Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 7 September 2017   06:59 WIB
Pelajaran dari Nabi Ibrahim

Oleh : Slamet Widodo *)

Bulan ini, adalah bulan Dzul Hijjah. Dimana di dalamnya ada beberapa kejadian besar dalam sejarah Islam.

Berdasar Hadits Rasulullah saw, berikut kejadian besar berdasarkan urutan tanggal pada bulan Dzul Hijjah. 

Tanggal 1, Nabi Adam as. diterima taubatnya oleh Allah setelah sekian ratus tahun bertaubat. 

Tanggal 2, doa Nabi Yunus as. diijabah oleh Allah swt. dan dikeluarkan dari perut ikan. 

Tanggal 3, doa Nabi Zakariya as. dikabulkan oleh Allah swt. 

Tanggal 4, Nabi Isa as. dilahirkan di dunia. 

Tanggal 5, Nabi Musa as. Juga dilahirkan di dunia. 

Sementara itu, pada tanggal 8, Allah swt menguji ketakwaan Nabi Ibrahim as. Beliau bermimpi mendapat perintah dari Allah swt agar memenuhi nadzarnya untuk menyembelih putranya, Ismail. 

Waktu itu Ibrahim as. belum yakin betul dengan mimpi itu. Beliau berfikir, apakah itu merupakan perintah Allah ataukah hanya bisikan syetan yang ingin merusak keharmonisan rumah tangganya. Lalu Allah meyakinkan, bahwa itu adalah perintah dari Allah. Bukan dari syetan. Kemudian, pada hari itu disebut dengan hari tarwiyah. 

Keesokan harinya, pada malam tanggal 9. Nabi Ibrahim bermimpi lagi. Dengan mimpi yang sama. Lagi-lagi Allah meyakinkan Ibrahim,

"Yakinlah Ibrahim, bahwa mimpi itu benar-benar datang dari Allah SWT."

Maka, pada tanggal itu disebut dengan hari 'Arafah. 

Pada malam ketiganya, yakni pada tanggal 10, Ibrahim bermimpi lagi dengan mimpi yang sama. Maka beliau bertekad untuk memenuhi nadzarnya, yaitu menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Maka pada hari pelaksanaan penyembelihan itu disebut dengan "yaumun nahr".

Di sini saya tidak membahas secara tuntas nilai dan pelajaran dari peristiwa akbar ini. Namun, saya ingin mengulas sedikit kisah Nabi Ibrahim dan kita bisa mengambil pelajaran dari sisi yang lain. 

Suatu hari ada seorang yang beragama majusi (menyembah api) bertamu ke Nabi Ibrahim a.s dan meminta jamuan layaknya seorang tamu. Nabi Ibrahim lalu berkata kepada si Majusi, "aku tidak akan memberikan jamuan kepadamu sampai engkau keluar dari agamamu dan meninggalkan hal-hal yang berhubungan dengan agama majusi!". Mendengar jawaban dari Nabi Ibrahim, si Majusi pun lalu pergi meninggalkannya.

Tak berselang lama Allah menurunkan wahyunya dan berfirman, "Wahai Ibrahim, mengapa engkau tidak memberikan jamuan kepada si majusi sampai engkau memerintahkannya keluar dari agamanya? Apa yang memberikan madharat kepadamu jikalau malam ini engkau menjamu tamu? Dan sungguh Aku telah memberi makan dan minum kepada si majusi padahal ia kufur dan tidak beriman selama 70 tahun".

Maka keesokannya ketika pagi datang, Nabi Ibrahim mencari si Majusi. Setelah Nabi Ibrahim menemukannya beliau bersimpuh kepadanya. Si majusi pun heran dan berkata, "aku sungguh heran kepadamu, kemarin engkau menolakku dan hari ini engkau mencari-cariku".

Nabi Ibrahim pun menceritakan kepada si majusi, bahwa Allah telah menceritakan kepadaku tentang keadaanmu. Mendengar penjelasan Nabi Ibrahim, si majusi pun bertanya, "apakah mau Tuhan dari segala tuhan bergaul denganku sedangkan aku telah kufur kepadaNya". dan si Majusi pun meminta Nabi Ibrohim untuk menyodorkan tangannya dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah.

Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah, kita tidak boleh bersikap diskriminasi terhadap semua orang. Selain itu, kita tidak berhak menilai baik dan buruknya orang lain. Yang berhak menilai hanyalah Allah SWT. 

Wallahu a'lam... 

---------

Kepohbaru, 1 September 2017

*) Penulis adalah Guru Matematika di MTs 3 Bojonegoro yang bertempat di Kepohbaru.

Karya : Slamet Widodo