Helm

Slamet Widodo
Karya Slamet Widodo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 September 2017
Helm

Oleh : Slamet Widodo *)

Sebagian besar alasan utama pengendara motor untuk memakai helm adalah agar tidak ditilang oleh Pak Polisi. Jadi, pengendara motor mengenakan helm itu dalam keadaan terpaksa. Takut Pak Polisi. Padahal tidak demikian.

Aturan atau standard dalam berkendara motor diantaranya adalah, minimal mengenakan helm standard, surat-surat penting seperti SIM dan STNK. Tidak perlu membawa BPKB. Sebab, BPKB-nya disimpan di Bank, Koperasi dan lain sebagainya. Biar aman. Hehehe...

Aturan itu dibuat bukan untuk menakut-nakuti para pengendara. Tapi, justru untuk keselamatan bagi pengendara itu sendiri dalam berkendara. 

Contoh aturan wajib mengenakan helm. Fungsinya;

Pertama, adalah melindungi kepala bagi pengendara motor dari benturan dikala terjadi kecelakaan. Jika saja jatuh dan terluka, setidaknya kepala masih tetap terlindungi. Aman. 

Nah, kalaupun sudah memakai helm. Lalu terjadi kecelakaan. Kemudian terluka parah dan meninggal dunia. Nah, itu namanya takdir. Hehehe 

Fungsi yang kedua, adalah melindungi mata dari gangguan binatang kecil-kecil dan debu-debu yang beterbangan. Agar tidak masuk dan ndelesep ke dalam mata kita. 

Tentunya Anda pernah mengalami sendiri, to? Pas nyetir motor, tiba-tiba, mak plek, ada sesuatu yang masuk ke mata. 

Wah, nano-nano rasanya. Perih. Sakit. Grenjel. Campur jadi satu. Keluar air mata, itu pasti. Kayak orang mewek, gitu kan? 

Lalu apa tindakan yang kita lakukan? 

Spontan kita injak/pengang rem. Sssset. Motor berhenti. Dan bahkan, jika kehilangan keseimbangan, bisa-bisa banting setir alias oleng. Tangan ngucek-ngucek mata. Sampai benda asing itu bisa keluar dari mata. Dan tak jarang pula, kita meminta bantuan teman atau siapa saja yang ada di dekat kita untuk meniup mata kita. Supaya benda asing itu bisa segera keluar. Mak bruuusss... Meskipun bau mulutnya teman kita kayak minyak serimpi, tidak masalah. 

Itu baru binatang kecil yang ndelesep ke dalam mata kita. Coba bayangkan, jika gajah yang masuk ke dalam mata. Kebayang kan, rasanya kayak gimana? Pasti lebih seru. Hehehe... 

Nah, terkait dengan hal itu ada pepatah yang mengatakan;

"Gajah dipeluk mata tak tampak. Debu di seberang lautan kelihatan gede." 

Maksudnya, kesalahan diri sendiri, meskipun itu besar, tak pernah disadari. Namun sekecil apapun kesalahan orang lain, pasti dikoreksi sampai sedetail mungkin. 

Gara-gara helm, saya sering dibilang sama teman-teman ngopi, katanya saya kayak "orang gila". Lah kok bisa? 

Betapa tidak. Setiap kali saya naik motor, saya pasti pake helm. Entah itu pagi, siang dan bahkan malam sekalipun. Entah itu jaraknya jauh atau dekat. Ya, kalau jaraknya cuma lima ratus meter atau sekilo, ya tidak pake helem, lah...

Saya, tanya kepada teman saya itu. Alasannya kenapa, saya kok dibilang kayak "orang gila". 

Katanya, "Lah bagaimana tidak, lah wong malam-malam yo pakai helm. Lah yo, kayak orang gila. Hahaha... " sambil terbahak-bahak. 

Hehehe... 

Iya memang saya akui. Tapi saya punya alasan kuat. Yaitu, agar tidak ada gajah di depan pelupuk mata saya. Sudah itu saja. Titik. 

***

Saran:

Gunakanlah helm standard pada saat mengendarai motor. Agar mata Anda terlindungi dari benda asing, semacam serangga dan gajah. 

***

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi. 

Kemarin pagi, saya pagi-pagi berangkat ke sekolah, ujug-ujug mak jegagik (tiba-tiba) mata kanan saya kemasukan hewan kecil (di tempat saya di sebut mimik). Mak plek. Wih, rasane... Hemz...

---------

Kepohbaru, 6 September 2017

*) Penulis adalah Guru Matematika di MTs 3 Bojonegoro yang bertempat di Kepohbaru

  • view 69