Tentang Gita, Malaikatnya dan Pria Tanpa Nama

Widya Imrani
Karya Widya Imrani Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 21 Agustus 2016
Tentang Gita, Malaikatnya dan Pria Tanpa Nama

“Fii Ahsani Taqwim,” potongan ayat ke-4 Surah At-Tin menjadi salah satu inti ceramah yang disampaikan oleh seorang pemuda berusia 24 tahun di dalam angkutan umum. Adalah Yudistira Arifin, pemuda cerdas, energik, tampan dan gemar memakai baju kotak-kotak ini giat berdakwah ditempat-tempat yang tak biasa. Ia merupakan anak pemilik sebuah perusahaan yang kelak akan menggantikan posisi Ayahnya sebagai pemimpin perusahaan. Namun dengan jalan ‘fi sabilillah’ hal tersebut tidak membuatnya menjadi pemuda yang suka berfoya-foya. Dalam diri Yudi, yang diperankan oleh Masaji Wijayanto tertanam nilai-nilai kemanusiaan, kedermawanan, serta kerelawanan.

Film yang memakan waktu syuting selama 33 hari ini benar-benar disuguhkan dengan nyaris sempurna. Terlihat dari ‘penggodogan’ para pemain yang menjalani proses karantina untuk bisa total berakting dalam film yang diadaptasi dari novel legendaris yang berjudul sama –Ketika Mas Gagah Pergi¬– pada era 90-an.12 tahun penantian para fans terhadap film ini terjawab oleh jadwal penayangannya yang serempak di Indonesia mulai 21 Januari 2016 lalu. Dikemas se-anak muda mungkin namun tetap kental dengan unsur-unsur keislaman. Salah satunya dengan tidak adanya adegan touching antar pemain yang bukan muhrim. Sehingga pesan-pesan keislaman, kemanusiaan, dan persahabatan dapat tersampaikan dari film bergenre drama keluarga ini. Tidak hanya itu, sebagai realisasi kepedulian terhadap sesama, sebagian keuntungan dari film ini akan disumbangkan untuk pendidikan di Indonesia Timur dan Palestina.

Cerdas, tampan, mandiri, dan disegani semua orang, itulah sosok Gagah yang begitu dibanggakan oleh Gita, adiknya. Sedari kecil, gagah adalah ‘malaikat’ Gita, ia selalu melindungi, menyayangi dan menjadi orang yang paling mengerti diri Gita. Gita Ayu Pratiwi sendiri adalah orang terdekat Gagah yang awalnya paling menolak perubahan drastis malaikatnya itu dari segi penampilan, tingkah laku, cara berbicara hingga selera musik. Perjalanan penelitian skripsi selama dua bulan di Ternate menjadi titik balik kehidupan Gagah yang merupakan seorang model dan mahasiswa fakultas teknik di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Ternyata, Kyai Gufron, seorang kyai Ternate, yang diperankan oleh Ustadz Salim A. Fillah-lah yang berperan besar dalam proses hijrah Gagah. Tidak hanya malaikat Gita yang berubah, Gita juga merasakan perubahan Ibunda dan Tika, sahabatnya yang memutuskan berjilbab karena terinspirasi dari sepupunya yang sempat kuliah di Amerika yakni Nadya, diperankan oleh Izzah Ajrina. Serta tiga preman yang dibuat insyaf oleh malaikat’nya tersebut. Sejalan dengan peristiwa-peristiwa yang ia alami setelah Mas Gagah kembali dari Ternate, Gita bertemu dengan Yudi, sosok pria sholeh yang selalu membuatnya teringat akan diri malaikatnya yang baru.

Film keluaran Indo Broadcast Production ini mengusung pendanaan secara crowd funding dari penggemar yang begitu antusias mengangkat kisah novel legendaris berusia 20 tahun karya Helvi Tiana Rosa ini ke layar lebar. Uniknya lagi, film ini mengutamakan para pendatang baru untuk mengisi tokoh utama. Sedangkan lebih dari 30 artis papan atas dimunculkan sebagai cameo. Firman Syah, sutradara film ini berharap akan memunculkan idola-idola baru berakhlak bagus, salah satunya yang memerankan tokoh Gagah, Hamas Syahid Izzudin yang merupakan penghafal Al-Qur’an. Dan di saat film-film lain gencar memilih syuting di negara lain, film ini justru mengeksplor keindahan Indonesia tepatnya Ternate, Maluku Utara sebagai latarnya.

Jika ditelisik perbedaan antara novel dengan filmnya, alur dalam film yang naskahnya ditulis oleh Fredy Aryanto ini tidaklah seratus persen sama. Ada beberapa hal yang disajikan secara berbeda dari novelnya. Yang tentu hanya bisa kita temukan jika telah membaca novelnya secara keseluruhan. Alur diakhir film yang terkesan ‘gantung’ ini sepertinya memang dibuat demikian agar para penikmat film menjadi begitu penasaran.

Bagaimana kelanjutan Gagah dalam upayanya meyakinkan Gita, keluarga dan lingkungannya untuk memahami bahwa ‘Islam itu indah’, bahwa ‘Islam itu cinta’? Serta, apalagi aksi positif Yudi dalam misinya menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan kemanusiaan kepada sesama, termasuk pesan berupa hidayah yang sampai kepada Gita? Akankah Gagah benar-benar pergi seperti dalam judul novel dan filmnya? Dan bagaimana kehidupan orang-orang yang mengenal Gagah ketika memang Gagah benar-benar pergi? Jawabannya, akan kita temukan dalam sekuel Ketika Mas Gagah Pergi 2 The Movie yang akan segera tayang!

  • view 136