Dear Kamu, Laki-Laki

Widya Imrani
Karya Widya Imrani Kategori Motivasi
dipublikasikan 08 Agustus 2016
Dear Kamu, Laki-Laki

Kekasihmu itu anak perempuan yang punya orang tua, entah orang tuanya masih diberikan umur di dunia atau pun tidak, tapi ia tetap punya orang tua yang harus ia jaga kemuliaannya. Bukankah mendidik dan menjaga anak perempuan itu jauh lebih sulit daripada mendidik anak laki-laki?
Lalu tiba-tiba kamu hadir dalam kehidupan perempuan yang kamu sebut 'kekasih' itu dengan segala macam perhatian khusus yang membuat ia merasa begitu diistimewakan, begitu disanjung, dan ia juga membuatmu begitu diistimewakan, begitu dinomorsatukan. Padahal itu semua belum menjadi hakmu.
Meskipun kamu mempunyai pembelaan bahwa masing-masing dari kamu dan dia bisa menjaga diri dan tau batasannya, bukankah kekhilafan bisa datang kapan saja apalagi setiap ada kesempatan, apalagi ketika ada komitmen diantara kamu dan dia bahwa "I'm yours and you're mine". Yakin masing-masing dari kalian mempunyai 'tameng' yang begitu kuat? Bukankah syaitan lebih tahu kelemahan manusia? Bukankah syaitan tidak akan berhenti mempengaruhi? Bukankah status kamu dan dia saja sudah disebut melanggar batas ketentuan-Nya?
Meski memang, yang tidak berstatus pun belum tentu tidak lebih melanggar dari yang berstatus, bahkan bisa jadi lebih lebih melanggar.
Karena menjaga bukan hanya soal diri, tapi juga pikiran dan hati.
Egois adalah ketika hanya memikirkan bagaimana agar berbahagia dengan status kamu dan dia, tanpa peduli bagaimana kelak keluarga -dari perempuan- mempertanggungjawabkan amanah selama mendidik dan menjaga anak perempuannya tersebut. Pernah kamu berpikir sejauh itu?
Terlebih ketika kamu benar-benar mengikat hatinya hanya untukmu, tanpa ada keberanian ataupun kejelasan darimu untuk mengakhiri hubungan yang tadinya neraka, menjadi surga.
Kamu membuatnya menanti, menanti dan menanti. Padahal, Salim A Fillah dalam sebuah bukunya, "Aku bukan tak sabar, hanya tak ingin menanti, karena terkadang penantian itu membuka pintu-pintu syaitan."
Sembari kau berikan sebuah keyakinan padanya dengan prinsip 'jalani saja dulu', yang padahal prinsip tersebut sepertinya tidak akan membawa sebuah hubungan kemana-mana. Istilahnya 'kalau jadi ya syukur, tidak jadi ya sudah, ikhlaskan'. Duh, suatu ketidakpastian dalam ketidakpastian -karena dunia sudah penuh dengan ketidakpastian, katanya sih begitu.
Dear laki-laki, niat baik saja tidak cukup. Perjuangkanlah juga dengan cara-cara yang baik. Dekatilah ketika kamu telah benar-benar siap. Bukan malah terus gencar mendekati sambil bersiap-siap. Duh, curi start namanya.
Seolah kamu benar-benar sedang memperjuangkan ia di jalan-Nya, padahal bisa jadi kamu justru sedikit keluar dari jalur-Nya.
Dear perempuan, ketika kita belum bisa mengupayakan apa-apa yang membawa keluarga kita menuju surga-Nya, setidaknya jangan melakukan perbuatan yang menyeret mereka kedalam murka-Nya.
Semoga Allah senantiasa menjaga kualitas iman kita semua.

  • view 631