya dan mengaplikasikannya. 

Sekarang saya sedang berjuang di tanah perantauan dan tentunya saya juga akan belajar budaya setempat karena dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, Saya  akan dengan senang hati  mempelajari budaya setempat dimana tempat saya tinggal nanti. Honestly, i'm so proud to be Indonesian.  Indonesia memang sangat kaya budayanya... tidak hanya itu alamnya juga sangat luar biasa.  Indonesia memang kaya dengan berbagai budaya, adat, suku dan bahasanya. I Love Indonesia full... ^_^

  • view 460