DEAR MY SON...(BERSAMBUNG)

WAW WAW
Karya WAW WAW Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 September 2017
DEAR MY SON...(BERSAMBUNG)

Terima kasih mengajariku pena. Dengan pena tersebut, sekali lagi setidaknya aku pernah berjuang agar pantas untukmu. Ada cindera mata mengakar di dada langit. Itulah kenangan terakhir darimu yang mengajari aku untuk tidak pernah mati kembali.

Awalnya aku tidak menyadari. Seiring waktu berjalan aku sadar. Bahwa sesungguhnya aku telah berada pada fase kehidupan lain. Aku bersyukur pena tinta hitam telah memberiku, setidaknya satu buku pelangi. Bahwa sekali lagi aku pernah ada dan berjuang untuk pantas. Walaupun pada akhirnya untuk saat ini aku harus mengakhirinya dengan sebuah cindera mata. Cindera mata yang melingkar di hati dan untuk saat ini telah aku titipkan di dada langit sana…hanya agar engkau tahu. Terima kasih.

**

Aku ambil pena…seperti hari-hariku pada umumnya, di saat anak kost lain pada begadang, aku bersandar  bersama radio. Aku lebih memilih membagi cerita dengan pena dan secarik-carik kertas agar aku dapat jujur apa adanya.

Aku katakan pada bait-bait di atas “seperti hari-hariku pada umumnya”, berarti itu habitku. Melihat lampu, membayangkan bayanganku sendiri. Bergerak bergoyang mengikuti irama yang aku ciptakan sendiri. Haa…haaa, aku tertawa sendiri pula.

Saat ini aku sedang ingin menulis tentang bayangan. Sesuatu yang sulit aku intepretasikan. Sesuatu yang membingunkan untuk aku lukiskan dalam guratan pena yang aku terima waktu hari jadiku SMA dulu. Masih aku simpan walaupun hanya dalam duplikatnya, karena aslinya adalah harga mahal yang tinggal menyisakan bagian-bagian bayangan tidak terlihat entah ke mana.

Is oke…tidak usah dibahas, aku menyesal jika mengingat keberadaannya. Hilang punah. Tinggal sisa indahnya yang coba aku kan lukiskan melalui bayangan-bayangan catatan di dada langit agar supaya kau tahu.

**

Ada satu kata yang senantiasa aku pegang “seandainya jika kau Tanya padaku, kenapa aku ingin engkau bahagia!!”

Terima kasihku, salam hormatku untuk Beliau yang telah melahirkan seorang inspirasi.

Yaaa…aku tersenyum tanpa batas, tanpa tersampaikan. Terlihat gemerlap wajahmu ada kata cinta yang tak tersampaikan, kecuali aku pendam.

Sungguh perasaanku tak bisa tersampaikan oleh pesan berbagi waktu. Ternyata membuka kisah hatiku lebih sulit daripada seribu soal matematika. Menitikan cemara senyummu, sinar matamu jauh daripada lamunanku. Tinggi burung terbang, tapi lebih tinggi lamunan. Betapa laut itu dalam, lebih dalam perasaan.

Jauh sudah aku melangkah menyusuri liku hidupku (bagian sulit memulai bicara). Bergelombang detik menahan laju perahu mendayung lidah untuk berlisan. Aku tak sangguh bertemu suara, aku tak ada keberanian bertatap suara, aku luruh untuk berdebat suara…karena aku lemah dihadapanmu. Aku takut!!

Takut bukan untuk diakui atau tidak diakui. Aku takut bukan untuk diterima atau tidak diterima. Bukan itu masalah ketakutanku, aku takut untuk kesekian kalinya tidak bisa sejajar dan pantas untukmu. Aku takut engkau akan menjauh. Dan sekali lagi diam adalah caraku.

Satu tahun, dua tahun atau bahkan tiga tahun tidaklah menjelaskan. Seberapa pantaskah diriku satu tahun, dua tahun atau bahkan tiga tahun belum bisa untuk menasbihkan. Seberapa jauh jariku terbentang dalam satu tahun, dua tahun, atau bahkan tiga tahun bukanlah gambaran nyata ketinggian jarak jengkal tanah. Yang terjadi hanyalah bayanganku menyisir sendiri tentang ketakutan aku selam garis batasnya.

Serpihan belah bamboo ini tahu betul, aku terkadang mengadakan yang tiada, terkadang pula menyembunyikan keadaanku…semua karena gesekan pita cerita yang harus dipilin untuk dipilih.

“Coy ayo ke Marlioboro!”

“Terima kasih, aku pingin ngantuk di kamar”.

Aku pilih di kamar bicara untuk mata yang enggan terpejam. Memendar lukisan bayanganku. Aku ingin refleksiku jujur memantulkan, bukan sekedar pantulan cermin terbalik di dinding kamar bergambar poster.

Di sini aku adalah anak kost, kost dalam arti sebenarnya. Di sini pula aku juga kost dalam angan-anganku. Aku menitipkan kebohonganku karena perlu sejuta alasan untuk meninggalkanmu, tetapi cukup satu alasan untuk kembali padamu. Itulah yang terjadi pada sebagian diri ini.

Mengutip seorang bijak “jangan selalu melihat ke belakang, karena ada masa lalu yang akan menghantui. Sebaliknya, jangan selalu melihat ke depan, karena masa depan terkadang membuat gelisah. Namun lihatlah ke atas karena ada “Dia” Tuhan yang membuat bahagia”.

Detik sekarang aku sudah tidak di dalam kamar lagi. Aku ada di sebuah tempat. Tempat yang biasa aku datangi untuk berlari. “Untuk berlari”, bukan tempat pelarian, tolong digarisbawahi. Menemukan diriku yang tenang. Memutar jarak menempuh waktu.

Betul…tepat aku duduk seorang diri diantara diri-diri yang lain dengan alam pikirannya masing-masing. Duduk di sebuah tempat yang ramai dengan banyak kepala dan tangan serta kaki. Bising. Tapi akan salah jika engkau membaca tulisan ini bilang sebuah diskotik atau tempat hiburan malam.

Tidak mungkin memilikinya untuk mencari jiwa yang tenang. Karena…karena telingaku sedang belajar untuk tuli. Karena…karena kedua mataku sedang menundukkan pandangan untuk belajar buta. Dan mata hatiku diajari untuk selalu basah. Dan tidak ketinggalan mulutku dikunci, serta mulutku puasa hanya agar dapat sejajar denganmu.

Malam ini…harus malam ini aku berangkat. Aku hanya ingin tahu apa kabarmu di sana baik-baik saja. Selebihnya aku tidak percaya dan yakin akan suaramu semata, karena aku ragu sekedar menggembirakan hatiku saja.

Bersambung….

 

 

 

 

 

  • view 24