Bukankah?

Widya Imrani
Karya Widya Imrani Kategori Puisi
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Bukankah?

Meski kau jauh di ujung sana, bukankah kita masih memandang langit yang sama? Meski kita hampir tidak pernah lagi bertegur sapa, bukankah aku masih bisa menyebut namamu dalam doa?

Meski kudengar, banyak sekali bidadari yang ingin menjalani sisa hidup bersamamu, bukankah sampai detik ini belum ada yang menjadi pilihan terakhirmu? Bukankah belum ada nama yang kau sebut dalam ikrar sucimu di hadapan Yang Maha Pemersatu?

Meski aku tidak sepandai kamu dalam menbentengi diri, bukankah Tuhan tidak pernah membatasi hamba-Nya dalam memanjatkan doa? Salah satunya dalam memohon seseorang sebagai penyempurna separuh agama yang jauh lebih baik daripadanya. Tak terkecuali ketika aku menyertakan namamu dalam daftar doaku. Iya, kan?

Dan tidak setiap rasa harus dikatakan saat ini juga, kan?
Jadi, meski aku tidak pernah mengatakannya padamu,
bukankah Tuhan bisa saja pelan-pelan membisikkan namaku padamu?
Bahkan tanpa ragu mengukirnya dengan tegas di dasar hatimu,
karena sesungguhnya Tuhan-lah yang Maha Pembolak-balik hati. Iya, kan?
Karena itulah, aku tidak mau menyandarkan harapan pada selain Tuhan, tak terkecuali padamu.

Aku tahu, bicara tentang ini, kau pasti lebih bijaksana dalam memaknai segala sesuatunya daripada aku.
Lalu, untuk apa aku berupaya melupakanmu?
Bukankah setiap rasa adalah fitrah?
Jika boleh, aku ingin tetap menjaganya, meski kelak kau dan aku tidak akan menjadi kita,
bukankah Tere Liye bilang: hakikat cinta yang sebenarnya adalah melepaskan, bukan menggengggam?

Ah, tenang saja, aku tidak akan menggenggam, terlebih lagi melupakan, bukankah melepaskan tidak selalu berarti melupakan, kan?

 

Satu dari kumpulan surat yang tidak ditujukan. Sekali-sekali puitis boleh, kan?

Cirebon, 27 Agustus 2014

  • view 206