Catatan Luka Masa Lalu

Winda Harir
Karya Winda Harir Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Mei 2016
Catatan Luka Masa Lalu

Malam tak pernah mau berbincang. Ia angkuh dalam kegelapan. Aku sendiri masih dalam suasana sendu sejak kamu tinggalkan. Kamu memutuskan sepihak dan kemudian pergi tanpa kata. Luka-luka itu mulai mengoyak seluruh jiwaku, aku tak menyangka kamu akan membuat lukaku separah ini. Aku menangis. Lalu, siapa yang akan peduli? Bukankah selama ini aku hanya memandangmu sebagai orang terdekatku, aku bergantung pada sosok lelaki yang sekarang telah membunuh perasaanku. Aku hanya mendengarkanmu, setiap keputusan yang ku ambil adalah atas perintahmu. Dan sekarang peganganku patah, aku terjatuh dan tak yakin apakah bisa bangkit berdiri lagi dengan sempurna ataukah aku harus cacat dan tak berdaya.

Sejujurnya, aku tak pernah menyalahkanmu karena memang ini bukan salahmu. Kamu tak pernah salah, namun mataku selalu melihat keelokan pribadimu. Kamu terlihat sempurna dan pastinya tak pernah salah di mataku meski luka ini karenamu. Aku terlalu berharap. Sejak kamu hadir dan kita merajut mimpi bersama, sejak itu pula aku tak pernah lagi meragu padamu. Dulu, di sudut sekolah dengan pakaian seragam abu-abu, kita merancang masa depan. 7 tahun lagi mulai dari hari ini katamu, kita akan memulai hidup baru, meniti jembatan kedewasaan bersama dan kamu berjanji akan selalu menggenggam tanganku. Kemudian, pada suatu waktu kamu sendiri yang melepaskan genggamanmu dan kamu menyerah dengan mimpi-mimpi kita.

Kamu pernah pergi kemudian kembali lagi. Bukan karena kamu masih menyimpan rasa, tapi karena perasaan bersalah yang menghantuimu setiap saat. Kamu mencoba menggenggam tanganku lagi dan kebodohanku adalah percaya bahwa cinta yang membawamu kembali. Kamu terus mencoba menyemangatiku lagi, bersikap seolah-olah kamulah pahlawan yang telah membuatku bangkit dari keterpurukan meski sebenarnya aku terpuruk juga karenamu. Bagaimana bisa api yang membakar, kemudian api pula yang memadamkan, mustahil. Dan aku tak pernah sadar bahwa kau hadir dengan rasa iba bukan cinta.

Malam itu, sejak 1 tahun aku tak melihatmu, kamu hadir dalam reunian putih abu-abu. Sial, aku tak pernah berpikir bahwa akan ada masanya aku pasti berjumpa denganmu, tak dapat dihindari pertemuan itu terjadi. Apakah kamu tahu berapa lama aku menyembuhkan lukaku? Seumur hidup mungkin tak akan pernah cukup. Tetapi aku memiliki penawarnya, menyibukkan diri dengan aktivitasku. Ah, penawar tak akan pernah mampu jadi obat. Ia hanya mengurangi rasa sakit dan terkadang menekan ingatanku tentangmu sesaat. Ya, hanya sesaat saja. Perjumpaan itu membuat lukaku kambuh, aku terluka tapi tak berdarah. Senyummu masih semanis dulu, rupamu semakin gagah. Tampaknya kamu tak pernah kacau tanpaku, kamu terlihat baik-baik saja bahkan lebih baik tanpa aku. Malam itu, aku bahagia karena sukses melegakan rindu yang tertahan tetapi luka baru kembali hadir. Kamu berbinar menatap mata seorang perempuan yang ku kenal, temanku. Tatapanmu padanya terlihat sama ketika kamu pernah menatapku dulu, saat kamu mengaku masih mencintaiku.

Aku mengutuk hati yang tak bisa membenci, aku terlalu memupuk rasa pada orang yang salah. orang yang ku cintai adalah ia yang paling sering membuatku menangis. Sudah ku katakan kamu tak pernah salah. aku yang salah karena menyuburkan rasa dan rindu bertahun-tahun untukmu. Perempuan itu yang sekarang sedang dekat denganmu pernah ku anggap sebagai teman baikku. Sayangnya, dia tak lagi ku nobatkan sebagai teman baik, dia bukan siapa-siapa dan posisinya sama sepertimu. Dadaku semakin sesak jika mengingat tentang kalian, ada isak yang tertahan dalam kenangan masa lalu. Bolehkah aku mengatakan bahwa kalian sangat jahat. Kamu dan dia telah sukses mematahkan hatiku berkali-kali.

Cerita luka ini aku simpan rapi, aku takut lupa dan lengah. Hanya untuk berjaga-jaga jika kamu tiba-tiba kembali dengan rasa iba lagi. Aku tulis dalam memori ingatanku bahwa kamu adalah matahari, yang bisa kurasakan sengatan panasnya namun lebih dekat dengannya akan membuatku terbakar. Memandangmu saja sudah menyakitkan apalagi harus berbincang denganmu meski sekedar menyapamu. Aku butuh penawar setiap saat, aku takut jika luka itu kambuh lagi ketika kita sedang berpas-pasan di perjalanan, aku harus menyiapkan hatiku untuk tidak retak lagi. Kemungkinanku berjumpa denganmu adalah hal yang paling menakutkan saat ini. Karena lukaku semakin kronis, aku takut jika tiba-tiba aku mati, ya mati rasa padamu. Mati rasa berarti aku benar-benar harus membunuhnya, kamu tahu apa artinya itu? Aku tak lagi punya separuh hati, aku tak punya harapan untuk jatuh cinta lagi.

  • view 396