VIRAL-ISASI KENAIKAN HARGA ROKOK.

Wida Kariyanti
Karya Wida Kariyanti Kategori Agama
dipublikasikan 22 Agustus 2016
VIRAL-ISASI KENAIKAN HARGA ROKOK.

Judulnya kayak ilmiah banget gitu ya, Viralisasi kenaikan harga rokok. Hehehe. Terlepas dari apa itu arti "viral" yang baru-baru ini jadi trendsetter kata di negeri kita, nyatanya kenaikan harga rokok memang lagi marak dibahas di media sosial. Banyak perokok aktif yang langsung kebakaran jenggot tapi gak juga menurunkan hasrat untuk merokok, di sisi yang lain, para perokok pasif seolah bersyukur dan beramai-ramai mengeluarkan uneg-uneg yang diujungnya terselip kalimat syukur, bahwa pemerintah mulai concern untuk menanggulangi berkembangnya Indonesia menjadi surga bagi perokok aktif.

Gambar di atas mewakili suara saya juga loh. Saya berusaha menjadi yang terdepan untuk menegur sanak famili yang merokok di dekat saya, atau anak-anak saya. Teguran itu ada yang berbuah hasil, yaitu perokok itu memilih pergi atau mematikan rokoknya, tapi ada juga yang berakhir miris karena justru saya dan anak-anak yang mlipir pergi karena kalah suara. Egois! Iya mereka egois, bukan saya.

Seandainya efek rokok tidak lebih buruk pada orang lain, saya gak akan susah-susah mengencangkan otot pita suara untuk menegur mereka satu-satu. Justru itu bentuk kepedulian saya terhadap perokok pasif di lingkungan yang sama. Dan jelasnya keegoisan ada di pihak perokok aktif yang demi melancarkan hobinya, mereka tutup mata terhadap dampak udara kotor yang ditimbulkan asap rokok dan dihirup orang lain, ya saya, ya ibu hamil, ya anak-anak kecil, ya orang lanjut usia di luar sana.

Saya bukan ahli Agama sih, tapi saya ingin berbagi pengetahuan tentang pendapat para ulama ataupun pemuka agama yang pernah saya dengar atau saya baca. Sedikit aja kok, jangan minta nambah ya..

Kalo ditanya hukum merokok, jawabannya ada 2 :

  1. Kiayi, Ulama fiqih, dan Ulama Ahlussunnah : HARAM. Karena semua perbuatan yang menimbulkan madharat dan mendholimi seseorang, asal hukumnya adalah haram.
  2. (mengaku) Ulama dan "masih merokok" : MAKRUH. Dapat pahala jika ditinggalkan.

Okey. Katakanlah jika yang benar hukumnya adalah nomor 2, yaitu rokok hukumnya Makruh. Kenapa juga susah ditinggalkan? Tidak akan rugi dan toh dapat pahala. Masa dapat pahala gak mau cuma gara-gara kecanduan rokok doang? Cemen gak sih?

Tapi kalau hukum no.1 yang benar? Bahwa rokok itu mutlak Haram? Kan RUGI kalo merokok, wong kepuasaan dibalik kebiasaan merokok dapatnya malah dosa. Hayo?

Gak usah pake alasan petani cengkeh, buruh pabrik mau kerja apa kalo gak kerja ngelinting rokok. Kejauhaann mikir hidup orang lain yang jauh di sana! Hidupmu sendiri lah dipikirkan, pura-pura gak tahu kalau banyak studi membuktikan bahaya nya merokok. Atau kalau mau peduliin hidup selain kamu, hidup orang sekitarmu aja lah diperhatikan, kena asap rokokmu, dan mereka sakit, maka itu salahmu. Mudah-mudahan aja sih gak nambah dosa jariyah.

Kalo prinsip hasil kecanduan kaya gitu digunakan, sama aja kaya : nutup dolly kemaren para PSK nya mau makan apa?

Subhanallah. Allah itu loh maha Kaya. Rejeki GAK AKAN TERTUKAR walaupun kita berpindah-pindah tempat kerja, asal ada kemauan menggali potensi, rejeki insya Allah dalam genggaman. Dan lagi nih, kalau kerjaan kita berpotensi merusak orang banyak, menimbulkan kemudharatan, dan ke-dholiman terhadap orang lain, apa ya barokah kerja di tempat seperti itu? No offense, Wallaahu'alam juga sih..

Yang masih bilang rokok itu Makruh, yuk tinggalin laahh... Apa gak kepengen ngumpulin pahala? Hidup singkat bro kalo cuma buat ngerusak hidup orang banyak. Ingat, nanti di padang mahsyar, tubuh yang dititipkan Allah ini akan dimintai pertanggungjawaban, telah diperlakukan dengan baik, atau dirusak oleh rokok.

Kalo tetep mau ngerokok, saya punya saran yang lumayan kece untuk kalian coba. Tolong pake kresek buat buntel tuh kepala, biar asapnya ditelen sendiri.

  • view 227