Dunia Hitam Putih

'Dhi' Widianti
Karya 'Dhi' Widianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Agustus 2017
Dunia Hitam Putih

“Jika kamu mati besok. Ingatlah untuk membawa mimpimu bersamamu."

Eliza belum bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Sebuah dunia yang hanya terdiri dari dua warna. Hitam dan putih. Entah kenapa warna lain tidak terlihat di sana. Mungkin, dunia itu hanya mengizinkan dua warna untuk saling berpadu menciptakan keseimbangan setelah sebelumnya penat dengan puluhan warna yang bersaing menawarkan keceriaan. Atau bisa juga dunia itu mendapat kutukan sehingga warna lain lenyap.  Terkadang, terlalu banyak warna membuat mereka saling mengalahkan.

 Seribu pertanyaan menyesaki rongga otak Eliza. Bergantian mencari jawaban yang berusaha dirangkai sebisanya. Tetapi sia-sia. Perempuan itu lalu menghembuskan napas pelan. Berusaha mengumpulkan segenap keberanian untuk memasuki dunia baru yang ada di hadapannya. Untuk mencari sebuah jawaban. Dia tahu, tidak ada pilihan lain selain mencari tahu dimana dia sekarang. 

“Dia sudah sampai!”Suara seorang perempuan seperti setengah berbisik memutar di udara. Suara itu terdengar akrab bagi Eliza. Meski dia belum tahu dimana pertama kali mendengarnya. Suara itu mengalun bersama hembusan angin. Eliza mengikuti kemana suara itu terbawa.

Dunia itu terlihat ajaib. Hitam dan putih berusaha saling mendominasi. Dedaunan dan pepohonan berwarna hitam tumbuh di sela-sela aliran anak sungai yang juga kelam. Dari atas air, kabut putih tipis menguap. Lalu, partikel-partikelnya menjelma menjadi seekor hewan putih gemuk yang terbang di udara. Hewan-hewan itu berlari atau terbang ke atas langit yang tidak bercahaya. Anehnya, meski tidak ada penerangan di atas langit. Eliza mampu melihat semuanya dengan jelas.

Kedua matanya merekam seekor burung hantu yang terlahir dari kabut. Dengan tatapan penuh sukacita burung hantu itu terbang dan hinggap di dahan pohon hitam tanpa daun. Sebelum bertengger, burung hantu itu menyapa Eliza dengan mata besarnya yang dingin. 

“Dia sudah sampai!”Lagi-lagi suara tak berwujud mengejutkan Eliza. Kini, perempuan itu berusaha mencari sosok suara itu. Eliza mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Namun, hanya kegelapan yang ditemuinya. Tidak ada makhluk lain selain dirinya dan hewan-hewan ciptaan kabut. 

Terlintas di benak Eliza jika suara itu milik salah satu hewan kabut. Sebagai perempuan berdarah Indian, Eliza tahu tradisi kuno mengenai spirit animal. Para malaikat pelindung yang menjaga dan membimbing manusia dalam bentuk hewan. Tradisi yang terbuat dari ikatan manusia dan alam. Ketika mereka masih berkawan akrab. Ada unsur timbal balik dan ketergantungan di dalamnya. Juga ada kesan manipulasi bagi sebagian orang Tetapi, suara itu tidak berasal dari kepungan kabut yang melahirkan para hewan. Hampir mustahil suara itu milik hewan yang baru terlahir dari kabut. Eliza memaksa kedua telinganya untuk menangkap suara itu dengan lebih jelas. Ya, suara itu memanggil dari balik kegelapan yang tidak berujung. Kegelapan yang menawannya hingga lupa menunjukkan rupa. 

“Siapa kamu?”

Eliza memberanikan diri mengeluarkan suaranya di dunia asing itu. Hening. Tidak ada suara yang muncul. Bahkan, hewan-hewan kabut pun tidak bersuara. Sepertinya dunia itu memang diciptakan dalam keheningan. Hanya ada satu suara yang didengar Eliza. Itu pun belum jelas siapa sang pemiliknya.

Eliza memberanikan diri menyusun langkah demi langkah. Memasuki dunia yang dihuni pepohonan hitam dan hewan kabut itu dengan lebih dalam. Rasa penasaran telah mengusir ketakutan dari dadanya. Yang ada kini hanya keinginan untuk mencari jawaban akan keberadaannya di dunia monokrom.

Entah sudah berapa lama berjalan. Eliza tidak menemui satu orang pun yang bisa ditanyainya. Semakin ke dalam. Dunia itu semakin pekat. Tidak ada lagi kabut yang melahirkan hewan. Tidak juga ada pepohonan hitam. Kini hanya gulita yang saling menyinari diri untuk menuntunnya. Eliza menghentikan langkahnya. Namun, dia  tidak merasa kalah. Seringkali dalam sebuah perjalanan, perhentian menjadi penolong untuk memancing kemungkinan baru.  

“Dia lelah!”Suara perempuan tidak berwujud itu kembali terdengar. Kali ini lebih dekat dari sebelumnya. Eliza mematung. Dia berharap segera melihat wujud sang pemilik suara. 

Tiba-tiba, gumpalan kabut memenuhi kegelapan. Lalu, setiap gulungan kabut menyatukan diri membentuk sosok perempuan. Perempuan bertubuh tinggi dan ramping dengan rambut putih panjang yang menjuntai hingga ke mata kaki.

“Eliza, aku telah menyelamatkanmu!”

Perempuan itu tersenyum dengan bibir kabutnya. Lalu memandang Eliza dengan rasa iba dari kedua bola mata putihnya. Ketakutan mulai menggerogoti keberanian Eliza. Tetapi, perempuan itu tidak mau mengalahkan dirinya sendiri. Rasa takut hanya tipuan yang mencelakakan bagi seorang pencari jawaban.

“Kenapa kau menyelamatkan aku?”Eliza bertanya dengan nada menantang.

“Aku menyelamatkanmu karena engkau terus berlari. Berlari dan berlari. Kau tahu? Terkadang jawaban akan ditemukan saat kau mau berhenti. Seperti sekarang ini,”ujar perempuan itu.

“Lalu, apa kau sekarang menawanku dalam duniamu?”

Perempuan itu menyeringai. “Tertawan atau terbebas itu adalah pilihanmu. Hanya kau yang bisa menjawabnya.”

Perempuan itu lalu tertawa dengan keras sehingga dunia monokrom berguncang. Kini, perempuan itu kembali menjadi kabut dan lenyap dalam kegelapan.

Eliza terdiam. Dia berusaha mencari jawaban dan mengingat tempat terakhir yang dikunjunginya sebelum sampai di dunia aneh itu. Tiba-tiba, suara tangisan dan teriakan memenuhi kepalanya.

“Kejar dia! Tangkap!” 

Suara-suara itu berteriak kesetanan. Eliza lalu teringat daun-daun hijau yang berguguran di atas wajahnya pada suatu musim. Kemudian, anak-anak sungai yang berkilatan disinari matahari. Eliza mengingat warna-warna yang ditemuinya. Lalu menghitung mundur setiap ingatan di kepalanya. 

Eliza memejamkan mata. Berjanji tidak akan membukanya sampai teriakan itu lenyap. Jantungnya tiba-tiba memompa dengan cepat. Sekujur tubuhnya meleleh seperti lilin yang dimakan api. Eliza berusaha menjerit tetapi tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya. Eliza tak sadarkan diri.

***

Suara tangis bayi mengejutkan Eliza. Suara itu mengingatkannya akan kehidupan. Dengan rasa bimbang, Eliza memberanikan diri membuka mata. Dia penasaran akan apa yang akan dilihatnya kini. Dunia hitam putih. Atau malah istana warna-warni.

Seorang perempuan dengan wajah bahagia menempelkan jarinya ke jari Eliza yang mengecil. Perempuan berwajah teduh yang tampak baru saja menahan rasa sakit itu tersenyum manis kepadanya. Tatapannya penuh cinta dan rasa syukur. Lalu, seorang lelaki mendekat ke tubuh perempuan itu. Mereka beradu pandang kemudian menatap Eliza dengan haru. Dengan mata mungilnya, Eliza melihat seberkas cahaya di mata mereka. 

Perempuan itu lalu berkata “Kegelapan terkadang mampu mendahului cahaya. Tetapi, dia tidak akan pernah mampu merenggut jiwa.”

 

  • view 93