Penyimpang dan Penyimpang

Widya Imrani
Karya Widya Imrani Kategori Psikologi
dipublikasikan 29 Mei 2016
Penyimpang dan Penyimpang

“Anake kita mah badeg,” Sengaja tak sengaja mendengar pembicaraan seorang Ibu pedagang jajanan keliling kepada salah satu anggota keluarga penulis. Ah, agaknya penulis teringat dengan ‘Teori Labelling’ yang pernah dipelajari dalam Mata Pelajaran Sosiologi semasa kelas dua belas –tentu saja karena penulis mengambil jurusan IPS­–. Yang masih penulis ingat bahwa teori labelling adalah pengecapan –yang biasanya negatif– yang dilakukan oleh seseorang ataupun sekelompok orang terhadap seseorang.

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Edwin M. Lemer. Menurutnya, seseorang menjadi ‘penyimpang’ karena proses labelling –pemberian julukan atau cap– yang diberikan masyarakat kepadanya. Tentu saja proses labelling ini disebabkan seseorang tersebut telah melakukan penyimpangan.

Sebagai respon terhadap penjulukan tersebut, si pelaku penyimpangan tanpa sadar telah mengidentifikasi dirinya sebagai ‘penyimpang’. Melakukan lagi, lagi dan lagi penyimpangan tersebut karena berasumsi bahwa sudah ‘kepalang tanggung’ ataupun ‘terlanjur basah’.

Agaknya dalam konteks yang sederhana, Ibu pedagang tersebut telah menjuluki anaknya dengan sifat badeg –nakal, dalam bahasa Indonesia­– yang padahal anak yang dibicarakannya tersebut berada disampingnya. Ditinjau dari psikologi, penjulukan tersebut akan berpengaruh pada keadaan psikologis anak, yang apabila diilustrasikan si anak akan berkata seperti ini, “Ibuku saja sudah menganggap aku adalah anak yang nakal, jadi untuk apa aku menjadi anak baik ­–toh label ‘nakal’ telah melekat pada diriku–, aku teruskan saja kenakalanku itu,”

Terlebih lagi, dalam Islam –pun mungkin dalam agama lain– sudah sering terdengar sebuah nasihat sederhana bahwa “ucapan adalah doa”. Tidak diperkenankan seorang Ibu menyumpahi anaknya dengan kata-kata negatif. Senakal dan seburuk apapun anaknya, seorang Ibu harus tetap mendoakan yang terbaik. Hal ini pun sedikit banyak masih berhubungan   dengan sugesti. Anak yang diberi label bodoh, apalagi diperlakukan seperti anak bodoh, maka akan menjadi bodoh. Pun sebaliknya, anak yang diberi label pintar dan diperlakukan seperti anak pintar, maka akan menjadi pintar.

Semoga dengan ini kita lebih bisa ‘peka’ terhadap orang-orang sekitar dengan tidak menjuluki seseorang yang menyebabkan ia menjadi ‘penyimpang ulung’.

  • view 62