Dua Sisi

Widya Imrani
Karya Widya Imrani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Dua Sisi

Ia mampu membuat tersenyum simpul, tertawa riang, menangis haru karena pengorbanan dan pengabdiannya. Ketabahan yang ia pegang mampu menjadi pelunak kerasnya keegoisan. Kesederhanaan yang menjadi prinsipnya membuat orang-orang dengan mudah begitu mengagumi. Dengan dada yang dibusungkan, diri berkata, “You are my hero!”
Meski semua sisi terangnya ini membuat waktu seolah berlari begitu cepat, tidak ada titik semu dalam bahagia.

Berkali-kali ia mampu mencipta bahagia, berkali-kali pula ia mampu membuat terhenyak dari senyuman yang kemarin ada. Seperti tamparan yang tiba-tiba melesat pada wajah diri yang dihias senyuman simpul yang belum juga pudar, “Ini bukan ia, ini bukan ia!”
Diri begitu memaksa untuk menolak realita tentang dirinya. Perkataan ia yang seringkali cenderung dengan nada tinggi seperti menancapkan jarum-jarum pada hati. Diri mencoba meyakinkan bahwa yang dihadapan diri saat ini, detik ini, menit ini, bukan ia yang sebenarnya. Dalam kondisi yang demikian, satu detik seakan terurai menjadi sepuluh detik, dan tiap-tiap sepuluh detiknya, sedang ditaburkan satu enggam garam pada luka yang masih basah. Begitulah, sisi gelap yang seringkali ada padanya membuat
waktu seolah merangkak begitu lambat dengan pilu di dalamnya.
Seperti siang dan malam yang silih berganti, dua sisi dalam dirinya pun demikian. Pilu dan bahagia mampir bergantian.

Wahai Tuhan, diri ingin bersamanya dengan satu sisi saja, hanya satu sisi. Meski karenanya, waktu terasa berlalu begitu cepat. Lagipula, tidak perlu bermanja-manja dengan waktu. Bahagia yang sebentar saja lebih baik daripada kepiluan yang hinggap berlama-lama, kan?
Toh, perputaran jarum jam yang kaku dalam sandiwara di dunia hanya sementara, kan?

  • view 197